Tidak Ada Judul

Tidak Ada Judul
Kecelakaan


__ADS_3

Aku turun dari kamar menuju meja makan dengan dress dusty pink yang sudah membalut tubuh mungilku.


Di meja makan sudah ada Delon yang sedang mengoleskan selai coklat ke rotinya.


“Daffan belum turun?” tanyaku.


“Menurutmu?” Jawabnya.


“Aish..tidak asyik sekali,” kataku lalu menarik bangku di meja makan untuk duduk.


Menu sarapanku berbeda dengan mereka yang hanya sarapan roti. Sedangkan aku nasi serta lauknya lengkap, katakan saja aku tamu yang ngelunjak.


“Memang kenyang hanya sarapan roti,”


Tatapannya menoleh ke arahku, “Boleh aku yang bertanya?”


“Silahkan,”


“Badanmu kecil mengapa makanmu rakus, bahkan kau bisa menghabiskan seluruh isi meja makan,”


“Dih itu bukan bertanya tapi menyindir,” jawabku sambil menusuk sosis di piring.


Setelah itu, tampak Devan turun dengan kemeja biru serta dasi polos yang membuatnya semakin tampan.


“Kalian sudah selesai?”


“Belum,” jawabku yang masih mengunyah nasi.


Ia menatapku kemudian tersenyum,”Makanlah yang banyak,”


Aku mengangguk dan tersenyum semanis mungkin sedangkan tanganku sibuk dengan sendok dan garpu.


Daffan mengoleskan selai blueberry ke selembar roti lalu menggigit ujungnya, “Kau akan ke toko bunga, biar aku antar sekalian,”


“Tidak perlu, aku sudah pesan taksi online,” tolakku, sekalipun hatiku menjerit setuju namun taksinya terlanjur aku pesan.


“Oke lain kali,” balasnya. Ia menelan roti yang sisa sedikit.


Setelahnya ia pamit untuk berangkat dan Delon sudah lebih dulu tanpa permisi.


Aku mengambil tas selempang kecil di bangku lalu bergegas menuju taksi yang sudah menunggu di halaman.


“Ke jalan kenanga, Pak,” kataku pada sopir taksi saat memasuki mobil.


“Baik non,”


Aku duduk di jok belakang, sesekali melirik kondisi jalanan lewat kaca mobil. Cukup padat oleh kendaraan dan suasana yang bising.


Hampir satu jam aku tiba di depan toko bunga setelah melewati pertigaan jalan, aku turun melihat Aqilla sedang sibuk merangkai bunga sedangkan Arul gencar menggodanya.


“Hay kalian sibuk pacaran?” godaku melirik ke arah Arul.


“Aish..siapa yang sudi pacaran dengan player,”


“Kalau aku player mana mungkin rela jadi karyawan toko bunga demi dekat sama kamu,” bantah Arul dengan mengedipkan sebelah matanya.


“Siapa yang suruh,”


“Awas loh benci sama cinta bedanya tipis,” godaku sambil tertawa puas.

__ADS_1


Aku mengambil beberapa tangkai matahari dan merangkai karangan bunga, pagi ini pesanan cukup banyak. Mungkin orang-orang kompak memberi kejutan untuk wanitanya di pagi hari.


Aqilla selesai merangkai mawar lalu ia merapikan bunga-bunga di depan agar lebih indah.


“Bunganya cantik seperti kamu,” goda Arul sambil memindahkan beberapa lily putih.


Aqilla bergidik ngeri dan tersenyum sinis.


“Awas loh nanti cinta mati,” godaku sambil berlalu membawa puluhan tangkai mawar kuning.


“Oliviaaaa!” teriaknya.


Aku hanya terkekeh geli. Sejujurnya, cukup salut akan perjuangkan Arul. Ia bahkan anak orang kaya yang rela menjadi pegawaiku agar selalu dekat dengan Aqilla. Dan entahlah dengan gadis itu padahal Arul cukup tampan, tidak kalah dengan Brian.Ah, kenapa Brian.


“Kak,”


Aku menoleh ke sumber suara, karena terlalu sibuk dengan bunga hingga tidak menyadari ia telah di belakangku.


“Ella,”


“Pulanglah Kak,”


Netra mataku menatapnya lekat, ia masih terlihat cantik seperti biasanya. Bahkan lebih terlihat bersinar, kata orang ibu hamil akan berkali-kali lebih cantik dari sebelumnya.


