
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Setelah selesai membeli berbagai macam makanan ringan. Nando dan Sari pun kembali lagi menaiki mobil untuk menuju ke tempat Villa keluarga Erlangga, yang sekarang di tempati oleh Ayla sahabat mereka.
Di dalam mobil, keduanya tidak lagi banyak bicara seperti tadi. Jika Nando dia sedang larut dengan pikirannya yang sedang memikirkan perempuan di sebelahnya. Tapi berbeda dengan Sari, dia sedang memikirkan ucapan Papa nya beberapa hari yang lalu. Kedua orang tuanya ingin menjodohkan Sari dengan anak dari rekan bisnisnya, Apabila dalam bulan ini dia tidak segera membawa pasangannya ke rumah.
"Tuan, sebentar lagi kita sudah memasuki wilayah kawasan Villa." kata Budi mengingatkan tuan nya yang masih terdiam dari tadi.
"Agh... Iya! Jika sudah memasuki kawasan Villa, maka mulai pelankan laju mobilnya." perintah Nando memperbaiki duduk nya dengan benar. Lalu diapun menoleh kearah gadis yang ada di sampingnya.
"Kenapa?" lelaki itu bertanya singkat.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya lag----" Sari tidak jadi melanjutkan ucapannya ketika ingin menyebutkan kalau dia lagi memikirkan perjodohan yang akan di lakukan oleh kedua orang tuanya.
"Aku...aku sedang memikirkan anak Ayla nanti laki-laki atau perempuan semua, ya? Kira-kira menurut kakak laki-laki atau perempuan, kak?" Sari secepat kilat mengelak akan kebenaran yang hampir dia katakan tadi. Namun, Nando tidak bisa dia bohongi begitu saja. Tapi meskipun dia tau Sari hanya asal bicara, lelaki yang sudah menginjak umur dua puluh empat tahun itupun mengikuti semuanya. Seolah-olah dia percaya dengan yang Sari katakan tadi.
"Menurut kakak anaknya laki-laki semua." jawab Nando sesuai tebakannya sendiri. Tapi entah jika tebakan para raeder.
__ADS_1
"Iih, nggak seru dong kalo gitu, bagusnya mereka pasangan, satu laki-laki dan satunya lagi perempuan. Biar nanti ada yang membantu Ayla juga, masa iya nggak ada perempuan nya. Keenakan Rian lah kalo gitu." meskipun di awal Sari berbohong jika dia sedang memikirkan calon anak Ayla, tapi tidak dengan sekarang. Dia memang mengatakan bersungguh-sungguh sampai-sampai Nando yang melihat eskpresi nya menjadi tertawa.
"Ha...Ha...! Kamu ini lucu sekali, kita lagi membicarakan calon anak Ayla sama Rian. Kenapa malah jadi seperti kita membicarakan anak kita." ucap Nando masih tertawa sambil memegang perutnya.
"Apa bedanya kita membicarakan anak mereka dengan anak kita, jika aku yang hamil anak kembar pun akan tetap seperti itu." Sari masih kekeh dengan pendiriannya.
"Eeh, nggak bisa gitu, ya! Jika kakak inginnya laki-laki semua. Biar kalo bermain mobil-mobilan atau main bola bertambah seru. Contohnya dulu kakak hanya bermain sama papa aja, sepi banget kurang seru. Kalau mainnya bertiga kan seru." Nando yang juga anak tunggal pun tidak mau kalah dengan keinginannya. Padahal entah anak siapa yang mereka perebutkan.
"Tidak bisa seperti itu! Enak di kakak dong kalau laki-laki semua. Yang hamil nya kan, ak----" Sari terhenti saat ingin mengucapkan Yang hamilnya kan aku bukan, kakak.
Jangan lupakan dengan pipinya yang langsung memerah seperti kepiting rebus. Malu itulah yang di rasakan oleh Sari sekarang, bagaimana mungkin mereka berdua memperebutkan jenis kelamin anak. Sementara mereka berdua saja belum menikah. Jangankan untuk menikah, mereka saja tidak memiliki hubungan apapun.
