
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Setelah selesai berbicara dengan kedua anak yang masih di dalam kandungan istrinya. Rian pun kembali lagi berdiri seperti semula.
"Sayang, aku sangat mencintaimu!" Rian kembali lagi memeluk istrinya, sebelum suara orang yang berdiri dari tadi di depan pintu masuk mengagetkan mereka semua yang ada di sana.
"Ckckck...! mentang-mentang kalian dah baikan, bunda sampe kalian kacangin. Mending kalo hanya bunda saja, lah ini ada sekertaris Aldi juga, lelaki yang sudah menyandang predikat bujangan tua dalam tiga periode." Andre berjalan masuk dan duduk di samping Bunda Mirna.
"Apaan sih, Lo! mengangu saja." ucap Rian seraya mengajak Ayla ikut duduk di atas sofa.
Sedangkan Aldi menyergit aneh, karena dalam pikirannya sejak kapan dia menyandang gelar predikat bujang tua. Ingin menjawab tapi dia tidak enak dengan Bunda Mirna. Alhasil sekertaris Aldi diam meskipun dihatinya gatal ingin menjadi.
"Gue dari tadi malam sampe nggak bisa tidur dengan nyenyak. Gara-gara gue khwatir sama keadaan Lo,! tau-taunya yang di khwatirin malah udah mau bikin adx untuk si kembar lagi." kata Andre yang belum tenang bila unek-unek dihatinya belum keluar semuanya.
Dari waktu Rian masih kritis, Andre memang belum datang lagi untuk menjenguk Rian maupun Ayla. Saat terakhir dia datang kerumah sakit ini adalah saat Rian belum sadar dan Ayla sendiri pun juga masih tidur karena sengaja diberi obat oleh dokter, agar dia bisa istirahat dengan tenang.
Pada hari saat Rian sadar dari tidur panjangnya. Andre harus berangkat keluar negeri untuk menyelesaikan urusan perusahaan nya. Jadi dia belum sempat untuk datang kemari.
"Suruh siapa, Lo nggak bisa tidur? Gue aja tidur dengan nyenyak, apalagi ada istri tercinta yang nemenin gue." Rian kembali membelai kepala Ayla. Dia dengan banga menunjukkan jika dia sangat mencintai istrinya itu.
"Udah, nggak usah pamer! Ayla memang istri----"
Ucapan Andre langsung di potong oleh Bunda Mirna.
"Sudah dulu berdebat nya, sekarang lebih baik kalian semua sarapan.' Andre, Aldi kalian berdua juga sarapan ya? ini makanannya sangat banyak. Sayang jika tidak langsung di habiskan." kata Bunda Mirna yang sudah mengisi piring untuk menantu kesayangan nya lebih dulu.
"Wah Bun, Andre juga mau piring nya diisi oleh Bunda." Andre semakin gencar mengangu Rian.
"Heh, yang sakit kan Gue, jadi, Lo yang sehat isi sendiri seperti Aldi tuh!" Rian pun tidak mau kalah dalam hal ini.
"Huuh...! iya, Nak! tunggu Bunda mengisi piring untuk Rian dan Ayla ya? setelah itu baru giliran kamu." Bunda Mirna menarik nafas panjang, melihat perdebatan antara Rian dan Andre.
"Iya, Bun. Andre belakangan juga nggak apa-apa. Yang penting untuk Ayla di dulukan, nih anak curut biar dia ngisi sendiri." ujar Andre lagi, entah mengapa begitu melihat Rian sudah sembuh seperti saat ini. Jiwa kaum emak-emak rebahan yang ada pada dirinya mulai ingin berdebat dengan Rian seperti biasanya.
__ADS_1
"Sayang sudah, kamu makan saja, jangan dengarkan kak Andre." Ayla menyentuh tangan Rian untuk menghentikan perdebatan suaminya dan Andre. Lelaki yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri.
"Tuh dengerin adx Gue ngomong! Jangan ngebantah sama kakak ipar." Andre pun sudah menerima piring berisi makanan yang di berikan oleh Bunda Mirna.
"Bubur ini bagaimana? Jika tidak dimakan sayang, sudah jauh-jauh Aldi membeli nya." Bunda Mirna membuka sangkek asoi yang di bawa Aldi tadi.
"Nanti biar di kasihkan pada penjaga di luar saja, Bunda tidak perlu khwatir, jika para penjaga itu tidak mau. Ada anak lelaki Bunda di sini." Rian yang bergantian menjahili Andre.
"Giliran kayak gini aja, Lo mangil kakak ipar." cebik Andre.
"Yang di kasihnya dua saja, satunya nanti untuk ku sendiri." ucap Ayla yang merasa kasihan sudah mengerjai Aldi gara-gara dia ingin menghindari Rian pagi ini.
"Baiklah, jika kamu mau satu, itu sangat bagus! Kasihan Aldi sudah jauh-jauh datang kesana hanya untuk membeli bubur, Dan sekarang bubur yang duanya akan Bunda kasihkan sekarang. Kalian habiskan saja sarapanya." kata Bunda Mirna yang berdiri membawa sangkik asoi bubur itu.
Tak lama setelah Bunda Mirna pergi keluar. Mereka hanya pokus menghabiskan sarapan mereka masing-masing sampai selesai.
Ada mungkin sekitar sepuluh menit setelah mereka semua selesai sarapan. Bunda Mirna kembali dengan wajah agak berbeda. Entah ada apa? Namun tiba-tiba Bunda Mirna mengatakan ingin pamit sebentar.
Rian, Ayla dan Andre hanya mengiyakan karena mereka tidak tau jika ada masalah apa? Sehingga membuat Bunda seperti terburu-buru. Tapi sebelum berpamitan dari sana Bunda Mirna mengajak sekertaris Aldi untuk ikut bersama nya.
