Tidak Ada Judul

Tidak Ada Judul
Menjenguk Ella


__ADS_3

Daffan menerobos jalan pintas, ia cukup hafal jalan tikus. Lalu membelokkan mobil ke kanan dan masuk ke gang kecil. Delon menurut, ia tidak berkomentar. Mobil melewati jalan rusak sebentar lalu tembus ke jalan utama.


Kali ini mobilnya melaju pelan karena terjebak macet, Daffan memukul setir sedangkan Delon pikirannya tak lepas dari Olivia.


“Fan coba cari jalan kecil lagi,” usul Delon.


Daffan menghela nafas berat, “Jauh dari sini, kita terjebak Lon,”


Keduanya pasrah, mobil masih bisa jalan dengan lambat.


“Sebentar lagi,” ucap Daffan.


Dari kejauhan, gedung rumah sakit sudah terlihat. Ia membelokkan mobilnya ke persimpangan jalan, lalu berhenti di depan bangunan putih. Daffan memarkir mobilnya, mencari petak kosong untuk parkir. Sedangkan Delon turun.


“Kamu sudah tanyakan ruang rawatnya,” tanya Daffan.


Mereka berdiri di depan resepsionis, perempuan dengan wajah oval menyambutnya ramah.


“Ah, sial. Kita tidak tau nama adiknya,” desis Delon.


Kening Delon berkerut, ia memegangi kepalanya yang tak sakit. Ia duduk di sofa di susul Iparnya.


Daffan melirik Delon yang duduk di sebelahnya, “Kamu tak punya kontaknya?”


“Tidak,”


Aku keluar, sampai lobi depan melihat mereka duduk. Mataku berputar, berpikir sejenak. Namun, mereka langsung melihatku, lalu berdiri dan mendekat.


“Siapa yang sakit?” tanyaku.


Sontak Delon mendekap tubuhku, “Gadis bodoh, mengapa kau tak izin,”


Aku kesulitan bernafas dan melepaskan pelukan Delon. Di samping, Daffan hanya tersenyum sambil berdehem. Aku gelagapan, seperti tertangkap basah telah selingkuh.


“Kalian baru tak ketemu sebentar udah serindu ini,” sindirnya dengan melipat lengan ke depan.


“en..gga,” jawabku gelagapan, aku tersenyum kikuk sedangkan Delon berdiri dengan santai. Ia tampak maskulin dengan keringat yang sedikit menetes di dahi, aku pikir ia habis maraton.


“Adikmu sakit apa?” tanya Daffan.


Aku menatapnya dengan berkaca-kaca, “Kecelakaan,”


“Kecelakaan?” ulang Delon.


Daffan terperanjat, “Bagaimana keadaannya?”


“Sudah melewati masa kritis,”

__ADS_1


Mereka menghela nafas panjang, “Syukurlah,” sahut Daffan.


“Bayinya?” cetus Delon.


Daffan mengerutkan dahi, “Dia sedang hamil?”


“Jangan di bahas sekarang ya, aku lelah,” keluhku.


Keduanya saling berpandangan kemudian Daffan menatapku.


“Ya sudah kita pulang,” ajak Delon.


Daffan melenggang duluan ke parkiran, sedangkan kami menunggu di depan lobi. Setelah mobilnya terlihat, baru aku masuk ke jok belakang dan Delon duduk di sebelah Iparnya.


Jalanan cukup ramai, mobil berderet di ikuti motor yang saling berdesakkan melewati sela-sela mobil. Lampu-lampu pinggir jalan menyala terang, aku mengamati dari balik kaca mobil. Di depan Daffan fokus menyetir dan sesekali mengajakku ngobrol, sedangkan Delon lebih banyak diam.


Daffan lebih suka membelokkan mobilnya ke gang sempit daripada bergumul dengan kemacetan, ia belok melewati jalan kecil yang kanan kirinya penuh rumah penduduk. Kemudian selang beberapa lama mobilnya kembali ke jalan utama.


“Kau masih sedih?” Delon membuka mulut.


"Masih,"


Delon menghembuskan nafas panjang, “Jangan mengalahkan diri,”


“Bagaimana adikmu bisa kecelakaan?” tanya Daffan, pandangan matanya fokus ke depan.


“Maaf,”


“Tidak apa-apa,” sahutku.


Hampir dua jam mobil tiba di depan halaman rumah yang penuh tanaman hijau, aku turun di ikuti Delon di belakang. Sedangkan Daffan membawa mobilnya ke garasi.


“Aku ke kamar dulu,”pamitku.


