Tidak Sengaja Berselingkuh

Tidak Sengaja Berselingkuh
Bab 15 Seatap dengan ibu mertua


__ADS_3

Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari depan rumah mereka.


Bayu segera beranjak dari duduknya untuk melihat ke depan rumahnya. Nayla dan Calista saling memandang. 


"Siapa yang datang pagi-pagi sekali begini?" tanya Nayla pada Calista yang sedang beradu pandang dengannya.


Calista hanya mengedikkan bahunya sebagai tanda bahwa dirinya juga tidak tahu. Kemudian dia berkata,


"Kita lihat saja Ma ke depan."


Nayla pun menyetujui usulan dari Calista. Mereka berdua berjalan menyusul Bayu yang sudah terlebih dahulu ke depan rumahnya.


"Tolong pindahkan barang yang ada di kamar anak saya Pak," ucap Bayu pada sopir tersebut.


Mata mereka berdua terbelalak ketika melihat sebuah mobil pick up yang sopirnya sedang berbicara dengan Bayu.


"Tunggu, kenapa barang-barang Caca harus diangkut Pa? Katanya Caca cuma sekolah di sekitar sini," tanya Calista sambil menggerak-gerakkan tangan Bayu.


"Kamu dan Mamamu akan tinggal di rumah Nenekmu, jadi kalian harus membawa barang kalian ke sana agar kalian betah tinggal di sana," jawab Bayu sambil berjalan menuju kamar Calista diikuti oleh sopir dan orang yang membantunya.


"Pa, kita hanya akan tinggal di rumah Ibu, untuk apa kita membawa barang-barang di rumah ini? Lagi pula jika aku tidak pulang malam ataupun sedang libur, kita bisa pulang ke sini," ucap Nayla yang juga mengikuti suaminya berjalan menuju kamar Calista.


"Ini yang kalian mau. Dan ini sudah menjadi keputusanku. Lebih baik kalian tetap tinggal di sana sampai Caca lulus dari sekolah itu," tukas Bayu sambil menunjuk lemari pakaian yang harus diangkut oleh sopir pick up tadi.


Calista menggerak-gerakkan tangan papanya sambil berkata,


"Caca tinggal di rumah saja dengan Mama Pa. Caca janji tidak akan menyusahkan kalian. Caca berani tinggal sendiri di rumah. Jika Mama memang tidak pulang, baru Caca tinggal di rumah Nenek."


Bayu tetap dengan keputusannya. Bahkan dia tidak iba sama sekali dengan rengekan anaknya. Dia tetap menyuruh orang-orang tersebut untuk memindahkan barang-barang yang ditunjuknya ke rumah ibunya.


Nayla menghela nafasnya. Dia tidak bisa lagi merubah keputusan suaminya.


Sama seperti Calista, dia juga sangat berat sekali untuk tinggal bersama dengan ibu mertuanya.


Keduanya merasa tidak cocok jika hidup berdampingan dengan ibu dari Bayu.


Setelah barang mereka dibawa oleh pick up tersebut, Nayla dan Calista hanya berdiam diri di hadapan makanan mereka.

__ADS_1


Bayu memakan sarapannya dengan santai. Dia tidak goyah sekali pun dengan keputusannya meskipun anak dan istrinya menatapnya dengan penuh permohonan.


"Cepatlah makan, setelah itu kita berangkat ke rumah Nenek," ucap Bayu di sela kunyahannya.


Calista dan Nayla hanya bisa pasrah. Mereka benar-benar tidak bisa merubah keputusan Bayu.


Setelah mereka selesai sarapan, Bayu mengajak mereka ke rumah ibunya menggunakan mobilnya.


"Masuklah, aku harus berangkat sekarang juga," ucap Bayu setelah menurunkan anak dan istrinya di depan rumah ibunya.


"Kamu gak mampir dulu Pa?" tanya Nayla sambil menggandeng tangan Calista.


"Aku sudah telat. Nanti saja aku mampir, jika sudah pulang. Sampaikan saja salamku pada Ibu," jawab Bayu dari dalam mobilnya.


Setelah mengucapkan itu, Bayu dengan segera melajukan mobilnya. 


Nayla hanya menatap nanar mobil suaminya. Kemudian dia masuk ke dalam rumah ibu mertuanya sambil membawa kopernya dan bergandengan tangan dengan Calista.


Ternyata ibu mertuanya sudah menunggu mereka di depan pintu rumahnya.


Masuklah mereka berdua menuju kamar yang sudah disiapkan oleh Bu Ratmi. Di dalam kamar tersebut sudah ada barang-barang milik Calista yang sudah dipindahkan dari kamar miliknya.


