Tidak Sengaja Berselingkuh

Tidak Sengaja Berselingkuh
Bab 41 Rencana Liana


__ADS_3

Nayla memijit betis dan pundaknya dengan cara memukul-mukulinya sendiri menggunakan tangannya.


Haelaan nafasnya seolah menunjukkan kelelahannya saat ini.


Calista memandang mamanya dari tempatnya belajar saat ini. Dia menghela nafasnya ketika melihat mamanya yang terlihat sangat lelah.


Dia berjalan menuju ke arah mamanya dan berkata,


"Sepertinya Mama tidak cocok bekerja di perkebunan. Biasanya Mama berdiri dan berjalan berjam-jam mengikuti wisatawan ke mana pun tidak pernah lelah seperti ini."


Nayla tersenyum mendengar perkataan putrinya. Kemudian dia berkata,


"Kamu benar. Mama tidak pernah capek ketika melakukan itu, tapi sekarang Mama merasa sangat lelah. Apa Mama bertambah tua ya?"


Nayla sengaja membuat candaan agar Calista tidak merasa bersalah dan terbebani.


"Memang benar Mama sudah bertambah tua, maka dari itu Mama tidak perlu sok-sokan bisa bekerja di perkebunan yang sangat luas itu. Caca akan membantu Mama bekerja pada saat sekolah Caca libur. Dan Mama dilarang protes," sahut Calista dengan gaya tegasnya.


"Tapi Ca, Mama masih–"


"Dilarang protes!" tegas Calista.


Setelah itu dia segera kembali ke tempat belajarnya dan meneruskan belajarnya.


Nayla memandang iba pada Calista yang seharusnya bisa tinggal bersama dengan kedua orang tuanya.


Tiba-tiba saja Nayla teringat akan tempat tinggal mereka saat ini. Dia baru teringat jika mulai besok mereka harus membayar sewa untuk perbulannya. Karena sewa harian mereka hanya sampai hari ini saja. 


Di saat seperti ini dia teringat akan suaminya. Dan pada saat itu juga dia teringat akan suara wanita yang menerima telponnya pada saat menghubungi ponsel suaminya.


Nayla kembali menghela nafasnya. Rasanya sangat berat apa yang sedang dihadapinya saat ini. 


Namun, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa melewati semuanya dan memperjuangkan kebahagiaan putri semata wayangnya.


"Ma, Caca sudah selesai. Ayo kita tidur sekarang," ucap Calista sambil merapikan buku-buku yang baru saja dipelajarinya.


Nayla pun beranjak dari duduknya. Dia berjalan menghampiri Calista dan merangkul pundaknya seraya berjalan masuk ke dalam kamar mereka.


...----------------...


Di lain tempat, hari ini juga sangat berat dialami oleh Devan. Dia harus datang ke kota untuk mengurus pekerjaannya yang selama beberapa hari ditelantarkannya.

__ADS_1


Tidak hanya itu saja. Devan pada hari itu juga bertemu dengan pengacaranya untuk mengurus perceraiannya dengan Liana.


Dia telah menguatkan niatnya untuk menceraikan istrinya. Semakin ke sini dia tidak mengenal istrinya. Semua yang diketahui tentang istrinya membuatnya semakin yakin untuk menceraikannya.


Dibacanya berkas yang ada di tangannya. Tiba-tiba dia menghela nafasnya dan berkata,


"Huuffffttt… jika pekerjaanku sebanyak ini, kapan bisa selesainya? Aku ingin cepat kembali ke desa itu. Pasti Nayla dan Caca kesepian di sana. Mereka juga tidak memilki saudara atau siapa pun untuk menolongnya jika membutuhkan bantuan."


Seketika dia meletakkan kembali berkas yang sedang dibawanya dan menutup kembali map tersebut.


Setelah itu dia beranjak dari duduknya. Dia berniat akan kembali ke desa pada malam itu juga. Sayangnya pandangan matanya tertuju pada tumbukan map yang menjadi laporan beberapa cafe dan usahanya yang lain. Dia menghela nafasnya dan kembali duduk di kursinya.


"Sepertinya aku harus mengerjakan semuanya sebelum aku kembali ke desa," gumam Devan seraya membuka kembali map yang berisi berkas laporan.


Ternyata kesibukan Devan itu membuatnya tidak sempat untuk mengirim kabar pada Nayla. Dia terlalu fokus untuk menyelesaikan dengan segera semua pekerjaan yang sudah menunggunya.


Tanpa sadar, dia tertidur di meja kerjanya dengan berbantalkan map dan berkas laporan yang sedang dikerjakannya.


Keesokan harinya, Devan masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan dia lupa dengan proyek barunya yang ada di pusat kota. Cafe barunya itu akan melakukan grand opening hari ini.


Sengaja Devan tidak mengajak Liana untuk menghadiri acara pembukaan cafenya yang baru. Dia enggan bertemu dengan wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya.


