
Sore ini aku menikmati teh hangat dicampur daun peppermint sambil menatap lurus ke luar kaca. Dedaunan hijau yang dirawat baik tertangkap iris mataku, lambaian dedaunan itu seolah menyapaku.
Seminggu sudah sejak pertemuanku dengan Ella di Serena Coffe. Tak pernah lagi aku menemuinya ataupun Mama Bella. Kurasa perlu waktu lebih untuk menata hatiku seperti semula. Dan untungnya, mereka paham.
“Melamun lagi?”
“Hah,” ucapku kaget. Aku menoleh saat ia menyentuh bahuku, sedangkan lelaki itu tersenyum hangat.
Aku mendongak melihat wajah lelaki berhidung mungil. Ia sangat tampan memakai blezer hitam dengan kemeja merah marun di dalamnya, sedangkan tangannya menenteng tas kerja.
“Baru pulang, Kak?” tanyaku ketika lelaki itu menarik bangku di sampingku.
“Iya nih, taunya di rumah ada yang lagi galau,”
Aku nyengir sambil meneruskan menyesap teh hangat di cangkir putih bergambar hati. Sementara lelaki itu memanggil pelayan untuk membuatkan secangkir kopi.
“Kakak nggak mandi dulu,” sahutku setelah menaruh cangkir ke meja kaca.
Lelaki berhidung mungil mengendurkan dasi setelah memutar kursinya untuk duduk berhadapan denganku. Sontak wajahku memerah, merasa salah tingkah berjarak sedekat ini. Dan satu lagi, jantungku melompat-lompat tidak karuan. Ah, aku mulai terpesona.
“Duduk sebentar nemenin kamu, boleh?”
“Boleh banget,” ucapku seraya langsung membekap mulutku sendiri dengan telapak tangan.
Lelaki itu tertawa pelan. Wajahnya semakin menggemaskan dan terlihat binar mata di kedua bola mata indahnya.
“Sepertinya kau kesepian, Delon masih di kantor?” lanjutnya seraya celingak-celinguk mencari sosok Delon.
Aku mengedikkan bahu, “Entahlah, mungkin lembur,”
Lelaki itu manggut-manggut, lalu mengambil cangkir hitam dengan tangan kanan setelah pelayan membawanya. Ia menyesap kopi pahit favoritnya perlahan-lahan.
“Mikirin apa?” Lelaki itu bertanya.
“Tidak,”
“Jangan bohong,”
“Hehe, cuma kangen Mama,”
Lalaki itu menyentuh lembut kepalaku dengan tersenyum hangat, aku merasa terhipnotis dan menurut seperti kucing yang dielus kepalanya. Ia paling bisa membuatku mati gaya.
__ADS_1
“Aku paham, kamu masih berat. Tapi semua masalah harus di hadapi bukan menghindar. Kamu sudah ikhlas, kan?”
“Ikhlas, Kak. Apa aku harus pulang,” Aku menimang-nimang sambil mengetuk-ngetuk jariku ke dagu.
“Pilihan ada di kamu. Tapi kalau tetap disini, aku juga senang,”
Mataku terbelalak lebak, “Senang?”
“Iya senang. Sejak ada kamu, adik iparku banyak berubah, tidak kaku,” ucapnya dengan berpikir sejenak, “Alya pasti bahagia melihatnya,”
Aku tersenyum getir, ada rasa nyeri ketika bibir mungilnya masih menyebut nama Alya. Aku berada jauh jika dibandingkan dengan perempuan itu. Ia memiliki semua yang di idam-idamkan wanita. Pantas saja lelaki berhidung mungil begitu mencintainya.
“Hehe iya Kak. Semoga Alya bahagia,” kataku kemudian.
Lelaki itu tersenyum dan nampak mengusap wajahnya dengan gelisah, apa ia merindukan sosok Alya?
“Aku ke atas dulu, ya,” pamitnya setelah menyambar tas kerjanya.
Aku mengangguk dan mengamati punggung itu menjauh hingga lenyap dari pandangan. Ia salah satu kekuatan yang aku miliki.
***
Di gedung pencakar langit dengan puluhan lantai yang memiliki jumlah karyawan tidak sedikit. Lelaki itu duduk di bangku hitam di dekat meja.
