
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Setelah puas berkeliling dan membeli es krim, makanan lainnya dan apa saja yang diinginkan oleh Arsya dan Salsa. barulah mereka kembali ke rumah Rian lebih dulu Untuk mengantarkan si kembar pada kedua orang tuanya.
"Kalian tidak main dulu?" Rian bertanya karena Nando mengatakan akan langsung pulang setelah Sari kembali ke depan. Dan saat ini mereka lagi berada di ruang tamu.
"Besok saja Ini sudah malam, biarkan anak-anak tidur dan istirahat Bila kami mampir lebih dulu di sini, gue jamin mereka tidak akan mau disuruh istirahat." ucap Nando tersenyum melihat Salsa sudah merebahkan kepalanya di bahu Rian papanya. Kalau Arsya sendiri begitu masuk kedalam rumah langsung mencari mamanya yang sedang berada di dalam kamar karena Ayla lagi membersihkan dirinya.
Sedangkan Sari lagi pergi ke kamar mandi di rumah tersebut. Tadi begitu mereka sampai disana wanita itu langsung pamit ke toilet yang ada di dekat dapur bersih. Tidak lama setelah itu Sari Pun sudah kembali lagi ke ruang tamu di mana tempat suaminya menunggu.
"Apa kita mau pulang sekarang?" tanya Sari yang baru tiba dekat sang suami.
"Iya kita langsung pulang saja, biar anak-anak bisa istrirahat." Nando langsung berdiri lalu berjalan mendekati istrinya.
"Kami permisi pulang dulu ya! Salam buat mama si kembar" ujar Nando pada Rian yang sedang mengelus kepala Salsa. Putrinya itu bila ingin tidur malam, memang akan selalu bermanjaan pada papa nya. Kalau tidak seperti itu Salsa tidak akan pernah tidur. Tapi bila bersama papanya saja. Kalau dengan kedua neneknya malah di elus rambutnya saja sudah tidur.
__ADS_1
"Iya hati-hati di jalanya. Terimakasih sudah membawa mereka bersenang-senang." sahut Rian tidak ikut berdiri mengantar tamunya pulang karena putrinya seperti sudah tidur.
Melihat Nando dan Sari sudah pulang. Rian pun kembali ke kamar sambil mengendong tubuh putrinya yang sudah tidur dari tadi. Hal yang hampir setiap hari Rian lakukan adalah menidurkan putrinya. Saat Rian sudah tiba di ujung tangga. Ayla datang ingin menyusul ke bawah. "Papa!" ucapannya heran pasalnya ada Nando dan Sari di rumah mereka.
"Hem! Mereka baru saja pulang." Rian yang mengerti keterkejutan istrinya. "Ayo kembali ke kamar putri kita sudah tidur." ajak Rian berjalan mendekati sang istri yang terlihat sudah segar karena sudah membersihkan tubuhnya.
"Iya, ayo kita kembali lagi. Aduh kenapa setiap hari Salsa hobi sekali menemplok pada papanya ya?" Ayla tersenyum melihat putri kecilnya tidur dengan nyenyak dalam pelukan suaminya.
"Entahlah sedari kecil hobinya seperti ini!" Rian pun tak kalah tersenyum bahagianya. Sungguh memiliki dua orang anak bersama wanita yang dia cintai serasa Pria itu tidak ingin apapun lagi. Makanya saat ada pekerjaan di luar negeri kalau istri dan kedua anaknya tidak ikut, maka Rian tidak akan jadi pergi. Walaupun berpisah hanya beberapa hari saja dia tidak sanggup.
"Tunggu biar aku yang membuka pintunya." cegah wanita tersebut saat Rian ingin membuka pintu kamar kedua anaknya yang saat ini masih di bikin satu kamar belum di pisah. Hanya saja kamar tersebut memiliki pintu penghubung untuk ke kamar mereka sendiri.
Cek... lek...
"Ada di kamar kita, tadi dia malah tidur di sebelah saat aku selesai mandi dia datang ke kamar kita." jelas perempuan itu membantu menyelimuti sang putri yang sudah di baringkan di atas tempat tidur nya sendiri.
