
Pintu sedikit terbuka, aku bisa mendengar suara seseorang. Lalu aku mengintipnya, karena penasaran. lelaki itu terus menyebut nama Alya.
Suara terdengar lagi, aku nekad masuk. Di dalam ia terbaring memeluk foto perempuan dan terus melafalkan nama Alya. Di kamar lain Delon sudah terlelap sementara ada beberapa pelayan yang masih terjaga.
“Maaf,” Aku menyentuh keningnya, panas. Aku pikir ia demam
Aku melongok keluar dan kebetulan ada pelayan yang lewat, ia mendekat dan aku meminta air kompres. Tidak berselang lama ia membawa baskom dan Paracetamol.
Aku memeras handuk kecil lalu menaruhnya di atas kening. Ia masih mengigau, dengan badan menggigil.
Pikiranku terbesit Delon, aku segera berdiri meminta Delon memanggil dokter. Namun Ia menahan lenganku, dan aku kembali duduk.
“Jangan pergi, Alya,” cegahnya.
Terpaksa aku berbalik mendekat ke arahnya, sontak aku kaget ketika ia mendekap erat badanku. Aku melepasnya namun tangannya semakin erat melingkar. aku kalah, dan menyerah.
“Jangan tinggalkan aku, Alya,” ucapnya. Ia tak sadar, namun tubuhku masih menempel dengannya.
Tak lama ia mulai tenang, pelukannya mengendur dan aku melepaskan diri. Aku mengecek suhunya sudah membaik. Sementara aku masih duduk di sebelahnya hingga tertidur.
Dia sadar, mengerjapkan mata dan mengambil handuk kecil di atas keningnya. Sekilas melirik ke sebelah dan mendapati aku terlelap di sampingnya.
“Kau merawatku,” bisiknya pelan. Aku tak mendengar dan masih terlelap.
Pagi hari aku bangun di atas ranjang. tidak mengingat apapun kecuali dua hal. Pertama, aku merawatnya dan kedua aku tertidur.
“Mengapa aku ada di sini?” gumamku.
Aku menutup tubuh dengan selimut. Sedangkan di depan cermin seorang pria mengenakan dasinya.
“Kau yang memindahkan aku ke ranjang?” tanyaku penasaran.
Pria itu menoleh dan mengangguk.
Apa? aku segera mengintip tubuhku di balik selimut. bajuku lengkap dan tidak ada tanda-tanda terbuka. Aku menarik nafas lega.
“Apa yang kau pikirkan?" ucapnya sambil tersenyum simpul.
“Ah..itu..tidak,” jawabku gugup.
“Aku tidur di sofa,” ujarnya. Aku menghela nafas panjang.
Pria itu sudah rapi dengan jas abu-abu juga kemeja putih di dalamnya, ia mengenakan dasi polos dengan warna gelap. Di tangannya menenteng tas hitam.
“Kau mau pergi ke kantor?” tanyaku memastikan, “Bukannya kau masih sakit?”
“Aku sudah baikan, terimakasih sudah merawatku,"
“Syukurlah,” Aku sedikit gugup dan salah tingkah.
Memilih bangkit dari ranjang, menyibak selimut dan berjalan ke arah kamar. otakku masih mengolah pikiran kejadian semalam. Tidak sengaja berpapasan dengan Delon.
“Delon,” panggilku.
Dia menoleh ke arahku, "Kau darimana,”
Aku menggigit bibir bawahku sambil berpikir jawaban yang tepat, tidak mungkin mengatakan telah bermalam dengan iparnya.
__ADS_1
“Jalan-jalan,” jawabku asal.
“Kau selalu hobi jalan-jalan di dalam rumah,” Delon menggelengkan kepala. Aku hanya nyengir menanggapinya sembari memamerkan deretan gigi putih yang selalu aku rawat.
“Belum mandi,” ucapnya meneliti penampilanku.
“Belum,” balasku sambil menggelengkan kepala.
“Ya sudah sarapan dulu,” ajaknya kemudian berjalan ke arah meja makan, aku hanya mengekor.
“Delon,”
“hm,”
“Memang Alya tidak pulang, dia kemana?” ucapku yang sudah sejajar dengan langkahnya.
Delon berhenti, dia terdiam dan raut wajahnya berubah.
“Mengapa bertanya hal itu,”
“Aku penasaran, aku melihat suaminya tapi belum melihat Alya,”
“Kau sudah bertemu Daffan?”
Aku mengangguk pelan, “Lalu Alya?”
