Tidak Ada Judul

Tidak Ada Judul
Sisi baik Delon


__ADS_3

Aroma masakan menggoda seleraku, Delon masih berkutat dengan pekerjaan sedangkan aku menikmati lezatnya masakan chef ala restoran.


“Ada yang di perlukan lagi nona?” tawar pelayan yang mengisi air putih di gelasku, kemudian dia berdiri di belakang.


“Tidak, terimakasih,” tolakku.


Acara malamku selesai, mataku melirik kanan kiri dan memutuskan ke ruang kerja Delon.


“Maaf, ruang kerja Delon sebelah mana,” tanyaku sopan pada salah satu pelayan.


“Biar saya antar nona,” tawarnya. Aku menolak dan hanya meminta petunjuk arah.


Langkahku menuju arah yang di tunjukkan pelayan, melewati ruangan berdesain modern dan lorong mewah.


"Hm.. kayaknya ini,"


Mataku mengintip lewat pintu yang terbuka setengah.


“Delon,” panggilku pelan.


“Masuk,” jawaban yang terlambat karena aku sudah berada di dalam.


Lelaki itu masih sibuk dengan layar laptopnya tanpa menoleh ke arahku.


“Delon, berhentilah sebentar,” ucapku dengan menutup paksa laptopnya berharap ia mengalihkan pandangan ke arahku.


Delon membuka laptopnya kembali yang membuatku gemas.


“Apa kau tidak bosan harimu hanya bekerja,” protesku, aku rasa ia terlalu menyerahkan seluruh waktu untuk pekerjaan.


“Sebentar lagi,” tolaknya masih sibuk dengan rentetan urusan kantor. Sesekali netranya melirik ponsel, pasti urusan pekerjaan.


Aku mendengus dan memilih duduk di kursi depan mejanya.


“Kau bahkan tidak punya waktu untuk tertawa, menyedihkan sekali,” sindirku yang sudah menatap intens, “Apa kau takut jatuh miskin?”


Akhirnya ia melirikku sebentar kemudian tersenyum kecil.


“Apa kau tidak ingin menikmati uangmu?” lanjutku.


“Aku tidak suka foya-foya,” balasnya datar, lelaki bernama Delon sangat sulit di bujuk.


Akau mencondongkan wajahku ke arahnya,”Aku sering dengar orang-orang sekaya kau hobi ke klub malam dan menyewa perempuan, apa kau juga begitu?”


Tatapan Delon menajam. Dia tidak menyukai gadis di depannya berbicara sesuai isi kepalanya sendiri.


“Apa otakmu selalu seburuk ini?”


“Maaf,hehe,” Aku terkekeh melihat responnya, bukannya takut melainkan gemas dibuatnya.


“Apa kau menuduhku?” balasnya tajam.


“Hm..Tidak..Tidak sama sekali, aku hanya bertanya, ayolah jawab,” ujarku yang masih mendesak.


“Tidak penting,”


Akhirnya aku mengalah. Memaksanya merupakan tindakan yang percuma, sebenarnya aku hanya iseng.


“Apa kau tidak berminat menikmati uangmu untuk refreshing,” godaku dengan senyuman termanis, berharap ia akan luluh.


“Tidak tertarik,”


“Apa kau sama sekali tidak tertarik untuk berlibur atau piknik untuk menyegarkan pikiran?” balasku menemukan ide terbaik, aku bisa ikut dengannya untuk melupakan masalah.

__ADS_1


“Aku belum berminat,” balasnya datar tanpa ekspresi.


Cih! Aku berdecak kecewa, sulit sekali merayunya. Ia tipe yang tidak bisa di ganggu saat bekerja, tipe pekerja keras.


Memang sih melihat kekayaan yang ia miliki tidak mungkin hanya tidur-tiduran di kamar, pasti ada pengorbanan yang sebanding dengan istana miliknya. Namun jika seluruh waktu hanya untuk bekerja monoton sekali hidupnya, hanya kantor dan rumah atau tidur dan bekerja.


“Apa kau bahagia memiliki banyak uang?" sindirku yang sudah duduk tenang di kursi.


“Apa kau juga bahagia dengan tidak memiliki uang?” balasnya dengan nada menyindir.


Aku menghembuskan nafas kasar, rasanya ingin memukul kepalanya.


“Hei aku bukan tidak memiliki uang, Papaku bahkan bisa memberiku lebih dari cukup,” jawabku tidak mau kalah, “Namun aku lebih suka hidup sederhana,”


Dia menatapku lekat, mengamati secara detail dari ujung kaki hingga ujung rambut, "Bukannya kau tuna wisma?"


Ya ampun, aku kira obrolan seputar tuna wisma sudah berakhir di mobil.


“Aku tidak pernah mengatakan itu, kau saja yang salah paham,”


“Jadi kau memiliki rumah," ucapnya menyelidik, "Lalu mengapa menolak saya antar pulang,"


Mengapa harus pertanyaan rumah, aku sengaja ingin menumpang. menurutku rumah sebesar ini tidak akan membawa pengaruh banyak jika menambah anggota sementara.


“Apa aku tidak boleh menginap di sini?” protesku berharap dia akan mengizinkan dengan sukarela.


“Aku tidak ingin terlibat masalah, orang tuamu akan cemas,"


“Pelit sekali,” balasku kecewa.


Dia mulai beralih dari layar laptopnya, berjalan sedikit mendekat ke arahku.


