Tidak Ada Judul

Tidak Ada Judul
Membenci Brian


__ADS_3

Aku menyeka peluh di kening, cukup melelahkan namun aku merasa senang. Apalagi kalau bukan karena bunga-bunga di depanku, entah sejak kapan aku menyukai bunga.


Sementara Aqilla dan satu karyawan masih sibuk mengantar pesanan bunga, hari ini cukup banyak. Toko ini semakin berkembang, membuatku lebih semangat.


Moodku membaik jika berhadapan dengan bunga, mencium aroma wanginya serta mengagumi setiap keindahannya terutama bunga lily, aku begitu jatuh cinta padanya.


“Ehm,” seseorang berdehem di sebelahku, aku tidak sadar ia datang karena sibuk merangkai aneka bunga.


Aku menoleh, rasanya ingin kabur. Mengapa orang itu harus datang saat moodku membaik? Lagian, untuk apa kesini. Apa dia pikir masih ada celah untuk permintaan maaf, menangispun aku sudah tak Sudi.


“Aku mencarimu, kau tau bahwa aku sangat cemas,” Ia maju tiga langkah sedangkan aku memilih mundur.


“Jangan mendekat,” cegahku. Aku heran pria ini masih punya muka hadir di hadapanku, sungguh memalukan.


“Tapi Oliv...,”


“Mundur!” Aku sudah lebih dulu berteriak sebelum ia melanjutkan kalimatnya.


Bagaimana ini, aku sendirian. Aqilla, cepatlah kembali. Kenapa gadis itu lama sekali, apa dia menggunakan kecepatan di bawah rata-rata.


“Tolong, pudarkan kebencianmu. Aku sungguh tersiksa menerimanya,” pintanya. Ia tak mendengarku hingga tetap maju mendekat.


“Apa yang kau lakukan, menjauhlah dariku!" Aku berteriak, saat tubuhnya memelukku paksa. Sekuat tenaga aku mendorong dadanya namun gagal.


Yang terjadi sekarang ia sedang mencium pucuk kepalaku, aku merasa jijik. Bayangan ia bercinta dengan Ella membuatku muak.


Sejujurnya, aku merindukannya, pelukan hangatnya. Namun, bayangan mengerikan itu membuat nilainya rendah di mataku.


“Lepaskan aku..hiks..hiks,” Aku mulai terisak, sejak kapan air mataku tergelincir pelan.


Bukannya melepaskan pelukannya dariku, Brian malah semakin mempererat pelukannya. Tenagaku bahkan tidak cukup untuk melawannya.


“Tidak, aku tidak bisa kehilanganmu,” ia mengatakan sambil menatapku yang masih mengeluarkan air mata.


Mengapa aku cengeng? Aku bahkan sudah berjanji tidak akan menangis untuknya, mengapa aku tak mampu.


“Omong kosong, harusnya kau katakan ini sebelum melakukan dengan Ella,” ucapku emosi. Ia mengatakan dengan mudah, seolah-seolah kesalahan fatalnya tidak pernah ada.


“Aku mencintaimu,” ia mengeratkan pelukan serta mendekatkan bibirnya lebih dekat, aku menolak kasar namun ia memaksa.


Bugh..


Bugh.


Bugh..


Seketika pukulan brutal mendarat ke wajah dan perutnya hingga Brian meringis kesakitan. Ia berusaha melawan, namun tidak seimbang.


Brian berdiri, menatap sinis pria yang memberi pukulan berkali-kali.

__ADS_1


“Jangan pernah sekalipun kau menyentuhnya,” ancamnya penuh penekan, hingga orang sekelas Brian nyalinya menciut.


“Dia wanitaku, kau tak memiliki hak untuk ikut campur,” Brian meraung marah, emosinya sudah tidak terkendali.


“Jika dia wanitamu, ia tidak akan menangis dan takut terhadapmu,” balasnya.


“Pergi Brian..hiks..hiks,” teriakku keras masih dengan isakan tangis.


Brian akhirnya mengalah, ia tidak bisa lagi menembus celah sekecil apapun. Luka yang ia tinggalkan sudah sangat fatal.


“Kau tidak apa-apa,” ucapnya, ia menatapku lekat.


Aku menggeleng dan menyeka air mata yang mengalir, “Mengapa kakak ada di sini?”


“Iya tadi kebetulan lewat sini dan ingin mampir sebentar melihat toko bungamu,”


Tanganku reflek menyentuh memar di wajahnya, “Biar aku obati, Kak,”


Ia menolak dan mengatakan tidak apa-apa, namun aku memaksanya.


Aku mencelupkan handuk kecil di air es, berharap bisa menyamarkan memarnya.


“Maaf,” ucapku pelan sambil menempelkan air es ke memarnya. Ia hanya meringis.


“Kau mengenalnya?” Ia sudah duduk dan memulai sesi pertanyaan.


