Tidak Sengaja Berselingkuh

Tidak Sengaja Berselingkuh
Bab 45 Perseteruan


__ADS_3

Dari dalam mobilnya Liana menyaksikan semua yang terjadi. Dia tersenyum sinis ketika melihat Bayu menarik kerah baju Devan untuk mengikutinya ke lain tempat.


Liana yang merencanakan semuanya. Dia mampu membuat skenarionya menjadi nyata. Setelah dia melihat nama mama Calista pada layar ponsel Devan, Liana segera mencari tahu semua tentang Nayla. Tentang keluarganya dan tentang kehidupannya.


Saat ini, tepat di hadapannya dia bisa melihat kehancuran rumah tangga Nayla dengan Bayu. Dia bersumpah untuk membuat keluarga Nayla hancur, sama dengan pernikahannya dengan Devan.


Bayu menyeret Devan ke tempat yang sepi. Di desa itu pada jam seperti itu memang sepi penduduk. Mereka semua bekerja di sawah, ladang, peternakan dan perkebunan.


"Apa maksudmu mendekati istri dan anakku?" tanya Bayu yang masih menarik kerah baju Devan dengan disertai amarah dan emosinya.


Devan menyeringai mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Bayu padanya. Kemudian dia melepaskan tangan Bayu dengan paksa dari kerah bajunya dan berkata,


"Sekarang saya bisa tau jika anak dan istri anda tersiksa karena sikap anda yang demikian. Jika saya menjadi anda, pasti saya tidak akan pernah menyakiti mereka secara lahir dan batin. Mereka sangat baik dan sangat berharga bagi saya. Perlu anda ketahui, saya tidak tinggal bersama mereka. Kebetulan saja saya bertemu dengan mereka di sini karena saya sedang berkunjung ke rumah Paman saya yang ada di desa ini. Jika anda tidak percaya, tidak masalah bagi saya."


 


Entah mengapa Bayu enggan meneruskan perdebatannya dengan Devan. Dia memilih meninggalkan Devan dan kembali ke rumah yang ditempati oleh Nayla dan Calista.


Ketika Bayu mengajak Devan ke tempat lain, Calista keluar dari kamar dan menghampiri mamanya yang sedang menangis sambil memukul-mukul dadanya.


Dengan segera Calista memeluk tubuh ibunya dan mengusap-usap punggungnya seraya berkata,


"Sabar Ma, Mama harus sabar. Menangislah Ma, Caca ada di sini bersama Mama. Jika memang terlalu berat, kita kembali saja ke kota."


Nayla segera mengurai pelukan putrinya dan mengusap air matanya seraya berkata,


"Tidak. Mama tidak akan menyerah. Biarkan saja Papa yang sekali-sekali mendengarkan kemauan kita. Mama akan memperjuangkan kebahagiaan kamu. Kita akan tetap di sini. Jangan khawatir."


Calista tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tangannya terulur mengusap air mata pada pipi mamanya dan berkata,


"Mama sangat cantik. Jadi, jangan biarkan air mata ini menetes di pipi Mama."


Nayla tersenyum dan mencium seluruh wajah putrinya. Dia tidak menyangka jika putrinya mempunyai pikiran layaknya orang dewasa. Mungkin karena Calista yang sudah terbiasa jauh dari orang tuanya dan harus memahami keadaan kedua orang tuanya yang harus bekerja sehingga menyekolahkannya di tempat yang jauh dan mempunyai fasilitas asrama.


"Kamu di rumah saja. Mama akan berangkat bekerja sekarang. Jika Caca butuh sesuatu, datang saja ke perkebunan tempat Mama bekerja," tutur Nayla seraya mengusap rambut Calista.


Calista pun menganggukkan kepalanya. Dengan segera dia membantu Mamanya berdiri dari duduknya dan berkata,

__ADS_1


"Caca akan baik-baik saja di rumah. Mama tenang saja, tidak usah memikirkan Caca. Mama bisa lihat sendiri kan, Caca sudah besar. Caca sudah bisa mengurus semuanya sendiri."


Nayla kembali tersenyum mendengar ucapan putrinya. Tangannya mengusap lembut rambut putrinya seraya berkata,


"Jika ada apa-apa, Caca hubungi Mama saja. HP Mama sudah kembali aktif. Dan jika Mama tidak segera menjawabnya, Caca datang saja ke sana."


"Siap Ma!" ucap Calista sambil memberi hormat pada mamanya.


Nayla segera berangkat bekerja dan meninggalkan Calista sendirian di rumah tersebut.


