
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Sekarang Rian sedang dalam penerbangan menunju ke luar pulau tempat salah satu Villa milik keluarganya.
Selama ini Rian tidak pernah berpikir jika Papanya akan menyembunyikan Ayla di Villa yang dia sendiri tidak pernah kesana. Karna dari yang dia dengar, Villa ini sangat jauh dari kotanya. Boleh dikatakan tidak menarik dari Villa milik mereka yang lainnya.
Jadinya Rian dan Aldi malah berpencar mencari sampai keluar Nengri. Mereka kira Tuan Heri akan menempatkan Ayla di Villa yang terkenal atau Apartemen mewah lainnya.
Akan tetapi Tuan Heri lebih pintar dari mereka berdua.
Hanya satu jam setengah, pesawat yang Rian naiki sudah mendarat sempurna di bandara yang ada di pulau kecil itu.
Begitu keluar dari pesawat, Aldi sudah menunggu nya disana. Begitupun dengan mobil yang akan mengantar mereka ke Villa tempat Ayla berada sekarang.
"Apakah Tuan muda baik-baik saja? kenapa Anda terlihat semakin gelisah dari biasanya! padahal sebentar lagi Tuan muda akan bertemu dengan Nona Ayla." tanya Aldi membukakan pintu mobil untuk Rian.
"Entahlah, mungkin karna aku terlalu bahagia. Karna sebentar lagi aku akan bertemu dengan istri dan kedua calon anakku." elak Rian yang tidak mau Aldi mengetahui ketakutan di dalam hatinya.
Sebab selama dalam perjalanan tadi Rian benar-benar gelisah. Takut jika Ayla menolak kedatangan nya. Rian takut jika sampai Ayla menolak untuk bertemu dengannya.
Intinya Rian merasa takut, takut yang melebihi ketika dia kehilangan tander besar di perusahaan nya.
Mendengar jawaban Rian yang masuk akal. Aldi hanya memerintahkan pengawalnya untuk langsung menjalankan mobilnya.
Didalam perjalanan berbagai kata-kata sudah Rian susun di dalam memori pikirannya. Agar nanti ketika bertemu Ayla dia tinggal melapalkan kata-katanya saja.
"O'ya Tuan muda. Beberapa hari yang lalu, tuan Vino, Nona Sari dan Tuan Nando baru pulang dari sini. Hampir satu bulan sekali mereka memang mengunjugi Nona muda. Kami sudah memeriksa semuanya." ucap Aldi memperlihatkan HP miliknya sebagai bukti.
"Itu sudah pasti. Mereka pasti bekerja sama dengan Papa. Hanya dirimu saja yang setatusnya Papa gantung. Ceritanya orang kepercayaan Papa, tapi kemana Papa membawa istriku kamu tidak diberi tahu." cebik Rian kepada Aldi dan mengembalikan lagi HP miliknya.
Mendengar ucapan Rian membuat Aldi rasanya ingin melemparkan saja Tuan muda nya itu keluar dari mobil. Padahal Tuan Heri tidak memberi tahu Aldi karna Tuan mudanya itu.
"Dasar Tuan muda durjana. Setatus ku digantung juga kan karna aku setia kepada tuan muda. Jadinya Tuan Heri berpaling ke yang lain."
__ADS_1
Sungut Aldi di dalam hatinya.
"Apa ini tempat nya" Rian kembali berbicara.
"Iya tuan muda. Sebentar lagi kita akan sampai ke wilayah Villa. Tapi penjagaannya di sekitarnya sangat ketat. Jika saja tadi saya tidak menelepon tuan Heri mungkin saja kepala saya sudah di tembak oleh mereka."
"Apa kamu memberitahu Papa jika aku sudah mengetahui tempat istriku? Aldi kamu ini yang benar saja. Bagaimana jika Papa kembali memindahkan Ayla." kesal Rian.
"Tuan muda tidak perlu khawatir. Karna Tuan Heri tidak akan melakukan itu. Beliau mengatakan biarkan saja Anda menemui Nona. Tapi apa bila Nona muda menolak untuk bertemu dengan Anda. Maka jangan pernah memaksa nya." kata Aldi melihat raut muka Rian yang langsung berubah murung lagi.
"Huuuuh....! itulah yang aku takut kan. Bagaimana jika Ayla tidak mau bertemu dengan ku!" seru Rian kembali tidak tenang.
Tiiiiiin....
Pengawal yang membawa mereka membunyikan klakson mobilnya ketika melewati pos penjagaan pertama.