"Oh... nanti aku saja yang mindahin kesini.' Em putri cantik papa sudah tidur saja. Padahal belum sempat cerita tadi bermain apa saja." Pria itu duduk di sisi ranjang Salsa dengan tersenyum. Salsa maupun Arsya memang selalu menceritakan apa saja kegiatan yang mereka lakukan apabila papa dan mamanya tidak ikut bersama mereka berdua.
Padahal tanpa keduanya bercerita sang papa sudah tahu karena bersama siapa saja anak-anaknya pergi anak buah Rian selalu mengawasi.
__ADS_1
"Tumbuhlah menjadi seperti mama mu ya, Nak. Tidak hanya cantik wajah, tapi juga memiliki hati yang jauh lebih cantik. Papa adalah laki-laki paling beruntung bisa menjadi suaminya. Di tambah dengan kehadiran kalian berdua membuat papa benar-benar sangat bahagia." ungkap Rian pada putrinya yang sudah tidur. Padahal Ayla ada di sampingnya.
"Benarkah!" seru Ayla langsung memeluk suaminya dari belakang dengan meletakkan kedua tangannya di atas bahu Rian, karena saat ini posisi suaminya sedang duduk di pinggir ranjang.
"Tentu saja benar! Kamu tidak hanya cantik parasnya saja tapi hatimu jauh lebih baik. Terimakasih sudah mau menjadi istri dan ibu dari kedua anakku." Rian membalikkan tubuh Ayla lalu dia tarik agar istrinya tersebut duduk di atas pahanya.
Cup...
"Aku sangat mencintaimu! Semakin hari cintaku semakin besar. Dirimu adalah duniaku, terimakasih sudah memberikan aku maaf."
"Aku... juga sangat mencintaimu! Terimakasih juga sudah menjadi sandaran untuk kami bertiga." Ayla pun ikut mengungkapkan perasaan nya. Rasanya tidak bisa dia ucapkan dengan kata-kata. Cinta, kasih sayang dan perhatian Rian berikan, yang selalu mementingkan keluarganya daripada perusahaan. Hal tersebut adalah sesuatu yang sangat Ayla kagumi dari suaminya itu.
Meskipun sedang mengadakan rapat penting. Bila mendengar kabar kalau istri ataupun putra-putrinya sakit. Maka lelaki itu akan meninggalkan pekerjaannya dan lebih memilih untuk pulang menemui keluarga kecil mereka.
Tidak pernah disangkanya kalau Rian adalah sosok suami dan ayah paling baik sedunia. Dulu, di awal mereka kembali berbaikan Ayla tidak menyangka Rian akan memperlakukannya seperti seorang Ratu yang berlanjut sampai saat ini.
"Kalau itu kamu tidak perlu berterimakasih kepadaku, karena hal tersebut memang tugas seorang suami untuk membahagiakan anak dan istrinya. Aku harus bisa memastikan kalian bertiga hidup bahagia." hal yang tidak pernah bosan pria itu ungkapkan pada sang istri.
Lalu Ryan pun kembali berkata. "Turun dulu ya, aku akan memindahkan kakak ke tempat tidurnya sendiri. Muuuaaah! Teruslah seperti ini aku hanya ingin kamu selalu berada di sisiku." Rian mendudukkan Ayla di atas ranjang setelah mencium bibir Ayla baru dia pergi ke mereka buat memindahkan putarannya tersebut.
__ADS_1
Lain hal pasangan Rian dan Ayla. Maka lain pula yang sedang dibicarakan oleh Sari dan Nando di kediaman mereka saat ini. Mereka berdua sedang membahas perihal Dewi.
Sebetulnya bukan mereka, hanya Sari saja yang bercerita sedangkan Nando hanya mendengarkan. Wanita itu sudah berhasil meyakinkan sang suami agar memberi izin pada Dewi membawa putrinya bekerja lebih dari masa yang sudah dikumpulkan. Meskipun sempat menjadi perdebatan di awal. Namun, akhirnya Sari mendapatkan izin dari sang suami.