
“Ya sudah aku temani,”
“Serius,” kataku dengan berbinar.
Pikiranku sibuk memilah beberapa opsi tempat yang membuat nyaman. Aku pikir menenangkan duduk di tepi danau lalu menangis sepuasnya, tapi tidak ada danau terdekat. Opsi kedua ke pantai dan aku bisa teriak sekerasnya seraya menikmati deburan ombak, sungguh indah namun kota ini bukan daerah pesisir selatan. Apalagi selain ada mal yang bertaburan di berbagai tempat, menjenuhkan.
“Kemana?” tanya Delon, pandangannya lurus ke depan.
Aku menoleh, “Lagi mikir,”
Waktu bergulir beberapa menit, namun belum ada rekomendasi tempat terbaik.
“Otakmu sekecil itu hanya memilih tempat membuang waktu,” sahutnya membuyarkan pikiranku.
“Memang kamu ada usul?” tanyaku.
Delon tak menjawab, hanya tangannya membelokkan setir ke arah kanan. Sekilas pupil mataku memeriksa ekspresinya yang datar.
“Jadi ada usul nggak nih?” ulangku.
“Diam,”
Aku merengut kemudian mendengus kesal, sejurus kemudian ia melewati jajaran ruko lalu masuk ke area deretan restoran ternama dengan makanan khas luar negeri seperti Jepang, Korea, Cina serta berbagai negara lain. Ia memarkir mobil dan mataku mengeja aksara di depan dengan nama Es krim Bidadari.
“Es krim Bidadari?” tanyaku.
Sedikit terhibur dengan nama nyleneh yang di pilih, memang penjualnya secantik bidadari atau aroma seperti makanan khayangan.
Delon mengajakku masuk, ternyata pintu kaca otomatis dan di depan ada patung pramusaji yang menyambut.
“Bagus,” kataku. Tema yang di usung cukup langka, dan menurutku menarik.
Mataku masih mengamati desain ruangan dengan wallpaper awan di langit memberi kesan cerah, di pojok terdapat bunga palsu yang indah serta lantai putih berkilau. Sedangkan Delon duduk di bangku ujung setelah pramusaji meletakkan buku menu.
“Kamu suka es krim?” matanya fokus ke buku menu.
Aku nyengir, “Sangat, kamu juga?”
Lelaki itu menggeleng, “Alya yang suka,” katanya.
“Oh gitu,” aku mengeja setiap aksara di buku menu, seketika mataku membulat melihat harga yang dibanderol untuk semangkuk es cream.
“Kenapa?”
“Mahal sekali,” kataku, menurutku cukup untuk membeli puluhan mangkok es krim di kedai sebelah toko bunga.
__ADS_1
Namun soal harga bukan masalah untuk Delon, sekalipun sayang tapi aku tetap memesan es cream coklat ukuran medium sedangkan Delon memesan rasa vanila ukuran mini.
Tidak lama pesanan siap, tersaji di atas meja yang begitu menggoda. Aku segera menyuapkan ke mulut. Seketika mataku berbinar, sesuatu yang dingin meleleh dengan sempurna di mulut.
“Enak sekali,” kataku.
“Kamu persis dengannya,” ucapnya.
Aku mendengar samar, karena ia mengucapkan dengan volume rendah. Namun, aku tidak peduli karena terlalu fokus menikmati dinginnya es yang meleleh di mulut dengan rasa enak. Sedangkan Delon, ia menyendok dengan malas es krim di mangkok.
“Sayang sekali, es krim di biarkan lumer,” cetusku, meliriknya yang tidak selera.
“Hm,”
Dalam sekejap es krim di mangkokku telah habis, hanya menyisakan mangkok kosong dengan sendok. Sementara mangkok lelaki di depanku hanya tersentuh sedikit. Aku meliriknya, namun ia balas menatap tajam.
“Sayang sekali,” keluhku sembari menatap kasihan pada es krim yang di abaikan.
Delon tidak menjawab, hanya menatapku sekilas lalu membayar dua mangkok es krim.
“Langsung pulang?” kataku.
“Hm,” sahutnya kemudian melangkah cepat ke arah mobil. Aku mengekor berjalan di belakangnya jauh, langkahku terlalu pendek untuk mengimbangi Delon.
