
“Bagaimana, dokter?” Utami bertanya dengan tidak sabar. Sebagai istri yang sudah menemani Ibrahim puluhan tahun, Utami terlampau khawatir. Meski sebelumnya dokter mengabarkan masa kritis Ibrahim sudah lewat. Tapi, kemungkinan buruk itu selalu ada.
Dokter menimpali, “Kondisi Pak Ibrahim memang cukup stabil. Tetapi, baru bisa dipindahkan setelah nanti beliau sadar. Kita juga perlu melakukan serangkaian tes, apakah terjadi masalah cukup serius dengan jantungnya. Karena Pak Ibrahim sebelumnya tidak diriwayatkan mempunyai penyakit jantung bawaan.”
“Lalu, kapan kita boleh melihat beliau, dokter?” Fatimah tak bisa duduk diam saja sebelum melihat langsung bagaimana kondisi Ayahnya.
“Saat ini, Pak Ibrahim belum bisa dijenguk. Karena kondisinya masih rentan. Tapi, kita akan melihat perkembangan Pak Ibrahim ke depannya, baru kita bisa memutuskan lagi. Doakan saja, semoga Pak Ibrahim segera sadar. Dan pihak keluarga pun bisa menjenguknya. Untuk selengkapnya, kalian bisa bicara dengan dokter Fandi, yang sekarang masih di dalam. Beliau yang akan bertanggung jawab dalam penanganan Pak Ibrahim. Kalau begitu, saya permisi dulu.”
Pak dokter berlalu, meninggalkan koridor ruang ICU.
Semua anggota keluarga besar Ibrahim kembali mengisi bangku kosong yang tersedia berderet-deret di depan dan samping ruang ICU.
Di sudut terjauh, Alessya memilih kursi. Dan Arhan pun masih setia mendampinginya. Alessya ingin mengasingkan diri sejenak. Bau obat-obatan dan aroma khas rumah sakit cukup mengganggu hidungnya.
“Setelah pulang dari rumah sakit, aku akan mengambil Orin. Aku akan menghubungimu nanti. Sekalian meminta alamat rumahmu. Sekarang kamu sebaiknya pulang saja ,” ucap Alessya dengan suara yang lemah. Seolah tenaganya tak tersisa dalam tubuhnya.
Ia terus menyuruh Arhan pulang karena tak mau Arhan melihatnya dalam keadaan cukup kacau.
“Kita bisa pulang bersama nanti. Aku akan tetap ada di sini hingga kamu pulang,” sergah Arhan, mencemaskan Alessya yang tampak kurang sehat.
“Tidak perlu menungguku. Aku tidak tahu, jam berapa akan pulang,” ucap Alessya, yang tatapannya terlihat kosong.
“Alessya, apa kamu baik-baik saja?” tanya Arhan, mengamati wajah Alessya yang terlihat begitu letih. Dan cukup pucat.
“Aku hanya sedikit pusing,” jawab Alessya, sesaat setelah merebahkan punggungnya ke sandaran kursi.
“Apa kamu perlu meminum obat?” Arhan kian cemas menyoroti Alessya, yang sepertinya sedang menahan sakit.
Kepala Alessya digelengkan pelan.
“Sebentar lagi juga pusingnya hilang.”
“Kalau kamu mau, aku akan ke apotek untuk membeli obat sakit kepala.” Arhan menawarkan diri, karena tampang Alessya kian mengkhawatirkan.
“Tidak usah. Aku tidak suka minum obat,” elak Alessya. Tatapannya terarah menyidik langit-langit koridor.
“Tapi kalau kamu kesakitan, kamu harus minum obat. Supaya sakitnya hilang,” bujuk Arhan, agak kesulitan menghadapi Alessya yang keras kepala. Meski dirinya merasakan sakit di kepalanya pun, Alessya malah tak mau minum obat.
Lalu, Arhan harus bagaimana. Dia tak bisa diam saja melihat Alessya seperti itu. Tangan Alessya yang kecil ditaruh di kepalanya yang terbungkus kerudung, menekannya dengan cukup kuat.
Arhan tahu, sakit di kepala Alessya tak tertahankan. Tetapi, ia tak bisa melakukan apa pun selain memintanya untuk minum obat.
Fatimah menghampiri Alessya. Dia tahu persis bahwa putrinya tidak sedang baik-baik saja.