Calista menata buku-buku miliknya di meja belajarnya. Nayla pun membantu Calista untuk menata beberapa barang yang dibawanya.


"Nayla, keluarlah sebentar, Ibu ingin bicara denganmu," ucap Bu Ratmi di depan pintu kamar Calista yang pintunya sedari tadi terbuka.


Nayla menoleh ke arah Calista untuk berpamitan padanya. Dan Calista pun menganggukkan kepalanya meskipun mamanya belum mengatakan apa pun padanya.


Nayla keluar dari kamar tersebut mengikuti ibu mertuanya. Di sinilah dia sekarang. Di ruang tengah, dia duduk berhadapan dengan ibu mertuanya.


"Nayla, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Bu Ratmi dengan tegas dan menatap Nayla dengan tatapan mengintimidasi.


"Saya akan berhenti bekerja Bu. Saya akan fokus untuk mengurus Calista," jawab Nayla sambil tangannya meremas ujung bajunya.


"Kamu akan berhenti bekerja? Kamu sudah bilang ke suamimu? Apa dia menyetujuinya?" tanya Bu Ratmi dengan rasa ingin tahunya.


Nayla menghela nafasnya berat. Dia yakin jika apa yang dikatakannya tidak akan disetujui oleh suaminya.

__ADS_1


"Tidak Bu. Mas Bayu menentangnya," ucap Nayla lemah sambil menundukkan kepalanya.


Bu Ratmi tersenyum merendahkan Nayla. Kemudian dia berkata,


"Kamu itu lucu. Sudah tau kalau suamimu tidak akan mungkin menyetujuinya, tapi kamu masih saja berulah. Bayu itu sudah menyiapkan masa depan yang cerah untuk anak kalian, tapi seenaknya saja kamu menghancurkannya. Lihatlah, sekarang ini kamu bukan hanya merepotkan Bayu, kamu juga merepotkan saya," ucap Bu Ratmi sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Maafkan saya Bu. Ini juga demi kesehatan Calista. Dia tertekan dan ketakutan jika masih tetap tinggal di sana setelah teman sekamarnya meninggal dunia saat kecelakaan bersamanya," tukas Nayla sambil memberanikan dirinya menatap ibu mertuanya.


Bu Ratmi menatap Nayla sambil menghela nafasnya. Kemudian dia berkata,


"Bayu seorang captain pilot. Dan dia dibesarkan dengan sangat disiplin oleh Ayahnya. Lihatlah, dia berhasil menjadi seperti sekarang ini. Jadi, jangan salahkan Bayu jika mendidik anaknya dengan keras dan disiplin seperti didikan ayahnya dulu," tutur Bu Ratmi yang sedari tadi masih menatap menantunya itu dengan tatapan yang seolah memperingatkannya.


Nayla memilih diam. Dia tidak berani berkomentar ataupun membantah ibu mertuanya meskipun dia tidak setuju dengan apa yang dikatakannya.


Melihat menantunya yang hanya diam saja, Bu Ratmi merasa jika semua yang dikatakannya benar. Kemudian dia kembali berkata,


"Sudah, begini saja. Kamu tetaplah bekerja agar tidak membuat Bayu bertambah marah. Untuk Calista, biar Ibu saja yang menjaganya. Tapi kamu harus membayar Ibu sebagai uang lelah. Berikan saja lima puluh persen dari gajimu untuk Ibu."


Sontak saja Nayla membelalakkan matanya. Dia sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya padanya.


"Kenapa? Apa kamu keberatan?" tanya Bu Ratmi dengan tatapan mengintimidasinya.


"Ti-tidak Bu," jawab Nayla gugup.


"Jika kamu keberatan, tidak apa-apa. Asal kamu punya solusi yang lebih baik. Lagi pula Ibu rasa kamu tidak punya solusi yang lebih baik daripada solusi yang diberikan Ibu tadi," ucap Bu Ratmi dengan sangat percaya diri.


Nayla menghela nafasnya perlahan. Kemudian dia berkata,


"Baiklah Bu, saya setuju." .


Bu Ratmi tersenyum senang mendengar jawaban yang diberikan menantunya padanya. Karena jawaban itulah yang diinginkannya. Lalu dia berkata,


"Bagus. Anggap saja kamu memberi Ibu jatah uang setiap bulannya agar kamu menjadi menantu yang baik."


Nayla tersenyum paksa menanggapi ucapan mertuanya. Setelah itu dia diperbolehkan ibu mertuanya untuk kembali ke kamar Calista.


"Tidak sia-sia jika aku mempertaruhkan masa tuaku yang damai jika mendapatkan yang sepadan," ucap Bu Ratmi sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2