Tidak Sengaja Berselingkuh

Tidak Sengaja Berselingkuh
Bab 34 Bertemu


__ADS_3

Nayla dan Calista memutuskan untuk mencari penginapan atau rumah yang disewakan untuk mereka bermalam hari ini.


Perasaan damai dan nyaman mereka dapatkan ketika berada di sana. Hingga mereka betah berada di lingkungan tersebut dan enggan untuk kembali ke kota.


Nayla menyewa sebuah rumah kecil untuk tempat dia bermalam. Entah sampai kapan, dia belum memutuskannya.


Dia ingin mencari ketenangan di sana. Di tempat yang tenang dan nyaman, jauh dari hiruk pikuk kota dan kesibukan yang membuatnya penat tiap hari.


"Yuk Ca, kita cari warung di sekitar sini," ucap Nayla sambil mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Calista.


Calista tersenyum senang dan menyambut uluran tangan mamanya. Mereka berdua berjalan menuju warung makan yang diberitahukan oleh si pemilik rumah.


"Ma, apa kira-kira Papa akan marah jika tidak bisa menghubungi kita hari ini?" tanya Calista sambil mengayun-ayunkan gandengan tangan mereka yang saling bertautan.


"Mungkin saja jika memang Papa menghubungi kita. Jika tidak… Papa tidak akan tau meskipun kita tidak berada di rumah," jawab Nayla sambil terkekeh serta saling memandang dengan Calista yang berjalan di sampingnya.


"Kalian ada di sini?" 


Tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang familiar di indera pendengaran mereka. 


Mata Nayla terbelalak melihat sosok pria yang kini ada di hadapannya. Tenggorokannya serasa tercekat, tidak bisa berkata-kata.


Calista tersenyum lebar melihat pria yang ada di hadapannya. Dia melepaskan tangan Nayla dan berjalan mendekati pria tersebut.


"Om Devan di sini juga? Pasti Om Devan mengunjungi Kak Keyla kan?" tanya Calista seraya menarik tangan Devan untuk diajak berjalan mendekati mamanya.


Devan tersenyum pada Calista dan menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan yang diberikan Calista padanya.


Kemudian pandangan Devan tertuju pada Nayla yang terlihat kaget melihatnya. Devan tersenyum padanya seraya berkata,


"Apa kabar Nay?"


Jelas sekali terlihat Nayla sedang gugup saat ini. Devan tersenyum menenangkan hati Nayla. Devan tahu jika wanita yang ada di hadapannya kini tidak baik-baik saja. 


"Ma, ditanya Om Devan tuh," tukas Calista yang mencoba menyadarkan mamanya dengan menggerak-gerakkan tangannya.

__ADS_1


"Emmm… eh iya, baik Dev," ucap Nayla gugup dan tersenyum kikuk pada Devan.


Tuhan… apalagi ini? Kenapa kita bertemu di sini? Apa ini jawaban dari pertanyaanku tadi pagi? Nayla bertanya-tanya dalam hatinya.


"Kalian mau ke mana?" tanya Devan sambil melihat ke arah Nayla dan Calista secara bergantian.


"Kita mau ke warung Om, beli makan," jawab Calista dengan sangat antusias.


"Wah kebetulan sekali. Om juga belum makan. Bagaimana kalau kita makan malam bersama?" tanya Devan mengutarakan pendapatnya.


Nayla tersenyum menanggapi ajakan dari Devan untuk makan bersama. Sayangnya, wajah Nayla terlihat jelas gugup ketika bertatapan dengan Devan.


Devan sangat mengerti dengan sikap Nayla. Dia tidak menyalahkannya dan tidak protes padanya. Sesuai dengan kemauan Nayla, biarkan hubungan mereka mengalir apa adanya.


"Caca mau Om," jawab Calista dengan antusias.


Calista menarik tangan mamanya seraya berkat,


"Ayo Ma kita makan bersama Om Devan."


Akhirnya Devan berjalan di belakang Nayla dan Calista. Dia memandang punggung ibu dan anak itu dengan tatapan kagum dan tersenyum senang. Dia membayangkan jika ibu dan anak itu bisa menggandeng tangannya.


Calista menoleh ke belakang. Dia menarik tangan Devan dan mengajaknya untuk berjalan beriringan dengan mereka.


