
Lima menit Arhan berjalan bolak-balik di depan pintu ruangan Finnan. Alessya tak kunjung keluar. Ia mulai berpikir semrawut. Sepertinya Finnan sengaja menahan Alessya lebih lama di dalam ruangannya.
Lalu, sepuluh menit telah terlewati lagi. Alessya yang dinantinya belum melihatkan tanda akan keluar dari ruangan itu. Arhan akhirnya berhenti bergerak. Ia dengan kesal kembali duduk.
Diajaknya bicara si Belang yang ada di dalam pet cargo. Ia merutuk kesal dan meracau pada si Belang. Entah memahami suasana hati majikannya atau tidak, si kucing menatap penuh dengan pupil matanya yang membulat dari balik tutup berjeruji. Dari air muka kucing itu sepertinya ia juga agak khawatir dengan tingkah majikannya yang kurang jelas.
Detik dan menit pun berlalu. Bagi Arhan waktu terasa lama berjalan. Alessya yang lebih dulu masuk ke ruangan pemeriksaan semestinya juga sudah keluar dari tadi.
Tak tenang, Arhan berpikir untuk masuk saja ke ruangan itu. Dan ia langsung bertindak. Bangkit dari kursinya. Meninggalkan si Belang di kursi sementara ia melangkah ke pintu ruangan yang masih tertutup rapat itu.
Mungkin ia baru berjalan lima atau enam langkah, pintu yang sejak menit-menit lalu selalu dipantaunya akhirnya terbuka.
Bergeming, Arhan mematung di tempat. Sambil terus melayangkan fokusnya ke arah pintu, yang detik-detik kemudian sepenuhnya terbuka.
Finnan lebih dulu keluar. Baru setelahnya Alessya berjalan melewati pintu sambil menjinjing pet cargo.
Pemandangan Alessya dan Finnan yang saling bertukar senyum, mengerucutkan bibir Arhan. Tanpa pikir panjang, Arhan datang ke hadapan mereka. Untuk mengacaukan situasi yang terjadi antara Finnan dan Alessya.
“Alessya, aku kesal lama menunggumu,” keluh Arhan dengan mengalunkan suara lembut nan mesra.
Perkataan barusan memaliskan pandangan Finnan dan Alessya ke arahnya secara serempak.
Dia lagi. Kenapa juga dia masih ada di sini? Dia terlihat seperti orang kurang kerjaan. Hariku selalu berantakan bila aku bertemu dengan si Tuan muda pengacau ini
.
“Kamu datang ke sini bersama dia, Alessya?” tanya Finnan, setelah mengubah pandangannya pada Alessya.
“Tidak. Kita bertemu di sini,” balas Alessya yang ekor matanya menyidik tajam Arhan.
Sekejap ia menaruh tatapannya pada Finnan. “Terima kasih untuk hari ini. Sampai jumpa,” imbuh Alessya.
Ia pun berbalik dan memapah langkahnya tanpa menghiraukan Arhan, yang sedari tadi menunggunya.
Suara Finnan seakan tercekat ketika dirinya ingin mencegah Alessya pergi dengan memanggil namanya. Untuk mengejarnya, Finnan pun tak punya nyali. Dalam ratapnya, Finnan hanya mampu membiarkan Alessya berlalu dari pandangannya.
Tak seperti Finnan, keberanian Arhan lebih besar. Dia dengan gesit memacu langkahnya untuk menggapai Alessya yang langkahnya makin cepat seiring bayangannya menjauh.
Pintu kaca paling depan ditarik Arhan cepat. Dan ia hampir menyelaraskan langkahnya dengan Alessya saat di pelataran klinik.
“Alessya, aku ingin bicara denganmu.” Kata-kata itu terluncur beriringan dengan langkah Arhan yang sudah seirama dengan Alessya.
__ADS_1
Seketika Alessya menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya, dan menengok Arhan yang berada di sampingnya.
“Tidak bisakah kamu berhenti mengejarku? Aku hari ini sangat lelah. Tolong sekali ini saja, jangan menggangguku!” Alessya bersuara lemah. Karena rasanya untuk bertengkar dengan Arhan, Alessya tak punya tenaga.
“Ada hal yang memang ingin kubicarakan denganmu. Ini soal Belang,” kata Arhan tak mau basa-basi. Alessya sedikit melunak begitu mendengar nama Belang.
“Kenapa dengan Belang?” tanya Alessya, jadi penasaran.
“Aku tidak bisa bicara di sini sambil berdiri bawa kucing begini,” kilah Arhan keberatan, sambil menunjukkan belang dengan mengangkat pet cargo.
Taktik sudah mulai dilakukan oleh Arhan. Ia sengaja tak langsung mengungkapkan keinginannya, demi mengajak Alessya pergi bersamanya.
Memang tidak nyaman dan kurang pantas, jika mereka berdua bicara empat mata di pelataran dalam keadaan berdiri dan memancing orang lain di sekitar untuk melihat ke arah mereka.
Bukan tertarik melihat Alessya, tapi cenderung lebih terpesona pada sosok Arhan yang penampilannya tampak tidak biasa.
“Kita mau bicara di mana?” Sinyal hijau telah menyala. Alessya terdengar lebih lembut ketika bertanya.
“Bagaimana kalau kita pergi ke restoran? Kita bisa bicara sambil makan,” usul Arhan antusias sekali. Entah niat terselubung apa yang tersimpan dalam hati Arhan.
“Kita kan sedang bersama kucing. Restoran akan menolak jika kucing dibawa masuk. Aku tidak bisa meninggalkan Orin, hanya untuk makan dan bicara denganmu,” sergah Alessya, tak setuju.
