Tidak Ada Judul

Tidak Ada Judul
Menumpang


__ADS_3

*Pertemuan kita bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah takdir yang sudah tertulis.


Olivia Corliss*


***


Aku merasa beruntung mengenalnya, setidaknya aku yakin dia baik. Jika tidak mana mungkin ia mau menolongku sejauh ini?


Ia seorang Delon, terlihat dingin di luar namun aku dapat merasakan pribadinya hangat. Dan entahlah aku merasa nyaman.


Delon memiliki mood yang mudah berubah mirip denganku, hanya saja ia versi kalem sedangkan aku versi bawelnya. Lihat saja sikap kakunya jika berhadapan dengan laptop, namun hangat saat menolongku.


Mengagumkan, satu kata yang menggambarkan seorang Delon.


Terkadang ia sangat irit bicara dan datar, namun ia juga sering menampilkan tawa khasnya.


Aku bukan menyukainya, namun semacam perasaan aneh yang tidak dapat aku simpulkan. Apa aku sudah mengenal Delon sebelumnya?


Lama-lama aku mulai jenuh menontonnya bermain dengan laptop serta smartphone.


“Apa aku boleh bertanya,” tanyaku sambil sibuk menghitung berapa kali netranya melirik ponsel, hanya urusan pekerjaan.


“Hm,” ia menjawab singkat tanpa menoleh.


“Apa kekasihmu tidak akan marah jika kamu menampung perempuan lain?” tanyaku memastikan, sekilas aku melirik pose fotonya dengan wanita.


Aku melayangkan tatapan intens, berharap menemukan satu kebohongan di matanya.


“Aku tidak memikirkan wanita,”


“Kau bohong, wajahmu kan tampan,” ujarku sambil membekap mulut. Ia pasti sudah besar kepala.


“Kau tertarik denganku?” masih dengan nada datar.


“Apa? Kapan aku mengatakannya? Anda percaya diri sekali,” suaraku mungkin terdengar gugup.


Ia hanya menyeringai, sungguh ia tak pernah seperti ini.


“Aku hanya berpikir kau tipe pria yang hobi bergonta-ganti wanita, karena kau kaya dan tampan,”


Tatapan Delon menajam kemudian ia menggelengkan kepalanya melihatku, “Apa pikiranmu memang selalu buruk?”


Aku menghembuskan nafas pelan, memilih tidak mencampuri pribadinya.


“hm..maaf” kataku, “Kenapa kau sangat baik terhadapku?”


“Aku hanya kasihan padamu,” jawabnya enteng.


Aku mendengus kesal kemudian mengutuknya dalam hati.

__ADS_1


“Kau keterlaluan sekali, aku tidak butuh belas kasihan,”


Ia memperbaiki lipatan kemeja di lengannya, menampilkan bulu-bulu halus yang menggoda. Ah ingin sekali mencabut bulu tangannya.


Aku sering bergelayut manja lalu mencabut bulu halus di tangan Brian..duh kenapa Brian.


“Hei, kau hobi sekali melamun,”


“Hah..apa,” ulangku gelagapan, ia bicara denganku tadi.


“Jangan menampilkan wajah bodoh,” kekehnya pelan.


Aku cemberut dengan melipat tangan.


“Aku hanya bercanda,” lanjutnya, “Aku sudah menyuruh orang mencarikan seluruh keperluanmu,” jelasnya setelah mengalihkan pandangan dari laptop.


“Kau baik sekali, kau memang di kirim untuk menjadi dewa penolongku,”


Dia memicingkan matanya, "Apa dunia khayalmu juga setinggi itu,”


“Hei secara tidak langsung aku sudah memujimu tapi jawabanmu membuatku kecewa,”


Lelaki itu terkekeh dengan memamerkan senyum khas miliknya, “Sejak awal kau memang sudah aneh mirip..”


“Mirip siapa?” tanyaku mendengar ia tak melanjutkan kalimatnya.


“Bukan siapa-siapa,” balasnya datar.


“Delon, aku mengantuk,” laporku dengan nada manja.


