
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Kakak mandi dulu sana sekalian ganti bajunya, dari pagi belum ganti pakaian lagi." ucap Sari ikut duduk di sebelah suaminya.
"Em... nanti saja sekalian mau istirahat sayang." tidak malu-malu Nando memperlihatkan kemesraan mereka di hadapan kedua sahabatnya. Tidak ada yang menyangka kalau Pria dingin, irit bicara seperti Nando dan Rian bisa menjelma sosok bucin akut.
Mereka berdua sudah mengalahkan Andre si tukang gombal. Jangankan di hadapan sahabat, di hadapan para orang tua saja mereka selalu menunjukkan kemesraan. Kalau Rian sudah jelas dia pernah pacaran dengan gadis lain sebelum menikahi istri. Namun, kalau Nando tidak ada selain dengan Almarhum Nesa. itupun pacaran hanya sebatas berpegangan tangan dan berpelukan.
"Eh Nando Lo tadi kan nggak ikut saat Sari di periksa. Jadi gue yang lebih senior mau mengingatkan, untuk saat ini kalian dilarang buat---"
"Buat apa? Jangan bikin gue takut ya." belum juga Andre selesai bicara sudah di potong begitu saja oleh Nando. Mendengar kata larangan membuat Pria tersebut langsung bertanya.
"Kan Kakak senior belum selesai jelasinnya! Gimana sih nggak ada sopan-sopanya sama yang senior. Main serobot aja." Andre bertingkah seolah-olah memang sudah menjadi Kakak senior. Padahal entah senior apa yang dia banggakan.
"Iya, apa? Jangan kebanyakan ngomong. Bilang saja gue dilarang ngapain." semakin mendekap tubuh sang istri. Seperti sudah tahu kalau larangan tersebut ada hubungannya dengan Sari.
"Berhubung kalian berdua sudah lama, baru bisa punya anak. Jadi selama sembilan bulan ini.' Eh ralat. Selama satu tahun Lo dilarang berhubungan suami-istri, karena nggak baik untuk kesehatan calon bayinya." tersenyum menyeringai telah mendapatkan senjata untuk mengerjai Nando.
"Ah sok tahu, mana ada seperti itu. Malahan di anjurkan setiap malam, karena yang bikin tiap malam saja jadinya lama. Apalagi kalau si bayi jarang di jenguk. Bisa-bisa lama besarnya." jawab Nando tidak kalah bijak, sehingga membuat ketiga wanita yang ada di sisi mereka langsung membuang muka karena malu mendengar ucapan tak senonoh Nando dan Andre.
Sedangkan Rian hanya diam tidak ikut menimpali karena pokusnya membelai kepala sang putri yang tidur dengan nyenyak di sisi Kakak nya. Sekarang Rian pindah ke atas karpet dekat Ayla dan ikut menemani anak mereka yang sudah tidur.
"Tiap malam! Yang ada Sari nggak bisa jalan. Orang ngomong bener, tanya tu sama Rian pasti dia juga tahu larangannya seperti apa." menunjuk pada Rian yang tidak tahu menahu.
"Kenapa pake bawa-bawa gue. Lagian gue mah sekali tabur langsung jadi dua.' Iya kan sayang?" meskipun tadi sempat bingung ingin menjawab apa. Akhirnya senjata andalan dia ucapakan. Rian memang selalu membanggakan kehebatannya yang sekali tabur langsung jadi dua.
Ayla hanya tersenyum simpul karena bingung ingin berkata apa. Dia dan Rian memang hanya berhubungan satu kali tapi langsung jadi Arsya dan Salsa. Malaikat kecil yang sudah membuat hubungan keduanya membaik.
"Iya, gue lupa kalau kalian sempat terpisah.' Tuh, Nan. Rian aja nggak pernah jenguk tapi anaknya malah ganteng sama cantik. Lo nggak percaya banget omongan senior." ucap Andre kembali mencibir.
"Lo emang senior, karena istri Lo hamil lebih dulu dari pada Istri gue. Tapi kalau nikah duluan gue." tetap berdebat tidak mau kalah.