"Sayang, Bunda pergi sebentar ya? Ingat jangan lupa untuk istirahat' dan kamu juga jangan terlalu banyak bergerak Nak, luka di dadamu belum sembuh. Ingat pesan Bunda, jangan bandel. Ada Nak Andre yang akan menemani kalian selama Bunda pergi."
"Apakah Nyonya di beritahu Tuan Ridwan?"Aldi bertanya setelah menutup pintu mobilnya.
"Iya, Saya diberitahu oleh nya, katanya ibu Bela sudah kabur setelah dia menjual harta mereka yang masih tersisa. Kasihan juga nasib gadis itu." Bunda Mirna ikut merasa kasihan, meskipun Bela sudah berencana ingin mencelakai anak dan menantunya.
"Anda benar Nyonya, jika dia seperti sekarang kita jadi kasihan melihat nasibnya. Tapi Tuan Heri dan Tuan Ridwan pasti tidak akan mencabut tuntutan mereka." Aldi yang memang sudah tau jika sekarang Bela sedang di rawat di rumah sakit polri yang ada di kota A.
Asik mengobrol, sampai tidak sadar mobil mereka sudah tiba di rumah sakit polri. Lalu setelah mobilnya berhenti mereka berdua turun untuk menemui Tuan Heri dan Ayah Ridwan yang sudah berada disana dari setengah jam yang lalu.
Tiba di dalam Bunda Mirna langsung berjalan mendekati suaminya yang sedang berdiri di depan ruang rawat Bela, bersama para polisi yang memang bertugas menjaga tahanan.
"Ayah, apa yang terjadi? kenapa dia sampai masuk rumah sakit?" Bunda Mirna bertanya setelah Ayah Ridwan melepaskan pelukannya.
"Dia mencoba ingin bunuh diri."
"Astaga? kenapa dia ingin melakukan hal itu? Bukanya bertaubat ini malah ingin menambah dosa baru." ucap Bunda Mirna mengeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Sepertinya karena Bela tidak bisa menerima jika dia sedang mengandung anak Anton. Jadi dia nekat untuk menghabisi nyawanya mengunakan sendok makan pagi ini, untung saja cepat ketahuan oleh sipir penjara" terang Ayah Ridwan.
"Apa? Dia sedang hamil anak Anton? lelaki tua yang ikut menculik putri kita? Ya Tuhan! bagaimana ini semua bisa terjadi pada gadis itu?" Bunda Mirna menarik nafas panjang dan mengelus dadanya sendiri.
"Iya, memang sudah bisa dipastikan jika dia sedang mengandung anak tua bangka yang sekarang tahanannya sudah di pindahkan ke negara dia sendiri, oleh putranya kemarin siang. Kata penjaga di sana, kemarin pagi Bela sempat minta di periksa oleh dokter di penjara" kata Ayah Ridwan menjelaskan.
"Tapi kenapa kalian yakin jika bayi itu adalah anak Anton, Yah? Mungkin saja kan jika itu anak orang lain. Bela seumuran dengan putri kita, bisa jadi itu anak dari pemuda di luaran sini. Lagian apa mungkin dia mengandung anak laki-laki yang sudah seumuran dengan almarhum ayahnya." Bunda Mirna masih tidak bisa percaya jika gadis yang seumuran dengan putrinya itu sedang mengandung anak laki-laki tua.
"Tidak ada yang tidak mungkin Bunda, selama beberapa bulan ini kami selalu memantau pergerakan mereka. Dan sekitar tiga minggu yang lalu, Bela di tahan oleh Anton di dalam apartemennya selama dua minggu lamanya, dan bukan tidak mungkin jika Anton tidak menyentuh nya kan? Apalagi sekarang Bela baru mengandung kurang lebih satu ming----"
Belum selesai Ayah Ridwan bercerita, sudah terdengar suara jerit Bela yang mengamuk di dalam ruangan tempat dia di rawat.
"Lepaskan aku, lepaskan! Aku ingin menemui kekasihku. Aku ingin mengatakan padanya jika aku sedang mengandung anaknya." Bela berontak minta tangannya yang di ikat untuk dilepaskan.
"Aaaakkkh! ini nikmat sekali beby. Om sangat menikmati tubuhmu! terus sebut Om, beby! Aaaaaaakkkhh! Om sangat menyukai pelayanan mu."
Dalam jeritannya. Bela mendengar bagaimana suara Anton saat menikmati tubuhnya. Suara-suara itu mengalun merdu, seperti saat mereka bercinta beberapa minggu lalu. Tidak di pungkiri, meskipun di awal melayani Anton, dia diberi obat perangsang lebih dulu agar Bela melayani lelaki tua itu dengan menikmatinya juga. Namun tidak untuk pagi dan seterusnya, karena dia melayani Anton dalam keadaan sadar dan juga dia ikut menikmati setiap sentuhan yang Anton berikan.
Lebih parahnya lagi, lelaki tua itu tidak pernah memakai pengalaman, karena jika misi mereka berhasil, dia berencana akan menjadikan Bela istri simpanannya. Jadi dia memang sangat menikmati percintaannya dengan wanita muda itu. Sehingga dia terus menyiram rahim Bela dangan bibit nya.
"Tidak, tidak, tidak! pergi kamu dari sini lelaki berengsek! Aku jijik padamu." Bela terus berontak sampai dia berhenti setelah di suntik obat penenang pada tangannya oleh dokter yang bertugas menjaganya.
BERSAMBUNG....😅
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya 🤗
like.
Komen.
Favorit.
__ADS_1
Dan Hadiah bunga maupun kopinya 😍
Terimakasih.🙏😘😘