Tidak Ada Judul

Tidak Ada Judul
Panik setengah mati


__ADS_3

Cerita tidak akan dilanjutkan


Tubuhnya mulai limbung. Alessya seakan kepayahan untuk teguh menyeimbangkan posisi duduknya. Ketika Arhan baru selesai bicara dengan pelayan, tiba-tiba saja terdengar suara yang tidak begitu keras tapi cukup nyaring dan kuat. Brukk.


Kontan, Arhan menoleh secara kilat. Dan bergerak cepat menggapai sofa. Arhan kaget mendapati Alessya terkulai jatuh di badan sofa yang lebar, dengan posisi setengah berbaring miring. Kaki Alessya sedikit tertekuk, dan ujung kakinya yang menggantung di pinggir sofa. Dan kepalanya tersungkur ke punggung sofa.


Saking kalutnya Arhan hampir memutuskan untuk langsung membopong Alessya dan memindahkannya ke kamar. Sesaat itu niatnya diurungkan. Ia menarik mundur kedua tangannya yang hampir menyentuh tubuh Alessya.


Keraguan itu timbul. Ia takut kalau menyentuh Alessya dalam keadaan tidak sadar juga dilarang. Tapi, Arhan tak kuasa membiarkan tubuh ringkih Alessya dalam posisi tak nyaman seperti itu.


“Bi, coba cepat periksa Alessya. Dan betulkan posisi berbaringnya.” Arhan berdiri cemas tepat di depan tubuh Alessya tergolek.


“Baik, Tuan.”


Bibi itu mendekat dan mencoba mengangkat Alessya dengan hati-hati dan segenap tenaga. Dibetulkannya posisi Alessya hingga berbaring seluruhnya dengan kepala yang sudah terganjal bantal.


Arhan menurunkan tubuhnya hingga ia berjongkok, dan wajahnya sejajar dengan wajah Alessya yang tengah telentang. Ia ingin mengeluskan tangannya ke pipi Alessya dan menepuknya pelan. Tapi, Arhan tak cukup berani melakukannya. Mengingat waktu itu Alessya memarahinya habis-habisan, ketika ia baru mau memegang tangannya.


“Cepat ambilkan minyak kayu putih atau apa saja dan oleskan ke hidungnya. Atau apa pun yang bisa membuatnya cepat sadar,” perintah Arhan setelah ia berdiri kembali, pada siapa saja pelayan yang baru berdatangan satu-satu.


Dan, tampak pelayan senior mengintruksikan pelayan untuk membawa kotak p3k. Secepat mungkin.


Pelayan yang disuruh segera berlari ke suatu ruangan.


“Bi, tolong periksa Alessya lagi. Kenapa dia pingsannya lama?” Arhan makin panik. Menit per menit yang berlalu bagai menghabiskan waktu berjam-jam. Alessya yang belum lama pingsan membuat Arhan kalang kabut.


Pelayan paruh baya itu duduk di samping bantalan kepala Alessya. Ia kemudian berinisiatif untuk menyentuh kening Alessya, untuk memastikan badan Alessya panas atau tidak. Sambil menunggu kotak P3K, bibi dengan pakaian seragam khusus pelayan warna biru tua, mengipas-ngipaskan majalah yang baru diambilnya di atas meja kecil yang terdapat vas bunga yang masih segar, samping sofa.


“Tolong seseorang panggilkan dokter! Cepat!” Lagi Arhan memberi komando. Ia benar-benar kesal pada dirinya sendiri karena tak bisa melakukan apa pun untuk membuat Alessya terbangun dari pingsannya.


Pelayan membawa kotak P3K. Sebuah botol ramping sejenis minyak kayu putih, dicomotnya dari dalam kotak. Lalu, bibi pelayan segera meraihnya dari tangan pelayan muda itu.

__ADS_1


Dikocok sebentar, lalu ia tunggingkan botolnya ke ujung telunjuknya, untuk meneteskan cairan dari lubang botol yang kecil secukupnya. Bibi pelayan langsung mengoleskkannya ke ujung hidung Alessya.


Nihil, sama sekali belum ada pergerakan. Alessya bergeming dalam ketidaksadarannya.


Tak sedetik pun Arhan berpaling dari mengamati Alessya. Ia tetap berdiri terpaku dengan resah yang meringsek di dadanya.


“Alessya masih belum sadar juga." Arhan mengusap rambutnya dari depan ke belakang. "Apa aku perlu menelepon ambulance dan membawanya ke rumah sakit?” gumam Arhan lirih tak bisa sabar menunggu tanpa hasil.


Tangannya berkali-kali menggaruk-garuk pelipisnya. Sesekali membekap mulutnya, lalu menarik napas lebih dari sekali. Semua cara itu gagal menghilangkan rasa was-wasnya.


“Tuan, bagaimana Nona Alessa?” sahut Lerry yang datang tergesa-gesa dengan menenteng pet cargo Orin, lalu menurunkannya di karpet tebal yang terhampar di lantai.


“Hubungi dokternya lagi! Suruh dia datang lebih cepat. Dan untuk berjaga-jaga, sekalian panggil ambulance juga,” seru Arhan yang masih berdiri dengan panik.


