
Pertanyaan Devan tentang pernah atau tidaknya Nayla memikirkan perceraian membuat Nayla kaget dan merasa gugup untuk menjawabnya. Tetapi bagaimanapun Nayla harus menjawabnya.
“Aku tidak pernah memikirkan tentang perceraian. Ada apa sebenarnya Dev?” tanya Nayla melalui telepon pada Devan.
Oh begitu. Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tau saja lebih banyak tentangmu, jawab Devan yang tersenyum getir dari seberang sana.
Nayla terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa. Sebenarnya dia juga ingin mengetahui lebih banyak tentang Devan, sayangnya dia takut jika perasaannya pada Devan semakin dalam dan menyiksanya.
Nay, apa kamu menikah karena cinta? tanya Devan yang terdengar sangat penasaran.
“Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu Dev?” tanya Nayla sedikit gugup.
Seberapa banyak kamu mencintainya? tanya Devan kembali.
“Aku benar-benar tidak mau mengatakannya,” jawab Nayla tanpa ragu.
Terdengar suara kekehan Devan dari seberang sana. Devan bisa membayangkan ekspresi wajah Nayla saat ini. Kemudian dia berkata,
Katakan saja padaku.
Nayla berdiri dari duduknya. Dia bersandar pada tembok dan menerawang jauh pada pikirannya. Dia membayangkan kejadian dahulu ketika bertemu dengan suaminya. setelah itu dia berkata,
“Aku sangat menyukainya. Dia adalah kapten yang sangat popular di antara para kru. Aku bisa dekat dengannya. Entah bagaimana akhirnya kita bersama.”
Bagaimana tepatnya? sahut Devan dengan sangat antusias karena rasa ingin tahunya yang sangat tinggi.
“Apa yang ingin kamu ketahui?” tanya Nayla.
Aku benar-benar ingin tau semuanya, jawab Devan dengan cepatnya.
Nayla menghela nafasnya sebelum dia mengatakan apa yang ingin diketahui oleh Devan. Kemudian dia berkata,
“Malam itu aku bertemu dengannya di lobi hotel yang kami tempati saat di Singapura. Ternyata dia kapten pilot pesawat yang rombongan kami naiki. Setelah itu aku dan dia mengobrol sepanjang malam. Dan kebetulan sekali kami menginap di hotel tersebut.”
Terdengar suara kekehan Devan di telinga Nayla. Di sela kekehannya itu Devan berkata,
Aku tidak menyangka kamu akan mengatakannya sedetail itu padaku.
Tiba-tiba raut wajah Nayla berubah. Dia kini merasa seperti berhasil dipancing oleh Devan untuk mengaku. Kemudian dia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
“Istrimu orang yang seperti apa?” tanya Nayla ragu-ragu.
__ADS_1
Devan terdiam tidak menjawabnya. Setelah itu Nayla kembali bertanya padanya.
“Aku sedikit penasaran tentang istrimu. Tapi di saat yang sama, aku juga tidak ingin tau. Kalau kamu tidak ingin menjawabnya juga tidak apa-apa.”
Bukan begitu. Aku hanya merasa bingung sesaat orang seperti apa dia. Apa kamu pernah berpikiran untuk meninggalkan suamimu? tanya Devan penasaran.
“Tidak,” jawab Nayla dengan cepatnya.
Devan tersenyum getir mendengar jawaban dari Nayla. Dia sudah menduganya.kemudian dia berkata,
Aku tau itu. Kamu adalah orang yang seperti itu. Jangan bingung akan perkataanku. Anggap saja aku hanya ingin mengetahuinya langsung darimu.
“Emmm… Dev, bagaimana jika kita mempunyai aturan?” tanya Nayla ragu-ragu.
Devan mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan yang di dengarnya dari Nayla. Dia pun bertanya,
Aturan? Aturan seperti apa?
“Tidak boleh memegang dan tidak boleh mempertanyakan tentang hubungan kita. Biarlah hubungan kita tetap mengalir seperti ini saja,” jawab Nayla sambil mencengkeram erat ujung bajunya.
Devan tersenyum mendengar aturan yang dibuat oleh wanita yang perlahan masuk ke dalam hatinya. Kemudian dia berkata,
Baiklah, aku mengerti. Bahkan aku sangat tau kamu orang yang seperti apa.
Nayla, kamu sedang apa sekarang? tanya Devan untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
“Emmm Dev, apa tanganmu tidak kebas sedari tadi? Aku pikir usiaku bertambah tua. Tanganku merasa kebas sekarang,” ucap Nayla sambil mengambil cuciannya dari mesin cuci.
Sepertinya kita harus berbicara secara langsung sekarang, ucap Devan dengan antusias.
