
Nayla memantapkan hatinya untuk memberanikan dirinya memperjuangkan kebahagiaan Calista, putri semata wayangnya.
Dia menatap lekat mata suaminya tanpa gentar agar suaminya tidak bisa merasakan ketakutan dalam hatinya.
"Dengarkan apa yang diinginkan oleh Caca dan biarkan dia melakukan apa keinginannya. Jangan paksa dia lagi. Sudah cukup dia merasa sedih, takut dan jauh dari orang tuanya. Biarkan dia berada dekat dengan kita," jawab Nayla dengan tegas tanpa ragu.
Bayu menyeringai mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Kemudian dia berkata,
"Maksudmu sekolah? Dia masih belum tau sekolah mana yang bagus dan tepat untuknya. Bahkan dia tidak tau apa yang diperlukannya nanti untuk masa depannya. Aku sebagai papanya harus memberikan yang terbaik untuknya. Tidak seperti kamu yang menyengsarakannya dengan menyekolahkannya di sekolahan biasa di pelosok desa. Bahkan tempat tinggal kalian saja tidak layak untuk ditempati. Apa kamu tidak malu sebagai istri dari seorang kapten pilot salah satu maskapai penerbangan terkenal tinggal di tempat seperti itu?"
Nayla menghela nafasnya dan menatap kecewa pada suaminya. Dia tidak mengira jika pikiran suaminya hanya terletak pada egonya dan harga dirinya.
"Apa kamu tau jika Caca mengalami perundungan dari teman-temannya?" tanya Nayla dengan serius pada suaminya.
Bayu terlihat kaget mendengar bahwa putrinya mengalami perundungan. Tapi beberapa detik kemudian ekspresi wajahnya kembali berubah. Dan dia berkata,
"Seharusnya Caca berani melawannya. Meskipun dia perempuan, dia harus bisa membela dirinya sendiri. Selama ini dia sudah berlatih hidup jauh dari kita. Seharusnya dia tidak manja lagi seperti sekarang ini. Semua ini karenamu yang memanjakannya. Dia sedikit merengek saja, kamu sudah datang menemuinya."
Nayla menghela nafasnya berkali-kali untuk mengeluarkan rasa sesak dalam dadanya. Sayangnya itu tidak cukup. Dia memukul-mukul dadanya pelan agar berkurang rasa sesak di dadanya.
Bayu kaget melihat apa yang dilakukan oleh istrinya. Dengan paniknya dia berkata,
"Kamu kenapa?"
Nayla menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap tajam pada suaminya dan berkata,
"Aku sudah lelah dengan sikapmu yang hanya mau menang sendiri. Aku dan Caca harus selalu menurut padamu tanpa kamu tau apa yang sebenarnya kami inginkan. Apa kamu tau jika sebenarnya yang menginginkan sekolah di desa dan tinggal di sana adalah putrimu sendiri?"
"Bukannya kamu bersama dengan laki-laki sialan itu yang ingin tinggal di desa pelosok itu?" tanya Bayu dengan tersenyum sinis pada Nayla.
Nayla kembali menghela nafasnya. Rasa sesak dalam dadanya kembali menghimpitnya. Pasalnya dia ingin menyelesaikan terlebih dahulu masalah sekolah Calista, setelah itu baru Nayla ingin membahas masalah mereka berdua.
__ADS_1
"Jangan alihkan pembicaraan. Kita selesaikan dulu masalah sekolah Caca, setelah itu kita bahas yang lainnya," jawab Nayla dengan tegas yang kini matanya sudah berkaca-kaca.
"Masalah sekolah Caca itu gampang. Sekarang jawab dulu pertanyaanku. Ada hubungan apa kamu dengannya?" tanya Bayu menyelidik.
"Tidak ada hubungan apa-apa. Dia sering membantu Caca dulu ketika berkunjung menemui putrinya. Dan kebetulan kami bertemu dengannya di desa itu," jawab Nayla tanpa ragu.
Bayu mendekatkan wajahnya dan menatap dengan intens manik mata Nayla seraya berkata,
"Apa kamu mencintainya?"
Nayla bernafas dengan tidak teratur karena menahan amarahnya. Mata mereka masih saling menatap. Kemudian dia berkata,
"Kenapa kamu menanyakan hal yang tidak penting dan keluar dari pembahasan kita?"
"Jawab saja. Kamu tidak bisa mengelak lagi. Kamu hanya menggunakan Caca sebagai perantara kalian saja," tuduh Bayu pada Nayla sambil menyeringai.
