Tidak Ada Judul

Tidak Ada Judul
Keluar dari Rumah Sakit


__ADS_3

“Aqilla,” panggilku saat sampai di toko bunga dengan wajah sendu.


Gadis cantik dengan mata sipit menoleh. Dia sedang sibuk merangkai buket bunga mawar ketika aku datang, katanya itu pesanan seorang Presdir untuk calon istrinya.


“Eh, kamu udah ke toko,” sahutnya setelah menyelesaikan buket mawar.


“Aqilla,” ulangku.


Gadis berlesung pipi itu mengernyit heran, “Kenapa manggil terus, sekalian aja sebut tiga kali,”


“Memang kamu jaelangkung,” sanggahku.


Dahi Aqilla berkerut saat ia berpikir, “Kayaknya yang di sebut tiga kali jin bukan jaelangkung,”


Aku melongo mendengar jawabannya. Aku kira dia akan sedikit lebih logis daripada membahas persoalan jin atau jaelangkung.


“Terserah lah,” ucapku, “Arul kemana?”


“Ngambil bunga matahari di distributor,” sahutnya, “Eh, gimana Ella,”


“Baik, kamu tidak ingin jenguk,”


“Pengen sih jenguk, tapi masih sakit hati jadi aku nanya aja sama Arul sama nitip buah,” balasnya enteng.


Sekarang aku harus mencerna arah pembicaraannya, ia sakit hati. Bahkan aku tidak tau apa persoalan dia dengan Ella. Gadis itu sibuk mengambil bunga segar ketika aku mengamati.


“Sakit hati kenapa?”


“Lah kamu ini lupa,” responnya setalah meletakkan puluhan tangkai mawar.


Aku mulai memutar otak, barangkali aku meninggalkan hal penting perihal sahabatku dan Ella. Alih-alih mendapat jawaban, aku semakin bingung.


“Kamu ada masalah dengan Ella?” ucapku seraya mencondongkan wajah.


Gadis itu balik menatapku lekat, “Bukan aku tapi kamu,”


“Hah?” ucapku dengan muka cengo.


Masih tidak habis pikir ternyata otaknya setumpul itu, untung saja wajahnya cantik mirip artis Thailand bernama Nattasha Nauljam. Ia memiliki mata sipit dengan hidung mungil dipadu bibir tipis warna merah jambu. Wajah tirusnya memamerkan lesung pipi ketika tersenyum, seperti Brian.


“Bantuin,” pintanya meletakkan berbagai macam bunga untuk membuat papan bunga ucapan wedding.


“Siapa yang menikah,” tanyaku ketika mulai merangkai.


“Orang,”


“Siapa bilang kucing,” sungutku kesal.


Aqilla nyengir, “Ya habis nanya siapa, mana aku tau,”


“Apasih yang kamu tau,” sindirku.


“Bunga,” Jawabnya dengan tersenyum riang.


Aku mengernyit heran, “Selain bunga,”


“Cogan,” kekehnya.


Dahiku berkerut mendengar istilah ala Aqilla, “Cogan?”


“Cowok ganteng,”

__ADS_1


“Arul maksudnya?” godaku seraya memilih mawar.


Aqilla bergidik ngeri, “Dih, Arul dedemit,”


“Mana ada dedemit seganteng itu, dia itu banyak penggemar,”


“Aku sih ogah,”


Aku terkekeh geli melihat responnya, ia masih enggan menerima Arul padahal laki-laki itu tampan, kaya dan nyaris sempurna. Dasarnya Aqilla yang jual mahal.


“Eh, ada masalah apa kayaknya di jidatmu ada tulisan pengin curhat?” lanjut setelah menyelesaikan papan bunga ucapan wedding yang siap di antar Arul menggunakan pick up setelah dia pulang.


Aku melongo melihatnya yang bertindak layaknya peramal.


“Sok tau,”


“Ya udah,”


“Iya deh mau curhat, bentar lagi Brian nikah sama Ella,” jelasku.


Aqilla geleng-geleng kepala seraya mengamati wajahku.


“Benar-benar menang dia,”


“Aku tidak berkompetisi,” protesku.


Gadis itu berpikir keras kemudian kedua mata sipitnya berbinar, “Aku ada ide,”


“Idemu selalu buruk karena otakmu setengah,”


Aqilla merengut kemudian mengerucutkan bibirnya, “ Serius nih,”


“Akui saja Delon sebagai pacar, secara dia tampan dan kaya pasti Brian akan merasa kalah,” jelasnya.


“Males lah,”


“Emang mau merasa Brian menang nyakitin gitu, kalau aku sih ogah,” jawab Aqilla dengan bibir tipisnya.


Aku memikirkan ulang, “Delon dingin, andai saja Daffan,”


“Hus..Daffan bagianku,” Aqilla melempar setangkai mawar ke arahku.