Seharian Devan berada di cafe barunya itu. Dia sangat sibuk menjamu tamu yang merupakan tamu kehormatannya. Hingga dia melupakan keinginannya untuk segera pergi ke desa menemui Nayla dan Calista.


Seperti sekarang ini, dia baru saja melakukan aktivitas paginya untuk joging di sekitar kantornya.


Ketika dia sudah selesai membersihkan badannya, Devan kembali ke meja kerjanya untuk meneruskan pekerjaannya.


Tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Segera diraihnya ponsel tersebut yang ada di sampingnya.


Dia menghela nafasnya dengan berat ketika melihat nama si penelepon yang tertera pada layar ponselnya.


Devan merasa enggan dan malas untuk mengangkat telepon tersebut. Hanya saja dia tidak mungkin mengabaikannya karena Devan merasa jika urusan mereka belum selesai.


Datanglah ke alamat yang aku kirimkan melalui pesan untuk mengambil surat perceraian yang sudah aku tandatangani, ucap Liana melalui telepon.


Dengan berat hati dia pun menuruti perintah istrinya. Bukan karena dia enggan bercerai dengan istrinya. Tapi entah mengapa hatinya merasa enggan menuruti perintah istrinya.


Devan segera berangkat menuju alamat yang diberikan oleh Liana padanya. Ternyata alamat tersebut adalah sebuah cafe yang tidak jauh dari rumah Nayla.


Ponsel Devan bergetar dari dalam celananya. Segera dia mengambil ponsel itu dan menjawab panggilan tersebut.

__ADS_1


Masuklah ke dalam cafe dan temui orang yang duduk di meja nomor empat. Aku menitipkan sesuatu padanya, perintah Liana pada Devan.


Dengan langkah kakinya yang berat dan helaan nafasnya yang seolah sangat enggan itu, Devan masuk ke dalam cafe tersebut.


Pandangan mata Devan mengitari seluruh ruangan dalam cafe tersebut. Dan dia hanya menemukan seorang pria dalam ruangan tersebut yang duduk di meja nomor empat, sama persis dengan apa yang dikatakan oleh Liana.


Dahi Devan mengernyit ketika melihat seorang pria yang tidak dikenalnya berada di meja nomor empat tersebut sedang menikmati kopinya. Dalam hati Devan berkata,


Siapa dia? Apa dia pengacara dari Liana yang mengurusi perceraian kami?


Lagi-lagi ponsel Devan bergetar. Devan segera mengangkat ponselnya setelah mengetahui panggilan telepon tersebut dari Liana.


Mendekatlah ke meja nomor empat. Temuilah pria itu sekarang juga, perintah Liana kembali pada suaminya.


Devan segera mendekat ke meja nomor empat setelah Liana mengakhiri panggilan teleponnya.


"Maaf Pak, saya diperintahkan oleh Liana untuk menemui Bapak yang sedang menunggu di meja nomor empat," ucap Devan dengan sopan pada pria tersebut.


Dahi pria yang duduk di kursi meja nomor empat tersebut mengernyit mendengar perkataan Devan.


Dia mengambil nomor meja yang berdiri di atas mejanya. Dahinya kembali mengernyit melihat nomor meja tersebut sesuai dengan nomor meja yang dikatakan oleh Devan. Kemudian dia berkata,


"Maaf, anda siapa? Saya juga tidak kenal dengan nama wanita yang anda sebutkan tadi."


Kini Devan bertambah bingung. Dalam hatinya dia merutuki kebodohannya karena menuruti begitu saja perintah istrinya. Dan dia mengumpat istrinya dalam hatinya karena berani mempermainkannya.


"Maaf, saya hanya menjalankan perintahnya saja. Dia mengatakan jika telah menitipkan sesuatu pada anda," ucap Devan meyakinkan pria tersebut agar tidak salah paham padanya.


"Oh, mungkin map ini. Tadi ada seorang wanita menitipkan pada saya. Emmm… maaf, siapa nama anda? Saya tidak mau salah memberikan titipan dari seseorang meskipun saya tidak mengenalnya," tukas pria tersebut sambil memperlihatkan map yang sedang dibawanya.


"Saya Devan. Devan Aldiansyah Putra," jawab Devan dengan tegas.


Pria tersebut menganggukkan kepalanya dan menyerahkan map yang ada di tangannya pada Devan seraya berkata,


"Saya rasa ini memang untuk anda."


Devan pun menerima map tersebut dan berkata,


"Terima kasih. Saya permisi sekarang."


Pria tersebut menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Devan meninggalkannya.

__ADS_1


Liana memperhatikan Devan dan pria yang berada di meja nomor empat tadi dari dalam mobilnya yang terparkir tepat di depan cafe. Dia dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di dalam cafe tersebut dari jendela kaca yang mengelilingi cafe tersebut.


"Buka! Bukalah! Buka ku bilang!" seru Liana dari dalam mobilnya dengan tatapan bengisnya dan setiap kata yang penuh dengan kebencian.


__ADS_2