
Nayla mencoba mencari pekerjaan dengan bertanya-tanya pada pemilik sawah dan juga kebun yang ada di desa tersebut.
Dia menemui satu persatu orang untuk bertanya-tanya tentang pekerjaan. Sayangnya mereka hanya mengatakan jika di sana hanya tersedia pekerjaan di sawah dan kebun saja.
Nayla berpikir sejenak akan keuangan dan kehidupan mereka nantinya. Dia tidak bisa begitu saja menggantungkan kehidupan mereka pada suaminya.
Nayla hanya berjaga-jaga jika nantinya suaminya akan menghukumnya lagi dengan tidak membiayainya ketika mengetahui mereka berbohong tentang kehidupan mereka di tempat yang baru dan sekolah baru Calista.
"Huuufffttt… sepertinya tidak ada cara lain. Sangat sulit mencari kerja dengan keahlianku yang sebelumnya. Semoga aku bisa melakukannya," gumam Nayla dengan helaan nafasnya yang terdengar sangat berat.
Dengan berat hati dia menemui salah satu pemilik kebun yang sedang berada di kebun tersebut untuk melihat perkebunannya.
"Maaf Pak, apa Bapak masih mencari pekerja?" tanya Nayla dengan sungkan dan sangat berhati-hati.
Pemilik kebun yang sudah berumur itu melihat Nayla dari atas hingga bawah. Kemudian dia berkata,
"Sepertinya kamu bukan warga sini."
"Maaf Pak, saya baru saja datang di daerah ini. Memang saya bukan penduduk asli sini. Bagaimana Bapak tau?" tanya Nayla yang berwajah heran saat ini.
Pemilik kebun tersebut terkekeh mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Nayla. Setelah itu dia menunjuk Nayla dari atas hingga bawah serta berkata,
"Sudah sangat terlihat jelas dari penampilanmu."
Nayla tersenyum canggung mendengar perkataan pemilik kebun tersebut. Dia menggaruk tengkuk lehernya seraya berkata,
"Maaf Pak, apa ada pekerjaan untuk saya?"
Pemilik kebun tersebut kembali terkekeh. Kemudian dia berkata,
"Apa kamu mampu melakukannya? Lihatlah mereka. Sepertinya kamu tidak akan bisa seperti mereka. Semua orang yang bekerja di perkebunan ini merupakan orang sekitar sini. Tidak ada satu orang pun yang berasal dari kota."
"Maaf Pak. Jika Bapak berkenan, saya bisa mencobanya hari ini. Jika pekerjaan saya mengecewakan, Bapak bisa tidak menerima saya kembali untuk bekerja kembali besok," pinta Nayla dengan penuh harap.
Pemilik kebun tersebut terlihat berpikir. Beberapa saat kemudian dia berkata,
"Baiklah. Kamu bisa mencobanya sekarang. Nanti, jika pekerjaanmu sudah selesai, temui saya untuk mengambil upahmu. Jika pekerjaanmu bagus, saya akan membayarmu dengan upah harian. Apa kamu setuju?"
Seketika senyum Nayla mengembang. Dia merasa sedikit lega saat ini. Dia pun berkata,
"Terima kasih Pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin."
__ADS_1
"Tapi kamu harus tau jika upah bekerja di sini tidak seperti di kota. Mungkin kamu akan kecewa setelah menerima upahmu nanti. Kamu boleh tidak bekerja lagi besok jika kamu keberatan dengan upahnya," tutur si pemilik kebun tersebut.
Dengan segera Nayla menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak Pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin melakukannya. Saya sangat butuh pekerjaan ini."
Si pemilik kebun pun merasa iba pada Nayla. Dia segera mempersilahkan Nayla untuk bekerja bersama dengan pekerja lainnya.
Pemilik kebun tersebut memperkenalkan Nayla pada pekerja yang lainnya. Dia juga meminta pada pekerja yang lain untuk membantu Nayla memberitahukan pekerjaannya dan memberikan contoh padanya.
Setelah itu, si pemilik kebun tersebut meninggalkan para pekerjanya dan memantau Nayla dari jarak jauh. Dia ingin melihat kesungguhan Nayla dalam bekerja.
Nayla mengikat rambut panjangnya yang tergerai indah itu. Sesekali dia mengelap keringat yang membasahi dahi dan pelipisnya.
Perkebunan teh yang sangat luas itu sangat menyejukkan mata, sayangnya kini tidak seindah yang dibayangkan oleh Nayla.
Ternyata bekerja di sana lebih melelahkan dibanding sebagai pemandu wisatawan asing yang bisa dijalaninya seharian penuh atau berhari-hari. Bahkan bajunya sudah tidak serapi tadi pagi.