"Oh, Agh, iya! Mari kita turun jika sudah sampai." Nando menjawab bingung saat menjawab perkataan Budi. Dia pun tidak bebeda dengan Sari yang juga merasa malu sendiri.
"Sial, kenapa gue jadi ketularan bar-bar seperti dia. Bisa-bisanya kami memperebutkan masalah anak. Aduh Nan, Lo kenapa mendadak jadi gini sih."
Nando mengerutuk di dalam hatinya sambil membuka pintu mobil sendiri untuk dia turun, karena Budi belum sempat turun untuk membukakan pintu untuk kedua penumpang nya itu.
Tiba di luar mobil, keduanya sudah di sambut ramah oleh para pengawal dan juga pelayan yang sudah mengenal mereka berdua.
"Selamat datang Tuan Nando, Nona Sari." sambut Susi pelayan yang bekerja ikut Ayla dari kota B. Susi mengikuti Ayla kesini baru tiga bulan kurang. Atas permintaan Ayla yang ingin Susi yang menemaninya selama dia tinggal di Villa milik mertuanya.
__ADS_1
"Terimakasih, mbk Susi," jawab keduanya tidak mau melihat satu sama lain. Mendadak mereka berdua seperti orang yang sedang bermusuhan.
"Wah kalian sudah datang! Tapi bagaimana kalian berdua bisa bareng seperti ini?" Ayla datang dari dalam Villa dengan tersenyum bahagia menyambut kedua sahabatnya itu.
"Ay, maaf nanti saja nanya nya, ya! Aku ingin istirahat dulu." ucap kedua tanpa sengaja. Yang berbeda satu menyebutkan kata aku, satu nya lagi kata kakak. Tau jika mereka berdua melakukan hal yang aneh lagi keduanya langsung saja masuk menuju kamar mereka masing-masing. Jangan heran, Tuan Heri memang sudah menyiapkan kamar untuk semua sahabat menantunya apabila mereka berkunjung melihat Ayla. Tujuan Tuan Heri ingin mereka merasa nyaman saat melihat menantu yang sudah di anggap sebagai putrinya sendiri.
"Ada apa dengan mereka berdua? Kenapa mendadak jadi aneh seperti itu. Jika Sari tidak heran lagi, lah ini kak Nando juga jadi aneh. Apa mereka salah makan, makanan sebelum datang kemari?" ibu hamil muda itu merasa heran melihat tingkah keduanya.
"Maaf Nona, ini barang bawaan Tuan Nando dan Nona Sari mau di taruh kemana?" Budi menghadap Ayla yang masih berdiri tidak jauh dari tempat mobil mereka tadi.
"Oh, itu koper nya tolong di bawa masuk saja, sekalian kamu makan siang dulu, para pelayan sudah menyiapkan semuanya. Jika makanan yang mereka bawa biarkan Mbk Susi yang membawanya masuk." kata Ayla yang juga ingin kembali masuk kedalam Villa. Diikuti oleh Susi dan juga Budi di belakangnya.
Sementara itu di dalam kamar Villa. Sari sedang berjalan mondar-mandir seperti setrikaan. Jangan lupakan gadis itu berjalan sambil mengigit salah satu ujung kukunya.
"Aaah.... Kenapa jadi seperti ini? Ini mulut juga kebiasaan banget asal ngomong. Aku kan jadi malu mau bertemu kak Nando lagi. Bagaimana jika dia berpikir kalau aku ini perawan tua yang sudah pingin punya anak? Aaakkh... Aku malu sekali!" Sari menghentak kakinya ke atas lantai untuk melampiaskan rasa malunya itu.
"Apa-apaan ini, aduh seumur-umur baru kali ini gue ngerasa malu banget. Semoga Sari nggak berpikiran macam-macam tentang gue. Lagian ini gara-gara dia yang nanya anak Ayla laki atau perempuan, kan gue jadi ungkapin keinginan gue." ujar Nando sambil berjalan mondar-mandir juga.
Duh Mak author jadi ingat belum nyetrika juga🤦 padahal dah numpuk.🙆🙆
*BERSAMBUNG*.....
__ADS_1