
“Bagaimana keadaan Ella,” tanya mama Bella panik.
Di sebelahnya ada papa Niko dengan wajah cemas, ia melirik ruang IGD yang belum terbuka. Terlihat juga keringat di kening yang manandakan mereka jalan dengan terburu-buru juga nafas yang naik turun.
“Belum tau,” jawabku lirih. Aku menunduk, merasa tak punya muka di hadapan mereka. Aku egois.
Mama Bella cemas, dari tadi ia mondar-mandir di depan ruangan. Brian duduk dengan muka tegang, Arul menenangkan aku dengan menepuk-nepuk bahu. Dan Papa Niko nampak marah.
Papa Niko menghunuskan tatapan kurang suka ke arah Brian, “Apa yang kau perbuat dengan putriku?”
“Maaf Om saya tidak ada niat membuat Ella celaka,”
“Pah!” teriak mama Bella, ia menangis.
Terdengar helaan nafas panjang, papa mulai meredam amarahnya. Kemudian pintu IGD terbuka dan semuanya buru-buru memberondong dokter dengan segala macam pertanyaan.
“Bagaimana keadaannya?” tanya mama Bella.
“Bagimana kondisinya, Dok,” tanyaku.
“Lalu bayinya, Dok,” tanya papa.
Segala pertanyaan satu per satu terlontar hingga dokter kebingungan menjawab.
“Alhamdulillah ia berhasil melewati masa kritisnya,”
Semua bernafas lega.
“Lalu bayinya bagaimana?” tanyaku.
Dokter menarik nafas dalam, “Maaf bayinya tidak bisa di selamatkan,”
Deg!
Bagai di sambar petir di siang bolong, aku telah membuat calon ponakanku tiada. Andai aku bisa membujuk Brian dan mencegah Ella pergi dalam keadaaan emosi, semua akan baik-baik saja.
“Maafkan Olivia,” Aku memeluk mama Bella yang sudah terisak.
Papa Niko menatap Brian dengan amarah, “Puas kamu! Inikan yang kau harapkan,”
“Tidak, Om,” sesalnya.
Brian terduduk di lantai dengan tangannya menjambak rambutnya sendiri, ia merasa bodoh membunuh anaknya.
“Tenang, Om,” cegah Arul.
Aku mengambil ponsel di tas kecil, banyak notifikasi chat masuk. Aku membuka.
“Gimana Ella?” chat dari Aqilla.
“Sudah melewati masa krisis,”
“Syukurlah,”
“Titip toko bunga,”
“Sip,”
Ponsel kembali masuk ke dalam tas kecil. Aku mengikuti Brian, papa dan mama sudah di depan. Ella di pindahkan ke ruang perawatan kelas VVIP di lantai tiga.
Kami bertiga melewati lorong rumah sakit dengan aroma khas obat. Aku belok ke kanan, masuk ke kotak besi bersama Arul dan Brian. Arul menekan angka tiga di tombol lift.
Tring!
Pintu lift terbuka, aku segara keluar. Brian berjalan cepat. Kami sampai di ruang Bugenvil nomor tiga.
Ruangan luas dengan AC yang dingin, juga sofa putih di dalam ruangan dengan lantai keramik hijau bermotif salur. Di dinding tergantung lukisan klasik zaman dulu, entah apa namanya juga bunga plastik yang terpajang di beberapa bagian.
Mama Bella duduk terurai air mata dengan tangan menggenggam anaknya, papa duduk di sebelahnya. Dan Ella masih terpajam dengan selang infus yang terpasang.
“Ma,” Aku menyentuh bahunya, lalu ia menoleh.
__ADS_1
“Oliv,”
Papa Niko menatap tajam ke arah Brian, ia tidak menyukai kehadiran Brian.
“Pa, sabar,”
Terdengar helaan nafas panjang. Papa mengelus rambut putrinya yang terurai.
Aku bisa melihat bagaimana cinta mereka. Brian mundur duduk di sofa sedang aku berdiri di sebelah mama.
Mata Ella terbuka, samar ia melihat langit-langit di rumah sakit.
“Aku di mana?”
Semua berkumpul, berdiri di sebelah ranjang putih.
“Ella, kau sadar,” ucap mama dengan berbinar.
Ella menatap satu-satu orang di ruangan, “Aku kenapa?”
“Kamu kecelakaan,” kata Brian.
“Anakku bagaimana?”
Hening. Semua bungkam, ia menatap mama Bella.
Tap..tap
Suara langkah dokter dan perawat yang hendak memeriksa keadaan Ella. Kami beringsut mundur, menunggu penjelasan dokter.
“Dok,” sela mama Bella.
“Tidak apa-apa hanya perlu istirahat untuk pemulihan,” ucap dokter yang berjalan ke arah pintu di ikuti suster.
