Tidak Ada Judul

Tidak Ada Judul
Patah Hati


__ADS_3

Langit berwarna biru dan matahari belum tenggelam saat aku memutuskan menyingkir dari ballroom. Air mataku masih tergelincir seiring mobil melaju pelan.


Mendadak suasana mobil hening. Hanya ada Isak tangis. Tanpa obrolan. Tanpa suara alunan musik yang biasa menyala. Juga tanpa suara bawel Aqilla yang biasanya cerewet. Mereka bungkam, seolah membiarkan aku menyelesaikan isak tangis.


“Apa aku jahat?” kataku membuka mulut dan tangan menyeka buliran bening.


Lelaki berhidung mungil menoleh ke arahku yang duduk di jok belakang. Gadis bermata sipit sudah memelukku dan aku lihat matanya berkaca-kaca ketika pandanganku berpaling. Seolah-olah ia merasakan kepedihan yang aku alami.


“Kamu sangat baik, perempuan itu yang jahat,” lirih Aqilla.


“Tapi dia adikku,” isakku dan menangis di pelukannya. Arul menepuk pelan pundakku.


Suasana kembali hening. Hanya terdengar Isak tangisku yang tidak mereka hentikan. Mataku sembab dan aku mulai lelah menangis. Cuaca di luar masih panas. Mobil masih padat dan semua tidak luput dari pandanganku lewat kaca mobil.


Mobil Delon berhenti di depan gerbang rumah Aqilla. Gadis itu enggan keluar dan menatapku dengan berat.


“Liv,” panggilnya.


“Aku tidak apa-apa, kau istirahat,” kataku namun gadis itu segera memelukku erat dan terisak.


“Jangan sedih ya, kalau ada apa-apa hubungi aku,” ucapnya sebelum keluar.


“Nitip Olivia,” sahut Arul yang menoleh ke lelaki berhidung mungil.


“Pasti,” katanya.


Arul keluar karena mobilnya ia titipkan di rumah Aqilla.


“Hati-hati,” Aqilla melambaikan tangan sebelum mobil Delon jalan.


Mobilnya semakin jauh dari rumah Aqilla dan menerobos jalanan. Aku lebih banyak diam, tidak ada minat basa-basi atau sejenisnya. Delon melirikku lewat spion mobil sedangkan Daffan sesekali menoleh ke arahku.


“Aku ke kamar,” kataku setelah melewati gerbang rumah Delon. Aku melangkah sebelum mereka menjawab.


Lelaki berhidung mungil dan iparnya tidak mengejarku. Sepertinya mereka paham situasi. Membiarkan aku menenangkan diri.


Bunyi heels menggema seiring langkahku menuju kamar. Aku segera menelungkup di tepi ranjang setelah mengganti gaun dengan t-shirt hitam gambar beruang yang cute. Masih tidak percaya bahwa hari ini akan datang. Bukankah ini keinginananku? Aku yang ingin mereka bersama. Aku yang rela melepas lelaki berlesung pipi untuk adik cantikku. Namun tidak kusangka akan sesakit ini.

__ADS_1


Puluhan tisu bekas terlempar sembarang. Aku meringis ketika sadar lalu memungutnya dan melempar ke tempat sampah. Sedari tadi aku mengabaikan pintu yang terketuk. Pasti lelaki berhidung mungil dan iparnya cemas.


Aku berniat membuka pintu setelah mendengar ketukan pelan. Takut-takut lelaki berhidung mungil masih di depan.


Pelayan berambut ikal tersenyum ramah ketika pintu terbuka dan di tangannya ada nampan yang membawa nasi serta lauknya. Aku baru sadar terlalu lama menangis hingga langit telah gelap.


“Nona saya mengantar makan malam untuk nona,” ucapnya lembut.


“Silahkan,” kataku mempersilahkan pelayan membawa makan ke dalam.


Gadis berambut ikal keluar setelah manaruh makan malamku di meja. Mataku meliriknya menu yang lezat namun seleraku sedang buruk. Bahkan aku belum ingin menyentuhnya.


Tirai jendela tertutup dan aku membukanya. Benar langit di luar gelap, awan hitam pekat tanpa cahaya rembulan. Malam ini bahkan tidak ada satupun bintang yang muncul. Mereka seolah mendukung suasana hatiku yang gelap. Apa mereka menertawakan aku yang bodoh menangisi pengantin baru.


