Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Keadaan Bela.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Setelah disuntik obat penenang pada selang infus nya. Barulah Bela berhenti berontak, karena tidak lama setelah itu dia pun langsung tertidur.


"Apa yang terjadi di dalam, Yah? Kenapa Bela menjerit seperti itu?" tanya Bunda Mirna yang belum mengetahui keadaan Bela yang sebenarnya.


"Entahlah, mungkin dia kembali mengamuk seperti saat dia baru sadar tadi." jawab Ayah Ridwan yang ikut melihat kearah pintu yang masih tertutup rapat.


Beberapa saat setelah selesai berbicara berdua saja dengan sekertaris Aldi. Tuan Heri pun berjalan mendekati besanya yang sudah duduk di bangku tunggu di depan ruang tempat Bela di rawat saat ini.


"Apakah dia kembali mengamuk, Rid?" ucap Tuan Heri setelah dia tiba di sana


"Heem, iya! kita tunggu dokter tadi keluar, dan kita tanyakan harus bagaimana untuk selanjutnya jika keadaannya terus seperti itu." terang Ayah Ridwan kepada besanya itu.


"Baiklah, kita tunggu dokternya keluar. O'ya jika hasil pemeriksaan nya memang benar jika dia mengalami gangguan jiwa bagaimana? apakah tidak apa-apa dengan bayi yang sedang di kandungannya?" Tuan Heri juga merasa binggung, bila hasil pemeriksaan yang terakhir ini, menunjukkan jika Bela memang sudah mengalami gangguan kejiwaan nya, makanya terkadang dia tertawa dan menjerit dalam waktu bersamaan pula.


"Semoga saja dia masih waras, lagian jika memang benar otaknya konslet. Kasihan dengan anak yang di kandungannya kan. Anak itu tidak bersalah, dia hanya ikut menjadi korban dari keserakahan mereka semua." kata Ayah Ridwan yang juga tidak tega dengan keadaan Bela saat ini. Yang membuat dia tidak tega adalah karena gadis itu sedang mengandung.


"Ya Tuhan! Jadi dia seperti itu karena dia mengalami gangguan jiwa? Lalu untuk apa Bunda di suruh datang kesini?" tanya Bunda Mirna terlihat kaget, mendengar jika perempuan yang beberapa waktu lalu selalu tampil dengan sempurna, kini mengalami gangguan jiwa.


"Iya Bun, tadi dokternya kami suruh untuk kembali melakukan pengecekan ulang, agar tidak salah memponis jika Bela mengalami gangguan jiwa. Bunda di suruh kesini untuk mencoba mengajak Bela berbicara seperti ibu dan anak, mana tau dia bisa mendengar ucapan Bunda. Kita hanya kasihan pada anak yang dikandungnya. Jadi kita tunggu saja dulu sebentar lagi, setelah dia kembali tenang baru Bunda ajak dia berbicara." terang Ayah Ridwan agar istrinya mau membantu mereka.

__ADS_1


Akhirnya mereka bertiga pun menunggu di sana.


************


Lain di rumah sakit polri, maka lain pula di rumah sakit Central Medika tempat Rian di rawat selama tiga hari ini. Pagi ini, tepatnya setelah kepergian Bunda Mirna dan sekertaris Aldi tadi. Dokter Jeklin datang keruangan itu untuk memeriksa keadaan Rian.


"Selamat pagi Tuan muda Rian? bagaimana keadaan Anda?" Sapa dokter Jeklin berjalan masuk di ikuti dua orang perawat di belakang nya.


"Ya, selamat pagi juga, Dok! keadaan Saya sangat baik, seperti yang Anda lihat sekarang." jawab Rian tak kalah ramahnya.


"Syukurlah jika begitu, tapi izinkan kami untuk memeriksa luka Anda sebentar, Ya?" ucap nya sudah mendekati Rian yang memang sudah kembali berbaring di atas ranjang pasien.


Sebelum dokter Jeklin masuk tadi, memang Rian dengan cepat pindah kesana. Agar tidak menyinggung para dokter di rumah sakit itu, karena dia tidak mematuhi peraturan yang ada. Sedangkan Ayla lagi ke kamar mandi.


"Sepertinya luka Anda sembuh lebih cepat Tuan muda Rian, Saya benar-benar tidak menyangka jika Anda bisa melewati masa kritis itu dengan sangat mudah. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh para perawat dan dokter di rumah sakit ini. Mereka semua mengatakan jika keajaiban dari kedua calon anak yang masih di kandung oleh istri Anda lah, makanya Anda bisa melalui masa kritis nya."