Ella masih menunggu jawaban, tangannya meraba perutnya yang rata.
“Ma,”
Mama Bella terisak dan papa Niko menarik nafas berat. Brian menatap Ella penuh penyesalan sedangkan aku dan Arul saling berpandangan.
“Kamu yang tenang,” bujuk papa.
Ella terisak, “Bagaimana anakku,”
“Di..a,” Brian terbata.
“Apa aku keguguran?”
Aku mengangguk, “kamu sabar,”
“Tidak!” Ella berteriak histeris dengan tangan memukul-mukul perut kemudian menjambak rambut.
“Tenang Ella,” ucap mama memeluknya.
Ella masih teriak-teriak.
“Harusnya aku mati!”
“Ella,” Brian mendekat.
“Pergi kau! Ini karena kamu!”
Dadaku nyeri, aku sesak. Arul menepuk pundakku. Dan aku menoleh.
Ella tetap berteriak histeris hingga dokter terpaksa menyuntikkan obat tidur.
Arul izin pulang, ia harus menemani Aqilla yang sendirian di toko bunga sedang Brian menunggu di luar karena Ella tidak ingin melihatnya.
Mama Bela masih terisak di sebelah ranjang Bella dan papa sudut matanya mulai basah di balik kacamata.
Aku merasa terluka dan mendekap mama Bella.
__ADS_1
“Maafkan Olivia,”
“Tidak sayang, ini bukan salahmu,” ucapnya dengan mengecup keningku.
Tanganku menyeka buliran yang dari tadi sudah tergelincir melewati pipi.
“Istirahat Oliv, kau lelah,” bujuk papa.
Aku menggeleng, “Aku akan tetap di sini,”
Papa melepas kacamatanya lalu menghapus sudut matanya yang basah, “Maafkan papa yang gagal mendidik Ella,”
“Pa,”
“Papa tau kamu terluka,”
Aku menghambur ke pelukan papa, laki-laki yang merawatku dari kecil dengan penuh cinta, “Oliv sayang papa,”
Papa mengusap lembut rambutku, “Kau akan pulang kan?”
“Oliv belum tau Pah,”
Aku melepaskan pelukan papa, menelan saliva. Bagaimana ini? Luka ini masih terekam jelas di setiap sudut rumah.
“Ya sudah jika kau perlu waktu,”
Aku mengangguk dan menarik sudut bibirku membentuk senyuman.
Beberapa jam berlalu Ella masih terpejam, aku bersandar di sofa putih sedang mama Bella masih duduk bercerita banyak tentang masa kecil Ella dan papa sesekali menenangkan istrinya yang terisak.
Aku melirik jam tangan kulit yang melingkar, pukul lima sore. Delon pasti cemas namun aku tidak memiliki kontak nomornya.
“Mama,”
Ella bangun, ia melihat mama Bella yang terurai air mata.
“Ella, kau bangun sayang?”
Aku mendekat, dan mama menawarkan makan namun Ella menolak dan air matanya terus menetes. Seketika tatapannya kosong.
“Jangan membuat mama cemas,” lirih mama Bella.
Aku menangis, adikku kehilangan semangat hidupnya. Ia hanya diam, menolak makan dan sesekali berteriak histeris dengan menjambak rambutnya sendiri.
“Ella,” papa menenangkan anaknya yang histeris.
“Anakku,” ia berkata pelan dengan tatapan kosong.
***
Delon cemas, ia melirik jam menunjukkan pukul tujuh malam. Daffan menyambar konci mobilnya.
“Mau kemana?” tanya Delon.
“Ke toko bunga Olivia,”
“Kau tau alamatnya?”
Daffan menganggukan kepala dan segera menuju garasi mobil, di belakang Delon mengikuti.
Selama perjalanan keduanya diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Jalanan masih ramai, mobil-mobil berjajar dengan lampu-lampu yang menyala di pinggir jalan.
Daffan melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata sedang Delon hanya diam. Ia membelokkan setir memilih jalan pintas melewati gang kecil yang menembus ke jalan utama. Tidak sampai satu jam mobilnya berhenti di depan toko bunga setelah melewati pertigaan.
Aqilla dan Arul sedang menutup toko bunga, beruntung mereka belum terlambat.
“Kemana Oliv?” tanya Delon.
“Di rumah sakit,” jawab Arul.
Mereka berdua melotot lebar, “Oliv sakit?” ucapnya kompak.
__ADS_1
Aqilla dan Arul saling berpandangan, “Bukan Oliv tapi adiknya,” kata Aqilla.
Daffan menanyakan nama rumah sakitnya kemudian buru-buru menuju rumah sakit bersama Delon.