Tidak Ada Judul

Tidak Ada Judul
Dinner


__ADS_3

Malam ini tiba-tiba lelaki berhidung mungil mengajakku makan malam di luar. Padahal aku baru saja meminta permen kapas ke pemilik alis tebal. Ah, biarkan ia membelinya dan aku bisa memakannya nanti malam.


Aku sedikit kerepotan memilih dress. Dari tadi sudah berapa puluh dress yang aku coba, tetap saja bingung akan memakai warna apa.


Sepuluh menit selanjutnya, aku menjatuhkan pilihan pada dress peach sebatas lutut dipadukan high heels warna senada. Iris mataku melirik arloji hitam yang melingkar, lalu buru-buru turun ke lantai dasar menggunakan lift. Kamarku berada di lantai tiga, dan aku cukup kelelahan jika naik turun tangga.


Pintu lift terbuka, dan aku masuk serta merapatkan tubuh ke tembok lift. Tidak butuh waktu lama lift berdenting, dan aku keluar ketika melihat sepasang netra coklat yang sudah menunggu. Tubuh mungilku mendekat beberapa meter ke arahnya.


“Kakak, lama menunggu,”


“Belum kok,” jawabnya santai, sudut bibirnya ditarik membentuk segaris senyum yang membuatku meleleh. Ia semakin tampan dengan jas semi formal krem juga sepatu loafer.


Kemudian ia mengajakku keluar, dan aku menurut. Bunyi heels menggema seiring kakiku melangkah di lantai pualam. Bibir yang sudah aku poles lipstik pink juga tersenyum simpul.


Aku masuk ke mobil terbaru keluaran Eropa ketika lelaki berhidung mungil membukakan pintu. Lalu ia memutari mobil dan masuk ke bangku sebelahku. Aku sudah duduk manis dengan seat belt yang terpasang, sedangkan lelaki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


Selama perjalanan aku lebih banyak diam, lelaki itu melirikku sebentar. Mungkin ia merasa aneh aku mendadak pendiam, sedangkan irama jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya dan aku meremas jemariku.


Bola mataku melirik arloji hitam yang melingkar. Pukul tujuh lewat dua puluh, artinya aku melewati jalan raya selama dua puluh menit. Kemana kira-kira lelaki berhidung mungil akan membawaku, namun aku tidak bertanya banyak karena gugup. Apa mungkin ia menyukaiku?


Aroma citrus terhirup ketika aku menarik napas dalam. Kulihat lelaki yang duduk di sebelah masih fokus lurus ke depan, sesekali aku terpesona oleh lekukan wajahnya yang sempurna. Ia semakin cool dengan jas semi formal dan sikap seriusnya ketika menyetir.


Cahaya neon di lampu pinggir jalan membuat jalanan menjadi terang, dan terlihat jelas mobil-mobil di luar. Aku sibuk menghitung jumlah motor dan mobil yang lewat melalui kaca mobil, lalu mengalihkan pandangan pada perempuan yang memakai sweater cokelat berjalan dengan langkah besar-besar di trotoar jalan.


Alunan musik klasik di mobil memecah suasana sepi, kita hanya mengobrol seperlunya. Aku terlalu gugup, sedangkan lelaki itu terlihat menghafal jalan ke arah tujuan. Ia fokus menyetir, sesekali aku mencuri pandang untuk melihat wajah tampannya.


Udara di mobil terasa dingin, tidak membayangkan bagaimana di luar mobil, dan untungnya aku membawa sweater. Sebenarnya aku berharap lelaki itu akan memberikan jasnya, seperti drama korea yang aku tonton.


“Kamu lebih banyak diam, kenapa?”


“Hah. Eh, tidak,” Aku menoleh kemudian berkata gugup.


Lelaki itu terkekeh, “Lucu kamu, apa segitu galaunya,”


Aku hanya nyengir.


“Kamu cantik malam ini,” lanjutnya ketika melirikku sekilas.


Rona wajahku langsung memerah, namun merasa lega karena usahaku duduk berlama-lama di depan cermin tidak sia-sia. Aku sengaja memoles blus on pink agar lebih cerah juga mascara tebal serta eye shadow warna cokelat di kelopak mataku.

__ADS_1


“Makasih,” kataku pelan.


