
Melihat wajah Alessya yang pucat, Arhan ikut cemas. Tampak kesedihan yang dalam di wajah Alessya yang bersih itu. Arhan menunggu dengan diam, Alessya yang masih mendengarkan suara penelepon.
Sebelum panggilan tertutup, Alessya mengangguk paham dengan keadaan yang belum tenang. Alessya mencoba menguatkan berdiri, tetapi sesaat itu ia terduduk kembali. Karena lututnya mendadak terasa lemas.
Masih dalam duduknya, Alessya terasa berat membuka mulutnya. Ia coba menghilangkan pikiran buruk, kemudian baru bicara.
“Mungkin besok aku belum bisa mulai bekerja untukmu. Sekarang aku harus ke rumah sakit,” ucap Alessya lirih.
“Bukan masalah. Sekarang yang terpenting aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit dulu,” ujar Arhan, yang tak mau meninggalkan Alessya dalam keadaan terguncang begini.
“Aku harus pulang dulu ke rumah. Sebab Orin juga masih bersamaku sekarang. Dia tidak mungkin, aku bawa juga ke rumah sakit,” timpal Alessya, dengan menatap kosong ke depan.
“Titipkan saja Orin di rumahku. Lerry bisa menjaga Orin untuk sementara waktu,” kata Arhan memberi solusi.
Alessya mengangguk pelan.
“Terima kasih. Kalau begitu aku berangkat ke rumah sakit sekarang. Soalnya Ibuku sudah lebih dulu pergi ke sana. Ibu memintaku untuk cepat menyusul,” papar Alessya, bangkit dari duduknya.
“Aku akan mengantarmu supaya kita lebih cepat sampai ke sana,” kata Arhan setelah berdiri, dan bergeser selangkah.
“Maaf, merepotkanmu,” balas Alessya dengan suara yang lemah.
“Ayo, kita pergi sekarang!”
Mereka berdua tergesa-gesa menuju mobil. Dan Arhan segera melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, menembus jalanan yang agak padat. Sesekali ia menyalip untuk menghindari mobil di depannya yang bergerak lebih pelan.
Sepanjang perjalanan yang baru separuh ditempuh, Alessya menyanjungkan doa terbaik dalam hatinya. Memohon pada Illahi supaya tidak terjadi apa-apa dengan Kakeknya.
Sesekali Arhan melirik Alessya dengan ekor matanya, menunggu kesempatan untuk bertanya. Tetapi, Alessya masih tertunduk dengan diam.
Akhirnya setelah dari jauh gedung rumah sakit sudah terlihat, Arhan memberanikan diri bertanya.
“Kakekmu sakit apa?” Arhan fokus menatap jalan raya.
“Kakek terkena serangan jantung saat bekerja,” jawab Alessya, yang masih memandang ke depan.
“Semoga kakekmu baik-baik saja,” imbuh Arhan, yang lebih memacu cepat mobilnya. Semakin cepat sampai rumah sakit maka semakin baik.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit besar, Alessya yang ditemani Arhan menuju ruang ICU di lantai tiga menggunakan lift. Setelah keluar dari lift, Alessya setengah berlari di koridor yang terhubung ke ruang ICU. Dari jauh, Fatimah dan beberapa orang tengah menanti di depan ruang ICU.
Tepukan Alessya di pundak Fatimah, membuat Fatimah tersadar dari pikiran kosongnya. Dan ia segera menoleh pada Alessya.
“Kamu sudah datang?” tanya Fatimah, yang matanya tampak sembab. Mungkin baru saja air matanya mengalir. Serangan jantung Ibrahim pasti membuat Fatimah cukup terpukul. Belum lama bertemu kembali dengan Ayahnya, kini tiba-tiba hal buruk menimpa Ibrahim. Takut menyergap. Fatimah tak mau kehilangan Ayahnya. Ia belum siap. Ia belum sepenuhnya bisa menebus kesalahan kepada Ayahnya.
Alessya hanya mengangguk.
“Kakekmu masih belum sadarkan diri. Dokter dan perawat masih di dalam untuk memeriksanya,” tutur Fatimah dengan suara yang tak bergairah.
“Apa kondisi Kakek sangat parah?” tanya Alessya, sangat cemas.
“Syukur Alhamdulillah, masa kritis Ayah sudah lewat. Tapi, kondisinya masih belum stabil,” imbuh Fatimah, sambil menguatkan hatinya.
“Lalu, Apa tindakan dokter selanjutnya?”
“Dokter masih perlu meninjau. Apakah perlu dilakukan operasi bypass jantung atau tidak, tergantung hasil pemeriksaan nanti. Kita doakan semoga Kakekmu tidak perlu menjalani operasi,” ucap Fatimah, mencoba tegar. Dan yakin bahwa Ibrahim akan pulih kembali.
“Iya, Ma. Kita doakan yang terbaik untuk Kakek,” balas Alessya, yang terenyuh melihat wajah Fatimah yang kacau.
Kondisi fisik Alessya yang lemah, bisa membuat Alessya sakit sewaktu-waktu jika daya tahan tubuhnya menurun. Sebagai Ibu, Fatimah tidak mau Alessya lelah dan harus ikut menunggu di ruang ICU.
“Tapi, sekarang aku mau menunggu di sini saja. Aku juga khawatir dengan Kakek, Ma,” tandas Alessya. Di mana setelah itu, ia melirik Paman dan Tantenya juga anggota keluarga lain yang sedang duduk di kursi di dekat ruang ICU, mendampingi sang Nenek yang terisak dalam pelukan putrinya, adik Fatimah.
