Tidak Ada Judul

Tidak Ada Judul
Makan bersama


__ADS_3

Beberapa menu makanan telah disajikan di meja secara bertahap. Tatapan Alessya pada makanan itu bagai melihat kilauan berlian yang tersimpan di sebuah kotak. Sajian di piring terlalu cantik dengan porsi yang tidak besar. Jika boleh jujur, seumur hidup Alessya baru pertama melihat langsung masakan seindah itu.


Biasanya Alessya cukup melihat dengan tergiur saja di televisi atau media sosial. Pernah ia membayangkan. Kapan ia bisa menyantap makanan enak dengan tampilan memukau seperti itu? Rupanya tanpa disangka keinginan sepelenya bisa terlaksana.


“Makanlah,” ucap Arhan menyuruh Alessya dengan suara lembut. Alessya serta merta mengangkat pandangannya. “Pasti kamu tidak pernah kan makan makanan seperti ini. Aku yakin sekali ini pertama kali, kamu datang ke restoran bagus seperti ini.” Dengan bangganya Arhan mencemooh Alessya.


Walau sebenarnya hatinya tidak ingin melukai hati Alessya. Ia pikir perkataannya adalah bentuk dari sebuah candaan.


“Kamu mengajakku ke sini hanya untuk menghinaku? Ini yang kamu maksud ingin bicara denganku?” Alessya menegakkan tubuhnya. Dan menatap Arhan sebal.


“Siapa yang menghinamu? Kalau kamu merasa ucapanku itu benar, harusnya kamu berterima kasih,” balas Arhan sangat percaya diri.


“Berterima kasih? Apa aku tidak salah dengar?”


“Kamu kan untuk pertama kalinya bisa datang ke restoran sebagus ini berkat aku. Dan kamu juga bisa menikmati hidangan yang mungkin belum pernah kamu makan seumur hidupmu,” seru Arhan, senang sekali membuat Alessya kesal.


“Jika kamu bicara begitu terus, aku akan pergi sekarang juga,” ancam Alessya, tak kuat untuk menahan emosi.


“Baik. Baiklah. Aku tidak akan bicara lagi,” balas Arhan, yang menyerah tanpa syarat.


“Awas! Kalau mulutmu tak bisa diam lagi, aku akan benar-benar pergi,” kata Alessya mengingatkan dengan tegas.


“Ya, aku tahu. Sekarang makanlah. Selama makan, aku akan diam. Baru nanti aku bicara padamu,” timpal Arhan, seraya menaruh serbet di pangkuannya, dan mengambil sendok dan pisau di sisi piring.


Masih kesal, ujung mata Alessya meruncing. Ia tidak bisa percaya bahwa Arhan kali ini mau patuh padanya. Seperti bukan Arhan saja.


Jangan-jangan, memang benar dia mengidap gangguan bipolar. Tuan muda gila ini seringnya mengusikku. Tapi, di satu sisi dia bisa memperlihatkan sosok yang lain.


“Kenapa malah diam dan menatapku begitu? Apa kamu ingin memakanku dengan mata besarmu itu?” ketus Arhan sambil melempar pandangan pada Alessya, yang tanpa sadar memandangi dalam-dalam Arhan.


Kikuk, Alessya buru-buru meraih sendok dan lekas makan hidangan di piring, yang beberapa menit lalu masih menarik di matanya. Sekarang semua yang terlihat di matanya berubah jadi suram. Semua itu berkat Arhan yang mengacaukan perasaannya.


Meskpiun cukup kesal karena Arhan, tapi setelah makanan itu berhasil disendokkan ke dalam mulut, Alesssya berubah takjub. Sedari lahir, lidahnya baru mencecap rasa yang begitu lezat. Maka, dengan semangat Alessya menyuapkan makanan itu lagi dan lagi.


Ternyata makan sesuatu yang rasanya luar biasa itu bisa mengubah suasana hati yang buruk. Alessya tak peduli lagi dengan Arhan, ataupun apa pun itu. Dia hanya ingin menikmati makanannya saja sampai habis.


Bagaimana Alessya makan, diperhatikan oleh Arhan. Dia juga lebih dari satu kali menarik senyum di sela makannya. Berbagai macam perasaan menyertai makna senyumannya itu.