"Sudah, sudah! Kalia berisik lihat ni anak gue hampir bangun." ucap Rian kembali mengelus kepala putrinya.
Rian bukannya tidak mau pulang dari tadi. Hanya saja masih ingin menemani Andre dan istrinya. Atas permintaan Nando juga agar mereka tidak pulang lebih awal.
"Kita pulang sekarang saja ya, ini juga sudah larut malam. Sari dan Pika harus banyak waktu untuk istrirahat." seru Ayla yang sebetulnya sudah mulai mengantuk juga, karena para wanita hanya mendengarkan suami mereka bercerita sehingga cepat terasa mengantuk.
"Baiklah kita pulang sekarang sekarang." ujar Rian yang tidak akan pernah menolak ajakan belahan jiwanya.
"Nan, gue pulang dulu ya. Tapi apa yang di sampaikan oleh Andre benar, untuk saat ini lebih baik jangan berhubungan dulu. Buat jaga-jaga saja meskipun dokter bilang tidak apa-apa, karena gua juga sehabis Ayla operasi puasa selama dua bulan lebih. Lebih baik kita yang sakit dari pada istri kita." Rian pun berdiri untuk mengendong kedua anaknya kedalam mobil.
Setelah Ayla melahirkan anaknya, Rian memang kerap menahan sakit karena hastranya yang tidak bisa tersalurkan. Sementara dia selalu bersama sang istri setiap harinya. Bagaimana mungkin sebagai laki-laki normal, tidak merangsang saat membantu Ayla mandi, berganti pakaian dan membantu memompa ASI untuk kedua anaknya. Tapi Rian berhasil melewati selama dua bulan lebih. Walaupun sekali-kali dia meminta sang istri membantunya mengunakan cara lain.
"Em... oke! Gue percaya kalau sama Lo. Tapi--- sama Andre gue ragu." tersenyum melihat Andre kesal pada ucapannya. Lalu setelah itu Rian langsung berpamitan pulang begitu juga dengan Andre.
__ADS_1
Rian mengendong Salsa, sedangkan Arsya di gendong oleh Andre untuk sampai ke mobil mereka yang sudah kembali di pindahkan ke halaman rumah Nando. Tadi sore semua mobil tersebut memang di parkir kan tidak jauh dari sana. Agar Nando tidak merasa curiga.
Tidak membutuhkan waktu lima menit Rian dan Ayla sudah tiba di rumah mewah mereka. Lalu Rian kembali lagi memindahkan kedua anaknya masuk kedalam rumah dan di tidur kan pada kamar anaknya sendiri.
"Tidak ada yang bangun kan?" Ayla bertanya setelah melihat Rian sudah kembali ke kamar mereka yang berada di sebelah kamar anaknya.
"Tidak ada yang bangun, mereka terlalu lelah jadi tidak bangun saat di pindahkan beberapa kali." ucap memandang istirinya yang terlihat semakin cantik.
"Benar, seperti apa kita sibuk menyiapkan untuk acara penyambutan hamilnya Sari. Kedua anak kita tidak kalah sibuknya." Ayla menyiapkan baju ganti untuk dia sendiri dan suaminya, karena tidak mungkin mereka tidur dalam keadaan belum mandi.
Baik Rian atau Ayla memang belum mandi lagi setelah tadi pagi, karena dari siang sampai malam sibuk di rumah Nando. Berbeda dengan kedua anaknya. Asrya dan Salsa sudah di mandikan oleh Mama Sonya. Tapi di mandikan nya di rumah Nando juga.
"Apa kita mau mandi bersama?" tanya Rian berjalan mendekati Ayla dan langsung memeluknya dari belakang, karena saat ini Ayla sedang mempersiapkan handuk baru untuk sang suami.
"Lebih baik mandi sendiri-sendiri saja. Ini sudah malam?" menjawab biasa-biasa saja karena tidak tahu masud dari perkataan suaminya.
Tanpa aba-aba Rian langsung mengendong tubuh sang istri masuk kedalam kamar mandi. Sehingga langsung membuat Ayla menjerit kaget.
