
Kayuhan sepeda melambat seiring mata besarnya melihat seekor kucing, yang sedang mengacak-acak keranjang sampah di pinggir jalan. Alessya langsung menghentikan sepedanya begitu mendekati si kucing berwarna putih corak kuning.
Ia turun dan menarik standar sepedanya agar tidak jatuh. Makanan kucing ia rogoh dari dalam tasnya. Kemudian, ia memanggil kucing itu dengan suara isyarat. Saat si kucing menghampiri, Alessya menyodorkan wadah plastik yang sudah ia isi dengan makanan. Dan kucing itu pun melahapnya.
Alessya naik kembali ke sepeda. Ia mengayuh dengan cukup cepat membelah jalan lebar yang lengang kendaraan bermotor. Rumah dan pertokoan dan bangunan lainnya terlewati ketika sepeda Alessya semakin jauh meluncur.
Udara sore hari membelai tubuhnya dari arah utara. Cukup hangat. Suara desir angin sepoi seakan berbisik lembut padanya. Dan Alessya dengan lihai berbelok ke kanan di persimpangan jalan.
Sang surya yang seakan letih menggagahi hari sengaja menyembunyikan dirinya di balik awan yang suram.
Alessya terus mengayuh sepedanya hingga menepi di taman. Ia gegas menaruh sepeda di tempat khusus. Dan dengan langkah riang Alessya berjalan menuju bangku taman kesayangannya, dekat pohon bunga kertas.
Setelah duduk seorang diri di bangku itu, Alessa menyesap aroma udara khas sore hari, sambil memejam mata. Menghirup damai. Kepenatannya lari tunggang langgang seketika.
Entah berapa detik berlalu, Alessya kembali membuka matanya. Memandangi mentari yang malu akan bertemu senja tak lama lagi.
Ia cukup tenang menikmati kesunyian di taman. Di sekitarnya tak ada orang sama sekali. Orang-orang lebih senang berkumpul di sudut taman yang lain.
Sayangnya, ketenangan Alessya tak berlangsung lama. Karena suara getaran ponselnya yang kuat menghenyakkannya. Ia cepat-cepat menggeledah tas ranselnya. Begitu ponsel itu telah berhasil ia ambil, ia mencermati layar smartphone miliknya.
Ekspresi wajahnya berubah tidak menyenangkan saat mengetahui siapa yang memanggil. ‘Lelaki super angkuh'.
Beberapa detik panggilan itu masih bertahan. Alessya tak kunjung menjawabnya. Malas saja. Tidak sedikit pun ia berharap Arhan akan meneleponnya.
Lalu, dalam diamnya ia mulai berpikir. Mungkin saja Arhan terpaksa menghubunginya karena penting. Mungkin berkaitan dengan kucingnya.
Sebelum getaran ponselnya berhenti, Alessya segera menggeser ke atas tombol warna hijau.
“Sayang, aku sekarang akan pergi menemuimu.” Suara manja di seberang sana membuat bulu kuduk Alessya berdiri.
“Tunggu aku ya! Aku sangat merindukanmu.” Arhan berkata dengan sangat mesra di ujung telepon.
Wajah Alessya mengerut. Ia ingin muntah, saking mualnya mendengar sapaan menjijikkan dari Arhan yang sepertinya sudah gila itu.
“Tuan muda, kamu salah menelepon orang. Aku bukan kekasihmu. Dan bukan orang yang kamu rindukan. Aku ini Alessya,” bentak Alessya, sungguh sangat jengkel.
“Iya, sayang. Aku tahu kalau kamu juga merindukanku.” Arhan makin mesra membalas.
__ADS_1
“Siapa juga yang merindukanmu?” Alessya geram. “Sekali lagi kukatakan, aku Alessya. Kamu pasti salah sambung.” Lagi Alessya coba menegaskan kalau Arhan pasti sudah salah menghubunginya.
“Tidak, sayang. Aku tidak lelah. Untuk bertemu denganmu, seberapa lelah pun aku tidak peduli. Karena terlalu berat merindukanmu sepanjang hari ini,” imbuh Arhan masih dengan sangat mesra dan suaranya begitu manja. Dan terdengar mengerikan di telinga Alessya. Ucapan Arhan ngawur.
“Aku akan menutup telepon. Dasar tuan muda gila!"
Tut tut tut tut
Hampir saja Alessya yang marah, membanting ponsel berharganya. Ia tak jadi melakukannya karena saat ini ia takkan mampu membeli yang baru.
Suasana hatinya bukan lagi memburuk. Tapi Arhan sudah menghancur-leburkan ketenangan hatinya.
Rencananya menikmati sore hari yang hangat benar-benar dirusak oleh Arhan. Meskipun kesal, Alessya tak bisa melampiaskan langsung kepada Arhan. Jika saja Arhan di hadapannya saat ini, mungkin Alessya akan menimbuk kepala Arhan dengan benda keras.
Suara pemberitahuan terdengar dari ponsel yang tergenggam Alessya. Pesan baru telah masuk.
Sambil menahan napas, Alessya membaca pesan itu, yang ternyata dari Arhan.
