Tidak Ada Judul

Tidak Ada Judul
Toko Bunga Olivia


__ADS_3

Bosan sendirian di rumah, aku memutuskan untuk menengok toko bunga.


Setelah mandi aku memilih dress peach sebatas lutut dengan high heels warna kalem. Aku memesan taksi online yang sudah menunggu di depan.


“Pak ke jalan kenanga,” pintaku kepada sopir taksi. Aku menyandarkan tubuhku di jok belakang.


Sesampainya di sana aku sudah bisa melihat Aqilla sedang sibuk memeriksa bunga di toko.


“Hai, sibuk nih,” godaku pada Aqilla, dia sahabat baikku yang membantu mengembangkan toko bungaku.


“Kau ini, kemana saja” sungutnya kesal, “Kau tega sekali mengabaikan seluruh pesanku,”


Aku hanya nyengir sambil memasang wajah tidak berdosa.


“Maaf,”


“Sahabat macam apa kau, tega membuatku cemas, kau tahu semua mencarimu,” celotehnya sambil menaruh bunga lily.


“Mereka kesini?” tanyaku.


“Terus kemana lagi,” balas Aqilla yang terus menghujaniku dengan berbagai pertanyaan.


“Kau tinggal di mana?”


Aku meliriknya sebentar, takut dia akan teriak jika aku bercerita tinggal di rumah lelaki asing.


“Kau masih tak menjawab,” ulangnya.


Aku mengeluarkan senyum termanis sambil membantunya merapikan bunga-bunga yang ada.


“Senyummu tidak akan bisa mengobati rasa penasaranku,”


“Jangan ngomel-ngomel, sahabatnya lagi patah hati juga,” protesku membenarkan posisi bunga-bunga yang masih belum rapi.


“Kau benar patah hati,” Aqilla menatapku dengan pandangan penuh selidik.


Aku menjitak pelan keningnya, “Terus kau pikir aku ikhlas?”


“Ya tidak sih, kalau aku di posisimu juga sudah aku cakar-cakar mereka,”


Aku hanya terkekeh melihat tingkah Aqilla yang berapi-api sambil memperagakan hendak menerkam mangsa.


“Terus kau tinggal di mana? Di hotel?”


Aku menggeleng masih dengan memindahkan bunga mawar putih ke bagian depan.


“Lalu, kau jangan membuatku penasaran,” desaknya dengan menggemaskan, aku suka melihatnya penasaran.


“Olivia,” teriaknya.


“Duh jangan teriak-teriak,”


“Habis kau sibuk sendiri,”


“Aku tinggal dengan lelaki tampan,” balasku langsung terkekeh melihat responnya.


Aqilla melebarkan mulutnya dengan mata yang melolot sempurna.


“Jangan bercanda,”


“Apa wajahku terlihat bercanda,”


Dia menelitiku dari ujung kuku hingga kepala, “Aku baru sadar,”


“Apa?”


“Kau memakai dress mahal dengan penampilan berbeda,” serunya sambil memutar badanku untuk memeriksa penampilan baruku.


“Cantik ya,”


“Olivia,” panggilnya dengan nada rendah.


Aku menoleh ke arahnya, “Iya kenapa?”

__ADS_1


“Kau tidak menjadi simpanan lelaki kaya kan karena patah hati,”


Aku tercekat, ingin mencuci otaknya agar tidak berpikiran sesukanya.


“Kau pikir aku gila, ya enggaklah,”


Aqilla menarik nafas panjang dengan mengelus dada khas emak-emak, aku jadi terkekeh melihat tingkahnya.


Akhirnya aku menceritakan secara detail perihal tempat baruku dengan para penghuninya, Aqilla mendengarkan dengan teliti terkadang dia teriak kaget kadang manggut-manggut paham akan penjelasanku.


“Aku tidak menyangka,”


“Kenapa?”


“Lupakan saja Brian, dia pasti jauh lebih tampan,”


Aku meliriknya yang sudah terpesona sebelum melihat langsung.


“Bagaimana pun Brian itu cinta pertama, dan mereka bukan siapa-siapa selain orang baik yang di kirimkan Tuhan untuk menolongku,”


“Maaf,”


Aku mengangguk sambil melihat catatan kecil berisi pesanan karangan bunga yang harus di antar.


“Aku akan mengantar pesanan,”


“Tidak perlu kau masih patah hati, aku takut kau menabrak,” balasnya yang sibuk dengan bunga matahari kuning.


“Kau memang sahabat terbaik,” Aku merangkulnya yang langsung kena omel.


“Kau hanya memuji jika butuh,”


Aku nyengir menatap satu per satu bunga yang penuh di toko, aku rindu akan wanginya serta bentuknya yang indah. Toko bungaku yang membuatku selalu semangat.


Mataku menangkap taksi online yang berhenti di depan toko, seorang wanita paruh baya dengan balutan busana modis keluar dari mobil.