Kakiku berjalan ke balkon untuk menyapa udara malam yang dingin menerpa kulitku. Aku ingat, lelaki berlesung pipi sangat suka duduk di balkon sebelum mengantarku. Ia juga hobi menikmati secangkir espresso pada malam hari, lelaki itu suka kopi bertekstur pekat dan pahit dengan buih putih di atasnya. Aku masih ingat bagaimana ia mengajakku berbincang soal masa depan. Ia selalu melibatkan aku dalam setiap impiannya.


Angin malam pun seakan tertawa melihat kebodohanku. Aku berjanji hanya hari ini menghabiskan air mata untuk lelaki pendusta sepertinya. Besok aku akan lupa, anggap saja ia bukan orang yang pernah aku kenal. Anggap saja dia suami adikku yang tidak aku kenal. Yah, begitu lebih baik.


Cuaca malam ini cukup dingin, beruntung tidak turun hujan sehingga aku bisa berlama-lama berdiri di balkon dengan menikmati setiap terpaan angin yang menyentuh permukaan wajahku. Aku merasa lebih baik, jauh lebih tenang daripada tadi siang.


Pandanganku menoleh ketika terdengar pintu diketuk kembali. Siapa malam-malam begini? Apa pelayan? Ya, aku lupa makanan tadi belum di sentuh.


“Delon,” kataku ketika melihat sosok beralis tebal yang berdiri. Ia mengenakan kaos putih yang melekat di tubuh atletisnya.


“Kenapa?” tanyaku.


“Boleh masuk,”


Aku diam sebentar lalu mengangguk. Lelaki beralis tebal masuk ke dalam dan mendapati makanan yang belum tersentuh.


“Kau tidak makan?” katanya dan segera menyuruh pelayan masuk.


“Iya tuan,” kata lelaki berkumis tebal.


“Siapa yang membawa makanan ke nona, kenapa tidak di pastikan bahwa nona makan? Apa dia sudah bosan bekerja,” omelnya.


“Sudahlah, bukan salah mereka karena aku tak selera,” kataku.

__ADS_1


Delon menghela napas berat dan menatap tajam ke pelayan, “Gantikan dengan makanan baru,”


Beberapa menit pelayan sudah datang membawakan makanan baru. Dia keluar setelah lelaki beralis tebal menggerakkan dagunya ke arah pintu.


“Makanlah,” bujuk Delon.


“Aku tidak lapar,”


“Apa kau ingin aku memecat pelayan tadi?” katanya tegas. Aku lupa jika perkataannya bukan bujukan melainkan perintah.


“Baiklah,” kataku sebelum lelaki itu mendekat.


Kali ini aku ingin periksa ke dokter mata, barangkali mataku mulai bermasalah. Delon sedang meniup sop panas dan hendak menyuapkan ke mulutku. Aku merasa tak bisa menolaknya dan mendadak perasaanku nyaman.


“Makanlah yang banyak, badanmu kecil apa kau mau semakin kurus,”


“Iya,” jawabku datar dan masih menikmati makanan yang masuk ke mulut.


Mataku mengamatinya. Sosok yang biasanya dingin sebenarnya hangat, aku sudah menduganya dari awal. Lelaki beralis tebal terlihat tampan dengan rahang yang keras dan bibir tipis. Setiap lekukan wajahnya nyaris sempurna.


“Kenapa bengong,”


“Kamu baik sekali,” kataku.


Lelaki itu menautkan kedua alis tebalnya, “Jangan berlebihan, aku hanya tidak ingin kau sakit dan menyusahkan,”


Seketika aku merengut. Kapan dia tidak membuatku kesal? Aku ralat kalimat dia baik.


“Tidurlah, sudah malam,” katanya setelah aku menghabiskan makan di piring. Entah kenapa rasanya lebih enak dari tangan Delon. Jarang-jarang ia mau menyuapi aku makan.


“Belum ngantuk,” kataku.


“Paksakan tidur, kau sudah lelah dan banyak menangis,” katanya sebelum memanggil pelayan untuk membawa bekas makanku ke dapur.


Sekilas ia melirik puluhan bekas tisu yang teronggok di bawah. Aku meringis karena belum sempat memungut semua. Lelaki itu hanya geleng-geleng kepala dan memanggil pelayan berkulit hitam manis untuk membereskan.


“Delon,” panggilku sebelum ia melangkah keluar.

__ADS_1


“Kenapa?” lelaki berusia dua puluh enam itu menoleh.


__ADS_2