“Emang dia mau sama kamu,” godaku.


Aqilla merengut dan semakin menggemaskan di wajah imutnya, “Aku kan cantik,”


Aku tergelak pelan, “Cantik sih iya, tapi sayang otaknya setengah,”


“Sama sahabat gitu,”


“Udah sama Arul aja,” godaku dengan memainkan tangkai mawar.


“Dih Arul kan playboy, ogah,”


Mataku menyipit heran, “Suudzan kamu,”


“Orang benar, kemarin saja dia godain cewek di supermarket pas nggak sengaja kepergok,” jelasnya dengan wajah kesal.


“Bisa aja itu saudaranya,”


“Kamu selalu membela dia,” celetuknya manyun seraya bangkit menata ulang bunga-bunga di depan.

__ADS_1


***


Brian membantu Ella masuk ke dalam mobil. Hari ini dia sudah keluar dari rumah sakit di jemput Brian. Mama dan Papa di mobil belakang mengikuti Brian.


“Hati-hati, Brian,” ucap Mama Bella sebelum masuk ke mobil Papa.


Brian mengangguk dan masuk ke mobil. Bibir Ella terus membentuk senyuman, sedangkan Papa Niko lebih banyak diam.


Mobilnya menjauhi gedung rumah sakit di ikuti mobil Papa Niko di belakang. Mereka menyusuri jalanan yang cukup macet dengan suara bising mobil-mobil, cuaca di luar cukup panas karena matahari sedang terik-teriknya.


Ella melirik Brian yang masih fokus menyetir, ia mengagumi ketampanan calon suaminya. Sementara Brian tidak menoleh sedikitpun.


“Brian, terimakasih,” ucap Ella.


Brian hanya melirik sekilas, “Hm,”


Perempuan itu menghela napas berat, “Kamu nggak ikhlas, ya?”


“Bukan seperti itu, tapi lagi fokus nyetir takut bikin kamu celaka,” balas Brian dengan menoleh sekilas ke arah perempuan cantik di sebelahnya.


Ella mendengus kesal dan memilih bungkam sementara Brian menghembuskan napas kasar.


“Jangan ngambek,” pinta Brian.


Ella masih cemberut dan menganggap Brian terpaksa menjemputnya. Sementara di mobil lain Mama Bella terus bercerita banyak seputar rencana pernikahan anaknya mulai dari gaun yang di pakai, catering, tema untuk dekorasi serta perintilannya. Sebaliknya, Papa Niko hanya menanggapi sekilas tanpa tertarik dengan topik Mama Bella.


“Papa nggak semangat gitu sama pernikahan anaknya,” protes Mama.


Papa Niko menghela napas panjang, “Bukan gitu, Ma. Tapi kan semua di urus wedding organizer dan kita terima beres,”


“Tapi, Pa. Kita harus ikut andil agar hasilnya terbaik, Mama nggak mau kalau gaun nggak sesuai atau makanan rasanya kurang pas dan dekorasi tidak menarik,” jelas Mama panjang lebar.


Papa Niko melirik ke arah istrinya yang masih tetap cantik di usia kepala empat. Sementara Mama terlihat kesal.


“Iya nanti kita pikirin, lalu Olivia?”


Sontak Mama Bella terkesiap, ia lupa memiliki putri selain Ella.


“Papa, apa kita jahat sama Oliv,” sesal Mama.


“Sepertinya begitu, tapi mau gimana lagi,”


Mama Bella menunduk, “Aku terlalu bahagia Ella sadar hingga melupakan luka di hati putri pertamaku,”


“Sudah, Ma. Kita doakan saja anak-anak kita,”


“Apa menurut Papa, Olivia masih mencintai Brian?”


Papa Niko mengangkat bahu seraya fokus ke jalanan, “Entahlah,”


“Semoga dia berbesar hati merelakan Brian sepenuhnya karena cuma Brian semangat untuk Ella,” jawab Mama Bella seraya mendengarkan alunan lagu Marry Your Daughter di tip mobil dengan volume kecil.


Papa Niko hanya tersenyum tidak bisa memihak salah satu kebahagiaan putrinya, karena dulu Brian juga kebahagiaan putri pertamanya. Sedangkan Mama tampak lebih tenang di sebelah Papa.


Mobil Brian berhenti di depan halaman rumah megah dengan polesan cat putih tulang. Dia turun membantu Ella. Mama Bella juga turun di ikuti Papa yang keluar dari mobil belakang.


“Pelan-pelan sayang,” ucap Mama menuntun Ella sedangkan Brian di belakang membawa tas berisi baju Ella selama di rumah sakit.


Sampai di kamar, Ella berbaring di ranjang kemudian Brian pamit pulang.


“Jangan pergi,” cegah Ella.

__ADS_1


__ADS_2