Selama makan mereka berdua tenang, hanya sesekali terdengar suara gesekan perlatan makan yang ringan. Keduanya memilih tak bersuara, yang biasanya sering perang mulut. Rupanya makanan bisa mendamaikan mereka berdua sesaat itu.


“Kalau kamu belum kenyang, kamu boleh pesan menu yang baru,” seru Arhan, saat Alessya telah meludeskan makanan di piring-piring miliknya. Sementara dirinya menghabiskan lebih sedikit jumlah piring dibandingkan Alessya.

__ADS_1


Gadis pemarah ini bisa tenang juga jika sedang makan. Sekarang aku sudah tahu bagaimana membuatnya bisa sepatuh kucing yang imut.


Mulut Alessya yang agak belepotan segera diusap buru-buru dengan serbet putih, hingga cukup bersih. Ia kemudian, membalas tawaran Arhan.


“Tidak. Aku sudah sangat kenyang. Makan dengan berlebihan tidaklah bagus.”


“Benarkah?” Arhan sangsi. “Barusan dengan sangat jelas, aku melihatmu dengan kedua mata ini, menghabiskan hampir semua piring yang ada di meja. Aku kira makanmu sudah cukup berlebihan,” ledek Arhan, sengaja sekali ingin mengusili Alessya.


Detik mendengar kalimat terakhir yang tercetus dari bibir seksi Arhan, wajah Alessya memerah sudah. Ia bingung ingin menyembunyikan wajahnya di mana.


Dia tadi pasti sangat tidak sadar diri ketika makan, sampai malu yang harus ia pikirkan malah disingkirkannya dulu. Apalagi dia makan begitu lahap di hadapan Arhan. Yang mana harusnya ia lebih menjaga sikap.


Sekali lagi, Arhan diam-diam tersenyum. Astaga, senyumnya itu indahnya melebihi guguran bunga sakura di musim semi. Tapi, sayangnya Alessya tidak bisa menghargai keindahan wajah Arhan saat ia tersenyum. Ia tidak tertarik seujung jari pun dengan senyuman ataupun apa saja yang ada dalam diri Arhan. Dia sudah telanjur menilai buruk Arhan. Sebagaimanapun Arhan tersenyum, Alessya tetap tak suka.


Seorang pelayan yang berdiri sambil mengawasi mereka berdua makan, berjalan mendekat setelah Arhan mengisyaratkan agar meja cepat dibersihkan. Pelayan itu meminta dua temannya yang lain untuk ikut membantu, supaya selesai lebih cepat. Pelayanan terhadap orang yang telah menyewa satu ruangan restoran memang harus yang terbaik.


“Apa sekarang aku sudah boleh bicara?” tanya Arhan, minta izin dengan sopan. Alessya terhenyak mendengar Arhan bicara sehalus itu.


“Bicaralah.”


“Aku ingin minta tolong padamu.” Arhan serius.


“Tapi, sebelumnya aku ingin bertanya dulu. Apakah akhir-akhir ini kamu sedang sibuk bekerja?”


Alessya mengernyit.


“Tidak. Kesibukanku bukan soal pekerjaan.”


Giliran Arhan yang mengernyit.


“Jadi, pekerjaanmu bisa dilakukan dengan santai?” Arhan kurang paham.


“Bukan. Aku ini sekarang sudah tak bekerja lagi,” jawab Alessya agak berat untuk bicara jujur. Harga dirinya bisa dibanting oleh Arhan karena ia mengaku tak punya pekerjaan.


“Maksudnya, kamu pengangguran?” Lantang, Arhan bertanya tanpa basa-basi. Dan itu cukup membuat Alessya minder.


Mengangguk pelan, Alessya memberi jawaban.


“Bagus sekali! Kebetulan aku sedang membutuhkan seorang pengangguran sepertimu,” balas Arhan sangat riang. Ia tak peduli ekspresi Alessya saat ia begitu bersemangat mengatakan kata 'pengangguran'.


“Apanya yang bagus dengan jadi pengangguran?” keluh Alessya.