“Jangan bilang kau kabur,” tebaknya tepat.


“Aku telah salah menolongmu,”


Aku mendengus kesal kemudian menatapnya dengan jarak yang sangat dekat, “Kau perhitungan sekali,”


“Aku tidak ingin di sebut penculik anak,” balasnya tanpa ekspresi, padahal bagiku lucu.


Aku hanya terkekeh, “Siapa yang bilang kau penculik, lagian aku bukan anak kecil mungkin kau saja yang terlalu tua,”


“Lihatlah badanmu, apa kau jarang makan,” ejeknya.


Dia menghina badanku yang mungil, padahal menurut Brian ini imut. Ah..kenapa Brian.


“Kenapa?”


“Apanya yang kenapa,” balasku kesal, “Jangan bahas tentang aku atau keluargaku,”.


Dia mengamati wajahku, seperti menyadari perubahan yang aku tampilkan, “Nona, kenapa kau mudah sedih dan tertawa sesukamu? Moodmu susah di tebak,”


“Kau yang membuatku sedih," teriakku. Aku hanya ingin berteriak saja tidak lebih.


"Aku," Dia menunjuk dirinya sendiri, menatapku bingung lalu mengacak rambutnya frustasi.


"Iyalah, suruh siapa mengingatkanku pada mereka," Aku menyeka buliran bening, sebelumnya aku bukan gadis cengeng.


Lelaki itu menautkan kedua alis tebal miliknya, “Bukannya mereka keluargamu? Apa masalahmu,”


"Ceritanya panjang dan rumit, kau mau mendengarnya?" tawarku berharap mendapat jawaban iya.


Dia mengangguk, mengiyakan tawaranku.

__ADS_1


“Bisakah kau mencarikan solusi?” pintaku berharap lebih


“Jika saya mampu,"


Aku menarik nafas panjang untuk mempersiapkan hatiku agar cukup kuat.


“Aku kecewa dengan Adikku, seluruh sudut rumahku membuatku terluka," ucapku berhenti, melihat wajah lelaki di depanku yang masih berminat menyimak.


“Adik yang sangat aku sayang tega menjalin hubungan dengan kekasihku, hingga...” suaraku menggantung, rasanya berat meloloskan kalimat selanjutnya.


“Hingga apa?” tanyanya penasaran.


“Dia hamil,”


Delon menghembuskan nafas perlahan lalu menatapku kasihan, apa aku terlihat menyedihkan.


“Jangan menangis lagi, kau boleh tinggal di sini," ucapnya. Dia menyapu air mataku dengan tangannya, lembut dan menenangkan.


“Sungguh?” tanyaku meyakinkan, mataku sudah berbinar ceria.


Dia kembali mengangguk, kali ini di temani senyuman tipis di wajahnya.


Aku segera membenamkan kepala di dadanya, memeluknya erat hingga hidungku dapat mencium aroma parfumnya.


“Kau sebehagia itu? Bukannya tadi menangis, sudah aku bilang kau sangat sulit di tebak,”


Terserah apa komentarnya, aku cukup bahagia menemukan tempat untuk melarikan diri senyaman ini. Bukan karena tempatnya yang megah melainkan lelaki di depanku yang baik.


“Biarkan saja, karena aku menikmati hidupku tidak sepertimu,” balasku melepaskan pelukannya, seperti mendapatkan seorang Kakak.


“Apa kau bahagia?" tanya Delon dengan tatapan menyelidik.


“Tentu, dulu aku sangat bahagia sebelum dia..”


“Ssst,” telunjuknya menempel di bibirku, "Tidak perlu di lanjutkan,”


Aku mengangguk setuju seperti mendapat dewa penolong yang di kirim khusus untukku.


“Delon,” panggilku berharap dia menoleh.


“Hm,” jawabnya singkat sambil kembali fokus dengan laptopnya setelah bernegosiasi panjang denganku.


“Aku tidak membawa baju dan barang apapun,” balasku muram berharap dia mendapat ide terbaik untuk membawa barangku di rumah lama tanpa menimbulkan drama.


“Aku akan mengurusnya,”


Aku mendekat ke arahnya, mencondongkan wajah agar bisa melihat setiap lekukan sempurna di wajahnya, “Kau serius akan menyuruh orang mengambil barang-barangku di rumah, tapi jika mereka menolak atau mengintrogasi banyak hal bagaimana?”


“Siapa yang bilang akan mengambil di rumah lama?” jawabnya dengan menghentikan aktivitas sebentar, dia menatapku balik hingga wajah kami berjarak beberapa sentimeter.


“Kau yang bilang tadi, dasar pemberi harapan palsu padahal aku sudah senang tadi,” sungutku kesal lalu duduk di bangku depan meja miliknya.


“Aku tidak berbohong," jawabnya dengan menjeda kalimat, "Kau bisa sebutkan apapun yang kau butuhkan,"


“Maksudmu membelinya lagi?” Aku membelalakkan mata.


“Tentu, lagian baju lamamu juga tidak jauh berbeda dengan yang kau pakai tadi pagi,” ujarnya kemudian.


Aku sedikit geram, dia menghina bajuku jelek.


“Kau menghina bajuku? biarkan saja yang penting aku nyaman memakainya," balasku dengan masam.


“Tidak, hanya saja baju itu lebih pantas di badanmu,”

__ADS_1


__ADS_2