
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Saya pegawai Restoran Anda yang ada di jalan halu, Tuan. Kalau ini putri Saya yang Anda tabrak tadi siang." jawab Dewi mengingat kan dengan bangganya agar Nando tidak lupa.
"Oh, itu kalian! Maaf Saya lupa." kata Pria itu biasa saja karena menurut Nando tidak ada yang perlu dia ingat bila masalah seperti itu.
"Tidak apa-apa Tuan tidak salah. Wajar saja karena kita belum kenalan.' Kenalkan nama Saya Dewi dan... ini putri Saya namanya Cika." dengan percaya dirinya Dewi memperkenalkan dirinya.
Aneh memang ada pegawai yang begitu lancang dengan bos nya. Kalau Nando orang biasa tidak ada masalah. Tapi Nando bukanlah sembarang bos, kekayaan keluarga nya sama seperti Andre sahabatnya. Tidak begitu jauh berbeda dari harta keluarga Erlangga.
Sampai-sampai membuat Sari menyergit aneh karena wanita itu hanya pokus menatap suaminya saja. Sehingga membuat nya langsung merangkul mesra pergelangan sang suami dan di balas Nando dengan merangkul pinggang nya juga.
Nando sendiri pun dengan terpaksa menerima uluran tangan dari wanita itu. Namum, dia tidak sempat menyebutkan namanya karena Salsa sudah merengek ingin segera ke tempat permainan sebab mereka sudah mendapatkan karcis untuk masuk ke sana yang diterima oleh Sari saat Nando berbicara dengan Dewi.
"Ayah ayo kita kesana sekarang." rengek Salsa menunjuk salah satu wahana permainan bola kecil.
"Eh... iya maaf ya Ayah jadi lupa." ucap Nando melihat ke arah gadis yang menarik-narik tangannya. Lalu dia pun berjongkok dan memberikan ciuman di wajah Salsa sambil tersenyum.
Perlakuan Nando pada Salsa pun tidak luput dari pandangan Dewi. Wanita itu semakin kagum melihat Nando begitu menyayangi anaknya. Walaupun Dewi sendiri belum tahu pasti itu anak Nando atau bukan karena kalau mendengar cerita Lena teman kerjanya. Nando tidak memiliki keturunan lalu siapa anak kecil yang di bawanya. Kalau Sari, dia sudah menduga pasti istri dari bosnya. Bisa dilihat dari penampilan dan juga barang yang dipakai yang harganya puluhan juta keatas.
"Maaf ya Dewi, kami kesana dulu. Ini putri Saya sudah tidak sabar."
"Berengsek si Lena bohongin gue. Katanya nggak punya anak, tahu-tahu nya punya anak kembar. Tapi gue nggak perduli mau dia punya anak atau tidaknya karena yang penting mencoba dulu kan."
Umpat wanita itu di dalam hatinya. Sebelum dia kembali berkata. "Iya Tuan tidak masalah. Putri Saya juga mau bermain di wahana permainan." berbohong padahal tadi dia sengaja mengikuti Nando dan keluarganya yang sedang berjalan ke arah wahana permainan.
Sebetulnya tadi Dewi sudah mau turun ke lantai bawah. Namun, begitu melihat Nando, dia mengurungkan niatnya lalu pura-pura ikut membeli karcis di wahana permainan.
Sehingga Nando yang mendengar ucapan Dewi berhenti lalu menoleh lagi kearah wanita itu dan anaknya. "Putri mu juga ingin bermain? Kalau begitu ayo! Siapa nama putri mu tadi Saya lupa." ajak Nando yang tidak tega melihat anak tersebut kalau bermain sendiri. Sedangkan dia dan si kembar akan bermain bertiga.
"Namanya Cika, Tuan. Kalau begitu terimakasih sebelumnya. Cika memang sangat suka bermain bola." imbuhnya dengan senang hati karena memang itulah tujuannya.
"Ayah!" Sari memanggil tidak suka setelah dia perhatikan Dewi seperti menyukai suaminya.
"Tidak apa-apa Bunda! Bermain lebih banyak orang akan lebih seru 'kan," Nando yang tidak memperhatikan gerak-gerik Dewi hanya berpikiran positif. Sebab pokus Pria itu hanya pada kedua anak angkatnya.
"Oh! Cika ya namanya. Ayo ikut bermain bersama kami." ajak nya sudah berjalan menuntut tangan mungil Salsa.
__ADS_1
Cika yang sudah mendapatkan tekanan dari sang mama hanya mengikut saja. Meskipun dia tidak suka bermain bola. Sebetulnya anak tersebut lebih senangnya bermain boneka.
"Sayang aku menemani anak-anak dulu ya! Bila ingin sesuatu bilang padaku jangan pergi mencari sendirian."
Cup...
"Aku mencintaimu!" ucap Nando seraya mencium dan mengungkapkan perasaannya terhadap Sari karena Pria itu tahu istrinya seperti tidak suka pada Dewi.
"Iya berhati-hatilah! Aku juga mencintaimu!" balas Sari tidak kalah mesranya. Lalu Nando pun meninggalkan sang istri di bangku tunggu yang tersedia di pinggir tempat wahana tersebut.
