
“Suaminya?” tanya Daffan.
“Mantan Olivia,” cetus Aqilla yang langsung membekap mulutnya.
Mataku melotot lebar ke arahnya, dan Arul hanya menepuk jidat. Kebiasaan mulut Aqilla yang susah di rem. Alhasil Daffan menatapku heran, ia pasti bertanya-tanya bagaimana situasi cinta segitiga yang begitu rumit.
“Dia mantanmu?” tanya lelaki berhidung mungil.
Aku menelan saliva. Apa yang harus aku katakan? Bukankah ia tahu Ella hamil, pasti di otaknya timbul banyak pertanyaan.
“Iya, Kak,” jawabku dengan senyum yang di paksakan.
Kening lelaki itu berkerut, “Itu alasanmu tinggal bersama Delon?”
Netra mataku menatapnya lalu mengangguk. Aku lihat lelaki berhidung mungil itu menarik napasnya panjang. Sementara gadis bermata sipit yang mulutnya tidak bisa di rem tidak menampilkan rasa berdosa, ia kembali asyik menikmati cemilan. Arul selaku penggemarnya menatapnya tak berkedip. Dia pikir aku harus melihat drama perjuangan cintanya.
Lelaki berhidung mungil itu menatap heran, “Apa dia hamil dengan Brian?” katanya, “Eh, sorry. Aku cuma tidak bisa melihatmu sedih,”
Sontak aku terkesiap, kalau boleh aku ingin terbang. Lelaki bermata indah itu mencemaskanku. Rasanya seperti mimpi.
“Iya,” kataku gugup. Bukan karena persoalan kehamilan Ella melainkan lelaki berhidung mungil itu mencemaskanku.
“Rumit juga masalahnya,” ujarnya.
Aqilla menatap penuh damba ke arah Daffan, aku melihat mata sipitnya mulai genit. Bahkan bibir merah muda miliknya membentuk segaris senyum. Lalu Arul mengikuti arah mata gadis pujaannya. Sepertinya ia mulai panas, terlihat mukanya yang tidak seceria sebelumnya.
Daffan melirik arloji di tangan, lalu dia menatapku, “Sudah malam ternyata, mau ikut balik?”
“Mau Kakak ganteng,” ceplos Aqilla yang hanya di jawab senyum manis di bibir tipis Daffan.
“Dia ngajak Olivia. Kamu sama aku aja, beb,” tawar Arul yang mengedipkan mata ke gadis bermata sipit.
Aqilla tersenyum sinis ke Arul dan memberi penolakan secara terang-terangan. Ia lebih rela pulang sendiri menerobos angin malam dengan motor matic. Padahal ia memiliki mobil yang di belikan ayahnya, namun gadis bermata sipit lebih suka hidup sederhana.
“Ayo pulang,” ajak lelaki berhidung mungil.
Ya ampun, matanya begitu indah membuat jantungku melompat-lompat tidak jelas.
__ADS_1
“Buruan sana pulang, biar aku yang menutup toko,” sahut Arul.
Aku berpikir sejenak kemudian tersenyum, “Baiklah,”
Gadis bermata sipit cemberut, “Jadi aku nggak di tungguin?”
“Kamu sama Arul tuh kasian,” godaku seraya menunjuk dagu ke Arul.
“Dih, ogah,” sahut Aqilla dan aku hanya terkekeh.
“Ya udah deh, bye,” lanjutku, “Rul, nitip tuan putri,”
“Beres Bu Bos, dengan senang hati,” sahutnya riang yang langsung mendapat tatapan menakutkan dari gadis bermata sipit.
Aku mengikuti Daffan setelah membereskan sisa makanan dan bunga yang sedang di rangkai, rencananya Arul akan mengantar ke pelanggan sebelum pulang.
Angin malam berhembus pelan meniup rambutku yang terikat karet. Langit gelap dengan tidak menampilkan cahaya bintang, hanya ada bulan sabit yang terlihat samar. Aku tersenyum seiring kakiku melangkah dan masuk ke mobil lelaki berhidung mungil. Tanganku membalas lambaian tangan Arul dan Aqilla sebelum menutup pintu mobil.
Daffan melajukan mobilnya menjauh dari toko bungaku dan belok di pertigaan jalan. Kami melewati jalanan malam yang masih ramai oleh mobil serta motor. Lampu di pinggir jalan juga sudah menyala terang.
