Tidak Ada Judul

Tidak Ada Judul
Kepergok Papa


__ADS_3

“Jangan pergi,” cegah Ella.


“Temani dia, Brian,” pinta Mama Bella.


Lelaki itu menganggukan kepala dan melirik Papa yang sudah duduk di sofa tanpa berkomentar. Brian duduk setelah Mama mengiyakan.


Brian melirik Papa. Lelaki itu masih duduk tenang di sofa dan mengamati anaknya bersama Brian. Sementara mama mengajak Papa keluar, namun dia menolak.


“Papa, biarkan mereka berdua,” pinta Mama.


Tatapan Papa menajam, “Meninggalkan berdua di kamar, apa mau mengulang kesalahan,”


Mama mengelus dada dan melirik ke arah Brian, “Maafkan Papa, Brian. Dia memang protektif terhadap anaknya,”


Brian tersenyum dan menelan ludah melihat raut muka calon mertuanya. Dia merasa mendapatkan tatapan penuh ancaman. Sementara Mama menampilkan wajah ramah.


“Tidak apa-apa, Ma,” balasnya berbalik menghadap Ella.


“Papa sama Mama ganggu aja, kayak nggak pernah muda,” protes Ella.


“Masa muda Papa nggak kelewat batas,”


“Papa sudah,” pinta Mama yang menggenggam tangan Papa, dia paham benar tabiat suaminya jika marah.


Papa mengela napas panjang dan mengatur emosinya, “Ya sudah, Ma. Kita keluar,”


“Iya, Pa,”


Matanya menoleh ke arah Brian, “Jaga putriku dengan baik, jangan berani menyentuhnya,”


Brian menelan saliva mendengar nada mengancam sebelum calon Papa mertuanya pergi. Sekejap punggung mereka tidak terlihat setelah melewati pintu. Kemudian Ella menatap lekat ke arah Brian, dan lelaki itu tidak membalas.


“Istirahatlah,” ujar Brian menarik selimut perempuan di depannya.


“Masih pengen ngobrol,” jawabnya manja.


Brian terdiam di sebelah Ella. Dia duduk di tepi ranjang saat Ella menatapnya lekat.


“Kamu tidak rindu?” tanya Ella.


Brian menyipitkan matanya, “Rindu. Bukankah kita sedang bersama,”


“Iya sih tapi berduaan seperti ini maksudku,”


Brian tersenyum sinis, “Papamu sudah mengancamku, berhentilah menggoda,”


“Hanya menciumku,” pinta Ella.


“Tidak,”


Ella menghembuskan napas kasar, dia membalikkan badan membelakangi lelaki itu. Lalu Brian menaikkan sebelah alisnya karena heran.


“Kamu sudah tidak ingin menyentuhku karena Kakak, kan? Padahal dulu kamu begitu terbuka menerima setiap ciumanku,” ucap Ella tanpa menoleh ke arah Brian.


Lelaki itu mengacak-acak rambutnya. Ia menyesal mengingat hasratnya yang tidak terkendali ketika Ella menggoda dan dia selalu membalas ciuman itu lebih dalam. Namun kini dia sadar, bahwa Olivia yang ada di hatinya.

__ADS_1


Ella masih membelakangi Brian sedangkan lelaki itu memilih duduk di sofa. Sebenarnya dia ingin buru-buru pulang ke apartemen, namun tertahan karena permintaan perempuan itu.


“Aku pulang,” pamit Brian seraya bangkit dari posisi duduknya.


Seketika Ella menoleh dan wajahnya masam, “Kenapa? Kau tidak suka aku membahas Kakak,”


“Sudahlah, Ella. Bukankah kita akan menikah,”


Ella menundukan kepala karena terlalu lancang, dia takut Brian akan marah dan meninggalkannya kembali.


“Maaf, Brian. Aku terlalu cemburu pada Kakak,”


Lelaki itu mendekat dan meraih dagu Ella, ia menatap lekat netra kecoklatan yang memikat milik calon istrinya.


“Percayalah, aku akan berusaha melupakan dia,” ucapnya dengan wajah sangat dekat.


Perempuan itu mengangguk kecil dan hendak mencium bibir manis milik Brian sebelum Papa muncul dari balik pintu.


“Ehem,” Papa berdehem dengan menatap tajam.


Brian mundur dan tersenyum kikuk sedangkan Ella salah tingkah dengan gelagapan.


“Papa, masuk kok nggak ketuk pintu,” balasnya dengan kikuk.


