
Sambil menjinjing pet cargo, Alessya berjalan menuju bagian administrasi. Ia lalu mendaftarkan Orin untuk mendapatkan nomor antrean. Petugas klinik mempersilakan Alessya menunggu di ruang tunggu. Karena semua dokter masih memeriksa hewan dengan beragam keluhan di ruang periksa yang berbeda, antrean pun cukup panjang.
Pet cargo ia turunkan di atas kursi tunggu yang kosong. Lalu, ia pun duduk di kursi sebelahnya. Sedikit menunduk, Alessya menelisik Orin yang berbaring diam dalam pet cargo.
Karena tak memperhatikan sekitar, suara langkah kaki yang halus dan mendekat perlahan ke arahnya tak terdengar oleh Alessya. Arhan yang juga membawa Belang dengan pet cargo menyimpul senyum, saat melihat Alessya yang terduduk diam, ketika ia baru memasuki ruang tunggu. Senyumnya semakin cerah seiring langkahnya makin dekat dengan sosok Alessya.
Arhan sudah berdiri di depan Alessya tapi Alessya sendiri masih belum bisa menyadari kehadirannya. Atau mungkin Alessya sudah tahu bahwa ada seseorang yang datang, tapi ia mengabaikannya. Karena Alessya tak berpikir bahwa itu Arhan.
Kedua mata Alessya masih tertuju pada Orin. Arhan yang gemas melihatnya memilih untuk menempati kursi yang menganggur di sebelah Alessya.
Ia mendudukkan pet cargo si belang di pangkuannya. Lalu, Arhan bersiap untuk menyapa Alessya, dengan pikiran jahil.
“Sayang, kamu rupanya di sini juga,” ucap Arhan begitu mesranya. Pandangannya teduh ketika melihat Alessya yang setengah membelakanginya.
Sontak Alessya yang mendengar suara dari orang yang tak asing dan begitu ia kenal, segera mengangkat wajahnya dan menoleh cepat.
Raut wajah Alessya seketika terperangah kesal. Siapa sangka Alessya akan bertemu dengan lelaki angkuh juga gila di hari yang masih terhitung pagi? Belum lagi, kata 'sayang' yang terucap dari bibir Arhan membuatnya ingin menghantamkan kepalan tangannya ke kepala Arhan.
“Jangan panggil aku, sayang! Kata itu sangat menjijikkan terdengar di telingaku,” hardik Alessya, mendelik pada Arhan.
“Kamu bilang apa? Menjijikan?!” Arhan mendengus. Ia lalu menyeringai. Ternyata Alessya gampang diusili. “Tapi, aku suka memanggilmu, sayang.” Sengaja Arhan mengulang kata yang Alessya benci, yang keluar dari mulut Arhan. Yang Alessya pikir sangat berbisa itu.
“Kamu tidak tahu sopan santun ya? Sebagai lelaki terhormat seharusnya kamu bisa menghargai perempuan. Panggilan sayangmu itu sangat melecehkanku. Karena aku adalah wanita baik-baik dan tidak punya ikatan sah denganmu,” ungkap Alessya mencoba bicara tenang. Walau hatinya sangat bergejolak penuh amarah.
Seketika sesal teraut di wajah Arhan. Maksud ia mengusili Alessya tidak sampai untuk melecehkan perempuan berhijab hitam ini. Sungguh. Bukan seperti itu. Kiranya Alessya akan memarahinya dan balik menyerangnya dengan kata-kata pedas. Tapi betapa reaksi yang diberikan Alessya malah membuat hatinya terpercik pedih.
“Maafkan aku. Tidak sedikit pun aku berniat melecehkanmu. Aku barusan hanya bercanda. Aku sangat tahu kalau kamu wanita baik-baik. Wanita yang sangat terhormat,” gagap Arhan berusaha menjelaskan. Ia ingin memperbaiki situasi hingga menjadi jernih kembali.
__ADS_1
“Bukan kali ini saja kamu memperlakukanku seenaknya. Apa kamu tidak ingat, seberapa banyak kamu mengucapkan perkataan yang merendahkan harga diriku?” Alessya berubah serius. Ia benar-benar terluka. Tak seharusnya Arhan mencandai dirinya dengan mengusik harga dirinya. Selalu saja begitu, Arhan tak pernah jera menghinanya berulang kali.
Arhan yang gelagapan mencoba memberi alasan, bukan untuk menyangkal. Tapi, hanya tak ingin Alessya menganggap dirinya begitu buruk.
“Semua yang aku katakan padamu sebelumnya karena marah sesaat saja. Aku tidak pernah serius menghinamu. Maafkan aku. Maafkan aku yang selalu berkata kasar padamu. Aku memang seperti ini, suka bicara seenaknya dengan kasar.”
Tatapan panik memancar dari sorot matanya yang bergetar. Entah, yang pasti saat ini Arhan tak mau membuat Alessya benar-benar marah padanya. Hingga mungkin Alessya akan menjauhinya. Seperti yang orang-orang lakukan ketika membencinya.
Petugas klinik memanggil nomor antrean milik Alessya. Tak mau membuang waktu, Alessya bangkit tanpa bicara lagi pada Arhan. Meliriknya pun tidak. Ia bergegas menuju ruang periksa sambil mendekap pet cargo yang berisi Orin.