__ADS_1
“Sayang, sebaiknya kamu pulang ke rumah dulu ya. Nanti Mama akan mengabarimu kalau Kakekmu sudah sadar. Bagaimana, emmm?” Setelah duduk di sebelah Alessya, tangan Fatimah terjulur untuk mengusap pipi hingga kepala Alessya.
“Tapi aku takut, Ma. Aku belum tenang kalau Kakek belum sadarkan diri. Alessya tidak apa-apa menunggu,” kilah Alessya, mengangsurkan sandarannya agak naik sampai lebih tegak.
“Sudah, kamu pulang ke rumah saja ya. Kamu istirahat saja. Kakekmu pasti akan membaik. Atau kamu mau menginap di rumah Kakek saja," tandas Fatimah. Riskan juga kalau membiarkan tinggal di rumah sendirian.
“Tante, Paman dan yang lainnya juga ada di sini. Rumah Kakek pasti sama sepi. Aku akan pulang ke rumah saja kalau begitu,” ucap Alessya langsung berdiri dari duduknya.
"Setidaknya di rumah Kakek, ada pengurus rumah yang bisa menemanimu," bujuk Fatimah.
"Tidak, Ma. Aku akan merasa tidak nyaman kalau aku hanya bersama pengurus rumah. Mama tidak perlu khawatir. Aku bisa menjaga diri," kata Alessya.
"Tolong titip Alessya, Nak..." Fatimah tidak bisa melanjutkan karena ia belum tahu nama pria yang bersama putriny itu siapa.
"Arhan. Nama saya Arhan, Tante," sambar Arhan. Bisa langsung membaca gerak bibir Fatimah, yang ingin menyebut namanya tapi tidak tahu harus mengatakan apa.
"Tolong ya, Nak Arhan. Terima kasih sudah mengantarkan Alessya. Maaf, sudah banyak merepotkan, Nak Arhan." Fatimah cukup sungkan dan agak risau tapi terpaksa mengizinkan Alessya bersama teman prianya untuk sementara waktu.
Ia berpamitan sebentar pada anggota keluarga yang lain, selain Fatimah.
Bersama Arhan, Alessya kembali menuruni lantai rumah sakit setelah memakai lift. Mereka kembali ke mobil dan pulang ke rumah Arhan dulu. Untuk menjemput Orin.
Di rumah Arhan, Alessya duduk menunggu sendirian di ruang tamu. Arhan naik ke lantai dua. Katanya, dia ingin ganti baju sebentar.
Dengan anggukan ringan, Alessya menyahuti. Ia tetap tidak sepatah kata apa pun hingga Bibi pelayan kembali berlalu.
Sakit di kepalanya belum reda. Pandangan matanya pun mulai tidak fokus. Sekeliling ruang tamu yang ia perhatikan pun tampak suram. Seolah furniture dan hiasan dinding dan pernak-pernik di meja terkesan tak menarik. Di matanya, semua tampak sama saja, kelam.
Menit berlalu, Alessya masih menyendiri di ruangan yang lumayan luas tapi terlampau sepi. Ia coba meneguk minuman dalam gelas. Seharusnya manis, tapi yang dikecap lidah Alessya hanyalah hambar yang mendekati pahit.
Ayolah, Arhan. Cepat turun. Aku ingin pulang dan merebahkan diri di kasur. Tubuhku sudah hampir pada batasnya.
Gumam Alessya, sambil memijat keningnya dan sebagian tempurung kepalanya yang kian berdenyut nyeri.
Baju santai berupa kaos dan celana longgar dikenakan Arhan ketika kembali ke ruang tamu.
Matanya langsung tertumbuk pada Alessya yang kelihatan belum membaik. Ia menggerakkan kakinya untuk melangkah mendekati sofa. Kemudian, duduk di samping Alessya.
“Tunggu sebentar, aku sudah menyuruh Lerry untuk membawa Orin ke sini,” kata Arhan, merasa gundah melihat wajah Alessya yang masih pucat.
“Tolong ya, jangan lama!” balas Alessya, terdengar tak bergairah sama sekali. Matanya mengerjap-ngerjap, seolah ada yang menempel di kelopak matanya.
“Di rumahmu nanti kamu pasti sendirian. Apa kamu yakin untuk pulang ke rumah?” tanya Arhan, tak bisa menghilangkan kecemasannya. Ia tak punya pikiran apa pun ketika menanyakan Alessya soal kepulangannya ke rumahnya sendiri. Dalam keadaan Alessya yang kurang sehat, dan harus sendirian di rumah, itu sangat cukup mengganggu pikiran Arhan.