Begitupun dengan Dewi wanita itu juga ikut menunggu karena Cika sudah dibawa oleh Nando bersama kedua anaknya. Sampai beberapa menit tidak pada obrolan di antara keduanya. Sari yang tidak suka melihat tingkah Dewi seperti menyukai suaminya malas untuk mengajaknya bicara lebih dulu.
Sedangkan Dewi sendiri lagi memikirkan kata-kata apa yang bagus untuk mulai mengajak istri bosnya mengobrol. Melihat kemesraan yang Nando tunjukkan pada Sari membuatnya semakin ingin memiliki Pria tersebut.
"Hem! Nona perkenalkan nama Saya Dewi." kata wanita itu setelah berpikir beberapa saat, kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya.
Sehingga membuat Sari menoleh kearah samping lalu membalas uluran tangan wanita tersebut dengan baik. "Hai... Dewi perkenalkan juga nama Saya Sari," Sehabis perkenalan itu tidak ada lagi obrolan selanjutnya. Sari pun hanya sibuk memainkan telepon genggamnya. Sari memang bawel bila dia sudah dekat dengan seseorang. Tapi kalau baru kenal dia tidak akan berbicara bila orang tersebut belum memulai duluan.
"Nona beruntung sekali bisa menjadi istri, Tuan Nando." ucap Dewi yang entah sedang memuji atau hanya mengungkapkan rasa iri nya.
Sari pun langsung menoleh lalu menjawab. "Beruntung atau tidaknya menjadi istri seseorang tergantung kita sendiri. Selama kita masih bersyukur dengan apa yang kita punya maka kebahagiaan tersebut bisa kita rasakan." menjawab sambil tersenyum melihat suami dan anak-anak yang dia sayangi sedang tertawa bahagia.
"Iya Anda benar! Tapi berbeda dengan kisah Saya." imbuh Dewi merasa ucapan Sari seperti sedang mengintimidasi dirinya. Walaupun benar dia adalah wanita yang tidak pernah bersyukur.
"Kisah hidup Saya sangat pahit. Di saat hamil Cika, Saya di ceraikan oleh papa nya. Lalu Saya di usir karena keluarganya tidak boleh Saya menempati rumah yang seharusnya menjadi hak Saya." ucap wanita tersebut dengan sendu agar Sari memiliki rasa iba padanya.
"Kasihan sekali nasip mu! Maaf Saya tidak tahu ada kehidupan seperti itu, yang sabar mungkin Tuhan sedang mempersiapkan jodoh terbaik untuk kalian berdua." Sari menepuk pelan pundak wanita di sampingnya.
Sungguh Sari memang tidak tega mendengar cerita kehidupan Dewi. Di dalam hatinya merasa bersyukur karena dia hanya belum mendapatkan keturunan saja. Tapi Sari dikelilingi suami dan orang-orang baik yang sangat menyayangi nya.
"Lalu sekarang kamu dan anakmu tinggal di mana?" tanya Sari karena dia ingat suaminya bercerita anak kecil di Restoran mereka. Itu berarti adalah Cika. pikir Sari di dalam hatinya.
"Saya hanya tinggal berdua dengan putri Saya di kos-kosan yang tidak jauh dari jalan halu." jawab wanita itu yang sedang merasa bahagia di dalam hatinya. Bisa mendekati Istri sang bos, karena ini hanya salah satu trik dia saja.
"Oh kalau begitu dekat dengan Restoran suami Saya. O'ya kamu membawa Cika bekerja 'kan?"
"Iya benar Nona. Dari mana Anda tahu. Saya tidak ada pilihan selain membawanya bekerja. Pengasuhnya sedang sakit dan juga lagi mengasuh cucunya sendiri." ucap Dewi berbohong.
"Dari suami Saya. Dia yang bercerita, katanya ada salah satu pengawai yang membawa anak balita." Sari terus saja mengobrol sehingga dia melupakan kalau wanita tersebut menyukai suaminya.
"Iya benar Nona. Pegawai itu adalah Saya. Makaknya Saya sekarang sedikit bingung akan menitipkan Cika di mana. Mau mencari pengasuh baru gajinya sangat mahal. Sedangkan kami hanya mengandalkan gaji Saya bekerja untuk makan dan membayar pengasuh tersebut." jelasnya agar mendapatkan simpati dari Sari.
__ADS_1
"Kenapa tidak di bawa saja, bukannya sudah disiapkan taman dan tempat untuk istirahat bagi pegawai yang membawa anaknya?" ucap Sari tidak tahu tujuan Dewi bercerita masalah pribadinya, karena yang Sari ketahui Restoran mereka sudah menyiapkan pasilitas anak kecil. Guna mempermudah para pegawai yang memiliki anak.
"Bila terus-terusan kan tidak boleh. Katanya paling lama hanya satu minggu, makanya Saya bingung Nona harus bagaimana habis minggu ini." ujar Dewi yang sudah hampir berhasil menjalankan misinya.