Wajar jika ia tak mau. Demi memikirkan kucingnya, jelas Alessya perlu bersikap tegas pada Arhan.
Diam sejenak. Alessya agak bingung.
Memang ada ya restoran yang mengizinkan kucing ikut masuk? Apa Arhan akan mengajak makan di kafe kucing? Tetapi kan sekitar sini tidak ada kafe kucing.
“Pokoknya, kamu ikut saja denganku,” tandas Arhan, meyakinkan Alessya sekali lagi.
Mereka berdua melangkah menuju mobil sedan milik Arhan yang terparkir di sebelah kanan pelataran klinik. Di sana, mereka langsung disambut Lerry yang sudah berdiri menunggu, selama Alessya dan Arhan terlibat percakapan barusan.
Pintu mobil penumpang di belakang dibukakan oleh Lerry. Alessya masuk lebih dulu setelah diminta Arhan. Kemudian, setelah Alessya bergeser ke sudut, Arhan pun turut naik.
Lerry menutup pintu mobil, dan setengah berlari masuk ke mobil dan duduk di kursi pengemudi. Sebelum melajukan mobil, Lerry bertanya kepada Arhan ke mana tujuan mereka.
Dan saat mobil bergerak maju meninggalkan klinik, Finnan memandang cemas dari dalam klinik, melalui dinding kaca. Ia rupanya sudah kalah cepat dengan Arhan.
Di sebuah restoran casual dining, Lerry menghentikan mobil. Seperti biasa sebelum Arhan turun dari mobil, Lerry akan sedia membukakan pintu mobil untuknya. Ia memegang pintu untuk tetap dalam keadaan terbuka setelah Alessya turun juga dari mobil.
Pet cargo yang berisi Belang dan Orin dipegang Lerry, masing-masing di tangan kanan-kirinya. Ia ikut masuk ke dalam restoran bersama Arhan dan Alessya. Dan menghampiri meja resepsionis terlebih dulu.
__ADS_1
Dua pelayan langsung menyambut mereka, sesaat sesudah Lerry bicara pada petugas resepsionis untuk memesan meja untuk Arhan dan Alessya. Dua orang waitress itu mengantarkan mereka bertiga ke salah satu ruangan restoran. Di mana di sana semua meja bundar tampak kosong.
Meja di sebelah sisi kiri yang dekat dengan jendela samping, Arhan pilih untuk ia tempati bersama Alessya. Sementara Lerry beserta kedua kucing duduk di meja lain yang terpisah agak jauh.
Salah satu pelayan menyodorkan buku menu pada Alessya dan Arhan. Tapi tanpa melihatnya lebih dulu, Arhan menaruh buku menu itu begitu saja di meja. Ia pun berbicara pada pelayan.
“Berikan kami menu terbaik di sini,” pinta Arhan, yang direspon dengan anggukan sopan oleh pelayan wanita.
“Apa ada permintaan khusus terkait menunya?” tanya pelayan dengan intonasi sangat hormat.
“Tidak.” Arhan berkata tanpa melihat ke arah pelayan. Matanya malah ditengokkan kepada Alessya yang duduk di hadapannya.
Tampak paham, pelayan itu pun beringsut pergi, diikuti pelayan satunya lagi.
Bersamaan dengan kepergian pelayan, Alessya melihat sekeliling ruang restoran. Sepi. Benar-benar tidak ada tamu lagi selain mereka. Sedikit heran, Alessya berpikir, mengapa restoran sebagus ini malah tidak ramai didatangi pengunjung?
“Ada apa? Sepertinya kamu bingung, karena di ruangan ini hanya ada kita berdua,” kata Arhan, yang tidak menghitung keberadaan Lerry dalam ruangan itu.
“Iya, di sini sepi. Apa restoran ini tidak menerima tamu lagi selain kita? Dan, mereka membiarkan kita membawa masuk kucing begitu saja,” ujar Alessya, masih mencermati sekeliling.
“Jadi, kamu lebih suka jika kita diusir dari sini,” timpal Arhan, tidak serius.
Kepala Alessya langsung tertoleh. Ia menatap Arhan cukup serius.
“Aku tidak akan kaget seandainya pelayan restoran mengusir kita.”
“Kamu tidak perlu mencemaskan apa pun.”
“Apa yang kamu lakukan hingga kita diizinkan masuk tanpa masalah?” tanya Alessya, ingin tahu sekali.
“Kita datang tepat waktu, karena kita ke sini sepuluh menit sebelum restoran buka.”
“Berarti sebentar lagi tamu-tamu akan berdatangan. Apa nanti tidak akan ada tamu yang protes saat tahu di dalam sini ada kucing?” Lagi Alessya bertanya karena tidak tenang. Tidak semua orang suka kucing. Bahkan segelintir orang merasa jijik. Apalagi di sini ia dan kucingnya berada di restoran, di mana tentunya orang-orang berniat makan dengan nyaman.
“Hal itu juga tidak perlu kamu pikirkan. Kita bisa bicara dengan nyaman tanpa terganggu. Dan kita bisa menikmati makanannya dengan lebih tenang,” terang Arhan.
Alessya yang menumbukkan kedua alisnya, merasa tak bisa memahami makna dari ucapan Arhan.
“Kenapa begitu?”
“Satu ruangan ini sudah kusewa. Tidak akan ada tamu lagi selain kita,” papar Arhan, yang membuat Alessya terlongo.
__ADS_1
Bisa-bisanya hanya untuk makan dengan lebih nyaman dan mendapatkan ketenangan untuk bicara, Arhan menyewa satu ruangan di restoran. Namanya juga orang kaya. Mungkin membeli restoran ini pun Arhan bisa menyanggupinya.