
Kedua bola mataku menangkap kesibukan Pak Tomo, tukang kebun yang sedang merapikan tanaman. Aku mengangguk sopan dengan senyum mengembang ketika Delon membunyikan klakson mobil karena langkahku yang lambat. Di dalam, ia sudah keren dengan kemeja cokelat serta jam tangan kulit yang melingkar di tangan. Aku masuk lalu meletakkan tas mungil warna biru tua ke pangkuan setelah memasang seat belt.
“Lambat,” seru lelaki pemilik alis tebal yang sudah menginjak gas mobil.
Aku menoleh sebelum melirik jam tangan kulit warna cokelat tua yang ada di pergelangan tangan, “Ya ampun, kebiasaan deh. Baru jam segini,”
Delon tak merespon hanya pandangannya lurus ke depan ketika tangannya sibuk menyetir.
Aku sibuk mendengarkan alunan musik seiring mobil melaju pelan. Tatapanku menoleh ke kaca mobil, menyaksikan beberapa orang yang berjalan dengan langkah besar-besar di trotoar jalan. Rata-rata mereka mengenakan pakaian formal yang disetrika rapi, ada juga ibu-ibu yang menenteng keresek belanjaan. Semua tak luput dari tangkapan iris mataku termasuk mobil yang padat juga daun-daun hijau yang melambai tertiup angin di pinggiran jalan.
“Delon belok, ya,” pintaku setelah melihat tulisan supermarket Alinda.
“Ngapain,” Ia mengernyit heran sebelum menginjak rem mobil tepat di halaman supermarket kecil yang ada di deretan ruko seberang jalan.
Aku melepas seat belt kemudian membawa tas mungil biru tua untuk keluar dari mobil.
“Beli minum,” sahutku sebelum menutup pintu mobil dengan pelan.
Lelaki pemilik alis tebal ikut keluar setelah aku menutup pintu mobil. Aku maju beberapa langkah ke pintu kaca yang ada di supermarket.
Seperti dugaanku, supermarket ini hanya ruang berbentuk persegi yang terlihat kecil namun lumayan ramai. Aku melihat bocah kecil yang sedang menikmati es krim di pagi begini, sedangkan ibunya membawa keranjang belanjaan dengan menggendong anak kecil sekitar satu tahunan. Tangan mungil bocah kecil itu masih menunjuk ke permen yang ada di rak sebelah kasir. Aku tersenyum gemas karena ingin mencubit pipi gembulnya jika tidak di tarik Delon ke deretan rak sebelah.
Aku merengut lalu mengerucutkan bibir, “Nggak sabar amat,” kataku sewot setelah menyambar keranjang warna merah.
“Kalau mau lihat-lihat anak kecil bukan ke supermarket tapi ke posyandu,”
Aku tergelak pelan.
“Habis lucu,” kataku tanpa menoleh ke arah Delon seraya memasukkan beberapa soft drink dan susu kotak ke dalam keranjang.
Selain itu aku mengambil cemilan dan permen karet yang sudah bergabung dengan susu kotak di keranjang belanja. Buru-buru berjalan ke arah kasir dan lelaki itu yang mengulurkan uang cash.
__ADS_1
Delon keluar menenteng keresek putih yang langsung dibawa ke dalam mobil. Aku sudah duduk dengan seat belt yang terpasang serta tas mungil di pangkuan ketika lelaki itu hendak membawa mobilnya menjauh dari supermarket.
Suasana di jalan masih sama di dominasi oleh mobil-mobil yang akan berangkat kerja juga beberapa motor yang tidak sabar mengalah. Aku duduk di jok depan dengan membuka mulut untuk menghabiskan cemilan, sesekali iseng memaksa lelaki pemilik alis tebal untuk membuka mulut. Aku heran ia tak suka cemilan, permen, makanan manis dan makanan enak lain terutama es krim.
Setelah cemilan habis aku meneguk air mineral di botol lalu menatap lurus keluar kaca mobil dengan pikiran berkeliaran kemana-mana.
Aku terlonjak saat tiba-tiba Delon berhenti. Iris mataku melirik lampu merah yang menyala. Oh shit..aku terlalu tenggelam dalam lamunan hingga tidak sadar lampu hijau telah berganti. Lelaki pemilik alis tebal melirik lalu tangannya menyodorkan satu kaleng soft drink yang langsung aku buka.