"Aaghk! sayang tolong turunkan aku. Jangan seperti ini." Ayla menjerit sambil mengalungkan tangannya pada leher Rian yang juga masih memakai pakaian kameja kantor.
"Suuuiiit! Menjerit nya nanti saja, setelah di kamar mandi." Rian tersenyum melihat wajah Ayla langsung berubah merah. Wajah yang selalu membuatnya tidak bisa jauh dari sang istri.
Tiba di dalam kamar mandi, Rian menurunkan Ayla dengan perlahan. Lalu dia langsung melepaskan kameja yang di pakainya.
"Sayang aku---"
Cup...
"Tap---"
"Hmmmph!" suara Ayla sudah tercekat di dalam mulut karena Rian langsung membungkam bibir wanita tersebut. Sehingga membuat Ayla ikut merasakan rangsangan ingin lebih dari sekedar ciuman.
"Aaaakkkh!" Ayla mulai mendesah nikmat, saat tangan Rian sudah menyusup masuk untuk menuju puncak gunung kembar yang selalu bersembunyi.
"Keluarkan saja, anak-anak tidak akan mendengar nya." melepaskan pangutan sebelum memulai lagi pemanasan yang sekarang mereka lakukan di bawah guyuran air shower.
Sambil mencumbui istrinya, tangan Rian dengan sengaja menghidupkan air shower agar menghilangkan hawa panas yang mereka buat sendiri. Hanya saja airnya di buat kecil, tidak besar seperti saat mereka mandi.
Dalam keadaan basah, tentu membuat keduanya semakin menggila. Untuk saling memuaskan diri masing-masing. Semenjak memiliki anak, pasangan ini memang lebih sering bermain di dalam kamar mandi. Bukan apa-apa mereka melakukan di sana, karena tidak mau saat sedang menuju puncak pelepasan, harus terhenti karena takut si kembar bangun.
Sambil memberikan sentuhan yang memabukkan. Tangan Rian mulai melepaskan gaun yang Ayla pakai dan menjatuhkan nya begitu saja di bawah tempat mereka berdiri. Sampai tidak ada yang tersisa sehelai benangpun termasuk pakaian dia sendiri.
"Emh!" merintih saat Rian menghisap kecil pada sumber kehidupan anak mereka tiga tahun lalu. Semakin mendengar suara Aylw yang tertahan, membuat pria tersebut menambah jejak kepemilikan pada pinggiran daging kenyal itu.
Dulu, saat melakukan pertama kalinya, keduanya memang belum pandai seperti saat ini. Tapi berbeda untuk sekarang. Rian memang sudah jauh dari kata ahlinya.
"Aaghk! A--ak--aku sudah tidak tahan." pinta wanita itu memohon pada suaminya agar segera memulai permainannya.
"Baiklah kamu yang meminta sayang." Rian langsung mengangkat tubuh Ayla keatas meja kecil yang dibuat dari keramik pilihan, guna mempercantik ruang tersebut.. lalu di sandar kan pada tembok sebelum dia memulai nya.
__ADS_1
"Aaaakkkh!" mereka sama-sama memejamkan matanya setelah senjata hebat Rian sudah berhasil menerobos masuk sampai pada tempat yang terdalam.
"Muuuaaah! Aku mencintaimu!" Rian berkata masih dengan suara berat, menahan gejolak dari tubuh mereka berdua yang sedang menempel di bagian bawah sana.
Ayla yang mendengar kata cinta dari sang suami langsung membuka matanya dengan perlahan. Lalu setelah pandangan mata mereka bertemu, keduanya sama-sama tersenyum sebelum kembali menautkan pangutan bibir mereka.
"Aku juga sangat mencintai mu!" balas Ayla saat pangutan itu kembali mereka lepas.
Cup...
Rian kembali mencium bibir yang sudah mengatakan cinta padanya.
Setelah mendapatkan pengakuan cinta dari sang istri. Rian pun mulai mengerakkan pingul nya dari gerakan sedang sampai kencang. Sehingga membuat Ayla merintih nikmat dengan tangan mengelus punggung Rian.
