
Aku duduk di balik meja ketika Arul sibuk menggoda Aqilla. Suasana masih sepi karena baru jam sembilan pagi namun banyak catatan-catatan kecil yang di pesan Pelanggan untuk memo di buket bunga. Mawar merupakan bunga yang paling di gemari banyak wanita. Berbeda denganku yang lebih suka dengan lily putih.
Sebulan berlalu sejak hari pernikahan Ella. Aku mulai menjalani hariku seperti biasa, dan melupakan mereka. Semua tidak lepas dari dukungan Aqilla, Arul serta dua pengeran tampan. Aku membuka kaca bedak untuk memastikan lipstik di bibirku rapi kemudian aku menyelipkan dalam tas mungil warna cokelat muda. Tanganku membenahi ikatan rambut agar rapi lalu menyisir poniku dengan jari.
Semua buket bunga siap di antar Arul. Satu buket mawar putih pesanan Presdir Juan yang letaknya tiga kilometer dari toko bunga, ia biasa memberi kejutan kecil untuk calon istrinya. Romantis memang dengan kekayaan yang melimpah, calon istri yang secantik boneka. Aku pernah melihat gadis itu yang wajahnya seperti boneka barbie. Lalu apa yang kurang dari hidup Presdir Juan?
Bukan hanya Presdir Juan yang memesan buket bunga sepagi ini. Ada empat buket mawar yang siap di antar ke gedung yang menjulang tinggi letaknya sekitar sekitar sepuluh kilometer. Cukup jauh memang, tapi masing-masing pemesan siap membayar lebih untuk setiap buket. Memang kejutan kecil bisa membuat wanita tersenyum.
“Mana bunganya,” kata Arul yang sudah siap mengantar. Ia termasuk dalam kategori kurir tampan dengan rahang keras dan kulit putih. Tubuh atletisnya terbalut kemeja cokelat tua polos.
“Biarkan dia sendiri yang mengantar semua,” cetus Aqilla menyerahkan lima buket bunga mawar yang sudah terangkai cantik.
“Pulangnya mampir beliin cemilan ya,” lanjutku. Selain jadi kurir tampan ia juga siap membelikan banyak makanan bahkan rela antri jika aku atau Aqilla memesan makanan siap saji yang ramai. Terkesan ngelunjak memang, tapi bukan Arul namanya kalau menolak.
“Siap nona-nona,”
Lelaki itu mengangguk-anggukkan kepala kemudian bergegas membawa buket-buket cantik itu ke tangan pemesannya. Aku dan Aqilla hanya nyengir lalu duduk-duduk untuk mengobrol hingga topik melebar kemana-kemana. Itu kebiasaanku dengan Aqilla selagi menunggu ada pembeli atau orang yang memesan untuk di antar.
Aqilla menghirup udara dalam-dalam, ia suka aroma bunga yang membuatnya ceria. Tangannya membenahi rok lipitnya dan memastikan rapi lalu jarinya menyisir rambut halus sehingga poni depannya menutup kening. Wajah cantiknya hanya terpoles bedak tipis dan bibirnya tersentuh lipstik warna nude.
“Seneng deh liat Olivianya aku udah ceria lagi,”
Gadis bermata sipit itu berbicara dengan nada khasnya, ia begitu menggemaskan dan aku yakin sisi ini yang membuat seorang Arul tergila-gila.
“Iyalah, aku udah move on kali,”
Mata sipit itu melebar lalu ia menatapku penuh selidik, “Sama siapa?”
Aku terkekeh geli, pasti menyenangkan membuat gadis bermata sipit itu penasaran, “Ehm, rahasia deh,”
Aqilla mengerucutkan bibirnya dan berpikir keras selama beberapa detik. Sementara aku mengambil nota-nota di atas meja lalu memasukkan ke dalam laci.
“Jangan bilang Delon, akhir-akhir ini dia terlihat perhatian buktinya rajin antar jemput kamu, padahal aku pikir dia galak habisnya dingin,”
Aku menghembuskan napas pelan lalu melirik wajah menggemaskan si gadis bermata sipit. Mengapa ia berpikir Delon? Memang jika di perhatikan lebih dalam sekilas wajahnya mirip denganku. Kata orang jodoh itu mirip, sayangnya aku tidak percaya mitos.
