Tidak Ada Judul

Tidak Ada Judul
Penyesalan Brian


__ADS_3

Setelah tidur siang badanku terasa lebih segar, lalu aku berniat mandi dengan menyambar handuk kimono warna dusty pink.


Hampir tiga puluh menit di dalam kamar mandi, mendinginkan badan di bawah shower dengan mengusapkan busa aroma lavender ke seluruh tubuh, setelah selesai aku keluar dengan handuk kimono.


Drt..drt..drt


Di nakas, ponselku bergetar. Aku ingat baru tadi mengaktifkan nomor sejak memilih kabur. ada deretan pesan dari Mama, Papa, Aqilla dan paling banyak Brian.


Semua aku abaikan tanpa tergerak untuk membalas, aku sedang tidak berminat meladeni siapapun. Lalu aku memilih dress di lemari, menjatuhkan pilihan ke dress kuning gading sebatas lutut.


Drt..drt..drt


Benda pipih ku bergetar kembali, kali ini di layar kedap-kedip panggilan nomor yang aku save my Brian. Sial, aku lupa belum menghapusnya lalu jariku mengusap tombol merah di layar.


Lebih baik aku keluar kamar, jalan-jalan sambil menghafal lokasi. Bukan apa-apa, takut nyasar dan menyusahkan pelayan.


“Mau kemana?” Delon bertanya, tidak sengaja berpapasan di ruang tengah.


“Jalan-jalan, aku jenuh di dalam kamar,” balasku sambil mengamati setiap detail yang terpajang di rumahnya.


“Ini foto siapa?” tanyaku penasaran sejak tadi melihat banyak sekali gambar perempuan ini terpasang di beberapa ruang yang aku lewati.


“Alya,” Delon menjawab singkat dan jelas tanpa menjelaskan siapa Alya, aku penasaran.


Aku tersenyum simpul, “Cantik sekali,”


Delon tak menjawab, masih berjalan ke salah satu ruangan.


Aku berjalan cepat sejajar dengan langkahnya “Apa dia istrimu?”


Dia menatapku tajam, “Apa yang ada di otakmu?” menunjuk-nunjuk kepalaku.


“Kau lelaki beristri,” jawabku menampilkan wajah tak berdosa.


“Dia Kakakku,” ucapnya menekankan kata Kakak.


“Ops..maaf,” pintaku, mungkin ia tak seburuk perkiraanku.


Dia tersenyum simpul, terkesan beda di mataku. Semacam senyuman licik.


“Ya sudah aku mau ke ruang kerja, kau mau tetap di sini?”


Aku mengangguk, “Aku masih ingin di sini, nanti aku nyusul,”


Dia berlalu pergi, tanpa menjawab. Emang aku berharap dia menjawab apa, memaksa menemani kan mustahil.


Netra mataku masih berkeliaran ke setiap sudut dan menangkap pose Alya di peluk lelaki tampan, ia memakai gaun putih sedangkan suaminya mengenakan jas. Sangat serasi.


“Nona, ini jus jeruknya,” ucap pelayan sopan membawa segelas es jeruk di atas nampan.

__ADS_1


Aku menaikkan alis heran, “Siapa yang memesan,”


“Tuan Delon, katanya untuk nona,” Aku mengambil gelas di nampan tidak lupa kata terimakasih.


Satu lagi nilai plus buat Delon, dia cukup perhatian. Dan aku memutar badan hendak duduk di sofa pojok dekat jendela.


Prang!


Gelasku jatuh dari genggaman, hancur di lantai dan isinya tumpah ke sosok yang aku tabrak sekaligus penyebab gelasku pecah.


"Sorry," ucapku.


“Tidak apa-apa,” Dia tidak menatapku, hanya melepas jaketnya yang kotor tersiram jus jeruk.


Aku menarik jas di tangannya, "Biar saya cuci,"


“Tidak perlu, di sini ada pelayan,” tolaknya menjauhkan tanganku dari jas miliknya.


Niatnya aku akan membereskan pecahan gelasnya di lantai, ia melarang dan tangannya melambai ke pelayan. Ujungnya aku merepotkan mereka.


“Eh, sekali lagi maaf,” ucapku tulus.


Dia tersenyum dengan bibir tipisnya, "Tidak apa-apa," ucapnya kemudian bergerak pergi.


Aku mengamatinya dari jauh, lelaki yang baik. Dia sangat serasi dengan Alya, setiap lekukan wajahnya menunjukkan indahnya ciptaan Tuhan.


***


“Kenapa kau susah di hubungi? Apa kau memiliki niat untuk lari dari tanggung jawab,” tuduh Ella.


Brian mengusap wajah kasar lalu mengacak rambut frustasi.


