Tidak Sengaja Berselingkuh

Tidak Sengaja Berselingkuh
Bab 26 Membolos


__ADS_3

Nayla memeriksa suhu tubuh Calista menggunakan telapak tangannya. Kemudian dia meletakkan termometer untuk mengukur suhu tubuh putrinya itu.


"Syukurlah panasnya sudah reda," ucap Nayla sambil tersenyum lega.


Perlahan mata Calista terbuka setelah merasakan sentuhan tangan mamanya. Kemudian dia berkata,


"Mama… air…."


"Sebentar ya Ca, Mama ambilkan air minum dulu," ucap Nayla sambil bergegas berjalan mengambilkan air minum untuk Calista.


Dengan langkah cepatnya itu, Nayla kembali ke dalam kamar Calista dengan membawa segelas air putih.


"Ca, bangun Sayang. Ini minumnya," ucap Nayla sambil mengusap lembut rambut Calista.


Mata Calista pun perlahan terbuka. Dia berusaha untuk bangun dan Nayla membantunya untuk bersandar pada kepala tempat tidurnya.


Nayla memberikan sedotan pada mulut Calista untuk membantunya minum air dalam gelas yang dibawanya.


"Caca sudah lebih baik Ma," ucap Calista sambil berusaha senyum pada mamanya.


Nayla tersenyum dan mengusap lembut rambut putrinya. Kemudian dia berkata,


"Syukurlah. Mama buatkan bubur dulu ya, setelah itu kamu minum obatnya lagi."


"Ma, Caca sudah lebih baik sekarang. Mama pergi saja bekerja. Bukankah Mama hari ini akan ke luar negeri selama tujuh hari?" ucap Calista dengan suara lemas dan tidak bergairah.


Nayla duduk kembali di tempat duduknya semula. Dia tersenyum dan mengusap lembut pipi Calista sambil berkata,


"Mama tidak akan berangkat. Mama sudah tidak bekerja lagi."


Seketika mata Calista berbinar. Dia segera duduk tegak dan tersenyum lebar memperlihatkan kebahagiaannya.


"Benarkah? Kenapa?" tanya Calista dengan wajah bahagianya.


"Mama ternyata tidak bisa meninggalkan anak kesayangan Mama ini untuk waktu yang lama. Apalagi anak Mama sedang sakit," jawab Nayla sambil menjepit lirih hidung Calista.


Tiba-tiba wajah Calista kembali sedih. Senyumnya memudar dan dia berkata,


"Jadi Caca menghalangi Mama untuk berangkat kerja."

__ADS_1


"Tidak, bukan itu Sayang. Mama memang sudah tidak nyaman lagi. Mama ingin selalu ada bersama dengan Caca. Mama ingin menghabiskan waktu dengan Caca," tutur Nayla sambil tersenyum menenangkan Calista.


Binar kebahagiaan Calista kembali terlihat. Dia sangat senang dengan kehadiran mamanya yang akan menemani harinya. Tapi, seketika wajahnya kembali sedih. Dia berkata,


"Tapi Caca harus sekolah Ma."


Nayla mengerti perasaan anaknya. Dia tidak bisa mengabaikan begitu saja kesedihan putrinya itu meskipun sekolah menjadi prioritas utamanya.


"Ca, bagaimana jika hari ini kita seharian jalan-jalan. Caca libur saja untuk hari ini. Biarlah Mama yang meminta ijin pada wali kelasmu," ucap Nayla sangat antusias.


Keantusiasan Nayla membuat Calista tertular. Seketika Calista merasa tubuhnya sudah kuat dan tidak lemas lagi. Dengan riangnya dia berkata,


"Bolehkah Ma? Caca mau menikmati hari ini bersama dengan Mama."


"Nanti kalau Caca sudah sehat, kita jalan-jalan seharian," sahut Nayla yang berniat untuk menyemangati putrinya.


Seketika Calista memegang kedua tangan mamanya sambil tersenyum lebar. Matanya yang berbinar itu seolah memancarkan kebahagiaannya. Kemudian dia berkata,


"Caca sudah sembuh Ma. Caca sudah kuat. Ayo kita jalan-jalan seharian."


Nayla mengernyitkan dahinya mendengar keinginan dari Calista. Kemudian dia berkata,


"Kamu yakin Ca?"


"Sangat yakin Ma. Ayo Ma, kita siap-siap sekarang. Sekalian kita sarapan di luar," ucap Calista dengan sangat antusias.


Nayla tersenyum melihat putrinya yang terlihat sangat bahagia. Baru kali ini dia melihat Calista sebahagia itu hanya karena mendengar jika dia akan diajak jalan-jalan bersamanya.


