Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Extra part.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Princess!" sapa sahabat Salsa yang bernama Karin. Di sekolah Salsa memang hanya memiliki satu orang teman akrab. Bukanya dia pemilih untuk berteman, hanya saja Salsa yang membatasi, karena kebanyakan dari para teman-teman nya hanya ingin mengambil keuntungan bisa dekat dengan gadis cantik putri dari tempat mereka menimba ilmu.


Tadi setelah dari parkiran Salsa langsung menuju ke kelas karena sang sahabat sudah menunggunya di sana.


"Hai ... selamat pagi?" jawab gadis itu dengan riang seperti biasanya.


"Tumben riang banget?" kata Karin mengeser bangku tempat duduknya.


"Iya dong ... malam Minggu nanti Papa sudah memberi izin buat ikut nonton pertandingan basket." hanya sekedar mendapatkan izin pergi keluar rumah saat malam hari saja, sudah membuat Salsa bahagia. Sebab hal tersebut sangat sulit dia dapatkan.


"Emang Kak Arsya sama kedua adik genteng Lo memberi izin?" tanya Karin sambil tertawa, karena ini bukanlah untuk pertama kalinya Salsa mendapatkan izin dari sang papa. Namum, saat sudah mendekati waktunya. Arsya, Aditya dan Ale. Anak dari Nando dan Andre akan menggagalkan bagaimanapun caranya. Mereka melakukan itu semua semata-mata hanya untuk melindungi saudara perempuan nya.


Sejauh ini tidak ada laki-laki yang bisa berpaling dari Salsa. Gadis cantik nan mewarisi kecantikan ibu dan Ayahnya. Begitu pula dengan Arsya. Dia adalah laki-laki yang banyak di gilai oleh kaum hawa.


"Soal itu Lo nggak usah khwatir. Tadi pagi papa sudah bilang pada Kak Arsya kalau gue boleh ikut nonton, tapi perginya harus sama kakak. Bila Kak Arsya sudah bilang iya, maka Aditya sama Ale nurut-nurut aja pastinya." selama ini bila Arysa sudah bilang iya, maka kedua putra Nando dan Andre akan mengikuti keputusan Arsya yang mereka anggap seperti mana kakak kandung nya.


"Yang sabar emang gitu resikonya jadi Princes. Mereka hanya takut kamu kenapa-napa, Sa. Kak Arsya tahu seperti apa para sahabatnya menyukai Lo. Jadi gue rasa karena hal tersebut membuat dia sangat menjaga Lo." Karin mengelus pelan bahu sahabatnya.


"Iya sih apa yang Lo katakan memang benar." gadis itu membenarkan ucapan sahabatnya.


"Makanya Lo nurut aja, mereka melakukannya demi diri Lo. Jaman sekarang kejahatan sudah merajalela, pasti Kak Arsya takut Lo di jahatin sama para laki-laki yang menyukai tapi perasaan nya tidak terbalas." Karin yang bersahabat dengan Salsa sejak dulu tentunya tau kalau temannya tersebut sangat di jaga oleh keluarganya.


"Benar banget saat itu gue nggak sengaja juga mendengar si Ale cerita pada Kak Arsya. Dia mengatakan ada gadis di dekat rumah Oma nya yang di bunuh gara-gara menolak di ajak pacaran. Nah semenjak hari itu mereka bertiga menjaga gue lebih-lebih dari papa. Padahal kemanapun gue pergi anak buah papa selalu mengawasi." Salsa pun tidak memungkiri apa yang di takutkan oleh saudaranya.


Tidak lama setelah mereka bercerita. Alarm pertanda jam pelajaran pertama akan segera mulai sudah be bunyi. Lalu keduanya pun mengikuti pelajaran dengan tenang. Di kelas yang ada Arsya dan Salsa memang lebih tertib tidak ada yang berani berbuat onar seperti lokal lainnya.


Jadi semua murid bisa mengikuti pelajaran dengan tenang. Mungkin saja mereka semua takut karena anak pemilik sekolah ada di kelas tersebut. Walaupun baik Arsya ataupun Salsa tidak pernah ingin tahu apa yang di lakukan teman-temannya.


Hanya saja kedua anak kembar itu menjadi contoh untuk para murid lainnya, karena pemilik nya saja tidak pernah berbuat yang aneh-aneh atau semena-mena pada sesama pelajar. Jadi atas dasar apa mereka yang bukan siapa-siapa malah berlaku tidak baik.


Di seluruh ibu kota B sekolah yang di dirikan oleh Erlangga group memang tidak ada pembulian seperti sekolah lainya. Bila ada yang membuli sesama teman, maka akan langsung di keluarkan dari sana. Makanya juga tidak heran kalau SMP ataupun SMK nya menjadi sekolah terfavorit.

__ADS_1


Selain biayanya tidak terlalu mahal. siswa-siswi nya juga aman. Orang tua tidak perlu khawatir akan keamanan putra-putrinya selama berada di sekolah. Cuma setiap pasilitas bila bagus tentu untuk masuk ke sana juga terbatas. Setiap tahunnya sekolah tersebut hanya menerima tiga ratus orang murid saja.


"Sa, mau ke kantin nggak?" tanya Karin setelah guru yang mengajar meninggalkan kelas mereka.


"Mau dong! Tau sendiri kan gue harus makan tepat waktu." jawab Salsa. Gadis cantik ini memang memiliki penyakit asam lambung makanya baik mama ataupun orang-orang terdekatnya selalu mengingatkan Salsa agar tidak telat untuk makan siang.


"Baiklah kalau begitu kita pergi sekarang." ajak Karin langsung berdiri.