__ADS_1
“Ke mana lagi aku pulang kalau selain ke rumah. Lagipula aku tidak sendirian. Di rumahku kan banyak kucing,” timpal Alessya dengan suara yang sudah mulai kehilangan nada. Karena sakit kepalanya atau memang pikirannya terlalu polos, jawaban Alessya tak memuaskan Arhan.
“Maksudku, selain bersama kucing, kamu kan hanya sendirian di rumah. Tidak ada orang yang menemanimu,” kata Arhan, lebih diperjelas.
“Aku sudah terbiasa ditinggal sendirian. Sejak kecil aku tidak pernah menangis jika Ibuku pergi bekerja. Dan meninggalkanku sendirian di rumah,” balas Alessya, mulai meracau.
Sakit di kepalanya membuyarkan pikiran jernihnya. Untuk berkata-kata saja, Alessya harus melawan keras pukulan-pukulan tak kasat mata di bongkahan kepalanya.
Menyebalkan sekali, sakit kepalanya kenapa mesti kambuh di saat genting begini? Sungguh bukan waktu yang tepat untuk dia sakit. Semua orang sudah begitu khawatir ketika Kakeknya tiba-tiba harus dirawat di rumah sakit. Kalau Alessya jatuh sakit juga. Meski tak separah Ibrahim, bisa dipastikan Fatimah tak bisa berkonsentrasi lagi untuk tetap berada di rumah sakit.
“Kepalamu masih pusing?” tanya Arhan, bukan karena ia tidak tahu. Dengan mata telanjang, ia bisa memastikan sendiri kalau Alessya sedang mengalami gangguan di kepalanya.
“Aku sudah biasa merasakan pusing seperti ini. Karena terlalu syok, kepalaku sakit karena tidak sanggup memikirkan hal yang terlalu berat. Tapi setelah beristirahat di rumah, aku akan membaik,” jawab Alessya, masih kurang fokus.
“Kamu minum obat ya? Biar sakitnya cepat hilang,” usul Arhan. "Atau kompres saja ya dengan es batu, biar mendingan."
Keras kepalanya Alessya takkan berubah. Bujukannya pun kali ini tidak akan membuahkan hasil.
Tanpa perlu persetujuan Alessya, Arhan memanggil pelayan rumahnya dan memintanya membawakan es dan menyuruh pelayan lain untuk membeli obat sakit kepala di apotek paling bagus di sekitar rumahnya.
Pelayan itu pun segera menjalankan perintah Arhan.
“Kenapa Orin lama dibawa ke sini?” Alessya mengeluh.
“Lerry mungkin malah melakukan sesuatu yang lain dulu. Nanti aku akan melihatnya lagi,” tukas Arhan, kelimpungan. Sebenarnya Lerry tidak sedang menyiapkan Orin untuk dimasukkan dalam pet cargo dan membawanya ke hadapan Alessya.
Semua itu hanya bohong belaka. Arhan sengaja beralasan demikian, supaya Alessya bisa lebih lama di rumahnya. Sehingga ia bisa mengawasi keadaan Alessya. Membiarkan Alessya pulang dan sendirian di rumahnya bukanlah ide yang bagus.
Walau mau juga, tidak mungkin Arhan ikut Alessya pulang ke rumahnya dan menemani Alessya seharian. Mengenal Alessya dalam waktu singkat, Arhan cukup tahu dengan baik bagaimana karakter Alessya.
“Bisa cepat tidak? Aku ingin pulang sekarang,” sanggah Alessya. Tak mau terus membuang waktunya di sini. Gunanya, apa coba? Malah pusing yang bersekutu dengan rasa sakit di kepalanya akan semakin bertambah.
“Iya, aku akan suruh Lerry cepat ke sini.” Arhan tak kuasa mengelak. Memaksa Alessya dengan alasan yang dibuat-buat, agar gadis itu tetap di sini bukanlah cara yang pantas untuk ia lakukan.
Mau tak mau, Arhan meminta pelayan untuk membantu Lerry membawa Orin ke ruang tamu.
Namun, sebelum Orin berhasil sampai di ruangan bernuansa putih dan biru itu, Alessya semakin tak kuat menahan kepalanya yang seperti diayun-ayunkan dengan kencang, dengan arah yang tak beraturan.
Penglihatan Alessya mulai berwarna pudar, sedikit abu-abu gelap. Dan perlahan dia pun sulit mempertahankan matanya untuk tetap waspada.
Brukk..
Setelah itu Alessya pun tumbang.
__ADS_1