
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Apa tidak apa-apa kalian mulai pindah hari ini? Susi kan belum bisa bekerja dalam dua hari kedelapan?" tanya Mama Sonya pada anak dan menantunya yang sedang berada di ruang keluarga.
Setelah makan siang bersama, Rian langsung memutuskan ingin membawa istrinya pindah rumah siang ini juga, karena dia tidak jadi lagi kembali ke perusahaan seperti niat awal nya tadi. Setengah yang jam lalu Rian pulang memang hanya untuk makan siang saja bersama istrinya, baru setelah itu dia kembali lagi ke perusahaan dan sorenya mereka pindah rumah. Namun, setelah makan siang dia sudah malas kembali kekantor dan malah mengubah ingin pindah siang ini juga.
"Tidak apa-apa, ma. Lagian dua hari ini kan Rian libur, jadi ada Rian yang akan menemani, Ay," yang di jawab oleh Rian karena Ayla tidak bisa memutuskan, semua keputusan ada pada suaminya.
"Iya, mama tau itu, tapi siapa yang akan mengurus kalian jika Susi belum bekerja? Lagian kenapa juga kalian tidak membawa salah satu pelayan di rumah ini menjelang Susi datang." uangkap wanita paruh baya itu dengan raut sedih.
"Kasihan dengan mereka saja, ma. harus pindah sana-sini cuma waktu dua hari. Soal siapa yang akan mengurus kami mama tidak perlu khawatir karena Rian juga bisa memasak. Lagian jika malas masak ada gofood tinggal diliveri saja kan." kata Rian tersenyum karena dia tau bukan karena hal itu saja mamanya menahan mereka pergi, tapi memang tidak mau menantunya meninggalkan rumah itu.
Sedangkan Ayla hanya menjadi pendengar negosiasi antara suami dan ibu mertuanya. Sebab dia juga bingung ingin berkata apa lagi. Sesungguhnya dia sendiri saja tidak masalah bila harus pindah dua hari lagi.
Tidak lama setelah itu Tuan Heri datang di ikuti sekertaris Aldi di belakang nya. Mereka berdua baru saja kembali dari mengurus ibu Bela yang mengamuk di rumah sakit minta anaknya agar di bebaskan.
"Pa!" sambut Mama Sonya berdiri melihat belahan hatinya sudah kembali.
"Ada rapat apa lagi ini? Sepertinya kami datang tidak tepat waktu." Tuan Heri tersenyum sembari melepaskan tubuh istrinya yang tadi di peluknya. meskipun mereka sudah tua, tapi Tuan Heri memang tidak pernah sungkan menunjukkan kemesraan dia dan istrinya. Pasangan yang selalu tampil mesra di manapun mereka berada.
"Rian bisa nebak nih, kalau Pak hakim sudah datang kita bisa pergi sebentar lagi, sayang." kata Rian merangkul sang istri agar menempel dengan tubuhnya.
"Pa! tolong bantu mama. Anak, mu ini nakal sekali tidak mau mama cegah walau beberapa hari saja." adu wanita itu yang sudah kembali duduk bersama suaminya.
Sedangkan Aldi memilih masuk keruang kerja Rian untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Iih, mama mulai nih mau main curang." Rian tertawa melihat namanya seperti anak kecil yang sedang meminta di belikan mainan setelah ibunya datang.
"Sudah, sudah jangan ribut lagi. Kalian berdua malah seperti anak kecil saja. Lihat menantu papa, dia yang hamil kenapa kalian yang selalu ingin ini dan itu." lelaki yang masih terlihat gagah meskipun sudah di telan usia itu menarik sang istri kedalam pelukannya lagi.
__ADS_1
Walaupun dia tidak diberi tahu letak permasalahannya, tapi dia bisa menebak pasti gara-gara Rian yang ingin pindah rumah lagi.
"Sayang, tolong dengarkan papa, ya. Biarkan mereka pindah, jangan dihalangi. Kita juga dulu tidak mau tinggal bersama orang tua kita, padahal mami dan papi, mu sangat berharap kita tinggal dirumahnya, kan? Padahal kamu juga putri satu-satunya. Jadi kamu taukan apa maksud papa." jelas Tuan Heri dengan lembut agar Nyonya Erlangga itu tidak menahan kepindahan anaknya.
Tuan Heri adalah orang yang sangat bijak. Meskipun dia sangat mencintai istrinya. Namun, dia tidak pernah mendukung apabila itu akan memberatkan anaknya maupun orang lain. Makanya Rian bisa santai setelah papanya datang, karena dia juga sudah tahu jika papanya orang yang sangat bijak.
"Tapi pa, jika mereka pindah mama jadi kesepian." keluh Mama Sonya yang baru menyadari jika dulu dia dan suaminya sama seperti anaknya sekarang.