“Kenapa melihatku seperti itu?” ucapku sewot. Mendadak ada yang aneh. Padahal lelaki itu baru saja baik memberi sekaleng soft drink.
“Kamu masih hobi melamun,”
Aku menoleh lalu nyengir, “Iya, maaf. Eh, kita langsung ke toko bunga?”
“Tidak, tadi adikmu minta ketemu di kafe,”
Aku mengernyit kemudian menatapnya yang sudah menginjak gas setelah lampu menyala hijau, “Kok enggak bilang sama aku,”
“Ponselmu mati,”
Segera mungkin aku membuka resleting tas mungil dan mendapati layar ponsel dalam keadaan gelap. Ya ampun, begini jomblo sampai tidak sadar ponsel lowbat dan buru-buru aku menyambungkan ke powerbank.
Aku melihat pemilik alis tebal berdecak pelan, “Dasar ceroboh,”
“Aku cuma lupa mengecek. Bukan masalah besar, kan? Jadi tak perlu bawel,” protesku lalu memejamkan mata sejenak sambil menikmati musik klasik yang nyaman di telingaku.
Lima belas menit kemudian mobilnya berhenti tepat di depan Serena Coffe. Ya, aku tidak lupa disini pernah menghabiskan soreku untuk menikmati secangkir Piccolo latte dengan Brian.
Sebelum turun, aku menarik napas berkali-kali untuk menghirup oksigen sebanyak mungkin. Untungnya aku sudah sarapan banyak, karena kata orang menangis juga butuh energi. Tapi aku harap tindakan bodoh itu tak akan terulang lagi. Stop memikirkan suami orang sebelum aku mendapat gelar pelakor. Terimakasih hidupku sudah cukup rumit dan aku tidak ingin semakin pelik.
“Kamu masih cemburu melihat mereka?”
__ADS_1
Mataku melotot lebar, “Tidak,”
“Ya sudah turun,”
“Ya, ini juga mau turun,” ucapku merengut lalu melepas seat belt dan langsung turun dari mobil.
Aroma kopi menguar ketika pintu kaca terbuka. Di meja pojok ekor mataku melihat gadis yang terbalut dress soft pink dengan rambut tergerai sedang mengobrol dengan lelaki berlesung pipit yang mengenakan kemeja hitam polos sambil tertawa lebar. Pasangan yang serasi, dan aku tersenyum getir.
Delon mengapit lenganku yang berdiri mematung di balik pintu kaca. Terpaksa aku mengikuti langkahnya ke meja pojok yang di sambut senyum lebar oleh gadis cantik berbalut dress soft pink sebatas lutut.
“Kakak, aku kangen,” ucapnya seraya memelukku.
Sejenak aku tersenyum canggung, lalu duduk di bangku setelah memesan secangkir espresso pada barista. Mataku melirik dua cangkir Piccolo latte yang belum tersentuh. Biasanya Piccolo latte yang aku pilih, namun kali ini aku mengganti selera. Dasarnya aku suka segala jenis kopi, tipe pecinta kopi seperti Brian.
“Sudah lama,”
“Belum, Kak,”
Tidak berapa lama barista membawa secangkir espresso dan Americano dalam cangkir berukuran 178 mililiter. Aku mengambilnya pelan lalu menyesapnya setelah mataku beradu pandang dengan Brian.
“Apa kakak marah denganku?”
Aku tersenyum simpul lalu menggeleng, “Apa alasanku marah? Pernikahan kalian memang seharusnya terjadi, kan? Jika sikapku membuat Ella kepikiran, maaf,”
“Syukurlah,”
Ella tersenyum, dan terlihat binar matanya yang membuat wajahnya semakin cantik. Ia nampak bahagia dengan tangan tak lepas dari genggaman Brian.
Lelaki dengan alis tebal tetap pada sikapnya yang dingin. Ia hanya membuka mulut seperlunya. Jelas sekali ia tak suka basa-basi. Lalu kami mengobrol banyak meski Brian sedikit kaku hingga tak sadar dua jam telah berlalu. Aku duduk dengan secangkir espresso lalu menyikut lengan Delon.
“Hem,” lelaki itu hanya berdehem tidak paham kode yang aku berikan.
__ADS_1
“Pulang,” kataku dan pamit ke pasangan pengantin baru.
“Kakak, mampir ke rumah ya, Mama kangen banget katanya,” ucapnya sebelum aku menyeret langkah keluar Serena Coffe.