“Lalu?” ucapnya singkat tanpa menoleh ke arahku.


“Aku akan tidur,” jawabku sambil menguap.


Ia hendak memanggil pelayan, namun aku menolaknya.


“Telpon siapa?” tanyaku penasaran.


“Pelayan, untuk membereskan kamarmu,”


“Tidak perlu, aku bisa sendiri,” cegahku sambil mengibaskan tangan.


Aku keluar dari ruang kerjanya melewati lorong mewah dengan sentuhan warna gold juga ruangan besar dengan desain modern yang megah. Aku hingga lupa arah kamarku.


“Mbak,” panggilku pada gadis berwajah hitam manis yang memakai baju pelayan, kebetulan di lewat di depanku.


“Nona memanggil saya,” balasnya santun.


“Bisa antarkan ke kamarku?” pintaku.

__ADS_1


“Baik nona,” balasnya sambil berjalan menuju arah kamarku.


Sampai di kamar aku segera merebahkan diri ke kasur queen size yang ada di dalam, rasanya hanya tidur yang dapat membantuku berpaling sejenak dari dunia nyata.


***


Di ruang lain ia masih sibuk berkutat dengan rentetan pekerjaan kantor yang tidak ada habisnya.


Ia juga mengecek deretan email yang masuk serta memantau beberapa proyek penting dari rumah.


Dari tadi matanya fokus pada layar sedangkan jarinya sesekali mengetik pesan di smartphone miliknya.


Jam makan siang hampir lewat, ia segera menggelapkan layar lalu menutup laptopnya.


“Siapkan saya makan siang,” titahnya di sambungan telepon.


Sontak chef serta beberapa orang di dapur sibuk membuat masakan terlezat untuknya. Seketika suasana dapur ramai hanya karena makan siang.


Delon sudah duduk di meja makan dengan berbagai menu yang ada di meja, tidak perlu waktu lama seluruh menu favorit tersaji.


Ada beberapa pelayan yang berdiri di belakangnya dengan berdebar-debar, seolah menunggu penilaian juri di kontes memasak.


“Minum,” titahnya. Dengan cekatan pelayan memberikan gelas yang sudah di isi air putih penuh.


Ia menyuapkan sesuap tanpa berkomentar apapun, artinya masakan pas di lidahnya dan pelayan bisa bernafas lega.


Setelah selesai ia meninggalkan banyak sisa makanan, bahkan ada beberapa menu yang belum tersentuh sendoknya.


“Pelayan,”


“Iya, Tuan,” jawab pelayan yang sudah mendekat.


“Bereskan kamar, pastikan semua rapi karena saya akan istirahat sebentar,” perintahnya kemudian.


“Baik, Tuan,” jawab pelayan dengan sopan lalu segera menuju kamar dengan cekatan, memastikan setiap inci ruangan tidak menimbulkan rasa tidak nyaman pada Tuannya.


Akhirnya ia menekan tombol lift menuju kamarnya di lantai atas.


Sementara dia terlelap aku mengerjapkan mata, melirik jam dinding yang ada di kamar tamu. Tidak terasa sudah satu jam lamanya tidur nyenyak di ranjang yang nyaman.


“Permisi nona,” ucap pelayan mengetuk pintu kamarku.


Aku turun dari ranjang, dengan rambut acak-acakan belum bertemu sisir setelah bangun tidur, tanganku membuka pintu melihat suara yang memanggil di luar.


“Saya mengantar ini, Nona,” ucap kepala pelayan.


Mataku fokus pada orang-orang di belakang yang membawa tumpukan baju kualitas butik, high heels berbagai model serta alat make up sekelas artis.


“Bawa ke dalam,” pintaku sopan di akhiri kata terimakasih.

__ADS_1


Sekarang aku terpaksa tidak bisa menolak karena aku membutuhkan baju serta perlengkapan lain.


Aku meneliti dress dengan warna kelem, juga modelnya yang tidak terbuka. Sepertinya ia paham aku tidak suka menunjukkan lekukan tubuhku.


__ADS_2