
Hari yang aku takutkan telah tiba. Aku berdiri di depan cermin yang menampilkan tubuhku dengan juntaian dress warna soft pink. Tidak lupa memoles wajahku dengan make up, juga memberi sentuhan lipstik pink di bibir tipisku.
Sekali lagi aku mengamati penampilanku di cermin. Perfect, seperti drama yang aku mainkan. Bagaimana bisa aku tersenyum dan mengucapkan selamat? Harusnya aku pura-pura sakit atau kesiangan agar menghindari acara ini. Namun aku tak bisa melihat Papa dan Mama kecewa. Biarlah aku nikmati sendiri pedihnya.
Aku turun dengan suara heels yang menginjak tangga. Ada Delon yang sudah berada di lantai bawah dan juga lelaki berhidung mungil yang mengenakan jas hitam. Mereka sangat tampan seperti dua pangeran dalam cerita dongeng.
Mata Delon beradu pandang denganku dan ia menatap lekat, “Kau yakin akan datang?”
Lelaki berhidung mungil ikut menatapku, ia sama-sama menunggu jawaban.
Aku diam sebentar lalu membuka mulut, “Yakin,” kataku singkat.
“Baiklah,” kata Delon dan sudah berjalan di depan.
Aku berada di belakang bersama lelaki berhidung mungil yang terlihat lebih tampan. Delon mengambil mobilnya lalu aku masuk setelah lelaki berhidung mungil membuka pintu. Dia sendiri duduk di sebelah adik iparnya yang nampak dingin.
Delon menginjak gas dan membawa mobilnya keluar dari gerbang rumah. Tidak ada obrolan selama beberapa menit, hingga lelaki berhidung mungil membuka mulut.
“Kau cantik,” katanya.
Kalimat itu membuat rona wajahku memerah, pasti memalukan jika mereka melihatnya. Pasalnya, itu bukan pertama kalinya lelaki itu memuji aku cantik. Rasanya ingin melayang jika tidak ingat kesedihan yang lebih dominan.
Alunan lirik lagu Can't Help Falling in Love terdengar di mobil seiring melaju ke rumah Aqilla. Di depan ia sudah menunggu dengan balutan gaun putih sebelas lutut dengan make up sempurna di wajahnya, ia terlihat anggun dan cantik. Sampingnya ada Arul mengenakan jas abu-abu yang nampak berbeda. Kalau di lihat mereka berdua serasi.
“Ayo masuk,” kataku.
Gadis bermata sipit duduk di belakang bersama Arul. Ia duduk di pinggir karena merasa risih dengan godaan Arul.
“Wah mimpi apa aku satu mobil dengan dua pangeran tampan,” cetusnya dengan mata sipitnya berkedip genit.
Arul melirik dengan tersenyum masam, “Lalu aku nggak di anggap?”
“Ganggu aja sih, kamu makhluk gaib,” sahutnya dengan sinis.
Lelaki berhidung mungil hanya tersenyum menanggapi sedangkan sebelahnya masih datar tanpa ekspresi.
“Berisik tau,” cetusku dan gadis bermata sipit hanya nyengir.
__ADS_1
Kami saling mengobrol ringan selama perjalanan. Arul masih sibuk menggoda gadis bermata sipit. Sementara Delon fokus ke jalanan yang cukup padat kendaraan. Sesekali ia ikut menyahut obrolan kami, namun harus di paksa.
Satu jam lebih dia mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang menuju Diamond hotel. Pernikahan Ella di langsungkan di ballroom hotel bintang lima.
“Udah sampai ya,” kata gadis berwajah sipit lalu ia menoleh ke arahku, “Kau yakin masuk,”
Aku diam sebentar kemudian mengangguk pelan.
Delon memarkir mobilnya sementara yang lain menunggu di depan. Kami melangkah bersama memasuki ballroom yang sudah ramai. Sampai sana aku di suguhkan pemandangan dekorasi yang mewah dan elegan dengan dominasi warna putih dan gold.
Mama Bella menyambutku dengan balutan gaun warna gold yang tampak cantik. Sebelahnya ada Papa yang memakai jas.
“Kami nunggu kamu, sayang,” ucap Mama setelah memelukku. Sebenarnya Mama meminta aku menginap namun sama saja aku bunuh diri melihat kemesraan pengantin baru.