Papa mendekat dengan menatap dua orang di depan secara bergantian. Brian menelan saliva seolah kepergok hendak melecehkan anaknya padahal Ella yang main nyosor sementara perempuan itu wajahnya memerah malu.


“Sudah saya peringatkan, Brian,”


Brian tidak bisa menjawab.


“Papa, ini salah Ella lagian Papa jangan primitif,” sanggah Ella.


Ella terkesiap dengan perkataan Papa, matanya mulai berkaca-kaca dan sekali berkedip air matanya akan tergelincir.


Mama masuk, ia segera menengahi pertengkaran. Papa masih mengamati Brian yang tidak bisa berkutik karena tatapan emosi calon mertuanya.


“Papa, jangan terlalu keras,”


“Semua karena Mama memanjakan Ella, dia besar kepala,” sahut Papa Niko dengan amarah.


Ella mulai terisak, “Papa selalu lebih menyayangi Kakak daripada Ella. Apa hebatnya Kakak, dia cuma punya toko bunga sedangkan Ella bisa memenangkan tender di kantor,”


“Jangan hina dia, Ella,” Brian mulai terpancing. Sepersekian detik dia sadar telah mendapatkan tatapan menakutkan dari Mama dan Papa.


“Kalian semua keluar, semua hanya peduli sama Kakak padahal dia jauh di bandingkan aku,”


Semua menahan amarah melihat Isak tangis Ella, lalu mengalah keluar. Mama mencium kening Ella sebelum menuju ambang pintu dan Papa keluar lebih dulu. Brian di belakang kemudian pamit pulang.


***


Sore hari toko bunga masih buka. Cukup banyak pelanggan yang ketagihan buket bunga rangkaianku dan Aqilla. Katanya, merangkai butuh seni. Kami melakukan dengan cinta.


Arul masih sibuk mengantar beberapa buket bunga serta papan bunga ucapan duka atau wedding. Dia memakai pick up yang di beli tahun lalu. Sebelumnya, kami hanya menggunakan motor matic.


Aqilla sibuk menghitung pesanan saat aku merangkai buket mawar dan lily. Kemudian pandangan kami berpaling pada mobil yang berhenti di depan lalu pemiliknya keluar dan tersenyum lebar.

__ADS_1


“Hai, apa aku ganggu,” ucapnya dengan membawa tentangan keresek berisi banyak cemilan.


“Enggak,” ucap Aqilla dengan semangat dan menampilkan muka ****.


Tangaku mengambil tentengan keresek yang di ulurkan Daffan kemudian memakannya bersama. Arul pulang dan ikut gabung.


“Wah enak nih banyak makanan,” ucapnya.


“Dasar rakus,” sahut Aqilla.


“Biarin, namanya rezeki anak Soleh,” sahut Arul.


Daffan duduk di sebelahku dan ikut belajar merangkai karangan bunga. Sedangkan Arul sibuk menggoda Aqilla.


“Minggir sih,” usir Aqilla seraya melempar bunga matahari.


“Jangan di lempar-lempar, ngambilnya jauh sayang,” goda Arul dengan mengedipkan sebelah matanya.


“Berani panggil sayang, mau umurmu pendek,” ancam gadis bermata sipit yang wajahnya sudah merah padam.


Arul tergelak pelan, “Wah ngeri, aku rela mati di tanganmu,”


Aku dan Daffan terkekeh geli sambil menikmati cemilan yang dia bawa.


“Kalian serasi,” komentar Daffan.


Mata Aqilla membulat, “Kakak jangan mendoakan hal jelek, mending sama Kakak,”


“Kamu tega buat aku patah hati secara terang-terangan,”


“Dih, apaan sih minggir,” usir Aqilla yang risih karena Arul semakin merapat.


Setiap hari mereka jadi lawakan tersendiri untukku layaknya Tom and Jerry.


Daffan di sebelahku menawarkan kentang goreng dan aku mengambilnya di ikuti Arul dan Aqilla. Kami mengobrol banyak, bercerita kesana kemari sampai langit mulai gelap. Buru-buru aku membereskan bunga, niatnya akan pulang malam bersama Arul dan Aqilla.


“Adikmu sudah sembuh, Liv?” tanya Daffan.


“Sudah keluar rumah sakit tadi siang,” kataku.


Daffan mengernyit dan menatapku heran, “Kamu tak ikut menjemput,”


“Sudah ada Brian,”


“Suaminya?”


“Mantan Olivia,” cetus Aqilla yang langsung membekap mulutnya.


.


.


.


Hai Kakak jangan lupa tinggalkan jejaknya agar Author semakin semangat. Terimakasih

__ADS_1


Salam


Widy


__ADS_2