Dan para penjaga yang memang sudah mengetahui kedatangan Tuan muda mereka itupun membuka palang pintu pertama.
Dan begitulah selanjutnya sampai mobil mereka melewati pos yang ke Lima. Yaitu pos penjagaan terakhir.
Suara Aldi menyadarkan Rian dari lamunannya tadi. Menyadari sudah tiba ketempat tujuan. Rian langsung saja turun dengan terburu-buru.
Karna meskipun Rian takut jika Ayla tidak mau bertemu dengannya. Namun rasa rindu Rian lebih besar dari rasa takutnya itu.
Begitu melihat kedatangan Rian. Para pelayan langsung menyambutnya dengan sopan. Namun Rian hanya diam saja ketika para pelayan menawarkan ingin makan dan minum apa.
Karna yang ada dipikirannya hanyalah Ayla. Ayla dan Ayla, yang lainnya Rian tidak perduli lagi.
"Dimana dia? dimana Istriku!" suara pertama yang Rian keluarkan. Setelah tadi hanya suara Aldi yang menjawab semua pertanyaan para pelayan disana.
"Nona ada di lantai atas Tuan muda."
Tidak menunggu ucapan pelayan yang selanjutnya. Rian langsung saja menaiki tangga itu satu persatu. Dan di dalam hatinya berbicara sendiri.
"Sayang aku datang...! Aku harap kamu tidak menolak kedatangan ku. Aku sangat merindukanmu, aku juga belum pernah melihat seperti apa dirimu setelah mengandung anak kita."
Tes. . Tes...
__ADS_1
Tidak sengaja. Rian meneteskan Air matanya sambil menaiki tangga. Rasanya dia begitu malu untuk bertemu Ayla. Setelah apa yang sudah dia lakukan.
Sedangkan Aldi di bawah memerintahkan semua pelayan untuk kembali ke kamarnya masing-masing.
Karna dia tidak mau jika ada diantara mereka yang mendengar pertengkaran Tuan muda dan Nona mudanya. Apalagi sekarang jam juga sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Tiba dilantai atas. Rian melihat Ayla sedang duduk di balkon yang berhadapan langsung ke laut lepas.
Dengan gemetar Rian berjalan pelan kearah bangku yang Ayla duduki. Sambil mendengarkan Ayla yang lagi berbicara bersama kedua calon anaknya.
"Kalian berdua kenapa malam ini tidak mau diam. Apa kalian ingin sesuatu,! Jika ingin sesuatu jangan sekarang ya. Ini sudah malam, kemana Mama menyuruh pelayan mencarinya. Sedangkan Om Nando tidak ada disini." Ayla berkata sambil tersenyum mengelus perutnya.
Karna memang semenjak tadi sore, Anak yang dikandungnya tidak pernah mau diam. Mereka bergerak tidak ada hentinya.
Mendengar semua ucapa Ayla dengan bayi dalam kandungannya. Rian bagaikan terpukul sendiri.
"Ya Tuhan, sudah tujuh bulan Istriku mengandung. Satu kali saja aku tidak pernah ada untuknya dan kedua calon anak-anakku. Suami dan Ayah seperti apa aku ini."
Rian kembali meneteskan Air matanya tepat di belakang Ayla. Namun ketika Rian ingin memeluk Ayla dari belakang. Ayla nya malah berdiri.
Deg...
"Rian....! tidak mungkin dia, pasti aku sedang berhalusinasi."
Ayla mengeleng-gelengkan kepalanya. Menampik pikirannya sendiri.
"Ayla, Sayang ini aku. Aku datang menjemput kalian!" Rian langsung saja memeluk Ayla dan menangis. Sebelum Ayla mengucapkan sesuatu.
"Pergilah, Aku mohon. Aku tau jika ini hanya halusinasi ku saja. Jangan pernah bayangan mu juga ikut menyakiti anak ku. Sudah cukup kamu yang menyakitiku Rian. Pergi, pergi dari sini. Aku tidak mau lagi melihat mu." ucap Ayla ikut menangis.
Karna ini memang bukan kali pertamanya melihat bayangan Rian datang menemuinya.
Setelah mendengar ucapan Ayla. Rian melepaskan pelukannya dengan perlahan. Dan Rian juga melihat kearah perut Ayla yang sudah besar.
"Ayla ini aku, Rian. Aku benar-benar Rian. Kamu tidak berhalusinasi, ini aku sayang." ucap Rian ingin kembali memeluk Ayla. Namun ketika mendengar suara Rian. Ayla langsung berjalan mundur menjauhinya.
BERSAMBUNG......
__ADS_1