
*Ternyata kamu memiliki kesamaan dengannya, sama-sama tidak punya otak.
Olivia Corliss*
***
Aku mempunyai adik perempuan bernama Ella Corliss, usianya satu tahun di bawahku. Cantik saja tidak cukup untuk menggambarkan seorang Ella. Ia memiliki semua yang di inginkan para wanita, kekayaan, kecantikan dan kecerdasan yang dia miliki. Tidak ada lelaki manapun yang sanggup menolak pesonanya.
Perempuan dengan berat badan ideal yang mempunyai kulit seputih susu. Wajahnya tirus dengan bibir berwarna semerah strawberry serta netra kecoklatan yang memikat.
Berbeda denganku, ia selalu memperhatikan penampilannya agar selalu terlihat cantik. Ia terbiasa tampil modis dengan balutan dress sebatas lutut dengan sentuhan make up yang sempurna di wajahnya.
Dalam diri gadis itu mengalir darah Niko Adikarsa. Anak kandung dari pasangan suami istri yang cukup terpandang, sedangkan aku hanya anak beruntung yang di besarkan dengan kasih sayang mereka tanpa ikatan darah.
Sebelum adanya kejadian itu, aku menyayangi Ella segenap jiwaku, mencintainya dengan sangat tulus. Dia adik kesayanganku.
“Apa yang kau sembunyikan, Ella?” tanyaku mendapatinya menangis di sudut kamar dengan rambut yang acak-acakan, make up yang luntur karena terkena air mata. Entah berapa lama dia menangis.
Dia diam tak memberi respon apapun kecuali isak tangisnya yang terdengar samar.
Di kamar miliknya yang tampak elegan dengan dominasi warna abu-abu serta desain klasik dan minimalis. Gadis itu duduk di sudut kamar dengan memegang sebuah benda di belakang tangannya.
“Apa yang kau sembunyikan di tanganmu, Ella?" pintaku sekali lagi.
Masih tidak ada jawaban sehingga aku terpaksa merebut benda yang ada di belakang tangannya.
Sebuah benda bernama testpack sukses membuatku terkejut.
“Siapa Ayahnya, Ella,” ucapku dengan bibir gemetar.
“Ella, katakan!” ulangku dengan nada lebih tinggi.
“Maafkan Ella,” Dia menangis sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
“Katakan siapa Ayahnya,” pintaku sekali lagi dengan nada penuh penyesalan, aku merasa gagal menjaga adikku.
Dia terdiam sambil menggigit bibir bawahnya, lalu menarik nafas panjang.
"Apa kau tuli Ella, cepat katakan," desakku yang mulai tersulut emosi.
Ella menatapku kemudian menarik nafasnya dengan berat, "Brian,"
Deg!
__ADS_1
Dadaku nyeri, nama yang membuat paru-paruku terasa sesak. Rasanya seperti mendapat pukulan berkali-kali yang sangat menyakitkan.
“Maafkan aku,” Dia terus terisak dengan memohon kepadaku.
“Lepaskan, Ella,” Aku menepisnya dengan kasar.
“Sejak kapan kau memiliki hubungan dengannya, Ella?”
“Aku..aku.. tidak,” ucapnya gugup sambil jarinya meremas ujung dress.
“Cepat jawab!" bentakku, aku menarik nafas panjang untuk meredam kemarahan, “Kenapa kau lakukan ini, Ella?”
Aku menyeka air mataku, mengumpulkan kekuatan untuk lebih terluka.
“Maafkan aku Kak, Ella tidak bermaksud menyakiti Kak Oliv namun Ella terlanjur mencintai Brian," jelasnya, wajahnya sudah terlihat kacau dan berantakan.
“Kau mencintainya?” ulangku meyakinkan.
Dia mengangguk pelan, jawaban yang cukup menusuk hingga ke bagian terdalam.
Sejak saat itu aku langsung memutuskan hubunganku dengan Brian.
Awalnya laki-laki brengsek itu mengelak, dia bahkan tidak mau mengakui janin dalam rahim Ella. Namun aku terus mendesaknya hingga dia mengiyakan pertanyaanku.
Plak!!
Aku menampar pipi yang dulunya selalu terlihat manis memamerkan lesung pipi miliknya, pipi yang kini memerah karena mendapat tamparanku berulang kali tanpa perlawanan.