Nayla terlihat sangat kelelahan melakukan pekerjaan itu hingga sore hari. Ketika jam bekerjanya usai, dia bersama pekerja yang lain menemui pemilik kebun tersebut.
"Ini upahmu hari ini," ucap si pemilik kebun tersebut sambil memberikan amplop yang berisi upah Nayla untuk hari ini.
Nayla menerima amplop tersebut seraya berkata,
"Bagaimana? Apa kamu masih merasa sanggup melakukannya?" tanya si pemilik kebun tersebut dengan sungguh-sungguh.
Nayla pun menganggukkan kepalanya. Dia membutuhkan pekerjaan itu, sehingga dia tidak ada pilihan lainnya untuk tidak melakukannya.
Pemilik kebun itu pun tersenyum tipis. Setelah itu dia mempersilahkan Nayla untuk meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanan, Nayla memikirkan cara lain untuk mendapatkan uang. Dia mencoba keberuntungannya dengan menawari beberapa orang untuk menjadi guru bahasa inggris pada anak-anak mereka.
Sayangnya, tidak ada yang tertarik mempekerjakannya untuk menjadi guru privat bagi anak-anak mereka.
Nayla sadar jika kehidupan orang di daerah tersebut tidak sebanding dengan kehidupan orang kota yang membutuhkan guru privat bagi anak mereka.
"Ah, mungkin besok aku bisa menawari pemilik kebun tadi. Siapa tau mungkin anak atau cucunya membutuhkan guru privat bahasa inggris," ucap Nayla dengan antusias.
Setelah itu dia bergegas berjalan melewati lapangan sepak bola untuk mencari Calista yang kemungkinan besar ada di sana.
Dan benarlah dugaan Nayla. Calista sedang bermain sepak bola di lapangan tersebut bersama dengan beberapa teman laki-lakinya.
__ADS_1
Pagi tadi memang Calista membawa baju ganti. Dia mengatakan pada mamanya jika dia akan memakai baju tersebut untuk bermain sepak bola setelah pulang sekolah bersama teman-temannya.
"Caca! Apa belum selesai mainnya? Hari sudah akan petang!" teriak Nayla dari tepi lapangan tersebut.
Calista menoleh ke arah sumber suara. Dia berpamitan pada teman-temannya. Setelah itu dia berlari ke arah mamanya dan dengan nafasnya yang terengah-engah itu dia berkata,
"Mama kelihatan lusuh sekali. Apa yang terjadi?"
Nayla tersenyum dan menggelengkan kepalanya seraya berkata,
"Mama baik-baik saja. Kita pulang sekarang dan makan bersama."
Mereka pun pulang dengan berjalan beriringan dan bergandengan tangan.
Sesampainya di rumah, mereka berdua bergantian untuk membersihkan badannya. Setelah itu mereka makan bersama dengan menu makanan yang sederhana.
"Apa Caca tidak keberatan jika Mama bekerja?" tanya Nayla untuk mengawali percakapan mereka setelah mereka selesai makan.
Calista mengernyitkan dahinya. Kemudian dia berkata,
"Apa ada pekerjaan di sini seperti pekerjaan Mama di kota?"
"Tidak Ca. Mama bekerja di perkebunan teh mulai hari ini. Apa Caca tidak keberatan? Mama berangkat bekerja pagi dan pulang sore seperti hari ini," ucap Nayla yang berusaha menjelaskan pada Calista.
Calista mendekati mamanya dan memegang kedua tangannya seraya berkata,
"Apa Mama kehabisan uang?"
Nayla pun mengangguk. Dia membenarkan pertanyaan Calista padanya dan berkata,
"Uang Mama semakin menipis. Mama hanya berjaga-jaga saja agar kita tidak kehabisan uang."
"Kenapa Mama tidak meminta pada Papa saja?" tanya Calista yang merasa tidak mengerti dengan keputusan Nayla.
Nayla menghela nafasnya. Dia menatap sejenak Calista yang menurutnya masih belum cukup umur untuk bisa mengetahui alasannya.
"Ma, Caca sudah besar. Caca sudah bisa menerima apa pun itu. Coba Mama katakan saja sejujurnya pada Caca," pinta Calista dengan menatap intens manik mata mamanya.
Nayla menangkap kesungguhan pada manik mata Calista. Dalam hatinya berkata,
Baiklah, mungkin memang sudah saatnya Caca mengetahui tentang apa yang terjadi. Tapi aku tidak akan mengatakan tentang gaji yang diminta oleh neneknya dan tentang Papanya. Cukup aku saja yang mengetahuinya.
__ADS_1
"Mama hanya takut jika Papamu mengetahui kebohongan kita dan dia akan kembali menghukum kita dengan tidak memberikan uang pada kita," ucap Nayla dengan berkata jujur pada putrinya.