
Tangan Arhan masih sibuk mengetik laporan di laptop, yang harus selesai hari ini. Karena besok ia harus memberikannya langsung pada Direktur operasional. Perintah itu diberikan secara mendadak setelah Sekretaris direktur datang padanya untuk meminta laporan tersebut tadi siang.
Laporan itu belum rampung. Karena sebelumnya ia diberitahu bahwa ia bisa mengerjakannya dalam waktu tiga hari. Seharusnya ia bisa menyerahkannya lusa. Tapi, tiba-tiba terjadi perubahan rencana. Karena katanya laporan itu akan dibutuhkan saat rapat besok.
Dan di luar sana, sore sepertinya akan segera usai. Langit yang tadinya terang mulai kehilangan cahayanya. Matahari pun hampir tertelan di balik awan.
Lerry, asisten pribadi Arhan, masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu. Bukannya tidak sopan, tapi Lerry melakukannya atas suruhan Arhan. Untuk keluar masuk ruangannya, Lerry tak perlu izinnya dulu.
Karena bagi Arhan, pria cukup jangkung yang punya sifat tenang itu adalah orang yang bisa dipercayai. Ia sudah setia berada di sisi Arhan sejak ia pindah ke kediaman Ayahnya. Sekitar tujuh tahun lalu. Selepas ia lulus SMA.
“Tuan, masih belum selesai?” tanya Lerry, sembari berjalan mendekat ke meja kerja Arhan. “Biar saya saja yang mengerjakan sisanya. Tuan pulang duluan saja,” saran Lerry yang merasa iba pada Arhan yang kelihatan sungguh-sungguh bekerja kali ini. Biasanya ia akan mengeluh jika pekerjaan yang diberikan padanya bertambah.
“Sebentar lagi juga selesai. Direktur Prass pasti akan tahu kalau bukan aku yang mengerjakan laporannya. Dia adalah orang yang sangat teliti dan sangat mengenal bawahannya dengan baik. Tidak heran jika ia menjadi pendukung setia Ayah yang selalu dipercaya,” ujar Arhan, yang tetap memusatkan perhatiannya pada layar laptop. Dan jari-jarinya bak sedang menari-nari lincah di atas huruf-huruf keyboard.
Sebelum jarum jam pendek berhenti tepat di angka lima, Arhan akhirnya menyelesaikan laporan. Sisa pekerjaan lainnya ia berikan pada Lerry.
Semisal, merapikan dokumen, membereskan segala jenis barang yang ada di meja juga mematikan laptop, dan mengambilnya untuk dibawa pulang. Laporan itu akan diperiksa oleh Lerry, diperbaiki jika terdapat kesalahan kecil lalu mencetaknya.
Jas yang tergantung di tiang gantungan di sebelah meja segera diraih Arhan dan memakainya cepat.
“Ayo, Lerry!” ajak Arhan yang melihat Lerry hampir selesai merapikan barang-barang di meja.
Begitu semuanya sudah tertata dengan benar, Lerry pun mengambil langkah, mengikuti Arhan yang lebih dulu melangkah.
Lerry yang cekatan meraih handle pintu. Tapi, seseorang dari luar malah lebih dulu berhasil mendorong pintunya. Dan muncullah seiring daun pintu yang melebar, seorang wanita yang tingginya rata-rata dan rambut tergerai menyamping, masuk ke dalam ruangan.
Lerry agak terlonjak kaget melihat wanita bergaun tanpa lengan warna biru laut seenaknya membuka pintu. Seberanikah wanita ini, yang tidak diketahui siapa, memasuki ruangan Arhan tanpa mengetuk pintu? Apa dia tidak sayang dengan nyawanya?
Arhan yang juga terkejut menatap heran dan penuh kekesalan, ke arah wanita yang berdandan habis-habisan itu.
“Kamu siapa datang ke ruanganku?” tanya Arhan sangat ketus.
Wanita itu tersenyum, sambil memajukan langkahnya, dan melewati Lerry, agar bisa lebih dekat pada Arhan.
__ADS_1
“Hai, Arhan. Aku Vanilla,” timpalnya dengan suara yang dibuat seksi.
“Apa?” Arhan mengernyit. “Vanilla es krim maksudmu?” lanjut Arhan, bukan bercanda. Dia sangat serius mengucapkannya. “Keluar dari ruanganku!” suruh Arhan, marah. Ia membelalak.
“Oh, kamu ingin mengajakku pulang bersamamu?” Wanita ini sepertinya daya tangkapnya sangat rendah. Atau saking terlalu percaya diri, dia malah tampak bodoh.
“Lerry, seret wanita gila ini keluar!” Arhan memerintahkan Lerry untuk membawa pergi wanita menjengkelkan itu sejauh-jauhnya dari pandangannya. Karena wanita itu sangat merusak penglihatan Arhan.
Tanpa banyak tanya, Lerry menarik lengan perempuan sembrono itu untuk keluar ruangan.
Wanita itu meronta, tak terima diusir paksa.
“Hey, lepaskan aku! Ayahku tidak akan suka kalau tahu putrinya diperlakukan seperti ini,” teriak wanita itu saat menahan tubuhnya agar tak tertarik Lerry.