"Aku mencintaimu!" sambil berpacu Rian terus melapalkan kata-kata cintanya.
Tidak terasa setelah hampir satu jam setengah. Baru terdengar erangan panjang dari keduanya. Pertanda jika mereka sudah sampai pada puncak kenikmatan yang mereka buat.
"Aaaakkkh! Terimakasih, sayang. Aku mencintaimu." Rian pun menyandarkan tubuhnya pada tubuh sang istri yang masih menempel pada tembok kamar mandi.
...****************...
Sedangkan di kediaman Nando setelah para sahabatnya pulang. Pasang tersebut kembali ke kamar mereka yang terletak di lantai atas. Tiba di kamar, Nando langsung melepaskan pakaian kotornya dan di masukan kedalam keranjang cucian yang ada di dekat pintu kamar mandi.
Lalu dia pun meraih handuk dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket. Sedangkan sang istri dia suruh duduk saja di atas ranjang. Tidak perlu menyiapkan pakaian untuk nya lagi, karena takut bila Sari kelelahan.
Sari yang masih merasa lemas hanya menurut. Dia hanya duduk sembari memainkan ponselnya. Sampai dua belas menit berlalu. Nando sudah kembali dengan tampilan yang segar.
"Kenapa melihat ku seperti itu! Apakah aku bertambah tampan?" tersenyum dan berjalan kearah istrinya.
"Kakak pakai baju dulu sana." malu sendiri melihat roti sobek sang suami begitu menonjol.
"Pakai baju atau tidak, tidak ada bedanya juga kan. Semuanya milik dirimu, jadi jangan malu." Nando tidak menghiraukan perintah istirinya, dan dia malah berjongkok lalu menyentuh perut datar Sari.
"Sayang, anak Ayah! Baik-baik ya jangan membuat Bunda mengalami morning sinces." bicara dengan calon anaknya yang masih berada dalam kandungan istrinya.
"Apa kamu sudah merasakan sesuatu? Dulu saat Ayla hamil si kembar, aku pernah mengelus perutnya atas permintaan Ayla sendiri. Saat itu Arsya dan Salsa bergerak begitu tangan ku menempel pada perut mamanya. Tapi kenapa anak kita belum ada pergerakan?" bertanya dengan raut khwatir.
"Kakak ini bagaimana! Jelas saja belum. Anak kita masih berumur dua minggu." Sari tertawa melihat wajah bingung suaminya.
"Benarkah? Aku kira karena mereka marah padaku. Tidak menemani Bundanya ke rumah sakit." ikut tersenyum bahagia. Lalu Nando berdiri dan langsung memeluk tubuh istrinya.
"Terimakasih! Mulai saat ini, apapun yang kamu inginkan tolong katakan padaku, jangan di pendam seperti Ayla. Kamu memiliki suami yang siap siaga dua puluh empat jam." Kata Nando yang masih ingat seperti apa Ayla menginginkan sesuatu, karena tidak mau selalu merepotkan dia dan Vino. Ayla berkata bahwa dia tidak menginginkan sesuatu.
Semuanya ketahuan setelah Ayla kembali bersama Rian suaminya. Wanita itu hampir setiap hari ingin ini dan itu. Sampai tengah malam saja Rian pernah di suruh datang kerumah Nando hanya untuk meminta makanan yang di masak oleh mamanya.
Maka dari itu, Nando berpesan pada istrinya. Setelah memberikan pesan pada sang istri. Nando pun mengajaknya tidur karena sudah larut malam. Lalu malam ini mereka hanya tidur tidak melakukan hubungan suami-istri seperti biasanya.
Pagi-pagi sekali Sari sudah bangun karena perutnya merasa tidak enak. Mungkin bawaan dari hamil nya. Merasa tidak bisa tidur lagi, wanita tersebut langsung saja membersihkan tubuhnya. Saat ingin menaruh baju koto, tanpa sengaja matanya melihat ada beberapa bekas listip berwarna merah menyala pada baju kameja suaminya.
__ADS_1
Deg...
"Punya siapa?"