
“Kabar apa?” tanyaku seraya meletakkan beberapa kantong kresek ke meja.
Kedua mata mama berbinar, ada semacam cahaya yang selalu membuatku tenang. Papa berbeda, ia menatapku dalam. Sesekali aku melihatnya menghela nafas panjang. Di bangku Brian menunduk saat mangkok di tangan sudah berada di meja, dan Ella tersenyum bahagia.
Aku mengamati mereka secara bergantian, dan Delon hanya berdiri di sebelahku tanpa komentar.
“Eh, lupa. Kenalin ini Delon,” lanjutku.
Mama tersenyum mengulurkan tangan, Delon menerima dan bergantian dengan Papa. Brian tersenyum kecut, ia menampakkan wajah tak suka terhadap Delon, dan Ella menyambutnya dengan senang.
“Wajah kalian mirip,” ujar Ella.
Dahiku berkerut seraya melirik Delon. Mirip darimana?
"Ngarang kamu," kataku.
Ella terkekeh, "Kata orang kalau mirip jodoh,"
Aku tercekat, begitu juga Brian. ia terlihat panas dan Delon menanggapi santai, ia tetap cuek dan seolah tidak terusik. manusia es.
Pandanganku beralih ke mama, "Ada kabar apa, Ma,"
“Akhirnya bulan depan mereka menikah,” sahut mama, ia lupa satu putrinya terluka. Mungkin karena terlalu bahagia anak kandungnya sadar dan tersenyum kembali.
Seketika bibirku kelu, nafasku beku dan duniaku seolah runtuh. Aku menelan saliva, memberi sugesti sendiri agar lebih tenang. Sebenarnya, itu harapanku. Brian harus tanggung jawab, namun ternyata rasanya sesakit ini. Tidak mudah melupakan ia yang telah menorehkan banyak kenangan, lagipula ia cinta pertamaku.
Delon berpaling, ia menetapku lekat seolah sedang membaca isi kepalaku. Papa mendekat dan mengusap rambutku, aku tersenyum palsu. Melihat Ella membaik, setidaknya bisa mengobati pedihku. Belum lagi senyum mama Bella, ia membelai lembut putri kesayangannya.
“Aku senang,” jawabku.
Brian menunduk, ia tak memiliki keberanian untuk menatap mataku dan Mama Bella memelukku sambil mencium keningku.
Di sini aku ingin lari, menangis di bawah hujan agar puas menumpahkan air mata tanpa terlihat atau bersembunyi di sudut kamar. Aku ingin keluar, namun tidak mampu memperlihatkan sakitku. Demi mereka, orang-orang tersayang.
Ella begitu bahagia, terlihat netra kecoklatan miliknya yang berbinar. Semangat hidupnya kembali terlihat, jauh dari hari kemarin.
Saat Ella ingin berbaring, Brian membantunya. Ia sangat menghayati peran sebagai calon yang baik. Dan aku, merasakan nyeri di dada. Ah, ini rasanya patah hati.
Delon duduk di sofa, ia bercengkrama dengan Papa. Tentu, papa duluan yang membuka percakapan dan lelaki itu hanya menanggapi. Tapi, dasarnya papa pintar mencari bahan obrolan, hingga orang sedingin Delon tampak bersemangat menanggapi obrolan Papa.
Mama menyusul, duduk di sofa sebelah Papa dan memilih bergabung dengan obrolan mereka. Kini, hanya ada Brian duduk di sebelah ranjang Ella dan aku di samping. Di ranjang Ella berbaring namun matanya tak lepas dari Brian. Seolah cinta segitiga yang tidak menguntungkan bagiku. Aku harus berbesar hati menerima pernikahan mereka, mungkin juga harus tersenyum palsu saat nanti kata SAH di ucapkan serentak.
__ADS_1
Ella meraih tangan Brian, menggenggam erat. Sedangkan aku, menahan cemburu. Brian melirik ke arahku lalu menarik nafas berat. Rasanya, aku ingin teriak atau kabur. Sayangnya, aku tahan. Tentu Mama akan sedih, dan papa akan merasa bersalah. Sekali lagi, aku harus pandai berakting seperti seorang artis yang memainkan peran.
“Ella lepas,” pinta Brian.
Ella cemberut, “Kenapa?”
Sekilas tatapan tertuju ke arahku dan ia menghembuskan nafasnya kasar, apa dia marah?