“Kau jahat, Brian,”
“Maafkan aku, awalnya aku hanya merasa jenuh denganmu dan aku menemukan kenyamanan dari Ella,” Dia memelukku berusaha meredakan emosi yang telah meledak, “Tapi setelah sekian lama bersamanya, aku mulai mencintainya,”
“Lepas, kau kejam! Kenapa harus Ella,” Aku menyeka air mataku, “Apa karena dia memberikan tubuhnya? Kau sangat menjijikkan, Brian,”
Aku berbalik segera keluar dan berjalan menuju lift, Brian mengejar langkahku dengan memanggil namaku berulang kali. Aku tidak peduli lagi dan secepatnya menekan tombol lantai dasar.
Satu per satu orang yang sangat aku sayangi telah membuatku hancur tak berdaya. Belum lagi Mama Bella yang memohon agar aku melepas Brian tanpa menyalahkan kelakuan Ella.
“Lepaskan Brian, Oliv,” pinta Mama Bella dengan menahan lenganku, "Mama mohon, anggaplah ini balasan karena kami membesarkanmu,”
Aku tercekat akan perkataan yang keluar dari mulut seorang Mama, seorang yang merawatku dari kecil.
“Aku akan merelakan Brian,” ucapku dengan suara berat, “Tapi biarlah aku pergi dari rumah ini,”
__ADS_1
“Jangan Oliv, Mama tidak ingin kamu pergi,” ucapnya memohon.
Kilasan-kilasan menyakitkan dengan wajah-wajah orang yang aku sayang masih hadir dalam bayanganku.
“Olivia,” panggil Pria berkulit kuning langsat yang membuyarkan lamunanku, “Mengapa melamun, aku sedang bertanya,”
“Maaf, aku terlalu hanyut dalam masalahku,” balasku dengan tertunduk.
“Pakailah ini," ucapnya sambil menyodorkan sapu tangan coklat.
“Terimakasih,” balasku dengan menyeka buliran bening yang mengalir, “Eh iya namamu siapa, aku hampir lupa tidak menanyakan identitasmu,”
“Delon Setiawan, panggil saja Delon,”
“Baiklah Delon,” Aku mengembalikan sapu tangan miliknya yang sedikit basah akibat air mataku.
“Minumlah tehnya sekalipun mulai dingin, barangkali membuatmu lebih baik,"
“Eh..ya,” tanganku mengambil secangkir teh hijau dengan aroma khas lalu menyesapnya sekalipun telah mulai dingin. Aku tepis segala kenangan pahit yang hadir.
Pandanganku menelaah pada setiap sudut ruang tengah dengan penataan yang simetris bersama sofa warna putih. Rumah mewah modern dengan interior yang menarik.
“Kau serius hanya bersama Kakakmu? Di rumah sebesar ini,” tanyaku dengan menatapnya lekat, memperhatikan setiap lekuk wajahnya yang terlihat sempurna, "Lalu istrimu?”
“Aku belum menikah,” jawabnya datar.
“Dan Kakakmu apa dia belum menikah juga? Sepertinya umurmu sudah layak menikah apalagi Kakakmu,” Aku mengetuk-ngetuk telunjukku di dagu sambil berpikir keras.
“Jangan menanyakan masalah yang terlalu pribadi karena kita baru saja kenal,” ucapnya mengingatkan dengan menatapku tajam.
“Kau curang tadi saja kau tanya masalahku,” protesku.
“Itu beda, jika masalahmu siapa tahu aku dapat membantumu,”
“Sudahlah kau selalu pintar mencari alasan,” Aku celingak-celinguk ke arah samping, “Aku lapar,” pintaku, setidaknya aku harus mengisi energi.
“Kau mau makan apa biar pelayan yang menyiapkan,” Dia memanggil salah satu pelayan yang memakai seragam hitam putih khasnya.
“Iya, Tuan,” ucapnya sopan ketika mendekat.
“Siapkan Nona ini makanan, dia belum makan,” perintahnya yang langsung membuat pelayan menghambur ke dapur tanpa banyak bertanya. Dia cekatan sepertinya sudah terlatih bekerja di sini.
“Kau makan dulu, aku akan ke ruang kerja,” Dia melangkah pergi menuju salah satu ruang di rumahnya.
__ADS_1
“Ya baiklah,” jawabku yang langsung berjalan ke meja makan mengikuti arahan pelayan. Mereka sudah menyajikan berbagai menu lengkap di atas meja. Aku sampai tak bisa berkata apapun, seperti memasukkan seluruh menu restoran ke dalam rumah. Aku hanya akan sarapan seorang diri bukan makan keluarga besar.