Saat derit pintu ruang periksa terdengar, Finnan yang duduk di belakang meja kerjanya langsung menengok ke arah pintu.
Wajahnya penuh rona, begitu melihat sosok gadis yang menggetarkan hatinya menyembul saat pintu mulai terbuka.
Alessya masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia berjalan ke arah meja Finnan. Dan Finnan cepat berdiri, memutari meja dan menghampiri Alessya yang hampir sampai.
“Aku akan memeriksa Orin. Kamu duduklah, Alessya.” Dengan sopan Finnan meminta Alessya untuk duduk di kursi tamu pasien.
Ia sendiri mendaratkan pet cargo di ranjang periksa. Kemudian, tutupnya ia buka dan mengeluarkan Orin dari dalam sana dengan hati-hati memangkunya. Si Orin yang tak meronta, dibaringkan di atas pembaringan.
Seolah Orin sudah mengenal bau Finnan dan merasa nyaman ketika berada di dekatnya. Finnan pun langsung mengecek kondisi Orin, dengan mulai memeriksa napas di bagian tubuh yang seperti kembang kempis.
Alessya dari tempat duduknya, memerhatikan Finnan yang tengah membelai kepala Orin, sesaat setelah ia mengukur suhu tubuh Orin.
Setelah Orin selesai diperiksa, Finnan membiarkan Orin berbaring dengan tenang. Dan kembali ke meja kerjanya dan duduk di kursi.
“Tidak ada masalah pada Orin. Kamu merawatnya dengan sangat baik, sehingga Orin bisa pulih dengan sangat cepat,” puji Finnan, bukan semata karena ia adalah laki-laki yang terpesona pada Alessya. Tapi murni sebagai dokter. “Apa ada keluhan tentang Orin?” tanya Finnan, mengambil kesempatan untuk menghayati dalam menatap keseluruhan wajah Alessya.
__ADS_1
Karena jika bukan momen ini, ia takkan punya kesempatan untuk bisa sepuasnya memandangi Alessya. Untuk bertemu dengan Alessya saja, Finnan harus menunggu kedatangannya ke klinik. Ia tak punya cara yang ampuh untuk bisa mencari celah agar mudah memasuki kehidupan Alessya lebih jauh. Selama ini di hadapan Alessya, ia hanya mampu berperan baik sebagai dokter.
Alessya bukanlah gadis yang mudah meruntuhkan pertahanannya. Finnan yang tak ahli dalam mendekati wanita cukup kesulitan untuk membuat Alessya sedikit saja menaruh perhatian padanya.
“Orin masih kesulitan makan. Karena dokter tahu sendiri, gigi Orin banyak yang patah. Tapi, makannya cukup lahap,” timpal Alessya, yang tak begitu lekat memandang Finnan, yang serius mendengarkan Alessya.
Jujur, Alessya agak kikuk. Dan merasa tatapan Finnan padanya cenderung berlebihan.
Finnan sejurus kemudian terkekeh kecil. Ia yang akhirnya sadar bahwa ia terlalu lekat menatap Alessya, segera menundukkan pandangannya sedikit ke bawah. Sebenarnya Finnan juga tengah bergelut dengan hatinya yang mendadak berdegup keras.
“Untuk saat ini beri Orin makan yang lembut dulu. Agar dia tidak kesulitan mengunyah. Lama-kelamaan Orin akan bisa membiasakan diri dengan kondisi tubuhnya yang baru. Selain itu, apa ada yang ingin ditanyakan lagi?”
“Apa mulut Orin masih bermasalah? Karena Orin kadang meneteskan air liur, dan mulutnya agak sedikit berbau?"
“Itu dampak dari luka di langit-langit mulut Orin. Tapi, setelah luka di mulutnya benar-benar kering, dan rutin diberi obat, mulut Orin tidak akan berbau lagi.”
Finnan gugup. Ia susah untuk mengendalikan dirinya sendiri dari hasrat aneh yang menggebu-gebu di dadanya. Hatinya harus bisa sejalan dengan pikirannya. Jika tidak, bisa saja ia mengeluarkan apa yang terpendam dalam hatinya pada Alessya.
Ingin sekali Finnan bertanya pada Alessya.
Apakah ia mau membuka jalan untuk Finnan memasuki bagian dalam hidupnya? Apakah Alessya mau seandainya Finnan berniat mengenalnya lebih dekat? Maukah Alessya membiarkan dirinya untuk bersikap sebagai lelaki sejati?
Karena tak mau peluang berduaan dengan Alessya berlalu dengan singkat, Finnan menggagas obrolan seputar Orin dan sedikit menggali tentang cerita dari diri pribadi Alessya.
Sementara itu, Arhan yang baru keluar dari ruang pemeriksaan sambil memboyong si belang dalam pet cargo, kebingungan mencari Alessya di ruang tunggu. Lalu, ia berinisiatif bertanya pada salah satu penjaga yang bertugas. Dan penjaga itu memberitahunya bahwa Alessya masih berada di ruang periksa bersama Finnan.
Sekejap saja perasaan Arhan terbakar kegalauan. Ia lantas mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan, dengan menggandeng pet cargo. Ia menanti Alessya segera keluar dari ruangan Finnan. Mereka berduaan di dalam sana, sungguh membuat hati Arhan was-was tak menentu.
__ADS_1