“Temanmu asyik ya,” Daffan membuka mulut selagi tangannya fokus menyetir.
Dia tergelak pelan, “Ya engga, hanya merasa tenang kamu di kelilingi orang baik,”
Aku melongo. Apa pendengaranku masih normal? Lelaki berhidung mungil itu bilang apa? Jadi ia memikirkan aku.
Netra mata kecoklatan Daffan melirikku di samping, “Apa kamu terluka?”
“Maksud kakak?”
“Brian dan adikmu,”
Aku menghela napas berat, “Aku belajar ikhlas,”
“Jangan bersedih, aku akan ada untukmu,” ucap lelaki berhidung mungil yang masih fokus ke depan.
Aku tersenyum, ada rasa bahagia yang menelusup ke celah hatiku.
__ADS_1
“Terimakasih,” kataku.
Kondisi malam di kota, masih dominasi oleh kendaraan. Jalanan yang sering macet, dan suara bising di luar. Pemandangan anak kecil yang mengamen pun tak luput dari mataku lewat kaca mobil, sungguh miris anak sekecil itu di didik untuk mengamen di jalanan.
Tanganku memberi lembaran uang setelah kaca mobi terbuka. Anak kecil itu terlihat senang dan ia tersenyum tulus. Lalu lampu kembali hijau dan lelaki berhidung mungil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sesekali aku melirik lekukan wajahnya yang sempurna , juga bulu halus di tangan yang terlihat menggoda. Ia mengenakan kemeja coklat polos yang di lipat sebatas siku.
Satu jam perjalanan, mobil lelaki berhidung mungil menepi di halaman rumah mewah setelah melewati pintu gerbang. Bapak Danu, satpam berbadan gendut tersenyum ramah saat Daffan membuka kaca mobil.
“Ayo masuk,” ajak Daffan setelah keluar mobil.
Dalon sedang menikmati secangkir teh di ruang tengah ketika aku dan lelaki berhidung mungil masuk. Ia menoleh sekilas lalu membuang muka tanpa ingin bertanya atau sekadar basa-basi.
“Aku mau mandi dulu,” pamitku saat Daffan menyapa adik iparnya.
“Iya, Oliv. Setelah itu istirahat karena kau pasti lelah,” ucap Daffan, ia begitu perhatian.
Netraku melirik Delon sekilas ketika ia menyesap teh di cangkir hitamnya. Apa aku berbuat salah? Ia seolah menunjukkan rasa tak suka.
Sesampainya di depan kamar tanganku membuka handle pintu. Kemudian bergegas ke kamar mandi setelah menyambar handuk pink fanta. Rasanya nyaman membiarkan air mengalir di tubuh polosku setelah seharian terasa lengket. Begitu ritual mandiku selesai, buru-buru aku keluar dan memilih piyama satin warna biru.
Badanku sidikit lelah dan menelungkup ke tepi ranjang empuk dengan bad cover warna kuning gading. Tanganku menyambar ponsel yang bersembunyi di dalam tas mungil. Aku lihat notifikasi pesan dari Ella, mama dan Brian. Mengapa lelaki berlesung pipi itu ikut nongol di deretan chat. Apa ia ingin aku di cap sebagai penggoda calon suami orang?
Tanganku lincah mengetik membalas pesan kecuali dari Brian. Aku lebih memilih mengabaikan pesannya yang tidak penting.
Di kamar lain, lelaki berhidung mungil masih terjaga dan sibuk membaca buku sedangkan Delon di ruang tengah. Entahlah, mungkin dia menikmati suasana malam lewat jendela yang sengaja di buka tirainya.
Pukul sepuluh malam, dan aku memutuskan untuk memejamkan mata. Berharap esok akan lebih kuat melihat kemesraan lain antara Ella dan cinta pertamaku. Ah, Brian. Andai ia tak melakukan kesalahan fatal, mungkin minggu depan aku yang akan memakai kebaya putih dan gaun indah sebagai pengantin bahagia.
"Brian, kau tega melukaiku sedalam ini," batinku sebelum terlelap.
Jujur, kenangan lelaki berlesung pipi itu masih melekat di otakku. Bagaimana caranya tersenyum, caranya menatapku dan hari yang aku lewati dengannya.
.
.
__ADS_1
Hai Kakak jangan lupa tinggalkan jejak ya, terimakasih ☺️