“Biarkan saja dia. Kita yang pergi. Tinggalkan dia di ruangan ini. Dan jangan lupa kunci pintunya,” seru Arhan serius. Ia berjalan tanpa ragu, melewati pintu yang ternganga.
Lerry melepaskan tangannya dari lengan wanita itu. Ia pun buru-buru keluar dan berniat untuk menutup pintu dan mengunci perempuan itu.
Secepat kilat wanita aneh itu menahan pintu dan bergerak ke celah pintu yang masih terbuka, untuk keluar.
“Sudah kubilang. Kalau kamu berani bersikap kasar padaku, akan ku adukan pada Ayahku,” ancam wanita itu.
Lerry membisu. Ia tak berani melakukan apa-apa lagi pada wanita itu. Jika yang dikatakan wanita itu benar, pasti Ayahnya adalah orang yang berkedudukan tinggi.
“Kunci pintunya, Lerry! Abaikan saja wanita gila itu,” sergah Arhan yang sudah berjalan beberapa meter di depan, setengah berteriak.
“Arhan, aku bukan wanita gila,” ucap wanita itu dengan suaranya yang dipaksakan manja. Ia tanpa malu menghampiri Arhan.
Dan Arhan yang jijik, seketika mundur. Saat ini ia seakan melihat seekor kecoa yang sedang terbang ke arahnya.
“Arhan, ini aku Vanilla. Aku putrinya Direktur Prass,” ucapnya menjelaskan perihal jati dirinya.
“Lerry, ayo kita pergi dari sini!” Arhan memerintah setelah melihat Lerry telah mengunci pintu. “Lama-lama wanita ini seperti serangga penggangu. Dia pikir aku takut dengan Ayahnya,” imbuhnya bergumam pelan, lalu pergi segera dari hadapan wanita itu.
__ADS_1
Lerry pun dengan langkah panjangnya menyusul Arhan.
Tak mau ditinggalkan di koridor yang sunyi, wanita itu memaksakan diri setengah berlari dengan menggunakan sepatu hak tingginya.
“Arhan, tunggu!” panggil Vanilla tanpa berteriak kencang. Ia agak kesulitan untuk menggapai Arhan yang semakin berjalan menjauh menuju pintu lift.
Saking tak mau menunggu hingga lift turun di lantai dia berada, Arhan terus menekan tombol bergambar anak panah ke bawah itu berkali-kali. Bisa gawat kalau wanita gila itu datang ke sini sebelum lift terbuka.
Benar saja, wanita itu walau kesusahan berjalan akhirnya sampai di depan lift, dan tentu di dekat Arhan juga.
“Kenapa kamu malah meninggalkanku?” tanya wanita itu yang sedang terengah mengambil oksigen.
“Karena kekasihku tersayang akan marah kalau aku membuatnya menunggu,” jawab Arhan asal tapi dengan mimik wajah tegas.
Wanita itu syok berat. Tidak mungkin Arhan sudah punya pujaan hati. Setahu dia, Arhan adalah pria dingin yang tak pernah dekat dengan wanita mana pun. Makanya, dia berani mencari kesempatan untuk mendekatinya.
“Kamu bohong kan?” Wanita itu bertanya pesimis.
“Buat apa aku bohong. Kalau kamu tidak percaya aku akan meneleponnya sekarang,” timpal Arhan yang coba menggertaknya sekali lagi.
Tapi bukannya menyerah, Vanilla malah menunggu sungguhan Arhan menelepon kekasih yang ia maksud.
Arhan terperangah. Ia bingung. Siapa wanita yang harus ia telepon saat ini? Salah satu karyawan wanita dalam timnya? Tidak mungkin! Karyawan wanita itu pasti akan kegirangan jika Arhan menelepon salah satu dari mereka.
Arhan melirik Lerry. Berharap asistennya bisa mencari jalan keluar untuk membuat Vanilla sadar diri dan pergi. Tetapi, Lerry juga sama bingungnya. Ia tak mau mengambil tindakan berisiko setelah tahu siapa Vanilla.
“Benar kan kamu bohong?” Vanilla yakin Arhan hanya mengelabuinya.
“Aku tidak bohong.” Arhan merogoh ponsel dari saku kemejanya, dan mencari-cari nama perempuan di daftar kontaknya untuk ia telepon.
Vanilla si serangga pengganggu tak bisa dibasmi dengan mudah. Lebih-lebih dia memanfaatkan nama Ayahnya. Jadi, Arhan harus pintar mencari siasat untuk membodohi Vanilla yang terlihat memang sudah bebal otaknya.
Sebuah nama terbaca dengan jelas oleh Arhan ketika jarinya berhenti di nama 'Gadis kucing liar'. Dan Arhan pun menyeringai lega.
__ADS_1
Ia pun memanggil Alessya dan menaruh smartphone ramping itu di daun telinganya. Ia pun harap-harap cemas dengan disergap gugup.
Lerry mencermati Arhan dengan rasa ingin tahu yang besar, siapakah yang sedang ditelepon Arhan. Ia sangat tahu Arhan sama sekali tak punya kekasih. Sedangkan Vanilla cemberut mengamati. Walau kesal, ia tetap menunggu dan memperhatikan Arhan yang berusaha menelepon seseorang.