Dokter muda itu tersenyum bari kembali menyimpan alat pemeriksaan yang di pakainya tadi di atas nampan yang di bawa oleh salah satu perawat di belakangnya.


"Anda benar sekali dokter, semua ini adalah do'a dari istri dan kedua calon anak Saya! O'iya, Saya hampir lupa mengatakan jika sore ini Saya ingin pulang saja, Dok. Saya kasihan kepada istri Saya yang lagi hamil besar seperti itu, harus diam di rumah sakit karena ingin merawat Saya." Rian melihat kearah kamar mandi, karena mendengar pintunya sudah di buka oleh Ayla.


"Tidak apa-apa jika Anda ingin pulang sore ini. Tapi tolong jaga luka di dada Anda sama satu lagi, Anda harus berobat jalan sampai semua jahitannya lepas, agar luka nya bisa sembuh seperti biasanya." kata dokter itu yang masih merasa khawatir akan kesembuhan luka bekas operasi nya.


"Tentu, jika itu Anda tidak perlu khawatir, Dok! Saya juga akan meminta Dokter Sean yang merawat Saya selama berada di rumah." Rian menyakinkan Dokter Jeklin agar tidak perlu khawatir.


"Bagus sekali Tuan muda, Dokter Sean bisa mengurus luka Anda ini, tadi Saya hampir lupa akan hal itu. Kalau begitu Anda datang kesininya tiga hari dari sekarang, Ya? untuk melakukan check up saja pada luka Anda.' Selamat pagi Nona? bagaimana keadaan Anda sekarang?" Dokter Jeklin langsung menyapa Ayla dengan ramah begitu melihat Ayla.

__ADS_1


"Pagi juga, Dok! keadaan Saya baik. Bagaimana keadaan suami saya dokter? Apakah dia sudah boleh pulang nanti sore?" tanya Ayla yang masih ragu ketika Rian mengatakan ingin pulang pada sore ini.


"Keadaannya sagat baik, Nona tidak perlu khawatir. Sore ini Tuan muda Rian boleh pulang, jika dia memang sudah tidak betah tinggal di sini. Lagian apa yang dikatakan Tuan muda ada benarnya juga. Tidak bagus memang wanita hamil tinggal di rumah sakit bila terlalu lama. Tapi tiba di rumah nanti, tolong Anda jaga agar dia tidak melakukan pekerjaan berat ataupun terlalu banyak bergerak ya, Nona?" kata Dokter muda itu memperbaiki letak kacamatanya.


"Iya, dokter, Saya akan menjaga nya." jawab Ayla singkat.


"Oke, jika begitu kami pamit undur diri untuk memeriksa pasien lainnya dulu, Ya? nanti jam dua siang sebelum kalian pulang Saya akan datang kesini lagi untuk memeriksa keadaannya lagi. kalau untuk masalah obat jalan dan yang lainnya biar kami yang mengurus nya langsung." ucap Dokter Jeklin sebelum dia pergi dari sana.


"Sayang, sini mendekat lah?" Rian memangil Ayla yang habis mengantarkan Dokter Jeklin sampai ke depan pintu.


"Iya, sebentar aku ingin minum dulu." Ayla berjalan kearah sofa lalu dia duduk sebentar untuk meminum air putih. Barulah setelah itu dia mendekati Rian lagi.


"Ada apa sayang? apa kamu ingin sesuatu?" Ayla bertanya dengan suara lembutnya.


"Kamu benar sekali sayang, aku memang ingin sesuatu. Tapi kamu duduk lah di atas bersama ku." kata Rian menarik tangan istrinya agar ikut duduk bersama nya di atas ranjang pasien yang berukuran sedang.


"Katakan saja kamu ingin makan apa? biar aku ambilkan. Itu tadi Mama sudah mengirimkan banyak makanan dari rumah." Ayla menunjuk pada meja yang sudah di penuhi oleh berbagai macam makanan kesukaan dia dan Rian yang dikirimkan oleh mertuanya pada sopir pribadi keluarga Erlangga.


"Aku tidak ingin makanan itu sayang." Rian yang sudah kembali duduk dan memeluk tubuh Ayla dari samping.


"Lalu kamu ingin makan apa? makanan yang di kirim Mama adalah makanan kesukaan kita." Ayla bertanya bingung.


Namun yang di tanya malah tersenyum penuh arti.


BERSAMBUNG.....😃

__ADS_1


__ADS_2