Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Cinta Nando.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Tiga tahun kemudian.


"Sayang aku berangkat kerja dulu ya! Ingat jangan terlalu lelah." ucap Rian mencium kening istrinya. Selama tiga tahun ini setiap mau berangkat kerja Rian selalu mengatakan agar sang istri tidak terlalu lelah.


Sadar akan dirinya tidak bisa membantu menjaga anak-anak mereka apalagi Rian sendiri tahu betapa lelahnya Ayla menjaga Arsya dan Salsa yang sekarang suda tumbuh menjadi anak balita yang aktif ke mana-mana.


Untungnya si kembar memiliki dua orang nenek. Jika tidak Ayla pasti kewalahan harus menjaga anaknya seorang diri karena sampai saat ini mereka tidak pernah memiliki babysitter. Kecuali Mbak Susi yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ditambah dengan istri dari Pak Mukhlis yang membantunya membersihkan rumah mewah tersebut.


"Iya kamu juga hati-hati jangan khawatirkan aku." jawab ibu dua anak itu yang semakin hari malah semakin cantik menurut suaminya.


"Baiklah kalau begitu aku berangkat sekarang jaga dirimu dan anak-anak." setelah selesai melakukan acara berpamitan kepada sang istri Rian pun langsung masuk ke dalam mobil yang di sopir oleh sekretaris Aldi.


Sedangkan kedua anak kembarnya masih tidur di kamar mereka yang terletak di sebelah kamar kedua orang tuanya. Dari dua tahun lalu kamar mereka memang sudah pindah ke lantai dua.


Setelah mobil suaminya hilang dari pandangan Ayla pun baru kembali masuk ke dalam rumah mereka karena takut Arsya dan Salsa akan bangun apabila terlalu lama meninggalkan kedua anaknya.


Baik Ayla ataupun Sari mereka berdua sama-sama hanya menjadi ibu rumah tangga biasa. Jika Ayla tentu saja alasan pertama karena memiliki dua orang anak yang membutuhkan perhatiannya. Namun, kalau Sari memang tidak diizinkan oleh Nando untuk bekerja. Pernah beberapa kali wanita itu memohon agar sang suami mengizinkan dia untuk membuka usaha butik seperti ilmu yang pernah dipelajarinya saat kuliah.


Akan tetapi bukannya mendapatkan izin malah menjadi pertengkaran antara mereka berdua. Selain masalah itu mereka tidak pernah bertengkar lagi.


Sudah tiga tahun lebih mereka menikah tapi belum juga mendapatkan keturunan. Semenjak hari itu, hari di mana Sari menangis karena takut apabila sang suami meninggalkannya karena tidak bisa memberikan keturunan. Mereka berdua tidak pernah lagi membahas masalah anak. Nando ataupun Sari sudah sepakat apabila setelah lima tahun menikah belum juga memiliki keturunan maka mereka akan mengadopsi anak dari panti asuhan yang dikelola oleh Bunda Mirna.


Itu berarti waktunya tidak sampai dua tahun lagi. kalau Nando sendiri tidak pernah lagi mempermasalahkan hal itu. Mau Sari bisa memberinya keturunan atau tidak, baginya sama saja karena dia benar-benar tulus mencintai sang istri.


Meskipun di awal menikah Nando sangat mendambakan memiliki anak dengan wanita yang dicintai. Tapi semenjak melihat Sari menangis di dalam mobil beberapa tahun lalu. Membuat semua keinginan itu hilang sampai saat ini.

__ADS_1


Baginya kebahagiaan Sari adalah nomor satu, jadi sebisa mungkin Nando menjaga perasaan istrinya agar tidak pernah berpikiran yang bukan bukan. Termasuk berpikiran kalau dia akan meninggalkan Sari dan mencari wanita lain yang bisa mengandung anaknya.


Sedikitpun tidak ada yang berubah dari sikapnya memperlakukan sang istri. Hanya saja terkadang permasalahan itu ditimbulkan oleh Sari sendiri apabila sudah mendengar omongan dari para rekan kerjanya, yang mengatakan Sari mandul tidak bisa memiliki anak.


...****************...


Siang harinya. Saat ini Nando dan Andre sedang berkumpul di perusahaan Rian. Hal yang masih tetap mereka lakukan sampai saat ini.


Persahabatan yang awet meskipun sudah sama-sama menikah. Andre sendiri pun sudah menikah dari satu tahun yang lalu. Dengan wanita yang dijodohkan oleh kedua orang tuanya karena melihat anak mereka tidak pernah memiliki hubungan serius dengan seorang perempuan. Jadi orang tua Andre mengambil keputusan sendiri.


Andre yang tidak memiliki kekasih pun menerima baik perjodohan dari orang tuanya. Bahkan saat ini istrinya tengah mengandung lima bulan.


"Jadi untuk acara tujuh bulannya nanti sebetulnya mau di mana, Dre?" tanya Rian setelah dari tadi mendengarkan Andre bercerita akan mengadakan acara tujuh bulan untuk istrinya.


"Kalau tempat pastinya sih gue juga belum tahu, soalnya kedua mertua gue minta diadakan di rumah mereka, begitupun dengan mama. Dia juga pengenya dirumah karena ini cucu pertama nya" jawab Andre juga bingung sendiri, karena sampai saat ini dia masih tinggal di Apartemen miliknya.


"Makanya pisah rumah kayak kita berdua, jadi nggak bingung biar adil juga kan untuk mertua ataupun orang tua kita." jawab Rian dengan bangga.


Sedangkan Nando dari dulu sampai saat ini tetap menjadi pendengar yang baik. Dia hanya diam dan cukup sesekali menjawab yang penting-penting saja.