Tanpa pikir panjang lagi, Nayla menyetujui permintaan dari Calista. Dalam hatinya dia berkata,


Akan Mama pertahankan senyum dan tawamu itu Sayang. Mama akan lakukan apa pun untuk kebahagiaanmu. Mama janji.


Setelah beberapa saat, Nayla dan Calista sudah siap dengan penampilan mereka masing-masing.


Nayla berpakaian casual bersama dengan Calista yang memakai baju warna senada dengan mamanya. Mereka tampak sangat kompak dan bahagia.


Penampilan Nayla kali ini sangat berbeda dengan biasanya. Dia terlihat lebih muda dari umurnya. Sangat cantik dan awet muda, sehingga tidak ada yang menyangka jika dia sudah memiliki anak seusia Calista.


"Mau ke mana kita sekarang?" tanya Nayla pada Calista yang sedang berjalan bersamanya.

__ADS_1


Calista terlihat sedang berpikir. Matanya berbinar ketika dia mengingat sesuatu. Kemudian dia berkata,


"Emmm… bagaimana kalau kita ke taman hiburan Ma. Caca ingin menaiki beberapa wahana di sana."


Nayla memandang putrinya yang terlihat sangat bahagia mengatakannya. Kini perasaan bersalah Nayla semakin bertambah. Dia menganggukkan kepalanya untuk menyetujui permintaan putrinya.


"Baiklah. Mama pesan taksi dulu ya," ucap Nayla sambil mengutak-atik ponselnya.


"Tidak usah Ma. Sebaiknya kita naik bus saja. Biar seperti kita sedang rekreasi," sahut Calista sambil tersenyum lebar.


Nayla tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba saja dia teringat akan ibu mertuanya yang sedang berada di rumah sakit.


"Ca, apa kita tidak sebaiknya menjenguk nenek terlebih dahulu? Operasinya besok kan?" tanya Nayla pada Calista untuk meminta pendapatnya.


"Mama mau Nenek dan Papa memarahi Mama jika tau Mama sudah tidak bekerja lagi dan Caca membolos hari ini?" Jawab Calista yang bermaksud mengingatkan mamanya.


Sontak saja Nayla menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Calista. Memang benar Calista masih kecil, tapi dia mampu berpikir lebih dewasa daripada umurnya karena dirinya yang harus mengerti keadaan kedua orang tuanya.


"Ya sudah, kita menjenguk Nenek nanti atau besok saja ketika sedang dioperasi," tukas Nayla sambil menggandeng tangan Calista.


Mereka berdua berjalan menuju halte bus yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Tidak berapa lama, bus yang akan mereka naiki sudah tiba. Segera mereka naik bus tersebut dan mencari tempat duduk berdua di belakang.


Tidak henti-hentinya Calista mengoceh sepanjang perjalanan. Dia banyak bercerita pada mamanya tentang semua teman di sekolah barunya. Dan tentu saja dia kembali mengingat ketidakadilan pelatih klub sepak bola di sekolahnya.


Nayla menanggapinya dengan sangat bijak. Dia beralih menjadi teman untuk Calista. 


Ternyata sangat mudah membuat Caca tersenyum dan lebih dekat denganku. Kini aku benar-benar merasakan jika memang dia membutuhkan orang tuanya untuk tempat berbagi cerita dan berkeluh kesah. Maafkan Mama Sayang, selama ini Mama hanya menuruti perintah Papamu untuk tetap bekerja dan mengirimmu bersekolah jauh dari kita, Nayla berkata dalam hatinya dan menyesali semuanya.


Setelah beberapa saat, bus yang mereka naiki telah sampai di depan taman hiburan yang akan mereka kunjungi.


Dengan langkah riangnya Calista menarik tangan mamanya seolah tidak sabar untuk masuk ke dalam tempat itu.


"Mama, Caca naik wahana yang itu, itu, itu dan itu," ucap Calista sambil menunjuk beberapa wahana yang ada di hadapannya.


Nayla terkekeh dan menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Calista.


Sudah beberapa jam mereka di sana menghabiskan waktu untuk menaiki hampir semua wahana permainan yang ada di sana.


Tiba-tiba terdengar dering telepon dari ponsel Nayla. Tanpa melihat siapa nama penelepon yang tertera di layar ponselnya, Nayla segera menempelkan ponselnya itu di telinganya dan menjawab panggilan tersebut.

__ADS_1


"Halo," ucap Nayla untuk mengawali percakapan di telepon.


Nayla, sekolah Caca menghubungiku dan mengatakan jika Caca tidak masuk hari ini tanpa pemberitahuan. Ke mana dia sekarang? Kenapa dia tidak ada di rumah? Apa dia membolos? tanya Bayu bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan pada Nayla untuk menjawabnya.


__ADS_2