Sementara ponsel Delon bergetar, ada panggilan masuk dari Daffan dan ia menanyakan kondisi Ella. Niatnya ia akan mampir ke rumah sakit, namun di batalkan karena aku keburu pulang.
“Delon,” panggilku keras karena ia selalu menanggapi dengan datar.
“Hm,”
“Kau selalu dingin, aku jenuh,” sahutku dan setelahnya enggan mengajaknya bicara dulu.
Dan sepersekian detik aku bungkam, hanya fokus mendengarkan lagu dari Vera Lynn bertajuk We'll Meet Again yang romantis.
Di sisi lain, Delon tidak ambil pusing lagu apapun yang aku pilih dan ia tetap fokus menyetir. Sesekali aku melirik ekspresi datarnya namun terkesan cool dan tampan.
“Apa kamu tidak pernah memiliki kekasih,” tanyaku membuka mulut, aku tidak sanggup bungkam dalam waktu lama. Di luar macet sedangkan Delon fokus ke jalan, ia tidak terusik dengan pertanyaan pribadi yang aku lontarkan.
“Tidak,” katanya kemudian, setalah aku mengerucut bibir dan sukses ia meliriknya.
“Kenapa? Apa tidak ada yang betah dengan sikap dinginmu?”
“Lebih baik diam daripada umurmu pendek,” sahutnya dengan nada datar.
Aku tercekat, menatapnya ngeri. Apa sebuah ancaman?
__ADS_1
“Kamu akan membunuhku?”
Dia tersenyum, “Kamu kira aku pembunuh, jika kau banyak bicara aku tidak fokus menyetir, apa kau mau kecelakaan,”
Aku terkekeh geli, sudah membayangkan yang tidak-tidak seperti adegan pembunuhan yang aku tonton lalu mayatnya di buang ke jurang untuk menghilang jejak.
“Apa yang ada di otak kecilmu?”
“Tidak,” cetusku kemudian benyanyi kecil mengikuti alunan lagu di mobil.
Delon hanya geleng-geleng kepala ketika netra kecoklatan miliknya melihat tingkahku.
“Kau terlihat bahagia,” perkataannya bernada sindiran.
“Memang,”
“Terserah kau saja, asal tidak menangis,”
***
Di apartemen Brian meraung keras, tangannya melempar benda yang di lihatnya ke kaca. Kali ini ia tidak terkendali, setelah pulang dari rumah sakit pikirannya berkecamuk.
“Olivia!” teriaknya sambil menggenggam vas bunga yang akan jadi sasaran amukannya.
Cuaca cukup cerah, sinar matahari terlihat lewat kaca. Dan di balkon, dulunya ia sering menikmati sinar matahari pagi sebelum mengantar Olivia ke toko bunga. Ia merindukan momen bersama Olivia yang terlalu indah. Di samping itu, otaknya masih merekam kedatangan wanita yang ia cinta bersama pria lain, dan seketika hatinya panas. Dia tidak rela miliknya di sentuh orang lain.
“Aku menyesal, Olivia,” rintihnya lalu tertunduk di sebelah ranjang. Sesekali ia menepuk kepalanya sendiri dan berkata dirinya bodoh.
Ponsel di sakunya bergetar, tangannya merogohnya kemudian membuka notifikasi chat yang masuk. Ternyata pesan yang tidak di harapkan terpaksa ia read.
*Terimakasih sayang sudah nemenin aku, kamu jangan telat makan ya.
-Iya
*Kok jutek?
Ella membalasnya di sisipkan emot sedih sehingga Brian terpaksa menepis rasa malasnya untuk mengetik.
-Maaf tadi agak sibuk, baru sampai apartemen. Ya sudah kamu istirahat.
*Iya sayang, love you.
Brian mengeja pesan dengan malas, terlebih ia harus membalas ucapan Ella. Jika bukan karena rasa bersalah, dia enggan menikahi perempuan itu.
-Love you too.
__ADS_1
Setelah selesai membalas ia melempar ponsel ke ranjang dengan kasar, sesekali ia berteriak keras melampiaskan emosinya.
Kali ini penampakan apartemen miliknya berantakan dengan barang-barang kaca pecah, ia tersenyum puas lalu menelpon seseorang untuk membereskan dan ia sendiri berniat keluar mencari sebotol wiski.