Padahal sudah dari awal datang, dia bercerita sedang bingung akan mengikuti yang mana, rumah mertua atau rumah orang tuanya sendiri.


"Kalau menurut gue sih mending ngadainya di hotel aja biar adil seperti kata Rian." Nando yang dimintai pendapat pun mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya sendiri.


"Huh... kalo gitu gue harus ngomong dulu sama istri gue. Biar dia nggak salah paham." ujar Andre yang tidak memiliki solusi lain kecuali menuruti saran sahabatnya.


"O'ya Ri... gimana kabar si kembar? Rasanya gue sudah kangen banget padahal baru satu minggu nggak ketemu." kata Andre menanyakan keadaan anak Rian.


"Kabar mereka baik! Hanya saja sering di culik sama tetangga gue." cibir Rian kearah Nando yang malah tertawa mendengar ucapan nya.


Sebab apa yang dikatakan oleh Rian memang benar, dia sering membawa Arsya dan Salsa di saat Rian ingin bermain dengan anaknya.

__ADS_1


Lalu Andre kembali bertanya tentang perkembangan si kembar. "Salsa sudah lancar apa belum ngucapin huruf R nya?"


"Jangan tanyain sudah bisa ngomong hurup R atau belum. Kayak nggak tahu putri gue aja, dia tu males banget kalo di ajarin sama mamanya. Kerjaannya cuma buat si Kakak nangis. Makanya kalau tidak terlalu banyak kerjaan kadang Arsya gua bawa ke perusahaan." ucap Rian sambil tersenyum bila mengingat kedua buah hatinya.


Semenjak anaknya berumur dua tahun Rian memang sering membawa putranya ke perusahaan. Arsya meskipun baru berumur hampir empat tahun tapi sudah mengerti karena anaknya mandiri dan bicaranya pun sudah lancar. Berbeda dengan sang adik yang manja dan belum bisa menyebutkan huruf R.


Sikap keduanya sangat jauh berbeda padahal umur mereka hanya berbeda hitungan menit dan besar badannya pun sama. Padahal juga dilahirkan oleh wanita yang sama pula. Tapi namanya juga manusia walaupun satu ayah dan ibu tetap saja ada perbedaan.


Tahu yang dimaksud penculik itu adalah Nando membuat Andre bertanya hal yang sudah sering ditanyakan sebelumnya. "Nando, Lo nggak ada niat buat duain Sari kan?" tanya lelaki itu penuh selidik.


Bukan apa-apa Andre sering bertanya seperti itu. Dia hanya takut kalau rumah tangga sahabatnya hancur bila Nando menduakan istrinya yang merupakan sahabat Andre juga.


"Apaan sih! Mana mungkin gue melakukan hal itu, kalian tahu kan gimana cintanya gue pada Sari. Meskipun dia tidak bisa memberikan keturunan, cinta gue nggak akan pernah berkurang sedikitpun. Lebih baik kami tidak memiliki keturunan daripada gue harus kehilangan dia." jawaban yang sama selalu Nando katakan karena hampir setiap kali mereka bertemu Andre selalu menanyakan hal yang serupa.


Dia tidak marah ataupun tersinggung mengenai pertanyaan dari kedua sahabatnya karena tahu itu semua untuk kebaikan rumah tangga nya juga.


"Baguslah kalo Lo punya pikiran seperti itu. Jujur saja gue takut Lo diam-diam sudah selingkuh dan memiliki anak dari perempuan lain. Soalnya gue lihat Lo nyantai banget." jujur Andre yang tidak pernah bisa menyimpan rahasia pada kedua sahabatnya. Dia selalu berbicara apa yang tercatat pada otaknya.


"Bener banget apa yang di ucapin Andre. Gue juga takut Lo menduakan bundanya Arsya dan Salsa." imbuh Rian tidak mau membuat Nando mengingat masalah keturunan. Sebagai seorang ayah tentu Rian tahu seperti apa perasaan sahabatnya itu.


"Hm Lo bener Ri... walaupun kami berdua tidak memiliki anak sendiri tapi ada Arsya dan Salsa yang akan mewarisi harta kekayaan gue." Nando pun tersenyum membenarkan. Baginya yang penting tidak ada masalah antara dia dan istrinya karena seperti sekarang saja dia sudah cukup bahagia.


lama mereka mengobrol sehingga tidak sadar jam pun sudah mau menunjukkan pukul setengah dua siang. Tadi Nando dan Andre datang kesana saat jam makan siang.


Melihat jam di pergelangan tangannya sudah siang. Nando yang juga memiliki pekerjaan untuk melihat kantor di Restoran barunya berpamitan lebih dulu. "Gue duluan ya, soalnya mau melihat orang yang sedang membereskan kantor di Restoran baru yang akan gue tempati sehari-hari." pamitnya meninggalkan kantor Rian.


Setelah tiba di parkiran Nando pun langsung masuk ke dalam mobil mewahnya dan mulai menjalankan kendaraan tersebut membelah jalanan ibu kota menuju Restoran baru nya. Dengan kecepatan sedang dia terus memutar setir kemudi di tengah kendaraan lain.


Tidak sampai dua puluh menit mobil mewahnya pun sudah memasuki area Restoran. Lalu setelah memarkirkan mobil tersebut. Dia keluar dan langsung berjalan masuk kedalam.


Melihat kedatangan Bos tempat mereka bekerja para pelayan yang di jumpai sepanjang jalan masuk, menyapa hormat pria itu. Namun, baru saja Nando akan menuju kantor yang terletak di lantai atas dia terhenti karena menabrak seseorang.

__ADS_1


Bruuuuk...


Nando langsung berjongkok setelah tidak sengaja menabrak seseorang anak kecil yang sama besarnya dengan si kembar.


__ADS_2