
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Begitu mendengar pertanyaan Ayah Ridwan. Semua mata langsung tertuju pada Rian yang berjalan menuju putranya.
"Putra kecil ku ini bernama... Arsyaka Ardian Erlangga. Artinya Anak bangsawan yang memiliki sipat Darmawan dan melindungi. Agar dia bisa melindungi mama dan adiknya." ucap Rian tersenyum lalu mencium sayang putranya. Tidak bisa di ungkap kan dengan kata-kata betapa bahagianya Rian saat ini. Bisa bersama Ayla saja dia sudah bahagia apalagi ini ada buah hatinya bersama sang istri.
"Lalu gadis kecil kita namanya siapa?" tanya Mama Sonya tidak sabar. Baik keluarga Erlangga maupun Ridwan kelahiran si kembar adalah harta paling berharga buat mereka yang tidak serakah akan harta.
"Gadis kecil ini namanya, Raisya Salsabila Erlangga. Artinya Jalan kehidupan tentram, bahagia seperti air sungai yang tidak pernah putus. Aku ingin putriku selalu merasa bahagia tidak pernah putus akan kasih sayang dari siapapun. Cukup ibunya yang merasakan penderitaan karena diriku, jangan sampai kedua anakku mengalami hal yang sama." kata Rian sudah mengambil alih mengendong putrinya dari Bunda Mirna.
"Nama yang bagus, Bunda juga suka dengan namanya, Nak" ucap Bunda Mirna ikut tersenyum bahagia melihat bagaimana Rian mencintai anak dan cucunya.
"Nama mereka berdua adalah gabungan dari nama aku dan mama nya, Bun" jelas Rian yang sudah lama mulai mencari nama anaknya dari saat Andre mendatangi perusahaan Erlangga satu bulan lalu.
"Wah kalau begitu bagaimana jika si tampan ini kita panggil nama depannya saja." usul Mama Sonya yang selalu heboh dari segi apapun bila bersangkutan dengan menantu dan kedua cucunya.
"Kita pangil siapa?" jawab Tuan Heri dan Ayah Ridwan yang tidak mau ketinggalan dalam urusan cucu pertama dari anak pertama juga.
"Entahlah, lebih baik kita tanya pada mama nya dulu. Mamanya akan memangil siapa?" sahut Bunda Mirna tidak mau mereka salah memanggil nama pada pewaris harta Erlangga dan Ridwan.
"Sayang!" seru Rian meminta jawaban pada istrinya, karena para orang tua mereka sudah meminta kepastian.
"Aku akan memanggil anak laki-laki kita, Arsya. Adiknya kita panggil Salsa agar tidak tertukar saat kita memangil mereka apabila sudah besar." senyum wanita itu semakin terlihat manis saat membayangkan kedua anaknya sudah bisa bermain.
__ADS_1
"Aku suka dengan pangilan nya, sayang." ucap Rian mendekati istrinya sambil mengendong putri kecil mereka. Wanita yang akan dia lindungi mulai dari sekarang.
"Jadi mulai sekarang kita akan memangil mereka Rasya dan Salsa," kata Rian setelah istrinya menentukan pilihan untuk nama pangilan kedua anaknya.
Dalam kamar rawat inap yang berukuran delapan kali dua belas meter, sudah di penuhi akan canda dan tawa. Apalagi Mama Sonya, belum genap dua puluh empat jam cucunya lahir dia sudah menyusun akan membawa si kembar mengunjungi tempat-tempat yang sudah pernah dia datangi.
"Mir, bagaimana kalau kita membawa mereka pergi liburan. Hanya kita berenam saja biar seru." ucap Mama Sonya seolah-olah si kembar sudah bisa berpisah dari ibunya.
"Boleh, sepertinya sangat seru. Tapi kita berenam sama siapa?" sahut Bunda Mirna belum tau jika yang di maksud adalah dengan suami mereka masing-masing.
"Kita! Bersama suami kita lah siapa lagi. Termasuk si kembar. Papa dan mama nya tidak usah ikut." entah dapat ide dari mana Mama Sonya memiliki pemikiran seperti itu.