"Kan ada, papa. Kita bisa berkunjung kerumah mereka kapanpun mama mau. Papa rela dijadikan sopir dua puluh empat jam asalkan wanita yang papa cintai bisa bahagia." kata Tuan Heri mengelus pipi istrinya.
"Agh... Mulai kita dijadikan obat nyamuk, sayang. Lebih baik kita bersiap-siap berangkat sekarang. Pawangnya sudah datang kita jadi aman." ucap Rian berdiri membawa istrinya kembali kekamar mereka. Sedangkan orang tuanya yang di goda oleh anaknya sendiri malah tertawa.
************
Siang sudah berganti malam. Sekarang Rian dan Ayla sudah pindah ke rumah baru mereka. Harusnya tadi siang, cuma Mama Sonya masih meminta agar anak dan menantunya pindah setelah makan malam saja. Jadilah mereka baru sampai setengah jam yang lalu. Untuk kepindahan kali ini mereka memang tidak di antar seperti saat pindah kerumah sebelumnya.
Keluarga Ayla saat ini memang sedang pulang kerumah nenek nya di kota A. Mereka pulang kesana sudah dua hari yang lalu, karena Paro adik Ayla sekarang lagi libur sekolah jadinya sekalian liburan juga.
"Sayang!" kamu mengagetkan aku," seru Ayla mengelus dadanya merasa kaget tiba-tiba Rian sudah memeluk tubuh nya dari belakang, karena saat ini Ayla sedang duduk di pinggir ranjang sambil berbalas pesan dengan Riri dan Amel sahabatnya.
"Katanya mau memeriksa pekerjaan, kenapa cepat sekali?" Ayla bertanya binggung karena baru beberapa menit lalu Rian berpamitan kepada nya ingin keruang kerja yang terletak di sebelah kamar mereka.
"Tidak jadi, aku tadi hanya mengambil sesuatu di dalam tas kerjaku." jawab Rian dengan sedikit tersenyum.
"Ada apa? Jangan membuatku takut," wanita hamil itu kembali bertanya setelah melihat raut muka suaminya seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Sayang, aku hanya ingin memberikan kalung ini untukmu. Berbalik lah biar aku pakaikan sekarang. Kalung ini pasti akan semakin cantik bila di pakai oleh, mu" Rian mengeluarkan kalung berlian dengan liontin huruf A kecil.
"Apa! Kapan kamu membelinya?" Ayla kaget bercampur haru merasa bahagia meskipun Rian hanya memberikan sebuah kalung.
"Sebelum aku berangkat membuatkan nasi goreng waktu itu. Untung saja aku masih selamat, jika tidak maka aku tidak akan bisa melihat istriku memakainya." ucap Rian tersenyum melihat kalung itu sudah melingkar di leher jenjang wanita yang di cintai nya.
__ADS_1
"Apa kamu suka?" tanya Rian mengengam kedua tangan sang istri.
"Sangat, aku sangat menyukainya, sayang! Terimakasih untuk hadiah indah ini."
"Suiiit! Kamu tidak perlu berterimakasih, karena seharusnya akulah yang berterimakasih pada mu. Terimakasih sudah mau menerima aku menjadi suami, mu lagi." ungkap Rian sembari mencium kedua tangan Ayla.
"Istriku, maafkan aku yang sudah membuat, mu menderita. Maaf karena aku sudah menyakiti dan menduakan cinta, mu. Meskipun niat ku ingin melindungi, mu. Tapi ternyata aku malah semakin membuat mu tersakiti. Mulai hari ini tolong izinkan aku untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian. Mari kita mulai kehidupan baru kita di rumah ini. Apakah kamu mau?"
"Aa--aaku, aku mau!" tangis Ayla akhirnya pecah setelah mendengar ungkapan dari suaminya yang selama ini mencintai wanita lain.
"Terimakasih, terimakasih, istriku. Jangan menagis lagi." Rian memeluk erat tubuh Ayla yang masih menangis tersedu-sedu.
Lama setelah itu barulah Rian melepaskan pelukannya karena tau jika istrinya sudah lebih baik dan diapun menghapus sisa air mata yang ada di pipi wanita itu.
Cup....
Entah siapa yang memulai lebih dulu bibir pasangan suami-istri itu sudah bersilaturahmi setelah kemarin hanya bertegur sapa biasa. Hingga decapan demi decapan mulai terdengar memenuhi kamar baru mereka.
UM!
Lenguh Ayla setelah merasakan ada sengatan aneh pada tubuhnya. Hal itupun membuat Rian semakin memperdalam ciuman mereka.
BERSAMBUNG....😂😂
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jahara banget ya, Mak author nya🤦 di gantung sedang tangung-tangung nya.😂 Dah aah mak mau renovasi tanaman bunga Mak dulu, jangan pada nyariin. Ke bbg Devan aja, dia dah uup dari pagi.🚶🚶