💬 Maaf, kalau barusan bicara tidak sopan. Saat ini aku sedang terdesak. Aku dikejar rubah ekor sembilan. Hanya kamu yang bisa menyelamatkanku. Aku mohon tolong aku😭
💬 Selamatkan saja dirimu sendiri! Mana ada rubah ekor sembilan di dunia nyata yang fana ini. Sekali lagi kamu menggangguku. Aku akan memblokir nomor kamu!😡😡
Alessya mendengus kuat. Kepalanya mendadak terasa sakit. Hanya dengan memikirkan Arhan, yang mungkin sudah kehilangan akal sehatnya. Berani sekali Arhan mempermainkan dirinya seperti itu.
Karena suasana hatinya sudah buruk, Alessya memutuskan untuk meninggalkan taman dan pulang ke rumah. Hari juga sudah makin sore. Dan mungkin hujan akan turun.
***
Setelah mengetik pesan, Arhan mulai kehilangan kendali atas akal sehatnya. Ia senyum-senyum sendiri saat membaca pesan balasan dari Alessya. Menyenangkan juga bisa mengerjainya. Dan akan lebih membahagiakan lagi bila Arhan bisa melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana marahnya Alessya.
Vanilla yang dari tadi mengamati Arhan, memasang wajah frustasi. Ia yang mati-matian melakukan perawatan di salon termahal sejak siang, merasa sia-sia sudah.
Karena Arhan malah tak tertarik dengannya sama sekali. Dan lebih parahnya, Arhan dengan sadisnya malah berbicara di telepon dengan wanita yang diakuinya sebagai kekasih.
“Kamu pergilah ke ruangan Ayahmu. Dia pasti akan mencari kalau tahu putrinya yang ceroboh, tersesat dan mengikuti orang yang salah,” sindir Arhan, tanpa melirik Vanilla sedikit pun.
Ia dengan tampang kejamnya, berlalu begitu saja. Diikuti Lerry menuju keluar gedung.
__ADS_1
Arhan buru-buru masuk mobil dan membiarkan Lerry yang mengemudikannya. Mengantarkannya pulang ke rumah Ibunya.
Begitu sampai, Samira langsung menyambut Arhan. Dengan memberikan sebuah kecupan singkat di kedua pipi Arhan.
“Papamu tidak curiga kan kalau kamu menemui Ibu di sini?” Samira mengeluarkan kecemasannya sejak ia menempati rumah barunya. Dan lagi Arhan sering mengunjunginya setiap hari. Hal itu dirasa cukup berisiko.
Arhan menanggalkan jas berbahan kualitas tinggi. Lalu, Samira meminta Arhan untuk memberikan jas itu padanya.
“Tenang, Bu. Dia masih belum tahu kalau Ibu tidak tinggal di rumah yang sudah ia siapkan.” Arhan memandang Ibunya lembut.
“Ibu takut nanti Kusuma akan marah kalau tahu Ibu tidak mematuhinya,” ucap Samira.
“Hal itu tidak usah Ibu pikirkan. Aku akan mengurus semuanya. Bila perlu aku yang akan menghadapi Ayah nanti,” tukas Arhan.
Ia kemudian duduk di sofa, untuk menyandarkan tubuhnya yang letih.
Samira mengikutinya untuk duduk di sebelah Arhan, setelah seorang pelayan rumah mengambil jas dari tangannya.
“Bu, Belang bagaimana?” Arhan mulai menyayangi kucing yang kini hanya berkaki dua itu. Dan telah menganggapnya sebagai anggota keluarga.
“Dia masih belum terbiasa berjalan memakai bantuan roda di kaki belakangnya. Dan sepertinya dia tidak menyukai Ibu dan para pelayan. Dia selalu ketakutan setiap melihat orang,” ungkap Samira.
“Dia menderita trauma. Dokter bilang, dia harus dirawat oleh orang yang menyayangi kucing dan bisa disukai olehnya. Sementara aku kan harus kerja. Aku terpaksa menyuruh pelayan untuk mengurusnya.”
“Para pelayan tidak tahu cara mengurus kucing. Sebaiknya kamu mencari orang lain yang punya kedekatan dengan kucing. Kasihan si Belang, dia sering murung. Kalau ibaratkan manusia, dia seperti orang yang depresi berat,” tutur Samira yang sudah menerima kehadiran kucing si belang sebagai penghuni baru di rumahnya.
“Nanti aku akan mempekerjakan orang yang tepat untuk merawat Belang,” kata Arhan semangat sekali.
“Kamu harus menemukan orang itu secepatnya,” desak Samira.
Arhan tersenyum, sambil membayangkan sesuatu.
“Ibu akan menyiapkan makan malam. Kamu mandilah dulu,” tutur Samira.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Samira beranjak ke dapur. Dibantu dua orang pelayan ia memasak.
Sementara itu, Arhan segera menaiki tangga untuk mengunjungi kamarnya di lantai dua. Dan masuk ke kamar mandi, untuk menyiram tubuhnya dengan air hangat.
__ADS_1