
Delon sedang menunggu di ruang tengah setelah pelayan mengabarkan tamu di rumahnya pergi, Ia semakin cemas. Sedari tadi ia hanya mondar-mandir tidak jelas. Dan baru kali ini ia di buat pusing perihal wanita setelah kakaknya tiada.
Kemana dia pergi? Apa ia tidak betah? Berbagai pertanyaan berkecamuk di otaknya. Ia mulai takut kehilangan, ia sendiri tidak mengerti mengapa secemas ini.
Aku pulang dan berjalan santai melewati ruang tengah tanpa melihatnya gelisah.
“Kau habis kemana?” suaranya datar, ia pandai menyembunyikan kecemasan.
Aku menatapnya heran, “Menengok toko bunga,”
“Kenapa tidak izin?”
Hah. Kenapa izin? Sejak kapan ada aturan tertulis aku harus mengantongi izin darinya sebelum keluar rumah. Ia terlihat sedikit posesif. Apa otaknya terbentur?
“Kenapa diam?”
“Kenapa harus izin? Aku bukan adikmu, hanya tamu,” sanggahku.
Ia terlihat berpikir ulang. Sepertinya otaknya mulai sadar telah keliru.
“Tapi kau tinggal di sini, aturan harus di patuhi,”
“Tapi..”
“Jika merasa keberatan bisa keluar,” potongnya tanpa amarah, kalimat yang di ucapkan dengan nada datar cukup membuat nyaliku menciut. Lebih baik aku menurut, daripada kesulitan mencari tempat tinggal baru.
“Baiklah, aku akan izin lain kali,” balasku mengalah.
“Bagus,”
“Apa Daffan belum pulang?” tanyaku menyisir ruangan, mencari jejaknya. Ah..kenapa aku merindukannya.
Delon menaikkan sebelah alisnya yang tebal, ia mulai curiga, “Ada apa mencarinya?”
“Memang kenapa?”
“Kau menyukainya?” tebaknya. Aku sendiri tidak bisa menyimpulkan. Cinta? Mana mungkin secepat ini, lagian hatiku masih tertutup.
“Kau.. ini, asal saja bicara,” jawabku gelagapan dan sedikit gugup. Apa aku salting? Tidak mungkin aku menyukainya secepat ini, hatiku masih untuk Brian.ah.. kenapa selalu Brian.
“Baguslah,”
“Apanya yang bagus, jangan bilang kau cemburu,” godaku sambil terkekeh di buatnya. Mengapa aku bertanya hal bodoh? Cemburu, aku jadi ingin tertawa keras.
“Jangan besar kepala, aku hanya tidak ingin kau menyusahkannya,”
Cih! Siapa yang ingin menyusahkan dia, lagipula ia tidak sekaku Delon. Pasti ia tidak akan keberatan jika aku meminta bantuan.
“Oke, baiklah,” jawabku, “Aku akan mandi,”
Akhirnya aku berjalan ringan meninggalkan Delon, sekarang mulai hafal setiap sudut di rumahnya. Tidak sia-sia usaha kerasku untuk menghafalnya.
Delon hanya menyaksikan punggungku menjauh sambil menggelengkan kepala melihatku bersenandung kecil.
“Aa..aku lelah sekali,” lirihku setelah membuka handle pintu kamar.
Rasanya aku ingin berendam sebentar di bathtub dengan aroma lavender, hitung-hitung menjernihkan otak kembali.
Sekitar satu jam akhirnya aku keluar dengan handuk kimono pink yang membalut tubuh mungilku. Aku mulai memilah-milah akan memakai baju mana, semua yang ada dress. Aa..kenapa aku harus jadi wanita seutuhnya di sini, maksudku harus bergaya feminim dan anggun.
__ADS_1
Setelah penuh pertimbangan akhirnya aku memutuskan memakai dress putih sebatas lutut dengan renda unik sebagai pemanisnya. Aku mulai memoles sedikit make up natural di wajahku dan juga membiarkan rambutku terurai.
Cantik juga aku, Brian pasti akan menyesal melepasku. Tapi ia bahkan sudah memiliki pengganti secantik Ella, jika di sandingkan denganku. Ah..aku rasa aku tak kalah cantik, hanya saja ia lebih pintar mengatur penampilan. Lihat saja aku sekarang, rasanya telah sebanding dengannya.
Mengapa aku belum bisa ikhlas? Nyeri sekali rasanya, apalagi melihat Brian memohon. Ingin sekali aku membalas pepelukannya. Namun, bayangan menjijikkan ia dengan Ella terus melesat.
Cukup lama aku berdiri di depan cermin, memuji kecantikan sendiri. Siapa lagi yang akan memuji, apa aku masih berharap Brian dengan segala pujian yang membuatku meleleh. Dia benar-benar jago dalam sandiwara. Aku tidak habis pikir bisa ia bodohi sejauh ini. Aa..aku ingin teriak sekerasnya.
Aku turun ke meja makan, di sana sudah ada si dingin Delon yang sedang menyuapkan nasi ke mulutnya.
“Hai Delon,” sapaku hangat, aku duduk di posisi sebelahnya.
Ia hanya menatapku sekilas, lalu kembali melanjutkan makannya.
