Tidak Ada Judul

Tidak Ada Judul
Meninggalkan Rumah


__ADS_3

Jika menghilang akan membuat mereka tertawa puas, maka aku akan menghilang.


_Olivia Corliss_


***


Udara di luar dingin, penghuni rumah nampak masih terlelap di balik selimut ketika aku mengendap-endap untuk keluar. Rambut hitamku yang panjang diikat sembarang dan wajahku polos tanpa sentuhan make up ataupun lipstik tipis.


Setengah jam aku berjalan menyisir jalanan setapak hingga jalan raya, mengamati bapak-bapak yang membawa gerobak untuk berjualan sarapan juga menghitung kendaraan yang lewat di pagi hari.


Suasana cukup bersahabat dibandingkan jam berangkat kantor yang timbul macet di mana-mana, deretan mobil yang berjajar di lampu merah hingga saling bersahutan membunyikan klakson saat lampu yang di tunggu berubah hijau.


Sekipun lelah, aku tetap memaksa kakiku berjalan beberapa kilometer untuk menjauh dari rumah berwarna putih tulang. Rumah yang setiap sudutnya menyisakan banyak luka.


“Aw” teriakku tiba-tiba.


Badanku jatuh ke aspal namun tidak menimbulkan luka parah, hanya lecet kecil di bagian lengan. Pemilik mobil sudah menginjak rem secara mendadak sebelum sampai menabrak tubuhku.


“Kau tidak apa-apa kan?” ucap lelaki yang memakai kemeja abu-abu polos dengan lengan yang di lipat. Tingginya sekitar seratus tujuh puluh sentimeter, hidungnya mancung dipadu alis yang tebal dengan bibir yang tipis. Kulitnya kuning langsat sehingga memberi kesan tampan sekali melihatnya.


“Harusnya kau menabrakku, kenapa berhenti,” Aku berdiri memegangi lengan yang tergores, dia mengulurkan tangan namun aku menolaknya.


“Kau aneh sekali,” ucapnya sambil meneliti penampilanku, "Sepertinya kau kelelahan,”


“Aku sungguh menyesal masih bisa berdiri seharusnya aku bisa mati tanpa bunuh diri agar arwahku tidak gentayangan,” Aku terus mengoceh karena berharap mobil ini menabrak tubuhku agar aku mati atau setidaknya akan amnesia, itu lebih baik.


Dia terkekeh geli dan tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. Ia mengajakku masuk ke dalam mobilnya sebagai bentuk tanggung jawab.


“Kita ke klinik saja,”


“Tidak perlu, ini hanya luka kecil tidak seberapa,” tolakku dengan menahan perih yang sudah terlihat berdarah.


“Baiklah, tapi anda tidak bisa menolakku untuk mengobatinya,” Dia mengeluarkan kotak p3k dari mobilnya, dan aku masih duduk di jok belakang dengan pintu terbuka.


“Sini tangannya,” pintanya sopan lalu dia meraih tanganku. Aku meringis perih saat ia membersihkan lukanya, dan selanjutnya ia menempelkan plester ke lenganku.


“Nona rumahmu di mana biar saya antar?” Dia sudah masuk mobil dan menutup pintunya, tak lupa memasangkan sabuk pengaman untukku. Karena tanganku lumayan perih untuk memasangnya sendiri.


“Aku tak memiliki rumah, bawa aku kemanapun,” jawabku asal.

__ADS_1


Dia menautkan alisnya yang tebal, “Anda tuna wisma?”


Aku terkekeh hingga lupa akan alasanku kabur dari rumah. Dia membuatku heran, wajahnya tergolong tampan, mobilnya terbilang mewah dan kemejanya perkiraanku itu di banderol dengan harga yang tak murah. Artinya dia pria tampan yang kaya. Namun masih bisa di bodohi perempuan.


“Aku sedang bertanya nona,” panggilnya yang masih fokus menyetir.


“Jangan panggil aku Nona,” protesku bosan mendengarnya selalu menggunakan kata-kata formal, mungkin dia bukan tipe orang yang tidak asyik di ajak bercanda.


“Panggil aku Olivia, namaku Olivia,” imbuhku kemudian.


“Baik Olivia, kau ingin di antar kemana?” Dia bertanya lagi.