Delon mengangguk dan ia tak bertanya apapun. Aku memutar handle pintu kamar, masuk ke dalam dan menyandarkan tubuh sebentar ke sofa. Sedangkan Delon dan iparnya masih bercakap-cakap di depan, sepertinya mereka akan begadang.


Rasanya badanku lengket, seharian aku belum mandi. Andai papa tidak membujuk pulang, pastinya aku masih menunggu Ella. Akhirnya aku menyambar kimono pink dan masuk ke kamar mandi, sekedar berendam di bathtub dengan busa aroma lavender yang menutupi tubuh polosku.


Hampir satu jam, aku enggan keluar. Masih ingin berlama-lama merendam diri, setidaknya agar pikiranku sedikit jernih. Namun, badanku mulai dingin dan memutuskan menyelesaikan ritual mandiku.


Aku keluar dengan handuk kimono melekat di tubuhku, lalu menyambar piyama satin warna putih tulang. Warnanya cocok dikulitku, dan lebih cerah. Lalu aku menelungkupkan badan di tepi kasur. Sedang Daffan dan adik iparnya masih di ruang tengah, menikmati secangkir kopi hitam.


“Lelah sekali,” ucapku lalu segera menarik selimut coklat sebatas leher.


****


Sinar matahari sudah menelusup lewat jendela yang aku buka, aku bangun lebih awal dan sudah mengenakan cardigan merah maroon, sepatu flat dan celana jeans. Hari ini pelayan membawa banyak pakaian selain dress, dan tentunya lebih sesuai dengan style-ku.

__ADS_1


Aku turun ke meja makan, duduk di sebelah Delon. Daffan sudah di depan dengan roti andalannya di piring. Di sebelahku Delon sedang meneguk jus jambu di gelasnya, sedangkan Daffan semangat menggigit roti terakhir.


“kamu mau ke rumah sakit?” tanya Daffan.


“Biar aku antar,” sahut Delon.


Mataku menatap bergantian, “Aku bisa pakai taksi online,”


“Tidak perlu,” ucap Delon, nadanya seperti perintah.


Aku mengunyah nasi, menggigit ayam crispy buatan chef lalu meneguk air putih di gelas. Daffan bergegas ke kantor, ia bilang akan mampir ke rumah sakit sedangkan Delon menunggu aku selesai makan.


“Kau sedang sedih tapi makanmu tetap rakus,”


Aku meliriknya dan nyengir, “Menangis juga butuh energi,”


Pria itu hanya menggelengkan kepala, sesekali matanya melirik jam yang melingkar di tangannya. Aku berhenti makan, paham kodenya.


“Ayo,” kataku.


Ia berdiri dengan kemeja hitam motif garis kecil yang terlihat manis di badannya. Delon berjalan cepat menuju mobil yang sudah ada di halaman, sedangkan aku berada di belakangnya.


Aku duduk di sebelah ketika Delon memasang sabuk pengaman, ia menjalankan setir ke arah jalan raya, cukup ramai dengan deretan mobil yang antri di lampu merah. Beberapa anak kecil terlihat bernyanyi saat pemilik mobil membuka kaca lalu memberinya receh.


Aku sibuk menghitung jumlah motor yang lewat atau mengamati pembatas jalan serta menatap heran pada orang-orang yang mengelap sekilas depan mobil dan berharap lembaran ribuan dari pemilik.


Delon fokus menyetir, ia tidak membuka pembicaraan selain aku mendesaknya.


“Kau tidak kerja?” tanyaku.


“Hm,”


Aku menghela nafas panjang, ia selalu menjawab sesuka hatinya. Padahal aku ingin kalimat panjang, setidaknya mencairkan suasana yang kaku.


Sampai di rumah sakit, aku masuk ke dalam di ikuti Delon. Kami menggunakan lift dan menekan tombol angka tiga.


Tring!


Bunyi lift telah berhenti di lantai tiga, pintu terbuka dan kami keluar. Langkahku menuju ruang bugenvil tempat adikku di rawat, Delon tidak banyak bertanya. Ia hanya mengikuti langkahku, sesekali melirikku dengan tersenyum.


Ceklek!


Aku membuka handle pintu, menenteng beberapa kantong kresek berisi buah, roti dan makanan lain yang Delon beli di jalan. Di dalam Mama ada di samping Ella, papa di sofa merebahkan diri dan ada Brian.


Dadaku sedikit nyeri, melihatnya memegang sendok yang ia suapkan ke mulut Ella. Sepertinya perempuan itu telah melunak.


“Mama,” ucapku mencium punggung tangannya.

__ADS_1


“Syukurlah kau ada di sini, Mama ada kabar gembira,” ujarnya dengan berbinar.


__ADS_2