"Eh, kenapa kita malah di tinggal?" Rian yang mendengar mama nya sudah membuat tiem pun langsung protes.
"Bukan di tinggal. Hanya saja tidak boleh ikut." sahut Oma baru itu dengan cepat.
"Apa, mama hanya ingin membawa si kembar jalan-jalan." bela nya tidak mau kalah dari anaknya.
"Hm! Sudah, sudah. Kita akan liburan semua. Tapi tunggu si kembar besar." Tuan Heri menjadi penengah antara anak dan istrinya.
"Papa!" seru Rian dan Mama Sonya serempak. Sehingga membuat Ayah Ridwan dan Bunda Mirna tertawa melihat keluarga besan nya.
"Jangan berisik, biarkan mama kembar istirahat. Dia pasti lelah." tegas Tuan Heri tidak bisa di bantah lagi. Merasa jika apa yang dikatakan suaminya benar, Mama Sonya langsung memilih ikut bersama Bunda Mirna mencari cemilan untuk mereka nanti malam. Bila dia terus berada di sana sudah bisa di pastikan menantu dan cucunya tidak akan bisa istrirahat.
"Rian, papa dan Ayah Ridwan akan pergi keluar sebentar. Kalian tidak apa-apa kan kami tinggal?" tanya Tuan Heri setelah dia menerima pesan yang di kirimkan oleh anak buah kepercayaan melalui ponsel.
"Tidak apa-apa. Rian bisa menjaga Arsha dan Salsa. Mamanya biar ikut istirahat." kata Rian melihat pada box bayi kedua anaknya yang sudah tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu." pamit Tuan Heri dan Ayah Ridwan sedikit terburu-buru. Entah ada apa sehingga dari raut muka papanya Rian bisa menebak pasti sudah terjadi sesuatu.
Tidak banyak bicara lagi. Mereka langsung saja pergi dari sana. Meskipun, di dalam ruangan itu hanya ada keluarga kecil Rian. Tapi di luar pintu masuk ada delapan orang pengawal yang akan berjaga selama dua puluh empat jam nonstop.
"Sayang!" pangil Ayla yang tidak jadi tidur.
"Hm, iya ada apa, istriku? Apa kamu ingin sesuatu?" Rian bertanya seperti Ayla sedang mengidam saja.
"Papa dan ayah pergi kemana?" tanya Ayla melihat keseluru ruangan yang tidak ada siapa-siapa. Tadi setelah meniduri putri nya Ayla memang sempat terlelap.
"Papa dan ayah sedang pergi keluar. Kamu mau apa biar aku ambil?"
"Aku tidak ingin apa-apa hanya bertanya saja. Kamu juga ikut istirahat dari siang selalu sibuk menemani aku." ucap Ayla yang tau jika suaminya pasti sangat lelah.
"Aku tidak lelah, kamu yang harus banyak istirahat. Biar aku yang akan menjaga Arsya dan Salsa menjelang mama sama bunda kembali."
Cup....
"Terimakasih...Mama nya, si kembar!" ucap Rian setelah mencium bibir sang istri.
"Ri... Nanti ada yang melihat kita," ibu muda itu mendorong agar Rian menjauh darinya.
"Biarkan saja, aku sedang mencium istriku bukan istri orang." jawab Rian tersenyum sembari menyelipkan anak rambut istrinya.
"Sayang terimakasih sudah mau mengandung dan melahirkan kedua malaikat kecil kita. Aku sangat bahagia memiliki kalian." ungkap Rian tidak pernah bisa berhenti mengucapkan rasa sayang pada istrinya.
"Tidak perlu berterimakasih kasih. Mereka berdua juga anak, ku. Sudah menjadi tugas ku untuk selalu menjaga mereka." seru Ayla balas mengengam tangan suaminya. Namun, suara pintu yang di buka dengan paksa membuat Rian dan Ayla mengalihkan pandangan mereka.
__ADS_1
"Wah, wah. Ternyata kalian ingin bahagia di atas penderita, ku?"