“Ikut kemana saja kamu pergi,” jawabku pasti, lebih baik ikut dengan pria asing daripada kembali ke rumah yang penuh luka.


Dan akhirnya aku tertidur di mobilnya setelah ia menyodorkan sebotol air mineral. Karena hausku terobati dan aku mengantuk.


Dia berputar arah, menuju ke arah berlawanan setelah melihatku tertidur pulas di jok depan.


Mobil putih miliknya berhenti di sebuah halaman rumah yang penuh tanaman hijau, rumah yang bukan lagi mewah melainkan sangat mewah bak istana. Aku mengerjap, menyipitkan mata dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.


“Silahkan turun,” Dia membukakan pintu mobil lalu mengajakku masuk.


“Pelayan, siapkan kamar dan pakaian untuk nona ini,” titahnya kepada pelayan di rumah yang memakai baju hitam perpaduan putih khas pelayan.


“Rumahmu besar sekali, kau tinggal bersama keluargaku di rumah sebesar ini?” Aku masih mengekor, dia mungkin memilih bolos ke kantor untuk mengantarku ke rumahnya.


“Aku hanya bersama Kakakku dan pelayan,”


“Wah..wah.. rupanya kau kesepian di rumah sebesar ini,”


“Kau itu sok tahu sekali,” ucapnya sambil membuka pintu ke kamar yang akan aku tempati. Kamar seluas dua kali lipat dari kamarku, dengan dinding di poles cat warna pastel sehingga suasana ruangan lebih hidup dan cerah. Kamar ini juga dilengkapi perlengkapan sekelas hotel bintang lima.


“Ini kamarku?” tanyaku kagum, kamar tamu semewah ini lalu bagaimana dengan kamar utama.


“Istirahatlah nona,”


“Panggil Olivia,” potongku kemudian.


“Iya Olivia jika butuh apapun bisa memanggil pelayan,” Dia hendak membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


“Mau kemana?”


“Balik ke kantor,”


“Bolos sehari uangmu tak akan habis kan? Aku sedang kacau,” pintaku dengan wajah memelas.


“Kau sedang ada masalah?”


Aku mengangguk lemah, menepuk-nepuk pelan ke sofa di sebelahku untuk memintanya duduk. Aku butuh teman cerita atau sandaran sementara.


“Permisi tuan,” ucap pelayan menyerahkan dress dengan warna hijau pastel yang terkesan lembut.


“Silahkan pakai ini dan mandilah agar badanmu segar,”


“Baiklah, aku juga sudah merasa lengket,” Aku meraih dress di tangannya lalu masuk ke kamar mandi, dia pun keluar menungguku di ruang tengah dengan secangkir teh hijau.


Setengah jam lamanya aku membersihkan badanku dengan air dingin, mengguyurnya perlahan hingga menciptakan rasa segar. Setelah selesai mandi aku mengenakan dress hijau pastel sebatas lutut dengan rambut yang kubiarkan terurai. Aku tak membawa make up apapun sehingga wajahku masih tak tersentuh make up.


Cukup lama berdiri di depan cermin memakai gaun keluaran butik ternama dengan harga yang fantastis. Akhirnya aku memutuskan keluar kamar untuk menemui laki-laki yang entah siapa namanya.


“Hai,” sapaku hangat.


“Duduklah,” pintanya dengan memesan secangkir teh hijau kepada pelayan.


“Bisa tidak jangan terlihat formal, kau sosok yang hangat sepertinya,”


“Kau selalu menebak sesuai isi kepalamu,” dia memamerkan senyum, “Sekarang ceritakan mengapa kau di jalan dengan penampilan berantakan hingga ingin bunuh diri,”


"Aku tidak bunuh diri, cuma berharap,"


Lelaki itu tersenyum kecil, "Berharap mati, itu bodoh namanya,"


Aku diam, tidak mampu berpikir dengan jernih apalagi untuk mencerna kata bodoh yang dia katakan. Bagi orang patah hati semua sah-sah saja.


“Aku tidak bodoh, hanya...,” Aku menggigit bibir bawahku, akan terkesan memalukan jika aku bilang patah hati.


"Sudahlah, tidak penting juga," balasnya.


Aku mendengus kesal. Bukankah ia yang bertanya?

__ADS_1


__ADS_2