“Bawakan berkas meeting nanti sore,” perintahnya di telepon.
Dua menit kemudian pintu diketuk saat wanita berambut ikal dengan lipstik merah menaruh map biru.
“Ini, Pak,” katanya tanpa basa-basi.
“Boleh pergi,” Ia mengibaskan tangan tanpa menatap wanita cantik yang berdiri di depan meja.
Wanita yang dibalut blus klasik warna putih dipadukan rok pensil cokelat mengangguk paham, lalu membawa kaki jenjangnya melangkah keluar ruangan. Ia hafal tabiat Presdir Delon sejak masuk ke kantor ini lima tahun lalu.
Sementara lelaki itu sibuk membuka map biru, lalu mengamati setiap detail tulisan yang tercetak dengan tinta hitam. Dahinya berkerut kemudian menghela napas panjang sebelum meletakkan map ke atas meja.
Lelaki itu mengenakan celana panjang abu-abu, rompi hitam, dan blazer abu-abu, ia padukan dengan kemeja panjang warna cerah agar tidak terkesan kaku. Ia memiliki rahang tegas dengan alis tebal yang memikat. Siapapun yang melihat lelaki itu tersenyum akan langsung meleleh di tempat kecuali aku, Olivia Corliss.
Lima menit lagi rapat akan segera dimulai. Ruangan luas didominasi warna biru tua terlihat ramai ketika Presdir masuk. Kursi-kursi terisi penuh oleh perwakilan divisi, dan satu proyektor sudah ada di depan.
Kali ini ia sendiri yang akan menjelaskan tentang proyek pembangunan mall baru di daerah Jakarta Selatan. Karyawan antusias menyimak dengan baik, tidak ada yang berani mengobrol mengingat tabiat bosnya yang tidak akan segan-segan mengeluarkan dari ruang rapat secara tidak hormat. Selebihnya, ia serahkan pada Jenita, sekretaris muda yang memiliki badan aduhai dengan wajah secantik Son Ye-jin.
__ADS_1
Setengah jam berlalu dan karyawan harus kembali bekerja untuk lembur. Ia paling tak suka membuang waktu lama, setelah mendapat hasil rapat yang ia inginkan maka semua selesai.
Lelaki itu keluar dari ruang rapat, diikuti oleh Jenita yang berjalan sejajar dengan langkah besar-besar.
“Jen, pastikan semua berjalan dengan baik,”
“Baik, Pak,” ucap wanita berwajah belasteran Indonesia-Korea.
“Apa kita ada janji ketemu klien?”
“Ada, Pak. Jam tujuh malam,”
Delon melirik arloji yang melingkar di tangan. Waktu menunjukan pukul lima lebih sepuluh menit, dan lelaki itu membuka handle pintu ruangan Direktur Utama.
Wanita bertubuh ideal itu membawa beberapa berkas di tangan, lalu masuk ke ruangan yang ada di depan ruang Presdir.
Aroma citrus menguar tatkala lelaki pemilik alis tebal itu masuk, lalu duduk di kursi hitam dan kembali fokus ke layar laptop.
Sejenak ponselnya bergetar dan ada nama gadis mungil yang berpendar-pendar, lelaki itu menoleh sebentar lalu menyambar benda pipih tersebut.
“Kamu lembur, kapan pulang?”
“Hem,” balasnya datar.
“Bapak Presdir lagi sibuk?” goda suara di seberang. Kikikan kecil tertangkap telinga Delon, namun ia tak terpengaruh.
“Ada apa?”
“Kamu pulang malam kan? Aku lagi malas keluar tapi ingin makan permen kapas,”
“Lalu?”
“Tolong mampir, sekalian lewat. Hari ini pasar malam buka, kan?”
“Ya,” balas lelaki itu sebelum mengusap tombol merah di layar.
Kemudian ia meletakkan kembali ponsel itu di atas meja setelah memanggil OB untuk membuatkan secangkir kopi.
Selang lima menit pintu terketuk dan secangkir kopi yang ia pesan sudah tergeletak di meja.
“Bisa keluar,”
__ADS_1
“Baik, Pak,” ucap lelaki berbadan kurus yang membawa nampan hitam.
Delon mengambil cangkir kopi lalu menyesapnya perlahan, dengan gerakan matanya mengecek deretan email yang masuk.