Delon menarik nafas berat, lalu mengamati wajahku, “ Dia sudah tidak ada,”
“Maksudmu,” teriakku sambil membekap mulutku dengan tangan.
“Maaf,” Aku menyesal bertanya hal ini sekarang, Delon pasti sedih. Pantas saja Daffan semalam seperti orang yang sangat merindukan Alya. Kelihatannya dia sangat mencintai istrinya.
“Tidak apa-apa,” jawabnya sambil menarik bangku di meja makan, kami sudah berada di meja.
Aku mengambil posisi duduk di sebelahnya, di meja hanya tersedia roti tawar dengan selai aneka macam. Tak lupa buah-buahan segar dan jus mangga. Daffan masih di kamar sementara pelayan menghambur dengan tugasnya.
“Kau hanya sarapan ini?”
“Iya,” jawabnya yang sibuk mengoleskan selai kacang di atas rotinya.
Ini bukan sarapan wajibku, berbeda dengan mama Bella yang mewajibkan menu nasi.
“Kau tidak biasa sarapan roti?”
“Kadang sih, tapi jarang,” balasku hendak mengambil roti di atas meja.
“Tidak usah di paksakan, kau bisa meminta pelayan memasak seleramu,” jawabnya dengan memanggil salah satu pelayan wanita yang berada di belakang.
“Iya tuan,”
“Masakkan makanan lengkap,”
“Eh jangan,” potongku kemudian, “Cukup nasi goreng saja,”
Menurutku nasi goreng paling mudah di buat dan tidak memakan waktu lama, tidak membayangkan mereka harus memasak menu selengkap restoran seperti kemarin.
“Baik tuan,” ucapnya langsung berhambur menuju dapur.
__ADS_1
Tak berselang lama pesananku datang, aku segera mengambilnya dan mencicipinya perlahan.
“Enak sekali,” ceplosku tanpa sadar, rasanya bukan seperti nasi goreng biasa.
“Kau suka,” tanyanya memastikan.
Aku mengangguk dan masih menikmati nasi goreng di piring sambil menusukkan garpu ke sosis dengan semangat.
Daffam turun, ia duduk di depanku sementara Delon masih menikmati rotinya di sebelahku. Daffan mengambil selembar roti dan mengoleskan selai nanas di atasnya.
“Fan,” panggil Delon tanpa melihat ke arah yang dia panggil.
“Hm,”
“Olivia akan tinggal sementara di sini, kau tidak keberatan?”
“Dia kekasihmu,” balasnya dengan menatap ke depan.
“Bukan,”
“Oh sorry, soalnya baru kali ini kau membawa perempuan padahal aku berharap kau segera memikirkan pernikahan,”
“Belum waktunya,” balasnya singkat lalu berdiri hendak berangkat duluan.
“Aku berangkat dulu,” pamitnya kemudian.
“Baik, hati-hati,” balas Daffan sambil menggigit ujung roti tawar di tangannya.
Aku hanya menyimak pembicaraan mereka. Di bagasi Delon mengeluarkan mobil, di meja makan tinggal aku berdua dengan Daffan
“Kenapa,” tanyanya melihatku melamun.
“Tidak,”
“Kau suka Delon, dia memang kaku terhadap perempuan tapi dia baik,” balasnya membanggakan Delon.
Aku hanya tersenyum getir, “Aku baru mengenalnya,”
“Oh maaf, saya kira sudah lama,”
balasnya sambil menggigit sisa roti di tangannya.
Selesai makan aku berdiri, berniat ke dapur. Namun pelayan mencegahnya di dukung Daffan, aku merasa tidak enak hanya menumpang.
"Jangan sungkan," ucapnya lebih bersahabat.
Dadaku bergemuruh, ia tersenyum. Ingatan aroma parfum di tubuhnya masih terekam jelas.
“Ada yang aneh?" Ia melambaikan tangan di depan wajahku.
“Ehm..tidak,” jawabku gugup, jariku meremas ujung dress, “Aku akan pergi ke kamar,”
“Hati-hati,” balasnya dengan tersenyum kecil.
Aku menyentuh dadaku. Rasanya jantungku sudah melompat-lompat. ah, tidak mungkin aku menyukainya.
Pintu kamar tertutup dan aku menatap damba pada bantal kesayangan. Ingin membenamkan wajahku ke bantal karena malu. Aku menyibak tirai, melirik orang yang masuk ke mobil di halaman. Ia akan berangkat ke kantor.
__ADS_1