Sementara Daffan baru turun dengan kaos putih polos membalut tubuh atletisnya. Keren sekali hingga aku tidak berkedip melihatnya.
“Hai,” sapanya lalu duduk persis di depanku dan mengacaukan pikiranku.
Aku mengamati bibir sexy yang sedang mengigit kepiting. Seketika setan bertanduk merah membisikkan pikiran kotor, untung saja datang peri baik hati mengingatkan. Entahlah apa yang sedang berkeliaran di otakku.
“Kau tidak selera makan,” tanyanya. Ia melihatku yang hanya memainkan garpu di atas piring.
“Ah..tidak..eh maksudku selera,” balasku gugup, mengapa aku jadi sebodoh ini jika Daffan bertanya.
Delon menoleh, “Biasanya kau rakus, makanlah yang banyak agar kau cepat besar,” ucapnya. Entahlah ini semacam ejekan atau bentuk perhatian seorang Delon.
Mataku masih fokus pada ciptaan Tuhan yang sempurna di depanku, ia semakin menggoda setelah tersenyum kecil. Mengapa seluruh yang ada padanya begitu menggoda? Meskipun semua bekas Alya, aku rela menerimanya.
“Kau tidak makan? Makanlah, mereka akan menangis jika hanya kau pandangi,” ucapnya sambil menaruh ayam goreng ke atas piring. Aku pasti akan menghabiskan dengan senang hati, jika perlu sekalian tulang-tulangnya.
Kali ini aku melanjutkan makan dengan anggun di depannya. Aku tidak ingin terlihat rakus seperti saat hanya bersama Delon.
“Kau mau ikut?” ajaknya.
“Kemana?”
“Cari angin keluar,” balasnya datar.
Aku mulai curiga, mungkin otaknya terbentur atau ia mulai mempertimbangkan saranku untuk menikmati hidup. Baiklah sebagai tahap awal aku dengan senang hati membantunya keluar dari zona es.
“Tunggu sebentar lagi,” pintaku menyelesaikan suapan terakhir lalu meneguk air putih hingga tandas.
Aku bangkit dan berdiri di belakangnya.
“Olivia,”
“Ah...iya,” aku menoleh.
“Kau cantik dengan dress itu,” pujinya. Seketika wajahku merona mendengar Daffan memujiku. Eh aku bahkan tak sadar jika warna yang ia kenakan sama denganku. Ah seperti couple saja.
“Cepat,” perintah Delon.
“Iya sabar,” jawabku yang langsung berjalan cepat agar tidak tertinggal.
Kami masuk ke mobil putih miliknya lalu ia membawanya pergi ke pasar malam yang tak jauh, sekitar lima belas menit.
Ia turun dan berjalan menembus keramaian. Aku semakin bingung benturan sekeras apa yang membuatnya berubah segila ini dan ia ke pasar malam. Apa ia tak salah memilih tempat, aku rasa tempat kelas menengah ini bukan seleranya.
“Aku sering kesini dulu,”
__ADS_1
Hah. Aku boleh pingsan? Bagiamana tidak terkejut, ia bilang sering ke pasar malam.
“Kau yakin? Untuk apa?”
Aku melihatnya tersenyum, sikap dinginnya seketika menghangat.
“Alya sangat suka memaksaku kesini,”
“Alya?” tanyaku.
Ia mengangguk, ternyata ia adik yang sangat penyayang. Foto yang pernah aku lihat di ruang kerjanya pun bersama Alya, ia sangat mencintai sosok kakaknya.
“Kau rindu?” tanyaku. Aku tidak keberatan jika ia akan menunjukkan sisi lemahnya.
“Iya, Alya sangat suka memakan kembang gula,”
“Bagaimana jika kita membelinya,” usulku kemudian menariknya ke Abang penjual kembang gula.
Aku mengambil dua, satu untukku dan satunya tentu buat Delon. Lalu ia membayarnya.
“Hm..enak sekali,” ucapku sambil menyuapkan kembang gula ke mulut.
“Kau tidak makan,” tanyaku.
Delon menggeleng, “Aku tidak suka manis,”
“Aish.. tidak asyik sekali,” balasku. Aku punya ide untuk memaksanya membuka mulut.
Hup!
Kembang gula berhasil masuk ke mulutnya. Aku terkekeh dan memaksanya menikmati.
“Apa ini ada setiap hari?” tanyaku.
“Tidak, hanya beberapa bulan sekali,”
“oh gitu,” Aku manggut-manggut sambil menelan kembang gula yang tersisa sedikit. Bahkan aku menghabiskan dua sekaligus, ini kesukaanku. Sering sekali aku merajuk Brian untuk mencarinya.
“Kau kenapa menatapku seperti itu?” tanyaku heran melihatnya menatapku dengan aneh.
“Kau sangat mirip dengannya,”
“Hah?”
“Lupakan,” balasnya dan kembali fokus menatap ke depan.
Aku mulai kedinginan, sialnya lupa membawa jaket.
“Kau ceroboh sekali,” sesuatu terasa menghangatkan tubuhku. Jaket miliknya. Ah..ia bisa seromantis ini, mengapa aku lumer di buatnya.
Ia melirik jam tangan serta mengajakku kembali
.
.
.
Hai readers jangan lupa tinggalkan jejak ya, terimakasih😘
__ADS_1