__ADS_1


“Tentu, itu sangat bagus untukku kalau kamu sedang menganggur sekarang. Jadi, aku bisa menawarkan pekerjaan untukmu,” balas Arhan ceria.


“Kamu yakin berniat memberi pekerjaan untukku?” tanya Alessya meragukan omongan Arhan.


“Yakin sekali. Karena hanya kamu, orang yang tepat yang bisa membantuku. Pekerjaannya tidak sulit. Kamu bisa santai juga. Dan aku akan membayarmu dengan gaji yang cukup besar,” jelas Arhan, makin terdengar mencurigakan di telinga Alessya.


“Memang ada ya pekerjaan seperti itu? Dengan gaji yang besar, kita bisa santai bekerja. Apalagi pekerjaannya mudah. Kamu jangan mengerjaiku lagi.” Alessya masih tak percaya.


“Mungkin kamu akan susah menemukan pekerjaan seperti ini di tempat lain. Karena aku berbaik hati menawarkanmu gaji yang jumlahnya tidak sedikit,” imbuh Arhan.


“Apa pekerjaannya?”


“Aku ingin kamu membantuku untuk mengurus Belang sekaligus memperhatikannya. Karena di rumah tidak ada orang yang cocok untuk merawat dia. Belang masih hati-hati dan menjaga jarak dengan orang yang kurang disukainya.”


“Apa aku merawat kucingnya di rumahmu? Atau aku membawanya pulang ke rumahku? Dan mengembalikannya padamu saat malam.” Alessya cukup tertarik dengan pekerjaan yang mudah dilakukan baginya.


“Kamu bisa mengaturnya. Tetapi, sebaiknya kamu merawat Belangnya di rumahku saja.” Arhan tidak konsisten dengan ucapannya dalam sekejap. “Soalnya, Belang butuh beradaptasi tinggal di rumahku. Dia masih belum nyaman dan menganggap rumah barunya itu asing. Tapi sesekali kamu boleh membawanya ke rumahmu. Kalau itu tidak merepotkanmu,” imbuh Arhan merinci.


“Baiklah, aku akan membantumu merawat Belang,” timpal Alessya setuju setelah tahu dengan jelas apa saja yang harus ia kerjakan.


Agak terkejut, Arhan melihat sikap Alessya yang ternyata tidak memberi persyaratan khusus dalam menerima tawaran darinya. Dia pikir, Alessya akan menuntut banyak hal sebelum menyetujui tawarannya.


“Kamu bisa mulai menjadi pengasuh Belang hari ini atau besok. Terserah kamu saja,” sahut Arhan, berubah lebih ramah.


“Besok saja, bagaimana? Soalnya aku akan memberitahu Ibu dulu,” pinta Alessya, yang tanpa sadar telah mengubah cara bicaranya pada Arhan. Layaknya seorang teman. Bukan musuh lagi.


“Tidak masalah. Nanti aku berikan alamat rumahnya. Besok kamu bisa datang sebelum aku berangkat kerja.”


“Aku kan sudah tahu rumahmu. Tidak perlu alamat lagi.”


“Bukan rumah Ayahku. Tapi, rumah pribadiku,” timpal Arhan.


“Iya, berikan saja alamat lengkapnya padaku.” Alessya tak mau bertanya lebih lanjut. Karena jika bertanya mungkin itu akan terdengar tidak sopan. Mau Arhan punya rumah sendiri, itu bukan urusannya. Wajar, jika orang kaya seperti Arhan punya banyak aset rumah. Tapi, yang membuat Alessya bingung. Kenapa Arhan terdengar tidak suka ketika menyebut dua kata 'Rumah Ayahku'?


Ketika Alessya dan Arhan bersiap untuk pulang, ponsel Alessya berbunyi menandakan panggilan masuk.


Alessya kembali duduk dan mengangkat panggilan untuknya.


Wajah Alessya terlihat syok dan tegang sesaat baru beberapa detik ia menjawab panggilan.


“Apa?! Kakek masuk rumah sakit?” Pertanyaan itu keluar dari kedua bilah bibir Alessya yang bergetar. Ia sangat panik begitu mendengar berita buruk tentang kakeknya.

__ADS_1


__ADS_2