"Hem ... ayo." akhirnya kedua gadis tersebut berjalan saling berpegangan tangan menunju ke kantin. Terlihat anak-anak lainnya juga sudah berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Hanya saja hari ini kebetulan kelas Asrya juga sudah istirahat seperti kelas lainnya.


"Sa ... itu Kak Arsya juga sudah keluar." tunjuk Karin dimana Arsya sedang berbicara dengan beberapa orang sahabatnya. Berbeda dengan adiknya Arsya memiliki empat orang sahabat karib.


"Iya tumben banget. Biasanya kita sudah masuk mereka baru keluar."


"Mau kesana apa mau langsung ke kantin?" Karin kembali bertanya karena terkadang bila Kakak nya sudah keluar Salsa akan menemui sang kakak lebih dulu.


"Nggak usah kita langsung ke kantin aja, soalnya gue sudah mulai lapar." Salsa pun langsung menarik kembali tangan sahabatnya.


"Hai Princes!" sapa beberapa orang murid laki-laki dan perempuan yang ada di kantin. Semuanya memang tahu Salsa di panggil Princes oleh keluarganya. Mereka semua mengira kalau Ale dan Aditya adalah sepupu nya si kembar, karena hubungan mereka berempat layaknya saudara kandung.


"Hai juga!" balas Salsa yang memang memiliki sifat ramah.


"terima kasih! Kita cari meja lainya aja." tolak Salsa yang takut sewaktu-waktu Kakak nya menyusul ke kantin.


Setelah menemukan meja yang masih kosong, Salsa langsung duduk. sedangkan Karin pergi memesan makanan untuk mereka berdua. Tidak lama sudah kembali lagi suara gaduh seperti saat Salsa datang. Lalu gadis itu menoleh karena tahu itu pasti suara gaduh menyambut kedatangan saudara nya.


Arsya pun yang tahu dimana tempat sang adik langsung saja menuju ke sana dan ikut duduk bersama teman-temanya juga.


"Dek belum pesan makanan? Kemana Karin apa tidak masuk?" tanya Arsya beruntun.


"Makanan nya sedang di pesan oleh Karin." jawab Salsa seraya mengeser kursi yang dia duduki, karena Arsya duduk di samping nya.


"Elah Lo jadi kakak posesif banget. Kita juga mau duduk di samping adik Lo." cebik Hengki sahabat Arsya yang juga menyukai Salsa.


Arsya yang dingin dan cuek tentunya tidak perduli apa kata teman-teman nya. Namun, ada salah seorang temannya yang juga memiliki sifat pendiam.


"Farel ... Lo kenapa diam? Ayo duduk." ucap Hengki melihat satu temannya hanya berdiri belum mengambil tampat duduk.

__ADS_1


"Em gue duduk dimana? Bukanya ini tempat Karin?" melirik hanya ada satu kursi yang tersisa.


"Ambil aja kursi di meja lain dan bawa kesini." Arsya yang hanya diam akhirnya ikut bicara.


Lalu Farel pun mengambil kursi dari meja sebelah dan di letakan pas sebelah Salsa, karena hanya disana yang masih ada ruang kosong.


"Wah, wah tahu bakalan duduk di dekat Salsa mending gue belakangan aja tadi." cetus Pria yang bernama Dito.


"Biarin itu keberuntungan Farel bisa duduk di samping Princes." bela Denis teman mereka juga.


"Sudah, sudah! Kalian mau makan atau mau ngomong." cegah Arsya karena pesanan mereka sudah lebih dulu datang dari pada Karin.


"Dek mana Karin ko' lama? Ini makan punya kakak dulu, kita tukaran aja. Kamu kan nggak boleh telat makan." Arsya langsung mengeser makanannya agar sang adik makan lebih dulu.


Semua perlakuan manis Arsya pada adik perempuan nya, tentu saja mengalihkan perhatian para sahabatnya kearah mereka berdua. Termasuk Farel yang dari mereka SMP sudah menyukai Salsa. Hanya saja dia belum berani mengungkapkan perasaannya. Farel masih mencari waktu yang tepat karena tidak mau Arsya salah paham dan membuat persahabatan mereka merenggang.


"Setelah pertandingan malam Minggu, gue akan jujur pada Arsya kalau gue menyukai adiknya dan meminta izin agar bisa mendekati Salsa. Kalau langsung ngomong ke Salsa. Bisa-bisa gue di gantung oleh Arsya, Aditya sama si Ale."


Ucap Farel di dalam hatinya sambil memperhatikan Arsya menyiapkan sendok untuk Salsa, agar sang adik tinggal makan, tidak perlu menyiapkan apa-apa.


"Maaf ya Sa ... tadi gue ke toilet dulu." ucap Karin baru datang dengan membawa pesanan dia dan Salsa, dan membuat Farel tersadar dari lamunannya.


"Nggak apa-apa! Seharusnya gue yang minta maaf, sudah ngerepotin Lo." jawab Salsa juga merasa tidak enak. Meskipun dia tidak pernah meminta Karin memesan makanan untuknya.


Tidak banyak bicara mereka langsung saja makan dengan di selingi candaan dari para sahabat Arsya yang sangat suka menggoda Salsa di depan nya.


Hanya Farel yang diam tapi matanya selalu mencuri-curi pandang pada gadis di sampingnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Assalamu'alaikum semuanya 🤗 Ini tinggal satu bab lagi ya, setelahnya akan pindah lapak sebelah. Jadi jangan lupa untuk selalu mengikuti cerita mereka dan juga memberikan dukungannya. Terimakasih 🙏🙏🙏😘😘


__ADS_2