Nayla sudah tidak tahan lagi dengan semua pertanyaan dan tuduhan yang diberikan oleh Bayu. Memang benar dia ingin bersama dengan Devan, tapi dia sadar diri, sehingga dia tidak melewati batas ketika bersama dengan Devan.
"Seandainya aku bertemu dengannya sebelum bertemu denganmu, pasti aku akan hidup bahagia sekarang. Tidak seperti sekarang ini, hidupku… hidupku selalu tertekan dan seolah berlari-lari untuk menyelamatkan rumah tangga kita. Hanya aku yang berjuang, kamu… bagaimana denganmu? Kamu selalu berkencan dengan perempuan lain dengan alasan hanya mengobrol dan pekerjaan kalian. Apa aku juga tidak punya hak untuk mengobrol dengan laki-laki lain?" tukas Nayla dengan berapi-api dan berlinangan air mata.
"Tapi, tapi dia sudah beristri. Ingat itu!" ucap Bayu dengan emosinya.
"Sebab itulah aku tidak mempunyai hubungan dengannya. Dan kamu juga beristri. Ingat itu! Apa yang kamu lakukan di sana ketika anak dan istrimu berada di rumah? Bahkan kamu jarang sekali menemui anak istrimu!" seru Nayla dengan linangan air matanya menyuarakan isi hatinya selama ini.
Bayu membelalakkan matanya. Nafasnya tidak beraturan. Dia syok mendengar istrinya membantahnya. Nayla yang selama ini pendiam dan penurut, kini dia menjadi pembangkang dan berani membantahnya.
Bayu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari rumahnya. Dia masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah itu.
Tiba-tiba saja rasa percaya diri Bayu lenyap seketika. Keangkuhannya dan arogannya seorang Bayu, kini seolah lenyap entah ke mana.
Dia mengingat perkataan Devan tadi pagi yang seolah merendahkan dirinya.
__ADS_1
Sekarang saya bisa tau jika anak dan istri anda tersiksa karena sikap anda yang demikian. Jika saya menjadi anda, pasti saya tidak akan pernah menyakiti mereka secara lahir dan batin. Mereka sangat baik dan sangat berharga bagi saya.
Setelah itu dia teringat kata-kata istrinya yang membanding-bandingkannya dengan Devan.
Seandainya aku bertemu dengannya sebelum bertemu denganmu, pasti aku akan hidup bahagia sekarang. Tidak seperti sekarang ini, hidupku… hidupku selalu tertekan dan seolah berlari-lari untuk menyelamatkan rumah tangga kita.
"Aaaaargh…!" teriak Bayu di dalam mobilnya dengan mempercepat laju mobilnya.
Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah ibunya, seolah menyalurkan kemarahannya dengan cara mempercepat laju kendaraannya.
Sesampainya di rumah ibunya, Bayu masuk ke dalam kamarnya yang ditempatinya waktu masih belum menikah dengan Nayla.
Dia berjalan mondar-mandir dengan mencengkram rambutnya. Pikirannya kini bercampur aduk dengan perkataan Devan dan Nayla yang masih terngiang di telinganya.
Tiba-tiba Bayu teringat akan sesuatu. Segeralah dia keluar dari kamarnya menuju ruang keluarga.
"Ibu….! Caca…!" teriak Bayu dari ruang keluarga.
Bayu berdiri dengan kedua tangannya yang diletakkan di pinggang sambil berjalan mondar-mandir memanggil ibunya dan Calista.
"Ibu…! Caca…!" teriak Bayu kembali dengan tidak sabarnya.
"Ada apa Bayu? Kenapa harus teriak-teriak?" tanya Bu Ratmi yang berjalan tergesa-gesa menuju ruang keluarga.
Sedangkan Calista, dia berdiri di belakang neneknya karena takut akan papanya yang terlihat marah padanya.
"Ibu, Caca, duduklah. Aku akan bicara sesuatu pada kalian," perintah Bayu pada Bu Ratmi dan Calista.
Mereka berdua pun duduk di sofa berhadapan dengan Bayu yang duduk di hadapan mereka.
Bayu menatap Bu Ratmi dan Calista bergantian seraya berkata,
__ADS_1
"Ibu, Caca, sebaiknya kita pindah dari sini."
"Pindah?" ucap Bu Ratmi dan Calista bersamaan.