“Iya,” balasku singkat, aku malas membicarakan tentangnya.


“Bukan..bukan,” ucapku gugup, di iringi gelengan kepala cepat.


Dari jarak dekat aku bisa mencium aroma parfumnya, sedekat ini lekukan wajahnya makin terlihat sempurna tanpa cacat sedikitpun.


Ia tersenyum simpul, menambah kesan tampan di wajahnya, “Aku rasa kau tidak suka pembahasan ini, maaf,”


“Tidak apa-apa,”


“Kau menyukai bunga?” matanya sudah menyapu seluruh ruangan yang memperlihatkan jajaran bunga.


“Sangat,” balasku, entahlah di depannya tingkat kebawelanku menurun.


Ia tersenyum terlihat seperti mengenang sesuatu, “Persis seperti Alya, bahkan beberapa hari sekali aku rajin membawa bunga lily untuknya,”


Ternyata ia membeli untuk istrinya, apa berarti ia habis mengunjungi makan istrinya. Romantis sekali, Ia membuatku meleleh, betapa bahagia seorang Alya dulu.


“Kau suka lily?” Ia bertanya namun matanya kosong entah menerang ke arah mana.


“Sangat, itu kesukaanku,” balasku cepat, ia pintar menebaknya.


“Benarkah,” Ia berbinar, “Seleramu persis dengannya,”

__ADS_1


“Kau sangat mencintainya?” tanyaku, ada rasa nyeri yang tidak bisa kusimpulkan.


Daffan mengangguk, sorot matanya sudah bisa menjawab seberapa dalam perasaannya.


Kemudian suara motor menghentikan pembicaraan kami, Aqilla turun dan terkejut melihat Daffan.


“Ya ampun, siapa dia Olivia,” sikap memalukannya kambuh, ia menarik-narik bajuku setelah mendekat.


“Daffan,” Ia mengulurkan tangan dan Aqilla menerimanya dengan tatapan takjub.


“Lepas Aqilla,” perintahku yang sudah ingin menjitak kepalanya, bahkan aku bisa menebak pikiran yang sedang berkeliaran di otak kotornya.


“Maaf, tanganmu halus,” pujinya, ia hanya nyengir menampilkan tampang bodoh.


“Kau lucu,” balasnya terkekeh, ia bukan orang yang irit bicara.


“Terimakasih pujiannya,” Aqilla berbinar, pipinya sudah merona masih dengan tampang bodohnya.


“Aqilla,” teriakku, aku ingin ia cepat sadar. Gadis ini benar-benar mengujiku.


“Ya ampun Liv kenapa teriak-teriak, kupingku sakit,” protesnya mengusap-usap kupingnya manja.


Daffan hanya terkekeh melihat kelakuan ajaibnya, sedangkan aku sudah seperti makanan sehari-hari di toko bunga.


Sikap konyolnya sering membuatku mengelus dada, namun jika ia tak hadir rasanya toko bunga hambar. Apa auranya menyatu dengannya?


“Ya sudah, aku pamit dulu,” ia melirikku, “Sampai ketemu di rumah,”


Daffan bergegas hilang dari pandangan setelah mobilnya melewati persimpangan.


“Jelaskan padaku Oliv, jadi ia yang tinggal bersamamu, kau curang sekali,” ocehnya tiada henti, ibarat rel kereta yang panjang tidak habis-habis.


“Hm,” jawabku singkat merapikan bunga matahari, entah mengapa aku tertular si kaku Delon.


Aqilla mendekat, ia meneliti setiap inci badanku, “Kau tidak khilaf kan?”


Pletak!


Tanganku menjitak keningnya gemas, gadis ini kenapa otaknya mesum. Aku tidak semurahan itu, walaupun pesonanya begitu menggodaku. Baik Delon ataupun Daffan, ah kenapa aku serakus ini. Namun tetaplah hatiku masih milik Brian, mengapa tak hilang. Ah..aku bisa gila.


“Kau tidak demam kan?” Aqilla menempelkan tangan ke keningku, memastikan suhuku normal.


“Apaan kau ini,” Aku menepisnya, “Aku baik-baik saja,”


“Habisnya kau senyum sendiri tapi juga geleng-geleng sendiri,” Ia bergidik ngeri.


“Nih rangkai,” ucapku memindahkan puluhan tangkai mawar ke tangannya lalu nyelonong pergi.


“Hufft baiklah, lagian kasihan mawar-mawar ini yang sudah memanggil minta di rangkai,” celetuknya sambil tangannya lincah menyusun karangan bunga terindah untuk pelanggan setianya.

__ADS_1


“Ngomong sama bunga,” cicitku yang masih bisa melihat tingkahnya dari bangku putih di ujung toko.


Ia hanya nyengir sambil bersenandung ria. Itulah wujud seorang Aqilla, ia bahkan tidak pernah terlihat murung, seolah hidupnya tanpa beban.


__ADS_2