"Oh iya Saya lupa ada peraturan seperti itu. Tapi... kamu tidak usah khawatir saya akan meminta pada bos kalian agar mengizinkan kamu membawa Cika pergi bekerja." kata Sari tersenyum merasa hal mudah baginya mendapatkan izin agar Dewi bisa bekerja sambil membawa putrinya. Cukup memberikan ciuman pada sang suami maka apapun permintaannya pasti langsung dikabulkan.
"Wah, benarkah! Nona Terima kasih Anda benar-benar wanita yang sangat baik?" jawab wanita itu memuji Sari dengan wajah penuh tipu muslihat nya. Padahal di dalam hatinya sedang tertawa bahagia.
"Iya benar! Tapi jangan katakan pada pegawai lainnya kalau kamu mendapat bantuan dari Saya." ujar Sari yang percaya begitu saja. Melihat cara wanita itu bercerita dia malah merasa bersalah sudah memiliki prasangka buruk di awal bertemu.
"Bunda!" suara lelah dari Arsya membuat obrolan dari kedua wanita dewasa itu berhenti.
"Sayang! Sini apa kakak sudah lelah?" tari langsung berjongkok lalu merentangkan tangannya untuk menggendong tubuh Arsya duduk di kursi yang ada di sana.
"Iya Arsa lelah, sudah saja ya mainnya kita ajak ayah dan adek pergi beli es krim." jawab Arsya meletakkan kepalanya di paha Sari.
Sebetulnya bukan karena lelah Arsya mengajak pergi dari sana. Tapi melainkan dia tidak menyukai Cika yang ikut bermain bersama mereka. Entah mengapa dia tidak menyukai anak kecil yang seumuran dengannya itu. Padahal biasanya meskipun Arsya anaknya pendiam tapi bila ada teman baru dia akan tetap bermain dengan anak tersebut.
"Iya baiklah! Kalau begitu kita ajak ayah dan adik mencari es krim. Tu ayahnya sudah kesini." Sari berkat dengan penuh kasih sayang karena baginya Arsya dan Salsa sama seperti anaknya sendiri. Begitu juga dengan kedua anak kembar tersebut. Bila bersama Nando dan Sari mereka juga serasa bersama kedua orang tuanya.
"Sayang! Kakak kenapa?" tanya Nando sudah selesai bermain melihat Arsya sudah keluar dari tempat bermain sebelum dia yang mengajak keluar.
"Kakak lelah dan ingin pergi membeli es krim, jadi sudah saja mainnya kapan-kapan lagi kita kembali kesini." ucap Sari mengelus kepala putra angkatnya.
"Oke kalau begitu kita pergi sekarang! Adek sudah dulu ya mainnya, lain kali lagi kita kesini. Itu lihat Kak Arsya sudah lelah." kata Nando pada Salsa agar tidak menangis. Namum, diluar dugaannya Salsa malah terlihat senang kalau mereka pergi dari sana.
"Iya Ayah, Adek tidak suka lagi belmain bolanya. Ayo kita pelgi dali sini," ucap Salsa menarik tangan ayah angkatnya agar segera meninggalkan tempat itu.
"Aneh! tumben sekali kalian tidak bersemangat seperti hari ini, kalau begitu ayo sayang kita pergi sekarang." ucap Pria itu merasa heran biasanya kedua anak angkatnya tidak pernah seperti hari ini. Lalu dia menoleh ke arah Dewi dan kembali berkata. "O'ya apa kalian ingin ikut bersama kami mencari es krim?" tanya Nando yang tidak tahu kalau akibat Dewi sama Cika putrinya. Arsya dan Salsa menjadi tidak bersemangat.
"Iya ***---"
"Ayah, ayo kita pelgi sekalang. Adek tidak suka kalo Cika ikut kita." rengekan Salsa membuat Dewi tidak sempat menyelesaikan ucapannya.
"Agh... baiklah kalau begitu kita saja yang pergi." Nando berusaha membujuk Salsa agar balita itu tidak menangis.
"Em... Dewi maaf ya mungkin lain waktu kita bisa mencari es krim bersama. Tapi untuk hari ini maaf putri Saya mungkin sudah lelah, jadi tidak mau ada orang lain ada di dekatnya." ujar Pria tersebut merasa tidak enak. Soalnya tadi dia sudah menawarkan.
"Oh iya tidak apa-apa Tuan. Lain kali kita masih bisa pergi membeli es krim bersama. Kami juga mau pulang sekarang." jawab perempuan tersebut menahan geram gara-gara salsa dia tidak bisa ikut bersama mereka.
"Hem baiklah, kalau begitu kami pergi dulu." Nando dan Sari pun berpamitan dari sana membawa si kembar mencari apa yang anak itu inginkan.
__ADS_1
Setelah kepergian keluarga Nando. "Aaagkk! Kurang ajar! Seharusnya bila anak kecil itu tidak meregek kita bisa ikut mereka. Cika dengerin apa kata mama ya. Bila bertemu Om itu lagi buatlah dia menyukai mu." Dewi akan memanfaatkan dengan cara membuat anaknya di sukai oleh bosnya.