“Kamu boleh menunggu. Tapi, kalau nanti dokter memberi kabar baik tentang Kakekmu, sebaiknya kamu pulang dulu ke rumah. Kamu harus istirahat. Tidak perlu ikut menjaga Kakek selama dirawat di sini. Kamu harus pikirkan juga kesehatanmu,” bujuk Fatimah, yang tak mau Alessya nanti jatuh sakit.
“Baik, Ma. Aku akan menunggu hingga kita mendapat kepastian tentang Kakek.” Alessya tak membantah.
Kondisi Fatimah saat ini sedang rapuh. Jika terjadi masalah dengan kesehatannya, pasti akan menambah beban untuk Fatimah. Alessya tak mau itu sampai terjadi.
Baru tersadar akan sosok Arhan di belakang Alessya, Fatimah pun menatap heran dan langsung bertanya pada Alessya.
“Apa temanmu yang mengantarkanmu ke sini?” Fatimah sesaat melupakan kesedihannya. Ia terlampau penasaran dengan siapa gerangan pria muda yang berbaik hati datang ke rumah sakit bersama putrinya.
Lalu, Fatimah merasa kejadian ini seperti dejavu. Kiranya, Alessya juga pernah diantar seorang pria saat Orin mengalami kecelakaan. Tetapi, seingat Fatimah, pria yang waktu itu bukanlah pria yang sama dengan yang sekarang dia lihat.
“Tadi kita kebetulan bertemu di klinik. Dan aku sedang bersama dia saat menerima telepon dari Mama,” timpal Alessya. Ada keresahan lain di wajahnya. Ia berharap Fatimah tak bertanya lebih lanjut.
__ADS_1
“Terima kasih ya, sudah mau mengantarkan Alessya ke sini,” sahut Fatimah, sembari memberi senyuman tulus pada Arhan.
“Tidak apa, Tante. Tidak perlu berterima kasih padaku,” balas Arhan kikuk. Ia pun menarik senyum terbaiknya untuk memberi kesan yang baik pula kepada Fatimah.
Digandengnya tangan Alessya oleh Fatimah, membawanya untuk duduk di salah satu deretan kursi, di samping ruang ICU.
Arhan yang canggung, ragu-ragu mengikuti langkah Fatimah dan Alessya, yang kemudian ikut duduk di kursi sebelah Alessya.
Beberapa saat semuanya terdiam. Gelisah menanti para dokter yang memeriksa, dan berharap segera keluar dan memberi kabar menyenangkan untuk mereka. Saat ini dada mereka terasa begitu sesak.
Menunggu dalam ketidakpastian membuat Alessya memilih beranjak menuju Mushola rumah sakit. Ia ingin melaksanakan sholat juga memohon pertolongan pada Allah Yang Maha Menyembuhkan.
Langkahnya yang pendek ia derapkan menelusuri koridor. Dan dengan setia Arhan pun tetap ikut menemani Alessya, ke mana pun ia melangkah.
Di Mushola, selepas menunaikan sholat, keduanya mengangkat kedua tangan, setinggi wajah. Memanjat doa terindah, mengemis dengan penuh ucapan lembut. Mengharap doa mereka terdengar hingga langit ke tujuh. Hingga Allah membalas doa mereka dengan mengabulkan kesembuhan Ibrahim.
Saat doa terakhir terucap, diam-diam Arhan memandangi Alessya yang bersimpuh di sisi belakangnya.
Menyaksikan betapa khidmatnya Alessya berdoa, muncul sebuah kekaguman yang istimewa dari pancaran mata Arhan. Jika ada kata yang mampu melukiskan bagaimana indahnya pesona Alessya di matanya detik itu, mungkin hanya kata bidadari yang pantas tersandingkan untuk Alessya.
Tampak salah tingkah, Arhan buru-buru memutar tubuhnya kembali ke depan, begitu Alessya mengangkat wajahnya. Dan bersamaan dengan itu, tatapan mereka berdua sempat bertemu dalam hitungan detik.
“Arhan, kamu boleh pulang jika kamu mau. Kamu tidak harus menungguku. Karena aku masih mau menunggu kabar tentang Kakek,” seru Alessya pada Arhan, yang terlihat memunggunginya.
Cepat, Arhan memutar kembali tubuhnya dan bergeser sedikit maju sampai jaraknya dengan Alessya cukup dekat.
“Aku akan menemanimu sebentar lagi,” timpal Arhan lembut.
“Aku tidak apa-apa. Seandainya kamu punya hal yang harus dikerjakan, tidak perlu menemaniku di sini. Karena keluargaku yang lain juga bersamaku,” lirih Alessya berkata.
“Aku punya banyak waktu luang. Aku juga masih ingin menemanimu di sini. Jika kamu perlu sesuatu, aku akan bisa ada sisimu untuk membantu,” tukas Arhan, yang sangat ingin bisa diandalkan oleh Alessya.
“Ayo kita kembali sekarang! Kamu sudah selesai bukan?” ajak Alessya, segera melipat mukena yang baru dipakainya. Menempatkannya kembali ke rak susun.
Mereka mampir dulu ke kantin untuk membeli minuman dan snack ringan untuk diberikan pada keluarga Alessya yang masih menunggu dengan rasa cemas yang dihantui ketakutan di dekat ruang ICU.
Kemudian, seorang dokter membuka pintu dan keluar dari ruangan ICU. Semua serentak menghampiri dokter. Menanti dengan penuh pengharapan dengan apa yang akan diucapkan dokter tentang kondisi Ibrahim.
__ADS_1