“Mama,”


Aku hanya diam, merasakan pundakku yang basah terkena air matanya.


“Maafkan Mama,” Dia melepaskan pelukannya lalu menyentuh wajahku.


“Mama, maafkan Oliv,”


“Kau kemana saja, Nak,”


Mama Bella meneliti baju yang aku kenakan, “Kau semakin cantik,”


“Mama,” Aku balik memeluknya erat, sosok yang sangat aku rindukan tapi aku terlalu sakit untuk kembali ke rumah itu. Semua sudutnya mengingatkan kenangan bersama Ella dan Brian.


“Pulanglah, sayang,”


“Maaf, Olivia belum bisa pulang,”


“Kenapa?”


Mama Bella melihat buliran bening yang mulai menetes dari kedua mataku.


“Mama minta maaf kalau waktu itu keras sama Oliv, Mama hanya sedang pusing tidak bisa memilih salah satu,” ucap Mama Bella dengan menggenggam tanganku.


“Aku paham Ella membutuhkan Brian, makanya aku memilih pergi,”


“Tapi..”


“Ma tolong mengerti, Oliv belum sanggup melihat mereka bersama di depan mata Oliv,” jelasku dengan mengusap buliran bening yang basah.


“Lalu kamu tinggal dimana?”


“Aku baik-baik saja, Ma tapi Oliv belum bisa kasih tahu Mama sekarang,”


Mama Bella menatapku dengan sorot mata sedih lalu dia duduk sebentar.


“Ella tidak bermaksud menyakiti kamu, Oliv,”

__ADS_1


Aku memalingkan wajahku, belum siap mendengar perihal Ella dan Brian. Masa bodo dengan mereka karena aku terlanjur kecewa, alih-alih lebih tenang malah hanya membuatku seolah menaruh perasan jeruk di atas luka, perih.


“Olivia,” Mama Bella menyentuh pundakku.


“Ma, biarkan Oliv menenangkan hati,”


“Baiklah, Mama pamit,” balas Mama Bella dengan mengecup lembut keningku.


Mama Bella bergegas pergi masuk ke taksi hingga lenyap dari pandangan mataku.


“Oliv, jangan sedih,” hibur Aqilla yang sedari tadi diam menyimak obrolan aku dan Mama Bella.


Aku memaksakan senyum kemudian menyibukkan diri dengan bunga-bunga.


***


Di ruang lain Daffan masih sibuk memperhatikan kecantikan istrinya yang terlihat jelas di foto. Dia tersenyum sendiri mengingat segala tingkah istrinya yang dia rindukan.


“Jen ke ruangan saya,” perintahnya di telepon.


Jeni segera masuk ke ruangan.


“Bapak memanggil saya,”


“Tolong kosongkan jadwalku tiga jam ke depan, aku ada urusan,”


“Baik, Pak,” ucap Jeni kemudian bergegas ke luar ruangan.


Daffan menyambar jas yang berada di sofa ruang kerjanya, kemudian dia melangkah pergi.


Dia membawa mobilnya melewati jalanan macet yang memperlihatkan mobil-mobil saling berjajar di lampu merah.


“Ada yang bisa di bantu,” ucapku ramah ketika pemilik mobil turun.


“Daffan,”


“Kau disini?” ujarnya tak kalah kaget.


“Iya, ini toko bungaku,”


“Oh, ya sudah saya pesan bunga lily,”


“Baik akan di siapkan,” balasku tersenyum kemudian berlalu merangkai bunga lily.


“Karangan bunganya sudah jadi,” ucapku dengan memberikan pesanannya.


Dia menerima bunga dari tanganku lalu menyerahkan beberapa lembar merah.


“Terimakasih,” ucapku tanpa berani bertanya.


Sebenarnya aku penasaran alasannya membeli bunga, apa dia sudah memiliki pengganti istrinya. Lelaki memang cepat berpaling.


Daffan menghentikan mobilnya di depan pemakaman mewah yang berada cukup jauh dari kantornya, dia turun membawa bunga lily kesukaan istrinya.


“Apa kabarmu sayang, aku membawa bunga kesukaanmu,” ucapnya di atas kuburan Alya.


“Sayang di rumah kita ada gadis yang adikmu bawa, aku berpikir adikmu mulai jatuh cinta, apa kau bahagia?”


Dia mengusap-usap nisan yang bertuliskan nama Alya Lusiana, menatapnya dengan penuh kerinduan.


“Sayang sikap gadis itu mirip denganmu,” lanjutnya sambil mengingat istrinya.


Setengah jam lamanya Daffan berbicara dengan makam istrinya, seolah-olah dia sedang mengobrol bersama Alya.


Daffan sangat mencintai Alya, dia selalu mengingat setiap detail hari yang di lewati saat mereka bersama.


.


.


.


Hai readers, jangan lupa like dan komentarnya. Terimakasih 😘

__ADS_1


__ADS_2