“Iya, Ma. Udah mau mulai ya,”
Papa melirik arlojinya, “Sebentar lagi akadnya,”
Aku lihat sudah ada penghulu yang duduk. Mendadak dadaku sesak, aku harus melihat pria yang aku cintai mengucap ijab kabul dengan perempuan lain. Ah, rasanya sakit.
Ella keluar setelah di susul Mama. Ia sangat cantik seperti putri dalam dongeng dengan gaun putih dan mahkota kecil di kepala.
“Jangan menangis, tolong kamu harus berdiri elegan,” kataku dalam hati. Sedari tadi ada genangan yang siap meleleh.
Aku menoleh setelah merasakan ada tangan yang menggenggam. Dia adalah Delon, apa aku tak salah lihat. Kemudian aku menghela napas berat saat mendengar janji suci pernikahan mulai.
Brian terlihat gugup dan sudah mengulang tiga kali. Para tamu undangan tegang saat terakhir lelaki itu salah menyebut namaku. Mama menatap bingung sedangkan Ella menahan amarahnya.
Kemudian teriakan SAH kompak terucap dan duniaku seketika runtuh. Aku berlari sejauhnya, tidak peduli akan acara resepsi selanjutnya. Tidak peduli teriakan Aqilla serta lainnya yang mengejar. Bunyi heels menggema di lantai dan air mataku telah lolos begitu saja.
Papa melihat aku lari namun ia tak bisa mengejar putrinya karena harus ada di sebelah Ella. Perempuan itu bisa tersenyum saat hatiku hancur. Mama memeluknya dan mencium kening serta beberapa tamu yang mengucapkan selamat. Brian masih terpaku, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.
Mereka berjalan ke ruang ganti untuk acara selanjutnya. Gaun mewah warna gold dari rancangan butik ternama yang dipilih Ella khusus di hari pernikahannya.
Aku masih berlari dengan menenteng heels karena membuatku terjauh. Dadaku sesak dan rasanya kakiku berat menapak. Tangan kananku memukul-mukul dada dengan kasar. Ah, sungguh sakit rasanya.
“Olivia, tunggu,” panggil gadis bermata sipit diikuti tiga lelaki yang aku kenal.
__ADS_1
“Oliv,” lirih Delon yang tiba-tiba memeluk tubuh mungilku.
“Kamu sabar,” kata Aqilla yang menatapku sendu.
Arul dan lelaki berhidung mungil berdiri di sebelahku. Sementara aku semakin terisak di pelukan lelaki berhati es yang hangat ketika aku terluka.
“Sakit banget,” isakku, “Aku pikir akan mudah berpura-pura tapi ternyata aku tidak mampu,”
“Menangislah,” kata Delon dengan mengusap lembut rambutku yang terurai.
“Lebih baik kita pulang,” kata lelaki berhidung mungil.
“Tapi,”
“Jangan memikirkan mereka dulu,” potong Daffan yang sudah mengaitkan jarinya setelah Delon melepas pelukannya.
Bola mataku menatap mereka bergantian kemudian mengangguk. Akhirnya aku berjalan ke mobil bersama lelaki es dan Daffan ketika Aqilla dan Arul pamit ke Mama. Aku harap mereka paham situasiku.
“Tante, kita pamit ya,” kata gadis bermata sipit.
“Mana Olivia,” tanya Mama dengan tatapan sendu.
“Dia duluan di mobil,” sahut Arul.
Mama diam sebentar lalu menganggukkan kepala, “Hati-hati, salam buat putri Tante,”
“Baik Tante, salam juga buat Ella,” pamit Aqilla sebelum melangkah keluar.
Sementara Ella masih di ruang ganti untuk tampil sempurna di acara resepsi nanti. Papa melepas kacamata dan mengusap sudut matanya yang basah sedangkan Mama terisak di pelukannya.
“Keduanya anak kita, Pa,” Isak Mama di yang menepi sebentar.
“Sudah, Ma. Kita doakan yang terbaik untuk mereka,” kata Papa Niko.
Akhirnya Ella keluar dengan gaun gold yang mewah untuk menemui para tamu undangan. Mama menyeka air matanya dan tersenyum. Ia mendekat ke anaknya bersama Papa Niko.
Hai Kakak jangan lupa tinggalkan jejak. Biar Author makin semangat lanjutnya.
__ADS_1
Salam
Author