“Tidak Dev, aku harus berada di rumah bersama dengan Caca,” sahut Nayla dengan cepatnya.
Devan tersenyum mendengar penolakan dari Nayla. Baginya itu hal yang sudah biasa dikatakan oleh Nayla. Itulah yang membuat Devan kagum dan menyukainya. Setelah itu dia berkata,
Aku sudah tau itu Nay. Pasti kamu akan mengatakan jika Caca sendirian dan kamu tidak bisa meninggalkannya.
“Memang begitu Dev. Bahkan aku resign mulai hari ini. Aku ingin selalu ada di setiap Caca membutuhkanku,” sahut Nayla dengan cepatnya.
Kamu resign? Tanya Devan seolah tidak percaya dengan keputusan Nayla.
“Iya Dev,” jawab Nayla singkat sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
Keputusan bagus Nay. Aku tau jika akan melakukannya. Dan aku juga mengira jika kamu tidak mau bertemu denganku sekarang karena kamu takut jika nantinya kamu menyentuhku kembali, ucap Devan sambil terkekeh dari seberang sana.
Nayla menghela nafasnya. Kemudian dia berkata,
“Ya, kamu benar. Aku bukan diriku sendiri belakangan ini.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Nayla membuat Devan bertambah yakin akan perasaan Nayla yang sama sepertinya. Devan segera beranjak dari duduknya dan dia menyambar kunci mobil yang ada di meja kerjanya sambil berkata,
Tunggulah, aku akan datang menemuimu.
“Tidak. Jangan. Aku sedang tidak bisa keluar sekarang,” sahut Nayla dengan cepatnya bermaksud untuk menghentikan Devan.
Benar saja, langkah kaki Devan pun terhenti. Dia tidak bisa memaksa Nayla untuk menemuinya. Dia pun kembali duduk dan bersantai seperti tadi.
“Kamu sedang berada di mana Dev?” tanya Nayla yang tidak mendengar sepatah kata pun dari Devan setelah dia mencegah Devan yang akan datang menemuinya.
Di kantor. Kenapa? tanya Devan yang berharap bahwa Nayla akan datang menemuinya.
“Aku hanya penasaran saja. Bagaimana bisa pria beristri bisa bertelepon dengan wanita malam-malam begini,” jawab Nayla sambil tersenyum getir.
Aku sedang bingung Nay. Aku sedang butuh kamu. Tapi aku akan mencoba menghadapinya sendiri, ucap Devan yang terdengar sedih ditelinga Nayla.
Mendengar perkataan Devan, Nayla segera beranjak dari duduknya dan mengambil jaket serta dompetnya sambil berkata,
“Emmm Dev, aku harus segera menjemur pakaianku. Nanti kita sambung lagi.aku tutup dulu teleponnya.”
Devan pun menyetujuinya meskipun sangat berat untuknya. Baginya Nayla pengobat dari segala kesedihan yang sedang dihadapinya dan baginya Nayla merupakan wanita yang tepat untuknya berbagi.
Nayla menatap jemuran yang sebenarnya sudah dijemurnya sedari tadi ketika dia berbicara dengan Devan di telepon. Dia berjalan masuk ke dalam kamar Calista untuk melihat keadaannya. Sesuai keinginannya, Calista sudah tertidur dengan nyenyaknya.
Segera dia memesan taksi online dan keluar dari rumah tersebut untuk menunggu taksi pesanannya. Taksi tersebut datang hanya dalam waktu beberapa menit saja. Nayla pun segera masuk ke dalam taksi tersebut dan memintanya untuk mengantarkannya menuju kantor Devan.
Tidak jaug dari restoran Devan terdapat mobil yang sedari tadi berhenti di sana. Ternyata itu mobil Liana yang merasa ragu untuk bertemu suaminya. sedari tadi dia hanya duduk di dalam mobilnya untuk menunggu suaminya keluar dari kantornya.
Taksi Nayla berhenti tepat di depan restoran milik Devan. Di dalam taksi tersebut Nayla menatap kantor Devan yang berada di lantai atas. Terlihat jelas lampu kantor tersebut masih menyala. Kemudian dia berkata,
“Pak, bisakah kita berhenti sebentar di sini?”
Sopir taksi itu pun mengangguk dan berkata,
“Baik Bu.”
__ADS_1
Tanpa disadari Nayla, ada sepasang mata yang melihat taksi yang dinaikinya berhenti di sana. Dalam mobilnya itu Liana memperhatikan dengan seksama taksi tersebut sambil berkata,
“Siapa yang berhenti di sana? Turunlah segera, agar aku mengetahui siapa dirimu.”