“Olivia,”
“Jangan berpikir yang tidak-tidak, ia seperti Kakak untukku,”
__ADS_1
Gadis bermata sipit mendesah kecewa. Apa yang ia pikirkan, kenapa sangat berminat aku bersama Delon.
“Yah, padahal aku berharap,”
“Jangan kebanyakan berharap, lebih baik kamu pertimbangkan Arul,”
“Dih, makhluk gaib lagi,”
Aku tergelak pelan, gadis menggemaskan itu selalu menolak Arul padahal ia terlihat serasi. Jujur, aku akan jadi orang pertama yang ikut bahagia jika mereka menikah.
“Jangan gitu loh, ntar cinta mati baru tau rasa,”
Aqilla merengut, “Doakan yang baik,Olivia,”
“Contohnya,”
“Doakan Kak Daffan tampan melamarku,”
Aku gemas menjitak pelan keningnya. Jadi ia menjodohkan aku dengan Delon agar posisi lelaki berhidung mungil aman. Ah, padahal aku lebih tertarik dengan lelaki itu. Entahlah, ia bisa membuat jantungku berdegup lebih kencang.
***
“Sayang, besok kita nengok Kakak, mau?”
“Ehm,”
“Ayolah,” bujuk Ella dengan nada manja.
“Kau tidak cemburu,”
“Untuk apa? Sekarang kamu milikku kan?”
Lelaki itu tersenyum mendengarnya, memamerkan kedua pipinya yang bolong. Manis sekali. Tentu membuat Ella langsung meleleh di tempat.
“Aku senang,” kata Brian.
“Yah, aku sangat rindu Kakak,” kata Ella dengan binar mata yang nampak di kedua bola mata kecoklatan miliknya.
“Ya, aku tau itu,”
__ADS_1
Ella berpikir sejenak kemudian bertanya, “Apa Kakak sudah ikhlas, aku lihat dia menangis pas akad kita. Sebenarnya aku merasa bersalah dan ingin mengejar Kakak. Tapi kita langsung di bawa ke ruang ganti,”
“Olivia wanita yang kuat, ia pasti bisa nyatanya dia yang selalu menolakku,”
Wajah cantik Ella merengut, “Jadi kalau kakak mau, kau akan kembali?”
“Entahlah,” lelaki itu mengedikkan bahunya sambil menatap lawan bicaranya, “Tapi itu dulu, sebelum menikah denganmu,”
Seusai mengatakan hal itu, ia menyentil hidung mungil wanita yang sudah menunduk, “Jangan cemburu,”
“Kau masih menyukai Kakak?”
“Aku selalu belajar melupakan dia,”
Ella menarik nafas panjang, kemudian membenamkan diri ke dalam pelukan suaminya yang langsung mencium aroma musk di tubuh atletis Brian, “Maaf, aku hanya takut,”
“Apa yang kau takutkan? Bukankah aku sudah menikah denganmu dan jelas Kakakmu menolakku,”
Lelaki itu berkata dengan hati yang ragu. Ia sendiri masih sulit melupakan namun sebulan terakhir membuatnya lebih baik. Ternyata tidak buruk menikah dengan Ella, ia sosok yang sabar dengan sikapnya dan cantik.
Brian yakin kalau laki-laki lain melihat senyum manis istrinya, tentu dia akan langsung meleleh di tempat bahkan rela bersaing untuk mendapatkan istrinya. Seharusnya ia merasa beruntung, sekalipun susah menggantikan cinta pertamanya.
“Maaf, aku jahat merebutmu tapi aku benar tidak bisa hidup tanpamu,” kata Ella setelah gadis itu mendongak untuk melihat lekukan wajah suaminya dengan jelas.
“Ini sudah jalan kita,”
“Apa kau menyesal menikah denganku,”
“Tidak,”
Bola mata Ella berputar kemudian berpikir sejenak saat lelaki itu masih bersikap dingin.
“Kenapa?”
“Siapa yang menyesal menikah dengan wanita secantik kamu,”
Sontak rona wajahnya memerah dan ia memukul dada bidang suaminya dengan manja.
“Gombal kamu,”
__ADS_1
“Tapi kamu suka, kan?”
Kemudian keduanya tertawa. Ella tak menyangka impian menikah dengan cinta pertamanya akan terwujud. Ia merasa bahagia.