“Aku pusing, Ella,” bentaknya dengan kasar, “Selama Olivia belum pulang otakku tidak bisa berpikir jernih,”


“Apa dia lebih berharga daripada aku,” Ella mulai terisak.


“Ella, kau tau kan aku dulu sangat mencintainya, hubungan kita adalah kesalahan sekalipun aku mulai mencintaimu,” Bola mata Brian tidak lepas dari ponsel, berkali-kali ia mengecek notifikasi chat yang masuk.


"Tapi.."


“Sampai sekarang belum ada kabar darinya,” sela Brian dengan membanting ponselnya kasar.


Ella mundur, memegang dadanya yang terasa sesak. Pasalnya baru kali ini emosi Brian tidak terkendali.


“Brian, bayi ini membutuhkanmu,” sahut Ella, sudut matanya telah basah.


"Jangan membuatku semakin pusing, Ella," bentak Brian, tatapannya menajam ke arah wanita yang pernah berbagi ranjang dengannya.


"Brian," lirih Ella.

__ADS_1


“Aku tidak siap kehilangan dia Ella, maafkan aku, semua salahku,” Brian mulai melunak, menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan kacau.


Ella mendekat, menatap lamat-lamat wajah yang ia cintai, "Aku mengerti,"


Brian menunduk, “Aku tidak adil padamu dan dia,”


Ella memeluknya dan menumpahkan air mata di dada bidang Brian, mencium aroma tubuh Brian yang pernah menyatu dengannya.


“Aku mencintaimu, Brian,” isaknya masih tenggelam dalam pelukan laki-laki yang membuatnya bodoh.


Brian terdiam sejenak, tangannya melepas pelukan Ella serta menatap lekat netra kecoklatan milik wanita cantik yang di idam-idamkan banyak lelaki.


“Ella, bagaimana jika aku menyakitimu,”


“Dari awal memilih bersamamu aku sudah siap terluka, apa kamu pikir aku tidak terluka melihatmu memperlakukan Kak Olivia dengan manis di depanku?” ungkapnya mengingat rasa sakit sebelum hubungan gelapnya terbongkar.


Brian mengingat dengan baik seluruh kesalahannya, kepintarannya menyimpan perselingkuhan dengan Ella hingga enam bulan.


“Baiklah, aku akan bertanggung jawab setelah mendapat kabarnya,” Brian menyentuh pipi Ella dengan kedua tangan, menatap lekat wajah yang akan menjadi pendamping hidupnya. Dia pernah memimpikan pernikahan bersama Oliv, namun nyatanya kesalahannya berakibat fatal.


Ella mengangguk dengan bibir tipisnya memamerkan senyuman yang di paksakan. Sejujurnya dia juga cemas akan keadaan Kakaknya.


“Maafkan aku Ella, aku sudah mengambil hal yang berharga untukmu dan membuatmu malu,” lirih Brian dengan memukul kepalanya sendiri, “Aku laki-laki brengsek, Olivia benar,”


“Cukup, Brian,” cegah Ella meminta Brian tidak menyakiti dirinya sendiri. Ella tidak sanggup melihat orang yang sangat dia cintai sehancur ini.


“Di sini aku juga salah, tapi aku tidak bisa lagi menahan perasaan sama kamu, Brian,” ungkap Ella.


“Aku menyakitinya terlalu jauh, Ella,” Brian terisak, menunjukkan sisi lemahnya, “Aku bodoh, Ella,”


Ella menangis, memeluk Brian dan mencoba meredakan emosinya yang kacau.


“Cukup, Brian,” Ella memohon, “Aku mencintaimu lebih dari Kakak,”


“Aku belum siap tanpa dia, Ella,”


“Aku akan sabar, hingga kamu menerimaku seutuhnya,” Ella masih mencoba menenangkan.


Brian meneliti penampilan wanita di depannya, terlihat tak jauh kacau dengannya. Matanya sembab akibat terlalu banyak menangis, wajahnya tidak terpoles make up seperti biasanya hanya bibir tipisnya yang di poles lipstik pink.


“Kau pasti sangat menderita,” Brian menyentuh pipi Ella, menyeka air mata yang masih tersisa.


“Tidak, asal bisa bersamamu aku rela,”


“Mengapa kau bodoh, Ella?” ucap Brian menatap wanita di depannya, “Di luar sana aku yakin laki-laki rela saling berebut untuk mendapatkanmu,”


“Aku tidak ingin siapapun, aku hanya mau kamu, Brian,”


“Ella,”

__ADS_1


Ella tersenyum mendekatkan wajahnya pada Brian.


“Aku minta maaf,” ulang Brian.


__ADS_2