Setelah beberapa saat, Calista masih memainkan game di ponselnya. Dia menunggu jam kepulangan teman-temannya dari sekolah untuk bermain sepak bola di lapangan seperti biasanya.


Braaak!


Calista terhenyak ketika pintu rumahnya dibuka dengan kerasnya oleh seseorang.


"Papa?!" celetuk Calista yang terkejut melihat papanya dengan wajah marahnya.


Calista duduk ketakutan dengan kedua lututnya yang ditekuk di depan dadanya. Dengan segera Bayu mendekati Calista dan menarik tangannya agar berjalan mengikutinya.


"Kita mau ke mana Pa? Tunggu Mama dulu. Kita pulang bersama. Mama masih bekerja," pinta Calista sambil merengek tidak mau meninggalkan rumah itu.


Bayu menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah putrinya dengan tangannya yang masih memegang erat tangan Calista dan berkata,


"Kerja di mana?" 


"Di… di perkebunan teh," jawab Calista dengan suara bergetar karena ketakutan.


Bayu memejamkan matanya dan mengusap kasar wajahnya menggunakan sebelah tangannya yang tidak sedang memegang tangan Calista.


Beberapa detik kemudian dia kembali menarik tangan Calista dan mengajaknya keluar dari rumah tersebut untuk meninggalkan desa itu.


Tidak ada yang mengetahuinya sehingga tidak ada yang menolong Calista. Sayangnya Devan sudah kembali ke rumah Pamannya, sehingga dia tidak mengetahui jika Bayu membawa Calista pergi.


Sedangkan Liana, dia tertawa senang di dalam mobilnya melihat Bayu menarik paksa Calista. Kemudian dia berkata,


"Bagus Bayu, sebentar lagi pasti Nayla akan menyusul kalian ke kota. Dan Devan pasti akan kehilangannya."

__ADS_1


Di perkebunan teh, Nayla merasa tidak nyaman. Entah mengapa dia merasa sangat mengkhawatirkan Calista saat ini.


Nayla menghadap mandornya dan meminta ijin padanya untuk pulang sebentar dengan alasan melihat anaknya yang sedang sakit.


Mandor tersebut mengijinkannya dengan catatan itu menjadi jam istirahat Nayla. Tanpa berpikir panjang, Nayla pun setuju. Dia segera berlari menuju rumah tempat tinggal mereka untuk saat ini.


Benar saja, dia tidak menemukan Calista di mana pun. Diambilnya ponsel dari sakunya untuk menghubungi Calista.


Di dalam mobil, Calista hanya diam saja. Dia merasa takut dengan papanya yang terlihat sangat marah saat ini.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dengan segera dia mengambil dari saku celananya.


"Mama?!" celetuk Calista ketika melihat nama mamanya tertera pada layar ponselnya sebagai si penelepon.


Mendengar Calista menyebut nama mamanya ketika melihat layar ponselnya saat ada telepon masuk, dengan segera Bayu menepikan mobilnya.


"Halo, Mama, Caca sedang bersama dengan Papa. Kita akan–"


Dengan cepatnya ponsel Calista sudah berpindah tangan pada tangan Bayu. Kemudian dia berkata,


"Cepatlah menyusul kami sekarang juga. Aku akan menunggumu di rumah. Kita bicarakan semuanya di sana."


Setelah itu Bayu mematikan secara sepihak telepon tersebut tanpa mendengarkan terlebih dahulu perkataan dari Nayla.


Bayu mematikan ponsel Calista dan menyimpan ponsel tersebut dalam sakunya.


"Untuk sementara HP kamu Papa bawa sampai Mamamu datang ke rumah," tukas Bayu pada Calista.


Setelah itu Bayu menjalankan kembali mobilnya. Calista tidak berani melawan atau pun mendebat papanya. Dia hanya mencengkeram celananya karena ketakutan pada papanya saat ini.


Di rumahnya, Nayla sangat panik. Dia tidak bisa begitu saja terpisah dari putrinya. Dengan segera dia membereskan semua pakaian Calista dan pakaiannya untuk dibawanya kembali ke kota.


Tiba-tiba terdengar dering telepon dari ponsel Nayla. Segera diambilnya ponsel dari sakunya. 


Nayla menghembuskan nafasnya ketika melihat nama Devan yang tertera pada layar ponselnya.


"Halo Dev, aku akan kembali ke kota sekarang juga. Caca dibawa oleh papanya. Aku tidak ada waktu lagi, aku akan ke sana sekarang juga."

__ADS_1


__ADS_2