Kini keinginan Devan terwujud. Calista berjalan di antara Nayla dan Devan yang menggandeng tangannya.


Mereka kini mirip seperti sebuah keluarga yang bahagia. 


Devan tersenyum melihat dirinya yang kini seperti menjadi ayah dari Calista. 


Sebenarnya dia tidak mengharap banyak dari hubungannya dengan Nayla. Dia hanya ingin membantu Nayla yang sangat tertekan dan tentu saja hatinya berperan penting pada kedekatannya dengan Nayla.


Di warung itu pun Nayla dan Calista makan dengan lahapnya. Mereka bercanda dan tertawa mendengar cerita Calista yang bermain air di sungai dan bermain bola di lapangan desa bersama dengan anak laki-laki yang setiap sore bermain di sana.


"Sepertinya Caca betah dan senang tinggal di sini," tukas Devan sambil mengusap rambut Calista dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Iya Om. Caca suka di sini. Anak-anak di sini ramah. Caca diperbolehkan main sepak bola bersama dengan mereka. Berbeda dengan di sekolah Caca yang sekarang. Mereka selalu mengejekku karena aku perempuan yang suka main sepak bola," jelas Calista pada Devan yang menatapnya dengan tatapan matanya yang lembut.


Seketika hati Nayla teriris. Dia merasa jika putrinya selama ini tertekan dan tidak bahagia. Tanpa berpikir panjang lagi Nayla berkata,


"Apa Caca mau sekolah di sini?"


Sontak saja Calista dan Devan melihat ke arah Nayla. Mereka merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nayla saat ini.


"Mama serius? Jika Papa tau, pasti Papa akan marah. Di sini hanya sekolah biasa, bukan sekolah yang seperti Papa inginkan selama ini," ujar Calista mengingatkan mamanya.


Devan tidak berkomentar, dia hanya mendengarkan dan memahami situasinya.


"Jika memang kamu suka dan senang tinggal di sini, kenapa tidak? Dan yang paling terpenting adalah, teman-teman di sekolah nanti. Mama tidak mau kamu jadi korban perundungan lagi di sekolahmu saat ini," tutur Nayla dengan senyumnya untuk meyakinkan Calista.


Devan tersenyum mendengar penuturan Nayla. Dia tahu jika Nayla pasti akan melakukan hal itu demi anaknya. Itulah yang membuat Devan kagum padanya. Berbeda sekali dengan istrinya yang sangat acuh pada anak kandungnya.


"Kenapa Caca tidak coba saja mengikuti pelajaran di sekolah itu selama sehari? Caca pasti bisa merasakan sekolah di sini nyaman atau tidak. Daripada cuma jadi tanda tanya saja, tidak akan tau jika tidak dicoba," sahut Devan memberikan masukan pada Nayla dan Calista.


Seketika mata Calista berbinar. Dengan cepatnya dia menganggukkan kepalanya menyetujui ide yang diberikan oleh Devan.


Nayla tersenyum melihat keantusiasan putrinya. Dia pun menganggukkan kepalanya sambil mengusap rambut putrinya itu dengan penuh kasih sayang.


Devan memandang Nayla dengan tatapan kagumnya. Dia kagum pada Nayla yang menjadi sosok ibu yang tangguh dan bertanggung jawab.


Tatapan Nayla dan Devan beradu. Mereka saling tercengang, seolah menyalurkan perasaan rindu mereka selama beberapa hari ini tidak bertemu ataupun berkomunikasi.


Mata mereka saling bicara, seolah saling menyapa dan menanyakan kabar mereka. Dari tatapan mata mereka itu, masing-masing tahu akan perasaan dalam hati mereka.


Setelah mereka makan, mereka bertiga berjalan-jalan di sekitar desa tersebut. Kebetulan sekali di sana terdapat pasar malam yang sangat ramai dengan pengunjung.


Calista sangat bersemangat mengajak Nayla dan Devan untuk mengunjungi pasar malam tersebut.


Binar kebahagiaan tersirat dari wajah mereka bertiga ketika Calista menaiki wahana permainan di pasar malam tersebut.


Mereka lupa akan masalah mereka. Yang mereka rasakan saat ini hanyalah kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2