Lima menit berlalu, dan lelaki itu menghentikan mobilnya di restoran mewah daerah Jakarta Selatan. Aku turun setelah membuka seat belt, kemudian melangkah anggun memasuki restoran bersama Daffan.


Aku takjub melihat interior yang kental dengan suasana Eropa. Ada interior kayu yang disusun secara cantik, dan lampu chandilier mini bergantung di setiap meja.


Aroma masakan lezat begitu menggodaku ketika duduk di bangku sebelah kaca. Aku duduk berhadapan sehingga bisa menatap senyum indahnya, apalagi suasana disini sedikit temaram yang seolah seperti makan malam romantis di Perancis.


Beberapa makanan yang di pesan Daffan tersaji di meja mulai dari appetizer, main course hingga dessert. Aku sudah menelan ludahku melihat makanan yang begitu menggoda, lalu segera menyantapnya pelan-pelan.


“Pelan-pelan makannya,” ucapnya sambil tersenyum melihatku yang makan dengan lahap.


“Hehe, habis enak,” kataku kemudian.


“Apa kamu bahagia?”


Aku mendongak, lalu menganggukan kepala, “Itu alasan Kakak ngajak makan diluar?”


“Iya, kayaknya kamu butuh suasana baru untuk melupakan masalahmu,”


Aku meringis, sedikit kecewa karena terlalu berharap. Kupikir lelaki itu mulai menaruh hati, tapi lagi-lagi aku harus sadar diri. Lelaki itu hanya menganggapku tamu, tidak lebih.


“Kenapa?”


“Ehm, tidak,” kataku sebelum melanjutkan makan.


"Kamu lebih cantik tersenyum, jangan memikirkan mereka lagi,"


"Iya, Kak," kataku setelah mengunyah makanan. Padahal yang aku pikirkan bukan mereka, tapi justru lelaki yang sedang dinner bersamaku.


***


Mobil Delon sudah nangkring di depan ketika aku dan lelaki itu sampai rumah. Kami masuk ke ruangan yang beraroma lavender, terlihat sepi hanya ada beberapa pelayan yang membereskan ruangan. Mereka tersenyum hangat menyapaku ketika berpapasan, lalu aku mencari sosok Delon.


“Aku mau ke kamar Delon,” pamitku sebelum menuju lift.


“Kau merindukannya,” godanya dengan menaikkan sebelah alisnya.


Aku tersenyum kaku, "Ada yang aku titip,"

__ADS_1


"Kirain sudah rindu," kekehnya.


"Tidak,"


"Baiklah, aku akan berhenti menggodamu," katanya setelah melirikku. Sementara aku hanya bisa mengutuk diri sendiri, bagaimana mungkin aku mengira ia akan menyatakan cinta. Ah, sungguh bodoh.


Kemudian aku berjalan beberapa meter menjauh dari lelaki itu. Lalu masuk ke lift dan naik ke lantai dua.


Langkah kakiku menggema ketika keluar lift dan menginjak lantai dua, aku mengetuk pintu ruangan dengan polesan cat warna gold.


“Delon,” panggilku keras seraya mengetuk pintunya.


Semenit berlalu, dan kepala lelaki itu menyembul dari balik pintu yang dibuka sedikit, “Ada apa?”


Aku mendengus kesal, “Biarkan aku masuk,”


Lelaki yang mengenakan kaus biru itu membuka pintunya lalu membiarkan aku masuk, segera mungkin kujatuhkan tubuhku yang lelah ke sofa putih yang disusun memanjang di kamarnya.


“Mana permen kapasku?” tagihku.


Delon mengernyit setelah mengamati tampilanku yang begitu totalitas hari ini, “Keluarlah,”


“Menyebalkan sekali, kau sudah berjanji, kan?” sahutku cemberut.


“Ada di tempat sampah,” katanya setelah menarik tanganku kasar untuk keluar.


Aku menghentakkan kakiku ke lantai pualam di kamarnya, lalu mendengus kesal, “Kenapa kau buang?”


“Keluarlah,” perintahnya setelah berhasil membawa tubuhku keluar dari kamar, lalu dia membanting pintunya keras.


“Delon,” teriakku di balik pintu sambil menggedor-gedor pintu kamarnya.


“Ada apa sih dengannya, apa dia kesambet di jalan,” gumamku sebelum melenggang pergi.


.


.


.

__ADS_1


Hai readers, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terimakasih😘


__ADS_2