“Saya rasa tidak perlu memanggil ambulance. Nona mungkin hanya pingsan biasa. Kita sebaiknya tunggu dokter untuk memeriksa Nona Alessya dulu.”


“Tapi, sampai sekarang Alessya masih belum siuman juga. Aku tidak mau kalau Alessya mengalami hal buruk karena telat membawanya ke rumah sakit,” kata Arhan, mengambil alternatif terbaik.


“Kita pindahkan Alessya ke kamar. Minta para pelayan wanita untuk membawa Alessya ke kamar di lantai atas,” ujar Arhan, yang tetap tak bisa mengendalikan dirinya untuk bisa lebih tenang.


“Biar saya saja tuan,” sahut Lerry, sekonyong-konyongnya menjulurkan tangannya untuk menyelipkannya ke belakang punggung Alessya. Lerry tidak tahu kalau tindakannya itu sangat gegabah.


Secepat kilat Arhan menepis kuat tangan Lerry dan membantingnya ke udara.


“Jangan sentuh Alessya!” bentak Arhan. Lerry tersentak, kaget. Kenapa Arhan bisa semarah itu?


“Para pelayan wanita akan kewalahan kalau harus memindahkan Nona Alessya ke lantai dua,” kilah Lerry hati-hati bicara. Ia setengah bingung, setengah takut.


Marahnya Arhan bisa jadi bencana bagi siapa saja yang menyebabkan rusaknya suasana hatinya. Mungkin jika berani membantah dengan lancang, Lerry bisa dipecat.


“Lalu, siapa yang harus mengangkatnya? Tidak mungkin kamu! Kamu juga laki-laki,” elak Arhan, harus tetap menjaga Alessya dari sentuhan pria asing.

__ADS_1


“Tapi ini kan darurat, Tuan. Dokter juga nanti memeriksa Nona dengan menyentuhnya,” sergah Lerry. Yang akhirnya membuat Arhan tersadar dan menemukan solusi.


“Aku sendiri saja yang akan membawa Alessya ke kamar. Kamu hubungi dokter sekali lagi. Minta padanya juga untuk membawa perawat wanita atau rekan dokter wanitanya,” pinta Arhan pada Lerry.


Lerry yang cepat tanggap, segera menelepon kembali dokter pribadi Arhan. Yang ternyata sudah hampir sampai.


Serasa berat, Arhan meneguk liur. Meyakinkan dirinya sendiri untuk berani menyentuh Alessya. Dengan satu gerakan, Arhan berhasil mengangkat tubuh Alessya yang ramping itu dalam rengkuhannya.


Ternyata tubuh Alessya enteng. Hingga Arhan tak kesulitan untuk berjalan agak cepat, dengan tangannya yang kuat menggendong Alessya, menaiki tangga dan berhenti sejenak di pintu kamarnya yang bercat putih.


Lerry buru-buru memutar gagang dan mendorong pintu hingga terkuak dengan sangat lebar.


Perlahan Arhan menurunkan Alessya, sesaat setelah Lerry menyibak selimut tebal, di atas kasur empuknya yang bersepreikan motif daun musim gugur dan berbahan sutera.


Bibi pelayan melanjutkan sisanya. Ia membetulkan posisi berbaring Alessya. Dan dua bantal yang ditumpuk, diselipkan di belakang lehernya.


Dokter pun tiba bersama tiga orang timnya. Dua di antaranya, seorang laki-laki dan perempuan yang memakai jas putih khas dokter yang sama dengannya. Lalu, seorang perempuan memakai seragam perawat.


Dokter pria yang terlihat sebagai kepala dokter pribadi Arhan, mengeluarkan stetoskop dan alat medis lainnya dari dalam tas kerjanya. Ia hendak meraih tangan kiri Alessya untuk memeriksa denyut nadi , tapi Arhan dengan sigap menahannya dengan genggaman tangannya pada pergelangan tangan dokter itu.


“Bu dokter saja yang memeriksa. Pak dokter silakan tunggu di luar sebentar. Serahkan Alessya untuk ditangani Bu dokter dan perawat saja,” ucap Arhan, membuat Pak dokter terlongo. Selama ada dokter wanita, dokter lelaki sekalipun tidak akan Arhan biarkan menyentuh Alessya. Cukup dirinya saja, yang terpaksa menyentuh Alessya barusan.


Tapi, kebingungan dokter hanya berlangsung sesaat. Karena paham, ia membawa teman dokter prianya untuk menunggu di luar. Sesuai dengan perintah Arhan.


“Semuanya keluar. Biarkan Bu dokter memeriksa Alessya.” Arhan menjentik-jentikkan jarinya agar semua yang ada di kamar kecuali dokter dan perawat, segera keluar dari kamarnya.


Dan ia sendiri pun ikut keluar. Ia tak mau mengganggu dokter di dalam.


Selama dokter memeriksa, Arhan siaga berjaga di depan pintu kamarnya yang ditutup rapat.


Mohon maaf cerita tidak akan dilanjutkan

__ADS_1


Karena saya harus memperbaiki naskah dari awal. jadi saya menghentikan cerita sampai di sini.


__ADS_2