“Nggak apa-apa, jangan tidak enak karena ada aku,” kataku, tentu sebuah kebohongan paling konyol. Seolah aku meminta mereka bermesraan di depan mataku.
Berhasil, sudut bibir mungil Ella membentuk segaris senyum. Brian mengalah, rasa bersalahnya terlalu besar dan ia tidak mau Ella histeris dan depresi seperti kemarin. Akhirnya mereka saling menggenggam, saling menatap di depanku. Sukses memberi perih yang menyayat hingga ke ulu hati.
Delon masih sibuk mengobrol, sesekali bola matanya melirik ke arahku. Aku menunduk, menahan buliran bening yang hampir tergelincir. Mataku sudah berkaca-kaca, sekali berkedip saja air mataku akan lolos ke pipi.
“Aku ke toilet,” kataku, tidak berani menatap mereka. Setelah itu aku lari, menunduk.
Di luar ruangan aku memukul dadaku, menangis sejadinya. Ah, sangat sakit ternyata. Di belakang ada Delon, ia merengkuh tubuh mungilku ke dalam pelukannya hingga isakku semakin menjadi, dan kemejanya basah terkana air mata.
“Menangislah,” katanya seraya mengusap lembut rambutku.
“Sakit banget rasanya, hiks..hiks," keluhku dengan terisak.
“Setelah ini jangan lagi buang air matamu untuk mereka,” Ia mengangkat daguku, aku jauh lebih pendek darinya.
“Balik ke dalam?” tawarnya
“Aku terlihat habis nangis,” kataku.
“Tidak, kita cuma pamit,” Dia menyodorkan sapu tangan.
Delon berjalan ke dalam ruangan, dan aku mengekor. Papa nampak cemas, namun aku tersenyum.
“Papa, Oliv pergi dulu,”
Delon pamit dan papa menepuk bahunya pelan, seolah menitipkan anaknya. Mama tersenyum ramah.
Senyum Ella belum hilang, ia sangat bahagia. Dan Brian, aku merasakan cinta di matanya saat menatapku.
“Cepat sembuh adik kakak,” kataku sambil mengusap rambutnya.
“Hati-hati ka,” ucapnya, “Kak Delon jagain ya,” tambahnya melirik ke Delon.
__ADS_1
Brian membuang muka, ia tak mau bersitatap dengan Delon. Lalu kami pergi, keluar dari ruang inapnya dan menuju lift.
“Lupakan dia,” kata Delon saat di dalam kotak besi, hanya ada aku dan dia di dalam.
Tring!
Pintu lift terbuka, mulutku belum sempat menjawab pertanyaan Delon lalu kita berjalan ke luar lobi, aku menunggu Delon mengambil mobil.
“Masuk,” perintahnya, ketika mobil di depanku.
“Iya,” Aku membuka pintu depan, masuk ke dalam dan memakai sabuk pengaman.
Delon fokus menyetir dan tidak banyak bicara, sedangkan moodku sedang malas meledeknya. Kami saling diam, hanya terdengar alunan lagu Love Of My Life di tip mobil.
“Masih kepikiran?” Delon membuka percakapan.
“Iya,” kataku singkat, moodku sedang malas basa-basi.
“Hanya lelaki seperti dia kau tangisi,” katanya enteng, ia tak menoleh dan hanya fokus ke depan.
“Karena kamu nggak tau cinta,” balasku.
Dia tak menjawab. Hanya diam dan fokus menyetir. Pandanganku menatap ke luar kaca mobil, menyaksikan kemacetan kota. Mobil-mobil berderet dengan suara bising dari berbagai macam kendaraan. Pohon-pohon di pinggir jalan berjajar, juga terik matahari yang terlihat panas. Jika keluar, aku tak membayangkan keringat yang akan menetes. Ah, suasana kota yang panas.
“Kamu mau langsung pulang?”
“Tidak,”
“Mau di antar kemana?”
Netra mataku meliriknya, “Kamu akan nemenin atau ke kantor,”
“Kantor,”
Aku mendengus kesal, sudah aku duga ia tak sepeka itu. Bahkan otaknya masih seputar pekerjaan ketika ada gadis mungil di samping yang menangis.
“Marah,” Ia bertanya. Lalu melirikku sekilas, otaknya cukup cerdas menangkap sinyal yang aku berikan.
“Hm,”
“Ya sudah, aku temani,”
__ADS_1
“Serius?” kataku dengan berbinar.