“Tidak Ella, itu bukan rumahku lagi dan tolong mengertilah,”


Ella menyeka sudut matanya yang sudah mulai basah, “Ella memang bodoh mencintai orang yang sama dengan Kakak, tapi jangan jauhi Ella selamanya Kak,”


“Bagaimana keadaan bayimu?” tanyaku mengalihkan.


Nafasnya terdengar berat lalu ia menatapku, “Bayi ini belum jelas statusnya, mungkin ia akan lahir tanpa Ayah,”


Aku tercekat lalu menatapnya heran, “Bukankah Brian akan bertanggung jawab?”


“Apa maksudmu, Ella,”


“Awalnya Brian akan menikahiku setelah mendapat kabar dari Kakak namun ia ingkar janji,” Ella menelan ludahnya berat lalu menatapku.


“Apa karena aku?”


Ella mengangguk pelan dengan mata yang basah.


Setelah itu, aku membawanya terisak di pelukanku. Bagaimanapun ia tetap adikku. Amarahku memudar melihatnya tidak berdaya.


“Maafkan Kakak,”


“Ini bukan salah Kakak, mungkin ini hukuman untukku,hiks..hiks,” isaknya di pelukanku.


Sedangkan Arul dan Aqilla menjadi penonton tanpa komentar seperti natizen.


Tiba-tiba sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di toko bungaku dan pemiliknya keluar memakai kemeja hitam bermotif garis-garis kecil.


“Brian,” ucapku kaget.


Rasanya aku ingin menghindar atau mengusirnya jauh. Namun, keadaan Ella memaksaku untuk mendengar penjelasannya.


Ella melepaskan pelukannya lalu menatap pria yang telah berdiri di samping.


“Ella mengapa kau ada di sini?”

__ADS_1


“Harusnya aku yang bertanya, untuk apa kau masih menemui Kakak,” balas Ella yang sudah tidak sanggup menahan cemburu.


“Itu bukan urusanmu, Ella,”


Plak!


Seketika tamparan mendarat mulus di pipinya. Aku benar-benar geram. Teganya ia mempermainkan perasaanku serta adikku sekaligus.


“Lelaki pengecut!” teriakku.


“Jangan Kak,” cegah Ella.


Bagaimana mungkin ia membelanya, apa ia sebodoh itu hingga melindungi orang yang sudah membuangnya.


“Olivia,” sahut Brian, ia menatap dalam ke arahku tanpa peduli keberadaan Ella.


Ella mendekat, hingga tubuhnya hampir merapat dengan Brian, “ Kenapa selalu Kakak?”


Air bening sudah mengalir mulus di pipi putihnya.


“Jangan ikut campur Ella,”


“Aku berhak ikut campur karena aku sedang mengandung anakmu,”


Setelahnya hening.


Masing-masing sibuk dengan bayangannya sendiri.


“Lupakan aku,” ucapku memecah suasana.


Aqilla menepuk pelan bahuku, ia sahabat yang paling pengertian. Sedangkan Arul, ia menahan Brian agar tidak mendekat.


“Tidak mungkin Olivia,” lirihnya.


Ella mendongak lalu menatapnya dalam, “Apa tidak ada celah sedikitpun?”


“Tidak,”


Jarinya meremas dress, dadanya nyeri mendengar pengakuan Brian. Akhirnya, ia memilih lari ke mobilnya dengan terisak.


“Ella tunggu,” aku berlari mengajarnya.


Ella melajukan mobil dengan kecepatan tinggi sesekali ia berteriak histeris di dalam mobilnya, hatinya telah hancur.


“Cepat kejar,” perintahku yang sudah menaiki motor matic denga Arul.


“Iya ini udah ngebut,” ucap Arul yang sudah melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.


Sementara Brian, ia ada di belakang mengejarku bukan Ella. Ia laki-laki paling menjijikkan yang aku kenal, setelah mendapatkan tubuh Ella ia tega membuangnya seperti sampah.


“Ella,” teriakku memanggil nama Ella, aku sangat cemas dengan keadaannya.


Brak!


Suara keras di susul jeritan Ella yang membelokkan stirnya untuk menghindari tukang buah.


Aku turun dan segera menolongnya di bantu Brian dan Arul yang membawanya ke mobil Brian menuju rumah sakit terdekat.


Darah segar mengalir dari tubuhnya dan juga darah yang terlihat di kakinya. Aku sangat cemas, khawatir dengan keselamatan ia dan bayi yang masih di dalam perutnya.

__ADS_1


“Ella, maafkan Kakak,” isakku kemudian.


Mereka membawanya ke IGD dan mendapat penanganan secepatnya.


__ADS_2